KARAKTER HADDADIYYAH MAR’IYYAH
DALAM
DISKUSI ILMIYYAH
(REVISI)
Diidzinkan
Penyebarannya Oleh:
Fadhilatusy
Syaikh ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy
حفظه الله ورعاه
Dengan
Kata Pengantar Dari:
Fadhilatusy
Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy Al
Yamaniy
Dan
Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy
Al
Hajuriy Al Yamaniy
حفظهما الله ورعاهما
Penulis
dan Penerjemah:
Abu
Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy
Al
Qudsiy Aluth Thuriy
عفا الله عنه
Judul
Asli:
“Shifatul
Haddadiyyatil Mar’iyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”
Terjemah
Bebas:
“Karakter
Haddadiyyah Mar’iyyah Dalam Diskusi Ilmiyyah”
Diidzinkan
Penyebarannya Oleh:
Fadhilatusy
Syaikh ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali
Al
Hajuriy
حفظه الله ورعاه
Dengan
Kata Pengantar Dari:
Fadhilatusy
Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy Al
Yamaniy
Dan
Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy
Al
Hajuriy Al Yamaniy
حفظهما الله ورعاهما
Penulis
dan Penerjemah:
Abu
Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy
PENGANTAR PENERJEMAH
الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن
محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين، أما بعد:
Sesungguhnya tuduhan ahlul bathil terhadap Ahlussunnah yang kokoh memegang
kebenaran tidaklah berhenti. Di antaranya adalah tuduhan sebagai pengikut
aliran haddadiyyah. Ini merupakan tuduhan yang sangat keliru dan tidak boleh
dibiarkan meracuni umat. Bukan karena Ahlussunnah takut dijauhi umat atau takut
tidak laku. Ahlussunnah sudah terbiasa hidup sebagai ghuroba, yang dianggap
asing dan aneh oleh manusia, bukan karena Ahlussunnah berbuat bathil, tapi
karena umat banyak yang tidak tahu kebenaran. Hanya saja dakwah harus terus
disampaikan, dan tuduhan palsu harus dibantah agar umat tidak semakin jauh dari
sumber-sumber dakwah yang benar yang bisa menyebabkan mereka semakin jauh
menyimpang dari jalan yang bisa menyampaikan ke Jannah.
Dari sisi lain, sebagian ahlul bathil menuduh Ahlussunnah sebagaikelompok yang
sombong. Ini juga pemahaman yang terbalik. Ahlussunnah yang sejati adalah orang
yang paling mau tunduk dan merunduk kepada kebenaran, sekalipun bertentangan
dengan keinginan dan selera pribadi. Justru ahlul bathil itulah yang
menyombongkan diri di bumi Alloh, tidak mau merendahkan diri pada ketentuan
syariat Alloh karena bertentangan dengan selera pribadi, atau adat, atau gaya
hidup orang kafir, atau madzhab yang keliru.
Risalah yang ada di hadapan para pembaca ini tampil kembali dengan judul yang
telah disesuaikan oleh Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله :
“Karakter Haddadiyyah Mar’iyyah
Dalam Diskusi Ilmiyyah”
dan isinya telah saya saring kembali,
sesuai dengan bimbingan beliau dan para ulama yang lain. Tentu saja kesalahan
yang bersifat manusiawi akan masih tersisa, maka semoga Alloh mengampuni sang
penulis dan para pembaca semuanya. Dan semoga Alloh melimpahkan berkah-Nya pada
usaha yang sederhana ini.
Risalah ini saya tampilkan
kembali di antaranya adalah untuk memenuhi permintaan sebagian ikhwah di tanah
air agar saya membantah tulisan si penakut yang menampilkan identitas diri
sebagai Abdullah bin Abdurrohman yang berjudul “Kini Mereka Bukan Salafiy
Lagi”. Gaya si penulis itu sangat mirip dengan model Abdul Ghofur Malang.
Pantas saja jika si Abdullah ini diberi inisial AGM.
Kemudian juga saya meminta maaf
kepada para pembaca بارك الله فيكم karena belum bisa memenuhi permintaan
untuk menulis topik-topik seputar hukum Idul Fithri, karena kesibukan
melaksanakan tugas menghadapi serangan ahli ahwa terhadap Salafiyyin terutama
Darul Hadits Dammaj, semampunya. Dan tentu saja hal itu juga disebabkan oleh
kekurangan ilmu dan tenaga saya.
Kemudian saya menyampaikan
syukur kepada para ikhwah yang telah memenuhi permintaan saudara-saudara kita
kaum Muslimin untuk menampilkan topik-topik tersebut sehingga diharapkan bisa
menghapus dahaga dan menutup kekurangan dalam bab ini. Hanya Alloh saja yang
memberikan taufiq, dan kepada-Nya kita mohon pertolongan dan kemudahan.
Dammaj, 2 Syawwal 1433 H.
Pengantar Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin
Hizam Al Ba’daniy Al Yamaniy –semoga Alloh menjaganya-
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله،
وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أما بعد:
Aku telah melihat kitab saudara
kita yang diberkahi, penyeru ke jalan Alloh –‘Azza Wajalla- di atas ilmu dan
keyakinan: Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekoyo Al Indonesiy yang dinamai dengan:
“Munaqosyatun Ilmiyyah Haula Sifatil Haddadiyyah”([1]), maka
aku dapati kitab ini merupakan kitab yang berfaidah, di dalamnya menerangkan
siapakan kelompok yang paling berhak untuk untuk mendapatkan penamaan yang
jahat itu yang mana saudara-saudara kita yang membela kebenaran dan membela
para pembawa kebenaran, dan mencerca kebatilan serta mencerca golongan kebatilan
justru dituduh dengan nama tadi (Haddadiyyah).
Yang demikian itu merupakan
kebiasaan para ahli batil. Alloh ta’ala berfirman menukilkan ucapan Fir’aun:
وقال فرعون ذروني أقتل موسى وليدع ربه إني
أخاف أن يبدل دينكم أو أن يظهر في الأرض الفساد
“Sesungguhnya aku khawatir dia
akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”.(QS. Ghofir:
26)
Alloh ta’ala berfirman:
سيعلمون غدا من الكذاب الأشر
“Kelak mereka akan mengetahui
siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.” (QS. Al Qomar: 26).
Alloh ta’ala berfirman:
فستبصر ويبصرون بأييكم المفتون
إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين
“Maka kelak kamu akan melihat
dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat, siapa di antara kalian yang
gila. Sesungguhnya Robbmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang
sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk.”(QS. Al Qolam: 5-7).
Dan ayat-ayat di dalam bab ini
banyak sekali.
Maka semoga Alloh membalas
saudara kita Abdurrohman dengan kebaikan atas kerja kerasnya dalam mengumpulkan
faidah-faidah ini, dan semoga memberinya taufiq kepada segala kebaikan, dan
semoga Alloh mengokohkan kami dan dia di atas sunnah sampai kita berjumpa
dengan-Nya.
Segala puji bagi Alloh Robb
semesta alam.
Ditulis
oleh:
Abu
Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy
Pada
hari Sabtu bertepatan dengan tanggal 26 Jumadal Ula 1432 H
Di
Darul Hadits di Dammaj
Semoga
Alloh menjaganya.
PENGANTAR FADHILATUSY SYAIKH ABU AMR ABDUL KARIM BIN AHMAD AL
HAJURIY AL YAMANIY –SEMOGA ALLOH MENJAGANYA-
الحمد لله رب العالمين وأشهد أن لا إله إلا
الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم،
أما بعد:
Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ
عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا
وَنَصِيرًا﴾ [الفرقان/31]
“Dan demikianlah Kami jadikan
bagi setiap nabi itu musuh dari kalangan orang-orang jahat, dan cukuplah Robbmu
sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong.”(QS. Al Furqon: 31).
Alloh ta’ala berfirm’an:
﴿وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس
والجن يوحي بعضهم إلى بعض زخرف القول غرورا ﴾
“Dan demikianlah kami jadikan
untuk setiap nabi itu musuh dari para setan manusia dan jin, mereka mewahyukan
satu sama lain dengan perkataan yang dihiasi untuk menipu.” (QS. Al An’am:
112).
Dan berfirman:
﴿وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً
أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا﴾ [الفرقان/20] .
“Dan kami jadikan sebagian dari
kalian menjadi fitnah bagi sebagian yang lain, apakah kalian bersabar? Dan
Robbmu itu senantiasa Maha melihat.”
Maka tiada seorangpun yang
selamat dari ujian, dan setiap kali sang hamba itu bertambah iman dan
manfaatnya kepada Muslimin bertambahlah ujiannya. Dan ini adalah sunnatulloh
pada para makhluq-Nya. Oleh karena itulah makanya ahlul batil menjadi lawan
bagi kebenaran dan pembawa kebenaran, mereka melarikan manusia darinya,
menghalangi manusia darinya dengan perkataan dan perbuatan, dan sejarah menjadi
saksi atas yang demikian itu sejak dulu hingga sekarang.
Dan ahlul batil di sepanjang
zaman punya gelar-gelar yang mereka sifatkan buat Ahlus Sunnah Wal jama’ah
untuk menghalangi manusia dari mereka. Dan akhir gelar yang dengannya
Ahlussunnah wal Jama’ah di Yaman –secara umum- dan Dammaj –secara khusus-
dituduh hingga sekarang adalah julukan “Haddadiyyah” yang mana itu
adalah bid’ah yang memuakkan dan tercela.
Maka bangkitlah saudara kita
yang mulia, penyeru manusia ke jalan Alloh, yang punya kecemburuan terhadap
agama, Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy –semoga Alloh
menjaganya- dengan membawakan diskusi ilmiyyah terhadap sifat-sifat
Haddadiyyah, dan menjelaskan berlepas dirinya Ahlussunnah Wal Jama’ah dari
julukan ini, dan menjelaskan siapakah yang lebih pantas menyandang julukan ini,
dan lebih lekat. [ibarat pepatah:] “Maka Jahizah telah mematahkan perkataan
seluruh orator” bagi orang yang punya hati, atau mencurahkan pendengaran, dalam
keadaan dia menyaksikan. Maka dengan Alloh sajalah kita mendapatkan taufiq.
Maka semoga Alloh membalas Abu
Fairuz dengan kebaikan, dan menjadikan adanya manfaat dengannya. Dan segala
pujian adalah milik Alloh Robb alam semesta.
Ditulis
oleh:
Abu Amr
Ahmad bin Abdil Karim Al Hajuriy
Di
Darul Hadits Dammaj –semoga Alloh ta’ala menjaganya-
13 Dzul
Qo’dah 1432 H
PENGANTAR PENULIS
الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن
محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين أما بعد:
Maka ini adalah kerja
keras yang Alloh mudahkan untukku, yang mana saya berharap dengan karunia Alloh
Dia memberiku taufiq untuk menerapkan prinsip-prinsip Haddadiyyah kepada orang yang
memang pantas untuk mendapatkannya, tanpa diriku melakukan kecondongan ataupun
berbuat kezholiman. Dan saya jelaskan hal itu berdasarkan apa yang disebutkan
oleh Asy Syaikh Al Allamah Robi bin Hadi Al Madkholiy –semoga Alloh membalasnya
dan yang lainnya dengan kebaikan-.
Dan dari sela-sela yang
demikian itu menjadi jelaslah bagimu beraneka ragamnya fitnah yang dimiliki
oleh hizb Mar’i , dan di antaranya adalah berjalannya mereka di atas metode
Haddadiyyah yang berlebihan dan membawa kesialan, disertai dengan tahazzub
mereka yang busuk, sehingga berkumpullah pada diri mereka musibah-musibah yang
tidah berkumpul pada orang lain. Alloh عز وجل terkadang mengumpulkan pada makhluk-Nya
berbagai kebaikan, dan mengumpulkan pada makhluk yang diinginkan-Nya beraneka
kejelekan. Alloh memang punya wewenang di dalam urusan makhluk-Nya.
Dan Mar’iyyun bersamaan dengan
keadaan mereka memiliki banyak sifat Haddadiyyah, mereka itu menuduh
orang-orang yang ada di Darul Hadits di Dammaj sebagai Haddadiyyah. Dan mereka
menjadikan tulisan Fadhilatusy Syaikh Robi bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله tentang Haddadiyyah itu tercurah pada
Syaikhuna Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau حفظهم الله.
Dan akan menjadi jelas bagi orang-orang yang adil kelompok manakah yang berada
di atas petunjuk, dan siapakah yang berada di atas kesesatan yang nyata. ([2])
Dan saya bersyukur kepada Syaikh kami Al ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali
Al Hajuriy –semoga Alloh memelihara dan menjaganya- atas dorongan dan bimbingan
beliau kepada apa yang lebih baik dalam risalah ini. Semoga hal itu masuk ke
dalam timbangan kebaikan beliau pada Hari Kiamat.
Kemudian syukur yang banyak
saya sampaikan kepada Syaikh kami yang utama dan mulia Abu Amr Abdul Karim bin
Ahmad Al Hajuriy –semoga Alloh menjaga dan memeliharanya – atas kelapangan dada
beliau untuk memeriksa dan memperbagus risalah ini, bersamaan dengan banyaknya
kesibukan beliau.
Saya juga bersyukur pada Syaikh
kami yang utama, Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy
–semoga Alloh memelihara dan menjaganya- curahan kerja keras dan nasihat beliau
dalam memperbagus risalah ini.
Saya juga bersyukur kepada
saudara kita yang mulia Abu Dzil Qornain Abdulloh Al Jawiy dan Abu Ja’far Al
Harits Al Minangkabawiy Al Indonesiyyani –semoga Alloh menjaga keduanya- atas
pertolongan keduanya.
Kami memohon pada Alloh untuk
membalas mereka dengan pahala yang terbaik, sesungguhnya Alloh itu Al Barr
(Maha Lembut) Ar Rohim (Maha Penyayang).
BAB SATU:
FIRQOH HADDADIYAH SECARA GLOBAL
Sesungguhnya Haddadiyyah merupakan firqoh (sekte/pecahan) yang ghuluw
(berlebihan dalam bersikap) yang dinisbatkan kepada Abu Abdillah Mahmud bin
Muhammad Al Haddad. Orang ini lahir di Mesir tahun 1374 Hijriyyah. Kemudian dia
pergi ke Madinah Nabawiyyah, belajar ke sebagian masyayikh -semoga Alloh
menjaga mereka-.
Pada awal urusannya, orang ini
menampakkan kecemburuan kepada agama dan benci pada kebid’ahan. Kemudian muncul
darinya sikap berlebihan yang ekstrim, membid’ahkan sejumlah imam Islam yang
kaki mereka tergelincir di dalam permasalahan aqidah seperti ibnu Hajar,
An Nawawiy, Asy Syaukaniy -semoga Alloh merohmati mereka-. Dia melaknat
mereka, dan membid’ahkan orang yang mendoakan rohmat untuk mereka. Dia juga
memfatwakan untuk membakar “Fathul Bari” karya Ibnu Hajar, “Syarh Shohih
Muslim” karya An Nawawiy, dan “Syarh Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafiy terhadap Ath
Thohawiyyah” dan yang seperti ini.
Dia juga mencerca Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim dan Ibnu Abil ‘izz -semoga Alloh
merohmati mereka-.
Dia juga mencerca para ulama
Sunnah zaman ini seperti Al Imam Ibnu Baz, Al Imam Al Albaniy, Al Imam Ibnu
‘Utsaimin, Al ‘Allamah Sholih Al Fauzan, Asy Syaikh Al Luhaidan, dan yang
lainnya -semoga Alloh merohmati mereka-.
Dia memiliki para pengikut yang
mengibarkan bendera untuk sehingga mereka terkenal sebagai: “Al Haddadiyyah”.
Di antara karya tulisnya adalah:
1. “Aqidah Ibni Abi Hatim Wa
Abi Zur’ah”. Di dalamnya dia mencela Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al Imam
Albaniy dan yang lainnya.
2. “Al Khomis”, di dalamnya ada
serangan jahat terhadap Al Imam Al Albaniy -semoga Alloh merohmatinya-.
3. Takhrij “Ihya ‘Ulumuddin”.
Dan ini termasuk dari bertolak belakangnya sikap orang ini. Dia memperingatkan
manusia dari sebagian kitab-kitab As Sunnah karena sekedar adanya beberapa
kesalahan di dalamnya, sementara dia sendiri menulis kitab Takhrij “Ihya
‘Ulumuddin” tanpa memperingatkan manusia sedikitpun darinya padahal di dalamnya
ada banyak kerusakan besar.
4. “Al Muntaqol ‘Athir”
ringkasan dari “Shoidul Khothir” milik Ibnul Jauziy yang Mahmud Al Haddad
sendiri berkata tentangnya: “Dia itu Jahmiy keras.” Dia tahu bahwasanya kitab
tersebut dari awalnya hingga akhirnya tiada di dalamnya firman Alloh, sabda
Rosululloh صلى الله عليه وسلم ataupun ucapan Shohabat رضي الله عنهم .
5. Tahqiq “Al Jami’ Fil Hatsts
‘Ala Hifzhil ‘Ilm”. Di dalamnya ada kitab karya Al ‘Askariy, Al Khothib Al
Baghdadiy, Ibnu ‘Asakir dan Ibnul Jauziy رحمهم الله dan ditahqiq oleh Mahmud Al Haddad, tapi
disela-sela tahqiqnya ada cercaan busuk terhadap Haiah Kibarul Ulama.
6. “Madza Hadats” yang
merupakan kaset ceramah yang dirubah ke dalam tulisan. Di dalamnya ada cercaan
kepada beberapa ulama sunnah.
7. “Yauma La Zhilla Illa
Zhilluhu” di dalamnya ada cercaan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan
sindiran kepada Al Imam Ibnul Qoyyim رحمهما الله .
Bersamaan dengan
serangan-serangannya kepada para imam Sunnah, tidak terlihat darinya tulisan
dalam membantah Al Ikhwanul Muslimin padahal bencana yang mereka timbulkan di
negrinya –Mesir- banyak sekali. Begitu pula tiada tulisan terhadap Firqoh
Tabligh, begitu pula terhadap para pengagung kuburan, dan juga terhadap firqoh
Takfir.
Daftar Pustaka:
-
“Majmu’ur Rudud ‘Alal Haddadiyyah” karya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy.
-
“Al Ajwibatul Mufidah” milik Asy Syaikh Sholih Al Fauzan, yang ditulis oleh
Jamal bin Furoihan Al Haritsiy
-
Takhrij “Ihya ‘Ulumiddin” milik Mahmud Al Haddad.
BAB DUA:
UPAYA MERUSAK CITRA PARA PEMBAWA SUNNAH DENGAN KATA-KATA YANG
BURUK
Alloh jalla dzikruhu berfirman:
يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانه عن
المنكر واصبر على ما أصابك إن ذلك من عزم الأمور
“Dan bersabarlah terhadap apa
yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Alloh).” (QS. Luqman: 17).
Juga Alloh ta’ala
berfirman:
وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ
بِأَعْيُنِنَا
“Dan bersabarlah untuk memenuhi
hukum dari Robbmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan
Kami.” (QS. Ath Thur: 48).
Juga Alloh Yang Mahasuci
berfirman:
وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ
“Dan untuk Robbmu maka
bersabarlah engkau.” (QS. Al Muddatstsir: 7)
Al Imam Ibnu Katsir
-semoga Alloh merohmatinya- berkata dalam tafsir ayat yang terakhir ini:
“Yaitu: Jadikanlah kesabaranmu terhadap gangguan mereka itu adalah demi
mendapatkan wajah Robbmu ‘Azza Wajalla. Demikian ucapan Mujahid.” (“Tafsirul
Qur’anil ‘Azhim”/7/hal. 398/Darul Atsar).
Ayat ini turun pada awal
pengangkatan Muhammad Al Qurosiy sebagai Rosul, dan di dalamnya ada isyarat
bahwasanya penyampaian risalah itu butuh kepada kesabaran, karena para musuh
kebenaran itu banyak. Alloh ta’ala berfirman:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ
عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا
“Dan demikianlah Kami jadikan
bagi setiap nabi itu musuh dari kalangan orang-orang jahat, dan cukuplah Robbmu
sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong.” (QS. Al Furqon: 31).
Alloh Yang Mahasuci berfirman:
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ
مِنْهُمْ آَثِمًا أَوْ كَفُورًا
“Maka bersabarlah untuk
memenuhi hukum dari Robbmu, dan janganlah engkau taati orang pendosa dan orang
yang sangat kafir dari mereka.” (QS. Al Insan: 24).
Al Imam Ath Thobariy
-semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Firman-Nya:
إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ
تَنْزِيلًا[الإنسان/23]
“Sesungguhnya Kami benar-benar
menurunkan Al Qur’an kepadamu.”
Alloh Yang Mahatinggi
penyebutannya berfirman kepada nabi-Nya Muhammad saw
صلى الله عليه وسلم: Sesungguhnya Kami benar-benar menurunkan
Al Qur’an ini kepadamu wahai Muhammad sebagai ujian dan cobaan dari Kami.
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ
Dia berfirman: bersabarlah
terhadap apa yang diujikan oleh Robbmu yang berupa kewajiban-kewajiban-Nya,
penyampaian risalah-Nya, melaksanakan perkara yang harus dilaksanakan di dalam
kitab yang diwahyukan kepadamu
وَلا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا
Dia berfirman: Jangan engkau
taati dalam kedurhakaan kepada Alloh dari kalangan musyrikin dari kaummu orang
pendosa yang ingin melakukan kedurhakaan, atau orang yang sangat kafir, yaitu
orang yang sangat mengingkari kenikmatan-kenikmatan Alloh yang ada padanya,
sehingga dia mengingkari-Nya dan menyembah selain-Nya.” (“Jami’ul
Bayan”/24/hal. 110/Darut Tarbiyyah Wat Turots).
Dan di antara bentuk permusuhan
dari seteru para Nabi عليه السلام adalah berita bohong, kedustaan, tuduhan
dusta, gelar-gelar yang buruk, dan yang selain itu, dalam rangka melarikan
manusia mereka. Alloh ta’ala berfirman:
كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ
مَجْنُونٌ * أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
“Dan demikianlah, tidaklah
datang kepada orang-orang sebelum mereka satu Rosulpun kecuali mereka berkata:
“Dia adalah tukang sihir atau orang gila.” Apakah mereka saling berwasiat
dengannya? Bahkan mereka itu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Adz
Dzariyat: 52-53).
Dan sebagaimana para ulama mewarisi para Nabi dalam keilmuan dan tugas dakwah,
maka demikian pula mereka mendapati dari pewaris para musuh Nabi kedustaan, dan
gelar-gelar yang buruk. Syaikhul Islam Abu ‘utsman Isma’il bin Abdurrohman Ash
Shobuniy -semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Dan alamat-alamat
kebid’ahan terhadap pelakunya itu tampak jelas. Dan tanda dan alamat mereka
yang paling tampak adalah kerasnya permusuhan mereka terhadap para pembawa
hadits Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, dan pelecehan mereka terhadap
mereka, dan penghinaan mereka terhadap mereka, dan menamai mereka
sebagaihasyawiyyah (orang-orang pinggiran), orang-orang
bodoh, zhohiriyyah(hanya mengambil lahiriyah dari dalil
saja), musyabbihah (yang menyerupakan Alloh dengan makhluk).” –sampai
pada ucapan beliau:- “Dan itu semua
merupakan ‘ashobiyyah (fanatisme). Dan tidaklah cocok untuk
Ahlussunnah kecuali satu nama saja, yaitu Ashhabul hadits. Aku katakan: Aku
melihat bahwasanya ahlul bida’ di dalam masalah nama-nama yang mereka sematkan
pada Ahlussunnah ini, dalam menyikapi Ahlul hadits, mereka telah menempuh jalan
musyrikin saat menyikapi Rosululloh صلى الله عليه وسلم , karena musyrikin membagi-bagi perkataan
tentang beliau. Sebagian dari mereka menamai beliau sebagai penyihir, sebagian
yang lain menamai beliau sebagai dukun, sebagian yang lain menamainya sebagai
penyair, sebagian yang lain menamainya sebagai orang gila, sebagian yang lain
menamai beliau sebagai orang yang mengada-ada, berganti-ganti, pendusta.
Sementara itu Nabi صلى الله عليه وسلم jauh dan berlepas diri dari aib-aib tadi.
Tidaklah beliau kecuali seorang rosul yang terpilih lagi seorang nabi. Alloh
‘Azza Wajalla berfirman:
انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ
فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا
“Perhatikanlah bagaimana mereka
membuat permisalan untukmu, lalu mereka tersesat sehingga tak bisa mendapatkan
jalan.” (QS. Al Isro: 48).
Demikian pula mubtadi’ah, Alloh
tidak menolong mereka, mereka membagi-bagikan ucapan kepada para pembawa kabar
Nabi, penukil atsar beliau, dan periwayat hadits-hadits beliau, pengikut jejak
beliau, dan pengikut petunjuk dari sunnah beliau, maka sebagian dari mereka
menamai mereka sebagai hasyawiyyah, sebagiannya menamai mereka sebagai
musyabbihah, sebagiannya menamai mereka sebagai nabitah (yang baru
tumbuh), sebagiannya menamai mereka sebagai nashibah (yang
menancapkan permusuhan terhadap keluarga Nabi), sebagiannya menamai mereka
sebagai jabriyyah (kelompok yang berkeyakinan bahwa manusia itu
dipaksa dalam berbuat), padahal Ashhabul hadits itu terlindungi dari
kejelekan-kejelekan ini, terbebas, bersih dan suci darinya. Tidaklah mereka
selain Ahlussunnah yang cemerlang, dan pemilik sejarah yang diridhoi, dan jalan
yang lurus, serta hujjah yang tajam dan kuat. Alloh جل جلاله telah memberi mereka taufiq untuk
mengikuti kitab-Nya, wahyu-Nya dan pembicaraan-Nya, dan untuk meneladani
Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم dalam berita-beritanya yang beliau di
dalamnya memerintahkan umat-Nya kepada ucapan dan perbuatan yang baik, dan di
dalamnya beliau melarang mereka dari ucapan dan perbuatan yang yang jelek.
Alloh juga menolong mereka untuk memegang jalan hidup beliau, mengikuti
petunjuk dengan menekuni sunnah beliau, dan melapangkan dada-dada mereka untuk
mencintai beliau dan mencintai para pemimpin syariat beliau dan ulama dari umat
beliau. Dan barangsiap mencintai suatu kaum maka dia akan bersama mereka pada
hari kiamat berdasarkan hukum dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم:
«المرء مع من أحب»
(“Aqidatus Salaf Ashabul
Hadits” Ash Shobuny hal. 109-111/Darul Minhaj).
Demikian pula pada zaman sekarang: para hizbiyyun harokiyyun (kelompok
pergerakan dan pemberontakan) menamakan Ahlussunnah sebagai murjiah (kelompok
yang mengakhirkan amalan dari keimanan) dikarenakan Ahlussunnah tidak
mengkafirkan pemerintah Muslimin, atau dikarenakan ketergelinciran sebagian
dari Ahlussunnah di dalam masalah keterkaitan antara amalan dan keimanan.
Adapun hizbiyyun mumayyi’un (kelompok yang melembekkan permasalahan) dari
kalangan Hasaniyyun, Mar’iyyun dan yang lainnya menamai Ahlussunnah sebagai
Haddadiyyah –bahkan Ghulatul Haddadiyyah- dikarenakan kerasnya Ahlussunnah pada
kebid’ahan dan pelakunya. Padahal mereka itu tidak tahu bahwasanya Ahlussunnah
itu merupakan pertengahan di antara yang demikian itu, benar-benar mereka itu
di atas petunjuk yang lurus.
Para hizbiyyun tadi di dalam
menuduh Salafiyyun, mereka berdalilkan dengan apa yang ditulis oleh Asy Syaikh
Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله tentang sifat-sifat Haddadiyyah.
Maka sekarang saya akan
menyebutkan apa yang ditulis oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله tentang Haddadiyyah bersama dengan
komentar kami. Dan bukanlah risalah ini sebagai cercaan terhadap Asy Syaikh
Robi’ حفظه الله,
ataupun bersikap sok menantang beliau, akan tetapi risalah ini hanyalah
sekumpulan bayyinah yang menerangkan tentang berlepas dirinya Ahlussunnah di
Dammaj dari yang demikian itu, dan menerangkan lebih berhaknya hizb baru
–Mar’iyyun Barmakiyyun- dengan kebanyakan dari sifat-sifat tersebut.
BAB TIGA:
BERSAMA RISALAH ASY SYAIKH ROBI’ AL MADKHOLIY “AUJUHUSY SYIBH
BAINAL HADDADIYYAH WA BAINAR ROWAFIDH”
Di antara karakter Haddadiyyun
adalah apa yang disebutkan oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله dalam risalahnya: “Aujuhusy Syibh Bainal
haddadiyyah Wa Bainar Rowafidh”:
[PASAL PERTAMA: AT TUQIYYAH (BERTOPENG)]
Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy حفظه الله berkata: Berikut ini apa yang mudah
untuk disebutkan dari sisi-sisi keserupaan antara mereka dan rowafidh:
Sisi yang pertama: Tuqiyyah
yang keras. Maka seorang Rofidhiy itu mengaku padamu bahwasanya dia itu
Ja’fariy dan mengakui sebagian prinsip-prinsipnya dan aqidah-aqidahnya yang
rusak. Sedangkan mereka –yaitu pengikut Falih Al Harbiy- tidak mau mengakui
bahwasanya mereka itu Haddadiyyah, dan tak mau mengakui sedikitpun dari
prinsip-prinsip mereka dan apa yang mereka niatkan.
Komentar:
Sifat pertama dari Haddadiyyah
adalah pemakaian topeng yang amat sangat. Dan tidak ada pada Syaikhuna An
Nashihul amin Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau رعاهم الله topeng apapun. Ini kitab-kitab mereka,
risalah-risalah mereka, kaset-kaset mereka, dan selebaran-selebaran mereka, di
situ mereka menuliskan nama-nama mereka, kuniyah mereka, dan nisbat mereka
dengan sangat terang-terangan. Jika mereka mengunjungi para masyayikh mereka
juga berbicara dengan sangat terang-terangan sambil menjaga adab, karena
kebenaran itu lebih tinggi dan lebih agung daripada sesuatu apapun. Syaikhuna
Yahya Al Hajuriy رعاه الله berkata:
(نحن نمشي على الوضوح رافعي الرأس).
“Kami berjalan di atas sikap
jelas dalam keadaan mengangkat kepala.”
Dan ini merupakan sikap
mengikut beliau pada jalan para Nabi عليهم السلام . Alloh ta’ala berfirman:
قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّينَةِ
وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى
“Berkata Musa: “Waktu untuk
pertemuan (kami dengan) kalian itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan
manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik”.(QS. Thoha: 59).
Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata dalam tafsirnya: “Dan demikianlah
keadaan para Nabi, seluruh urusan mereka adalah terang, jelas, tiada
kerahasiaan di dalamnya, dan tiada pula butuh iklan untuk melariskan.”
(“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/4/hal. 612/Darul Atsar).
Adapun hizb baru –Mar’iyyun-
maka alangkah banyaknya topeng mereka! Dan telah banyak kami lihat hal itu dari
mereka. Dan tidaklah berita itu seperti melihat langsung. Keadaan mereka adalah
seperti firman Alloh ta’ala tentang munafiqun:
وإذا لقوا الذين آمنوا قالوا آمنا وإذا
خلوا إلى شياطينهم قالوا إنا معكم إنما نحن مستهزئون
“Dan bila mereka berjumpa
dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila
mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya
Kami sependirian dengan kalian, kami hanyalah berolok-olok.”(QS. Al Baqoroh:
14).
Dan delegasi dari kota ‘Adn
telah mengunjungi kami kemudian mereka menyampaikan pertanyaan-pertanyaan
kepada Syaikhunan Nashihul amin. Dan di antara yang mereka sebutkan adalah:
Bahwasanya Abdurrohman Al ‘Adniy berfatwa tentang bolehnya tuqiyyah (memakai
topeng) dalam kaitannya dengan fitnah ini. Maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله menjawab bahwasanya yang demikian itu
adalah termasuk dari jalan Rofidhoh. Kaset soal-soal tersebut dan jawabannya
terrekam pada perekaman “Darul Atsar” di Dammaj.
[PASAL KEDUA: SIRRIYYAH (KERAHASIAAN)]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy حفظه الله berkata: sisi kedua adalah:
kerahasiaan ketat di dalam kenyataan mereka dan situs mereka di internet yang
terkenal dengan: “Al Atsariy” yang kerahasiaannya sampai pada derajat yang tak
bisa disusul oleh firqoh manapun, yang mana mereka menulis dengan nama-nama curian
yang tak dikenal. Jika salah seorang dari mereka mati tidak diketahui jasadnya
ataupun jejaknya. Dengan perbuatan ini mereka mengungguli Rofidhoh karena
Rofidhoh itu tetap dikenal, kitab-kitab tarikh dan al jarh wat ta’dil penuh
dengan nama-nama mereka dan keadaan mereka sekalipun mereka memakai topeng dan
kerahasiaan yang mana kebanyakan dari keadaan mereka tidak nampak.
Komentar:
Sifat kedua dari Haddadiyyah adalah: sirriyyah (kerahasiaan).Dan tidak ada pada
Syaikhunan Nashihul Amin dan orang-orang yang bersama beliau sirriyyah ini.
Seluruh media massa yang mereka sebarkan menjadi saksi terhadap yang demikian
itu. Sementara itu, para penulis hizb baru –Mar’iyyah- kebanyakan dari mereka
adalah pelaku sirriyyah ini.
Termasuk dari data nama para
penulis gelap mereka yang mana tulisan-tulisan mereka tersebar di situs “Asy
Syihr” dan “Al Wahyain” milik kedua anak Mar’i bisa dilihat di
“Mukhtashorul Bayan” (karya Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy, Asy Syaikh Abu
‘Amr Al Hajuriy, Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy dkk, Asy Syaikh Sa’id Da’as Al
Yafi’iy, dan lainnya/hal. 68-69).
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy
telah mengumumkan nasihat-nasihat kepada para penulis gelap tadi, dan
menjelaskan kebatilan jalannya mereka, dan menerangkan bahwasanya menerima berita
dari para penulis gelap yang sengaja merahasiakan diri tadi merupakan bentuk
penyelisihan terhadap prinsip-prinsip As Salafush sholih. Beliau رعاه الله juga telah menyebarkan risalah ringkas
berjudul “Ma Yashna’ul A’da’ Fi Jahil Ma Yashna’ul Jahil Fi Nafsih.”
Beberapa para penasihat juga
telah bangkit mencurahkan nasihat-nasihat untuk mereka. Termasuk yang
melaksanakan tugas nasihat ini adalah: Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy رعاه الله dalam risalahnya “As Saifush Shoqil Wan
Nushhul Jamil Fi Bayani Halil Majahil”, Abu Ishaq Ayyub bin Mahfuzh Ad Daqil
Asy Syibamiy رعاه الله dalam risalahnya “Fathul ‘Alimil Jamil Fi
Ta’rifil Majahil”, dan “Qobla An Tas’al Ajib”, dan Kholid bin Muhammad Al
Ghorbaniy رعاه الله
dalam risalahnya “Al Barmakiy Bainas Sa’il Wal Mujib”, dan Abu Abdirrohman Umar
bin Ahmad Ash Shubaihiy رعاه الله dengan qoshidahnya “Hadiyyatun
Qoyyimatun Lil Majahil”, dan yang lainnya.
Ternyata mereka tak mau tobat
dan tidak mau sadar.
Adapun orang yang menampakkan
pertolongan kepada Ahlussunnah Dammaj dalam menghadapi Mar’iyyun tapi tidak mau
terang-terangan menampakkan namanya telah dikenal dengannya, maka kami berlepas
diri dari apa yang dilakukannya itu, karena perbuatannya itu adalah batil,
menyelisihi kejujuran, dan menyerupai gaya hizbiyyin dan mubtadi’ah.
Dan Asy Syaikh Robi حفظه الله berkata tentang para penulis gelap:
“Sesungguhnya berlindungnya mereka pada metode ini –yaitu menyamarkan diri di
bawah nama-nama yang tak dikenal- benar-benar merupakan dalil tentang pengecut
dan penakutnya mereka, dan mereka itu merasa bahwasanya mereka itu ada di atas
kebatilan.” (“Mausu’ah Muallafatisy Syaikh Robi’’/9/hal. 299/cet. Darul Imam
Ahmad).
Nah, itu para Mar’iyyun, mereka memakai metode yang hina tersebut.
Adapun perkataan Asy Syaikh Robi’
Al Madkholiy حفظه الله tentang Haddadiyyin: “Dan dengan
amalan ini mereka telah mengungguli Rowafidh”,
Kami katakan –semoga Alloh
memberi kami taufiq-: Demikian pula Mar’iyyun. Syaikhunan Nashihul Amin رعاه الله telah berkata pada mereka: “Jadilah kalian
itu menulis dengan nama-nama pinjaman seperti orang-orang sebelum kalian belum
lama ini. Para pengelola surat kabar Rofidhoh “Al Balagh” lebih berani daripada
kalian…” dan seterusnya. (“Ma Yashna’ul A’da’ Fi Jahil Ma Yashna’ul Jahil Fi
Nafsih.”/Karya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله).
Kesimpulan: Sesungguhnya
Salafiyyun Dammaj jauh dari sifat Haddadiyyah, sementara para Mar’iyyun mereka
itulah Haddadiyyun.
[PASAL TIGA: MENOLAK SEBAGIAN IMAM SALAF, PRINSIP-PRINSIP
MEREKA, DAN MERENDAHKANNYA]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi yang ketiga: Penolakan.
Rowafidh menolak Zaid bin Ali ketika beliau berloyalitas pada Abu Bakr dan
Umar, sementara Al Haddadiyyah menolak prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam Al Jarh
Wat Ta’dil, dan mereka merendahkan para imam Al Jarh Wat Ta’dil dan merendahkan
prinsip-prinsip mereka.
Komentar:
Sifat ketiga dari Haddadiyyah
adalah menolak sebagian prinsip-prinsip Ahlussunnah. Dan tidak ada pada
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau رعاهم الله penolakan macam ini. Mereka tidak menolak
seorangpun dari As Salafush Sholih, dan tidak menolak prinsip-prinsip
Ahlussunnah dalam Al Jarh Wat Ta’dil, bahkan mereka kokoh di atas ilmu Al
Jarh Wat Ta’dil dan penerapannya sebagaimana mestinya, sebagaimana dulu syaikh
mereka Al Imam Al Wadi’iy kokoh di atasnya dan berkata: “Adapun Al Jarh
Wat Ta’dil maka aku tidak akan meninggalkannya walaupun tiada seorangpun yang
mendatangiku. Dan tidaklah kitab “Al Mushoro’ah” kecuali termasuk dalam bab
ini.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 235/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).
Mereka juga tidak menolak satupun dari prinsip-prinsip Ahlussunnah, dan tidak
merendahkan para imam Al Jarh Wat Ta’dil, dan tidak pula merendahkan
prinsip-prinsip mereka yang benar. Seluruh tulisan yang mereka sebarkan
merupakan saksi terhadap semua itu. Mereka mencintai As Salafush Sholih,
mengagungkan mereka, mengikatkan diri dengan jalan dan prinsip-prinsip mereka,
mengajak manusia kepadanya, dan memerangi orang-orang yang ingin menggoncangkan
prinsip ini seperti Abdurrohman Al ‘Adaniy yang di antara ucapannya adalah:
“Bahwasanya sebagian masalah zaman ini tidak disyaratkan padanya ada salafnya
(pendahulunya).” (“Mukhtashorul Bayan”/ hal. 63).
Adapun Syaikh kami Yahya Al
Hajuriy حفظه الله
ditanya oleh saudara kita Mahir bin Ali Ash Shobahiy حفظه الله: “Apakah disyaratkan untuk setiap masalah
ada salaf (pendahulunya)?”
Maka beliau حفظه الله menjawab: “Setiap masalah ada
salafnya.”(“Mukhtashorul Bayan”/hal. 63).
Ini juga aqidah Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy حفظه الله karena beliau saat saudara kita tadi
menyodorkan padanya soal terdahulu, beliau حفظه الله menjawab: “Iya, setiap masalah harus
ada salafnya.” Lalu beliau menyebutkan perkataan yang kesimpulannya adalah:
Kita harus kembali pada salaf pada masalah-masalah yang ada, karena mereka
adalah para pembawa agama, dan merekalah yang mengambil agama ini dengan
segarnya dari Nabi صلى الله عليه وسلمdan menerapkan pengajaran-pengajaran agama
ini dengan keberadaan Nabi صلى الله عليه وسلمdan
persetujuan beliau, dan bahwasanya pengikat ini, pemahaman salaf, harus ada,
karena masalah ini adalah jalan masuk yang darinya para pengekor kebid’ahan dan
hawa nafsu.”
Lalu beliau menyebutkan ucapan
yang panjang khusus untuk bab ini. (“Mukhtashorul Bayan”/hal. 63).
Ini adalah penjelasan ringan
tentang kekokohan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy di atas Sunnah dan Salafiyyah,
berbeda dengan hizbiyyun baru itu yang tidak merasa cukup dengan sebagian
manhaj Salaf.
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy حفظه الله
berkata: Mereka berkata: Pertama: “Apakah Al Jarh Wat Ta’dil yang
ada di dalam ilmu mushtholah itu memang sama dengan ucapan para imam dan ulama
terhadap pengekor bid’ah dan hawa nafsu? Atau dengan makna lain: Apakah
kaidah-kaidah ilmu ini diterapkan dalam perkataan terhadap para penganut
aliran-aliran?”
Komentar:
Pertanyaan-pertanyaan ini
dilontarkan oleh haddadiyyun untuk membikin manusia ragu terhadap ilmu
mustholah. Sasaran mereka adalah: Bahwasanya kaidah-kaidah mushtholah tidak
diterapkan dalam perkataan terhadap pengekor nawa nafsu dan bid’ah. Dan ini
tentu saja sesuatu yang batil, tidak diucapkan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy
dan tidak pula beliau setujui.
Bahkan sungguh orang-orang yang
punya perhatian mendalam pada bidang mushtholah tahu bahwasanya bidang ini
juga berbicara tentang ahlul bida’ dan pengekor hawa nafsu, sebagaimana dia
juga berbicara tentang orang yang kurang hapalannya. kitab-kitab Al Jarh
Wat Ta’dil penuh dengan kritikan terhadap para pemeluk aliran yang menyimpang.
Misalnya adalah:
Al Imam Ibnu Abi Hatim
meriwayatkan dari yahya bin Said Al Qoththon bahwa beliau berkata: “Aku
bertanya pada Malik bin Anas tentang Ibrohim bin Abi Yahya, apakah dia itu
tsiqoh?” maka beliau menjawab: “Tidak. Dia juga tidak tsiqoh dalam
agamanya.” (“ Al Jarh Wat Ta’dil”/2/hal. 126).
Ibrohim ini mubtadi’ yang terkenal. Al Imam Ahmad berkata: “Dia itu qodariy,
jahmiy, seluruh bencana ada padanya. Mereka meninggalkan haditsnya. Ayahnya
tsiqoh.” (“Siyar A’lamin Nubala”/8/451/terjemah Ibrohim bin Abi Yahya/Ar
Risalah).
Al Imam Ibnu hibban
meriwayatkan dari Yahya bin Ma’in bahwasanya beliau berkata: “Ibrohim bin Abi
Yahya itu pendusta, rofidhiy, qodariy.” (“Al Majruhin”/1/hal. 107).
Setelah menyebutkan sanad
hadits ‘Aisyah –semoga Alloh meridhoinya- dari jalur ‘Aun bin ‘Umaroh
dari Abul ‘Ala –dan namanya adalah ‘Amr ibnul ‘Ala- dari Ibnu Sarh -namanya
Sholih-, Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Aun itu dho’if
(lemah), Sholih itu bukanlah orang yang sholih karena dia itu khorijiy.”
(“Tadzkirotul Huffazh”/3/hal. 958-959 ).
Contoh-contoh dalam bab ini
banyak, tidaklah menentangnya kecuali orang yang mata hatinya buta seperti para
haddadiyyun itu, dan bukanlah Darul hadits di Dammaj termasuk dari orang-orang
yang berkeyakinan seperti aqidah mereka, dan tidak pula berpendapat seperti
pendapat mereka.
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy حفظه الله
berkata: Yang kedua, mereka berkata: “Sesungguhnya ilmu Al Jarh Wat Ta’dil
itu di luar ilmu-ilmu syariat, dia punya ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah
terbatas dan terkenal, dijelaskan oleh para ulama mushtholah dalam kitab-kitab
mereka. Adapun pembicaraan tentang para tokoh yang bukan termasuk para pembawa
riwayat, maka ini membutuhkan ilmu yang meliputi syariat ini, mempelajari
ushul, menelusuri dalil-dalil agar setelah itu bisa keluar dengan hukum
terhadap orang ini: apakah dia telah menyelisihi manhaj Ahlussunnah Wal jama’ah
ataukah tidak?”
Komentar:
Ini juga tidak diucapkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy dan tidak pula
disetujui oleh beliau. Bahkan ilmu Al Jarh Wat Ta’dil termasuk dalam
ilmu-ilmu syariat Islamiyyah yang mulia dan agung.
Al Imam Ibnush Sholah رحمه الله berkata: “Dan sesungguhnya ilmu hadits itu
merupakan ilmu yang paling mulia, dan cabang yang paling bermanfaat, yang
dicintai oleh pejantan dari lelaki dan jagoan mereka, yaitu: para peneliti dari
kalangan ulama dan orang-orang sempurna mereka. Dan tidaklah membencinya
kecuali orang-orang yang hina dan rendahan.Ilmu hadits merupakan ilmu yang
paling banyak masuk ke dalam cabang-cabang ilmu syariat, terutama cabang ilmu
fiqh yang mata itu merupakan mata air syariat. Oleh karena itu orang-orang
yang meninggalkannya banyak mengalami kekeliruan, seperti para penulis dari
kalangan fuqoha, dan nampak cacat tersebut pada perkataan orang yang ilmu
haditsnya kurang, dari kalangan ulama.” (“Muqoddimah Ibnush Sholah”/1/hal. 3).
Al Qodhi ‘Iyadh رحمه الله berkata pada para pencari hadits: “Karena
sesungguhnya ilmu kitab dan atsar merupakan asal dari syariat yang mana
kepadanyalah syariat itu menisbatkan diri. Dan keduanya merupakan pondasi
ilmu-ilmu syariat yang di atasnyalah meninggi cabang-cabang dan
bangunannya. Ini merupakan ilmu yang segar diminum, tinggi tuntutannya,
memancar mata airnya, bercabang-cabang fasalnya dan cabangnya.
Pasal pertama dari ilmu hadits
adalah: mengetahui adab belajar, mengambil ilmu dan mendengarkan pelajaran. Kemudian:
mengetahui ilmu hadits, sisi-sisinya dan dari siapakah mengambilnya. Kemudian:
memantapkan hadits dan mengikatnya. Kemudian: menghapal hadits. Kemudian:
memisahkan hadits-hadits dan memeriksanya dengan cara mengetahui mana yang
shohih, yang lemah, yang hasan, yang bisa diterima, yang harus ditinggal, yang
palsu, perselisihan riwayatnya, penyakitnya, memisahkan antara riwayat yang
sanadnya bersambung ke Rosululloh, dengan yang sanadnya dari tabi’iy langsung
ke Rosululloh, dengan riwayat yang sampai kepada Shohabiy, dengan riwayat
bersambung. Kemudian: mengetahui thobaqot para periwayat hadits dari sisi
tsiqoh (terpercaya), hapalannya, keadilannya, jarh (kritikan), kelemahan,
jahalah (ketidakterkenalan), taqoddum (terdahulu zamannya), taakhkhur (zaman
belakangan). Kemudian: memisahkan tambahan-tambahan dari para penghapal dan
yang bukan dari penghapal.
Ada juga pasal mudroj (sisipan
kata) di tengah-tengah riwayat dari perkataan para penukilnya. Kemudian:
mengetahui kata-kata asing di dalam hadits dan tafsir lafazhnya. Kemudian:
mengetahui nasikh dan mansukh dari hadits, penjelasan dari hadits yang masih
global, juga hadits-hadits yang saling bertentangan, hadits yang
rumit. Kemudian: mempelajari dan memahami isi hadits, dan mengeluarkan
hikmah-hikmah dan hukum-hukum dari nash-nashnya dan makna-maknanya, serta
menyingkapkan keruwetan lafazh-lafazhnya dengan penakwilan yang terbaik, juga
memadukan hadits-hadits yang berbeda pada sisi-sisi yang terperinci, dan
penempatannya yang terbaik.
Kemudian: menyebarkannya,
adab-adabnya, dan tujuan yang benar dalam itu semua untuk agama ini dan mencari
pahala dari Alloh.
Seluruh pasal dari pasal-pasal
ini merupakan ilmu yang berdiri sendiri, dan merupakan cabang yang tinggi
sempurna di atas dasar dan landasan ilmu atsar. Masing-masingnya memiliki karya
tulis yang beraneka ragam, banyak dan bermanfaat. (“Al Ilmam Ila ma’rifati
ushulir Riwayah Wa Taqyiidis Sama’”/Ibnush Sholah/1/hal. 3-5).
Ini semua merupakan bantahan
terhadap prinsip yang dibuat oleh Haddadiyyah. Dan tidaklah Darul hadits di
Dammaj memiliki prinsip macam tadi.
Ucapan Haddadiyyun: (Adapun
pembicaraan tentang para tokoh yang bukan termasuk para pembawa riwayat, maka
ini membutuhkan ilmu yang meliputi syariat ini, … ) mengabarkan tentang
keluarnya ulama hadits dari area ulama syari’ah, dan memberikan kesan bahwa
ulama hadits tak punya keahlian dalam mengkritik ahlul bid’ah. Ini tentu saja
batil, bahkan para imam hadits itu memahami sunnah dan bid’ah, dan tahu
kapankah seseorang itu keluar dari area sunnah menuju kepada bid’ah. Ini masuk
ke dalam ilmu Al Jarh Wat Ta’dil. Para imam yang menulis kitab-kitab tentang
kritikan terhadap para majruhin (orang-orang yang dikritik) sebagaimana mereka
mengkritik orang yang lemah hapalannya, demikian pula mereka mengkritik orang
yang rusak agamanya.
Al Imam Ibnu Hibban Al Bustiy رحمه الله berkata: “Adapun kritikan terhadap para
dhu’afa (orang-orang yang lemah) maka hal itu terdiri dari dua puluh jenis.
Setiap orang yang menekuni sunnah-sunnah, menuntutnya dan mencarinya, wajib
baginya untuk mengetahuinya agar jangan sampai menghukumi setiap orang kecuali
apa yang memang ada padanya, dan jangan sampai berkata tentangnya melebihi apa
yang dia ketahui tentangnya.
[Jenis pertama:] adapun
jenis pertama dari jenis-jenis kritikan terhadap orang-orang yang lemah: maka
mereka itu adalah para zanadiqoh (munafiqun I’tiqodiy) yang punya keyakinan
zandaqoh dan kekufuran, tidak beriman pada Alloh dan hari Akhir. Mereka
dulu selalu masuk ke kota-kota dan menyerupakan diri dengan ulama, memalsukan
hadits terhadap para ulama: meriwayatkan dari mereka untuk menimbulkan keraguan
dan kebimbangan di hati-hati mereka. Mereka itu sesat dan menyesatkan. –sampai
pada ucapan beliau:-
[Jenis kedua:] di antara mereka
ada orang yang dikuasai setan hingga memalsukan hadits terhadap para syaikh
yang terpercaya dalam bab anjuran untuk berbuat kebaikan, dan menyebutkan
keutamaan-keutamaan –sampai pada ucapan beliau:-
[Jenis ketiga:] Dan di antara
mereka ada orang yang memalsukan hadits dalam keadaan menganggap hal itu halal,
bersikap lancang kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم –sampai pada ucapan beliau:-
[Jenis keempat:] Dan di antara
mereka ada orang yang memalsukan hadits ketika terjadi suatu peristiwa,
membacakannya pada para raja dan yang lainnya, di sebagian waktu. –sampai
pada ucapan beliau:-
[Jenis kelima:] Dan di antara
mereka ada orang yang –sampai pada ucapan beliau:- jiwanya didominasi
oleh kesholihan dan ibadah, tapi lalai (tidak waspada) dari pencampuran dan
pemisahan hadits –sampai pada ucapan beliau:-
[Jenis keenam:] di antara
mereka ada sekelompok orang tsiqot (terpercaya) yang hapalannya tercampur pada
akhir-akhir umur mereka hingga tidak lagi memahami hadits yang mereka sampaikan
sendiri –sampai pada ucapan beliau:-
[Jenis ketujuh:] di antara
mereka ada orang-orang yang menjawab apapun yang ditanyakan, sama saja apakah
itu dari haditsnya atau hadits orang lain, dia tidak peduli untuk mengikuti apa
yang didiktekan orang padanya. –sampai pada ucapan beliau:-
[Jenis kedelapan:] di antara
mereka ada orang yang berdusta tapi tidak tahu bahwasanya dirinya telah
berdusta, karena ilmu ini bukanlah dari keahliannya, dan kakinya tak pernah
berdebu dalam mengurusi bidang ini. –sampai pada ucapan beliau:-
[Jenis kesembilan:] di antara
mereka ada orang yang meriwayatkan hadits dari para syaikh yang tak pernah
dilihatnya, tapi dia meriwayatkan dari kitab-kitab yang shohih. Kitab-kitab
tadi shohih, akan tetapi orang tadi tidak mendengar hadits dari para syaikh
tadi dan tidak pernah melihat mereka. –sampai pada ucapan beliau:-
[Jenis kesepuluh:] dan di
antara mereka ada orang yang membalik riwayat dan mentaswiyah sanad (yaitu
menghapus satu rowi di antara dua rowi yang saling mendengar, dan memberikan
kesan bahwa rowi yang ini mendengar hadits tersebut darinya, padahal
tidak). –sampai pada ucapan beliau:-
[Jenis kesebelas:] dan di
antara mereka ada sekelompok orang yang melihat beberapa syaikh dan mendengar
dari hadits dari mereka, lalu sepeninggal para syaikh tadi mereka meriwayatkan
dari mereka hadits-hadits yang tidak mereka dengar dari mereka –sampai
pada ucapan beliau:-
[Jenis kedua belas:] di antara
mereka ada orang yang menulis hadits dan melakukan rihlah (perjalanan) demi
hadits tadi, hanya saja kitabnya hilang. Manakala kitab tadi dibutuhkan jadilah
dia meriwayatkan hadits tadi dari kitab orang lain tanpa menghapal semuanya,
atau tanpa dia mendengar hadits-hadits yang ada dalam kitab orang lain
tadi. –sampai pada ucapan beliau:-
[Jenis ketiga belas:] di antara
mereka ada orang yang kesalahannya banyak dan buruk, dan hampir-hampir membalik
sisi benarnya sehingga dia berhak untuk ditinggalkan karena faktor tadi,
sekalipun dia itu sebenarnya terpercaya dan jujur dalam meriwayatkan.
–sampai pada ucapan beliau:-
[Jenis keempat belas:] di
antara mereka ada orang yang mengalami musibah dengan adanya anak yang jelek
atau juru tulis yang jelek yang memalsukan hadits untuknya, sementara syaikh
tadi mempercayai mereka. Mereka membacakan padanya hadits dan berkata: “Ini
adalah hadits Anda,” lalu dia meriwayatkan hadits tadi. Syaikh tersebut
sebenarnya tsiqoh akan tetapi tidak boleh berhujjah dengan riwayat-riwayatnya,
dan orang lain tidak boleh meriwayatkan hadits darinya manakala syaikh tadi
mencampuradukkan riwayatnya yang shohih dengan hadits yang palsu. –sampai
pada ucapan beliau:-
[Jenis kelima belas:] di
antara mereka ada orang yang seseorang memasukkan padanya suatu hadits tanpa
diketahuinya. Ketika jelas baginya bahwasanya hadits tadi bukan milik dia dia
tak mau rujuk, bahkan mulai meriwayatkannya karena sombong untuk mau rujuk dari
apa yang telah telanjur keluar dari mulutnya. Hal ini tidaklah terjadi kecuali
dari kecilnya adab keagamaannya, dan rendahnya kepeduliannya terhadap perkara
yang tercela untuk dikerjakan. –sampai pada ucapan beliau:-
[Jenis keenam belas:] di antara
mereka ada orang yang keseleo lidahnya hingga meriwayatkan sesuatu yang salah
tanpa diketahuinya, kemudian jelaslah baginya hal itu dan dia tahu, tapi tak
mau rujuk darinya, bahkan terus-terusan meriwayatkan hadits yang salah tadi
setelah tahu bahwasanya dia bersalah pada kali yang pertama. Orang yang seperti
ini adalah pendusta. –sampai pada ucapan beliau:-
[Jenis kesembilan
belas:] di antara mereka ada mubtadi’ yang jika dirinya itu adalah da’i,
menyeru manusia kepada kebid’ahannya hingga menjadi imam yang diikuti dalam
kebid’ahannya, dan menjadi rujukan dalam kesesatannya, –sampai pada ucapan
beliau:-
[Jenis kedua puluh:] di antara
mereka ada tukang cerita dan pengemis yang sering memalsukan hadits dalam
cerita-cerita mereka dan meriwayatkannya dari para tsiqot,… selesai dari “Al
Majruhin”/1/hal. 62-69).
Perhatikanlah kejelian
pandangan imam hadits tentang jenis-jenis majruhin, bagaimana Al Imam Ibnu
Hibban رحمه الله
menjadikan pada setiap jenis tadi contoh-contoh kasus. Dan di antara para
majruhin tadi adalah: para pengekor hawa nafsu dari kalangan zanadiqoh dan yang
lainnya dari kalangan mubtadi’ah.
Kesimpulan: Sesungguhnya
haddadiyyah adalah mubtadi’ah, yang mendatangkan prinsip bikinan sendiri untuk
meruntuhkan sebagian prinsip-prinsip imam Salaf. Dan hal ini tidak dilakukan
oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau -semoga
Alloh menjaga mereka- . ini kitab-kitab dan risalah-risalah mereka dalam
membantah dan memperingatkan manusia dari para ahlil batil, dibangun di atas
kaidah-kaidah para imam hadits, seperti:
-
Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang tidak tahu,
-
Orang yang hapal adalah hujjah terhadap orang yang tidak hapal,
-
Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang
yang meniadakan, kecuali jika ada dalil yang mendukung orang yang meniadakan
tadi, maka dia didahulukan,
-
Orang yang tinggal satu kampung itu lebih tahu daripada orang lain,
-
Berita dari tsiqoh (orang yang terpercaya) itu diterima,
-
Barangsiapa melakukan kesalahan yang bersifat merusak, lalu diperingatkan dan
tak mau rujuk, maka jatuhlah dia dan terkena jarh.
-
Tidak boleh diam terhadap kebatilan atau kesalahan padahal memiliki ilmu dan
kemampuan,
-
Wajib memperingatkan umat dari orang yang ditakutkan membahayakan agama mereka.
-
Jarh itu seperti perkara lainnya seperti ijtihadnya seorang mujtahid,
bahwasanya dia itu dibangun di atas ilmu dan keyakinan, bukan sekedar dugaan
semata,
-
Jarh mufassar (terperinci) yang datang dari seorang yang ahli itu didahulukan
di atas ta’dil (pujian),
-
Dan kaidah-kaidah Al Jarh Wat Ta’dil lain yang terkenal.
Maka Syaikhuna Yahya Al Hajuriy
dan orang-orang yang bersamanya رعاهم الله berjalan di atas kaidah-kaidah terkenal
dari para imam hadits, dan mereka tidak mendatangkan kaidah baru. Maka
barangsiapa menuduh mereka dengan haddadiyyah maka sungguh dia adalah pendusta,
siapapun dia.
DI ANTARA PENYELISIHAN AL MAR’IYYUN TERHADAP PRINSIP-PRINSIP ULAMA
HADITS
Bahkan hizb baru itulah yang menyelisihi banyak sekali prinsip-prinsip ulama
tadi, sebagaimana didapati oleh orang yang mau membaca sebagian dari
malzamah-malzamah dan kaset-kaset mereka. Di antaranya adalah:
Yang pertama: Mereka tidak
menerima jarh terperinci yang datang dari ulama yang mengetahui penyelewengan
kedua anak Mar’i dengan alasan mereka belum mendapati penyelewengan mereka.
Menyelisihi kaidah ulama hadits: “Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang
yang tidak tahu.”
Al Imam Muhammad bin Ibrohim Al Wazir رحمه الله berkata: “Orang yang tahu adalah hujjah
terhadap orang yang bodoh.” (“Ar Roudhul Basim”/1/hal. 142).
Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Orang yang tahu adalah hujjah
terhadap orang yang tidak tahu.” (“Fathul bari”/di bawah nomor: 3585).
Yang kedua: sebagian
mereka berbicara dengan batil, manakala dikritik dia mengelak sambil berkata:
“Aku nggak ingat itu,” dia ingin menampilkan kelupaannya untuk meruntuhkan
seluruh kritikan yang dibangun di atas persaksian orang yang hapal. Ini adalah
upaya yang buruk. Al Imam Ibnul Qoththon رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya tidaklah
orang yang tidak hapal itu hujjah terhadap orang yang hapal.” (sebagaimana
dalam “Aunul ma’bud”/1/hal. 160/Ath Thoharoh/Takhlilul Lihyah).
Maka perbuatan mereka tadi
menyelisihi kaidah para imam hadits: “Orang yang hapal adalah hujjah terhadap
orang yang tidak hapal.” Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Orang yang hapal adalah
hujjah terhadap orang yang tidak hapal,” (“Fathul Bari”/6/hal. 47/ Al Hajj/ Ma
Yuqtalul Muhrim Minad Dawabb).
Al Imam Muhammad Ash Shon’aniy رحمه الله berkata: “Bahkan yang terkenal adalah
bahwasanya Orang yang hapal adalah hujjah terhadap orang yang tidak hapal.”
(rujuk “Taudhihul Afkar”/Bayanusy Syadz/1/hal. 386).
Yang ketiga: Ketika
Ahlussunnah dan ulama mereka menampilkan bukti-bukti penyelewengan kedua anak
Mar’i bangkitlah para pengikut dan penolong mereka dengan meniadakan
penyelewengan tadi tanpa bukti-bukti ataupun hujjah, dan pura-pura buta
terhadap bukti-bukti yang kuat tadi, kemudian mengharuskan orang-orang untuk
tetap pada asalnya (yaitu: pada asalnya, kedua anak Mar’i adalah salafiy).
Ini menyelisihi apa yang telah
menetap di kalangan Salaf: “Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih
diutamakan daripada orang yang meniadakan,” karena orang yang meniadakan itu
dia tinggal pada kondisi asal, sementara orang yang menetapkan itu memindahkan
dari asalnya dikarenakan dia punya tambahan ilmu. Al Hafizh Ibnush Sholah رحمه الله berkata: “…seandainya orang tadi
meniadakan hal itu, maka orang yang menetapkannya lebih didahulukan daripada
dia dikarenakan orang tadi mengetahui perkara yang tersembunyi darinya.”
(Muqoddimah Ibnush Sholah/1/hal. 13/Ma’rifatut Tadlis).
Kecuali jika orang yang
meniadakan tadi mendatangkan dalil yang terang yang menunjukkan tidak benarnya
faktor pemindah tadi, dan menunjukkan keteguhan orang yang dibicarakan tadi di
atas asalnya. Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Orang yang menetapkan (adanya
perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang meniadakan, kecuali jika
orang yang meniadakan tadi disertai oleh dalil yang mendukungnya, maka dia
didahulukan.” (“Fathul Bari”/1/hal. 4/Bad’il Wahyi).
Sebagian Baromikah (Barmakiyyun
pengikut anak mar’i) berkata: “Sesungguhnya Hajuriy
itu syadzdz (menyendiri) karena dia menyelisihi ulama yang banyak
dalam kasus Abdurrohman bin Mar’i!).
Jawab kami: barangkali
mereka dengan perkataan ini ingin memperkuat upaya mereka bahwasanya orang yang
menetapkan tidaklah didahulukan di atas orang yang meniadakan, dan berhujjah
dengan ucapan Al Imam As Sakhowiy رحمه الله : “Dan termasuk perkara yang
diperselisihkan adalah: jika seorang rowi menetapkan sesuatu dari syaikhnya,
lalu ditiadakan oleh rowi yang lebih hapal daripada dia, atau lebih banyak
jumlahnya, atau lebih sering menyertai syaikh tadi, maka sesungguhnya ahli fiqh
dan ushul berkata: “Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih
diutamakan daripada orang yang meniadakan,” maka diterimalah penetapannya tadi.
Sementara para ahli hadits menamai orang tadi sebagai syadzdz (orang yang
menyendiri) karena mereka menafsirkan penyendirian yang disyaratkan
peniadaannya di sini adalah: penyelisihan rowi terhadap rowi yang lebih kuat
dalam riwayat tadi, ketika terjadi kesulitan untuk menggabungkan dua riwayat.
Asy Syaifi’iy menyetujui mereka dalam tafsir yang tersebut tadi, bahkan beliau
terang-terangan menyetakan bahwasanya rowi yang jumlahnya banyak lebih pantas
menghapal daripada satu orang saja, dikarenakan kemungkinan lupa itu lebih
dekat kepadanya daripada terjadinya lupa pada rowi yang banyak, dan ketika itu
maka ditolaknya ucapan sekelompok orang dikarenakan ucapan satu orang adalah
kemungkinan yang jauh.” (Fathul Mughits”/1/hal. 17-18).
Aku katakan وفقني الله : kami lebih beruntung dengan
prinsip-prinsip para imam hadits daripada kalian. Sesungguhnya Al Imam As
Sakhowiy رحمه الله
juga berpegang dengan kaidah ini dan berkata pada tempat lain: “Orang yang
menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang
meniadakan.” (Fathul Mughits”/3/hal. 157/Ma’rifatut Tabi’in).
Hanya saja beliau merojihkan
yang lainnya apabila peniadaan tadi lebih kuat daripada penetapan, dengan
bentuk: orang yang meniadakan itu lebih hapal atau lebih banyak jumlahnya atau
lebih lama menyertai syaikh tadi daripada orang yang menetapkan.
Adapun dari sisi hapalan, maka
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله lebih hapal daripada mereka terhadap
penyelisihan Abdurrohman bin Mar’i dan lebih banyak bersahabat dengannya
daripada mereka, dan didukung oleh persaksian ribuan pelajar. Demikian pula
upaya pengikut Ibnu Mar’i untuk mengambil sejumlah masjid Salafiyyin,
sesungguhnya yang demikian itu tidaklah tersembunyi. Maka kaidah: “Orang yang
menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang
meniadakan” pada fitnah ini adalah kaidah yang kokoh tidak tergoyahkan.
Kemudian sesungguhnya
hakikat syudzudz (penyendirian) adalah penyelisihan orang terhadap
kebenaran sekalipun para penyelisih tadi itu banyak. Adapun Al Jama’ah adalah
apa yang sesuai dengan kebenaran sekalipun dia sendirian di bumi. Imam Ibnul
Qoyyim رحمه الله
berkata,” orang yang syadzdz (menyendiri) itu adalah orang yang
menyelisihi kebenaran meskipun seluruh manusia ada di atasnya, kecuali satu
orang dari mereka. Maka mereka itulah orang yang menyendiri. Seluruh
manusia pada zaman Ahmad bin Hanbal telah menyendiri kecuali sekelompok kecil.
Mereka itulah Al Jama’ah. Pada qodhi saat itu, para mufti, kholifah dan para
pengikutnya mereka semua itulah orang-orang yang menyendiri. Dan Imam Ahmad
sendirian sebagai Al Jama’ah.” (“I’lamul Muwaqqi’in” 3/287/Darul Hadits).
Keempat: Di antara perkara
yang hendak diruntuhkan oleh Baromikah adalah kaidah: “Orang yang tinggal satu
kampung itu lebih tahu daripada orang lain,” dan mereka mencurahkan kerja keras
untuk membatalkan persaksian para pelajar Darul Hadits di Dammaj terhadap
keburukan-keburukan Abdurrohman bin Mar’i ketika masih tinggal di Dammaj,
dengan beralasan sudah adanya jaringan telpon([4]).
Mereka lalai bahwasanya orang yang hadir itu melihat apa yang tidak dilihat
oleh orang yang tidak hadir sekalipun sudah banyak telepon dan HP.
Kaidah ini telah ditetapkan di
kalangan ahlul hadits, mereka memakainya sebagai faktor penguat ketika terjadi
perselisihan. Dan kaidah ini tidak tergoyahkan. Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “… Ibnu Yunus telah mengetahui
keberadaan orang ini, dan beliau adalah orang yang sekampung dengannya dan
paling tahu tentang penduduk Mesir.” (“Lisanul Mizan”/1/hal. 368).
Yang demikian itu dikarenakan
adanya tambahan ilmu bagi orang yang tinggal satu kampung. Al Khothib Al
Baghdadiy رحمه الله
setelah menyebutkan ucapan ini : “Dulu beliau berkata: Orang yang tinggal satu
kampung dengan seseorang itu lebih tahu tentang dirinya,” berkata: “Dikarenakan
mereka punya tambahan ilmu tentang berita orang ini, melebihi pengetahuan orang
asing terhadap lahiriyyah kelurusan agama orang tadi.” (Al Kifayah/Babul Qoul
Fil Jarh Wat Ta’dil/1/hal. 333/Darul Huda).
Kelima: Upaya Baromikah
dalam menolak berita satu orang yang tsiqoh –bahkan banyak orang tsiqot-, lalu
mereka berusaha untuk membatalkan berita-berita orang-orang tsiqot tadi tentang
Ibnu Mar’i. dan ini tentu saja batil karena menentang firman Alloh
ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ
جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman
jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah
kejelasan.” (QS Al Hujurot: 11).
Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Di dalam ayat ini ada dalil yang
menunjukkan diterimanya berita satu orang jika dia itu ‘adil (lurus agamanya),
karena Alloh hanyalah memerintahkan tatsabbut ketika ada penukilan dari kabar
orang fasiq.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/8/hal. 582).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه اللهberkata tentang tafsir
ayat ini: “Firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada
kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan.” Alloh
memerintahkan untuk tabayyun setiap kali datang orang fasiq dengan membawa
suatu berita. Bahkan di antara berita-berita itu ada jenis berita yang di
situ tidak dibolehkan untuk tabayyun([5]), ada
berita yangdibolehkan di situ untuk tidak tabayyun([6]), dan
ada juga berita yang mengandung hukuman pada sebagian orang, Karena Alloh
menyebutkan motif perintah tabayyun tadi dengan jika datang pada kita orang
yang fasiq yang membawa berita, kita khawatir akan menimpakan sesuatu pada
suatu kaum dengan suatu kebodohan. Andaikata setiap orang yang ditimpa
sesuatu berdasarkan suatu berita itu demikian (harus ditabayyuni), niscaya tak
akan terjadi perbedaan antara orang adil dengan orang fasiq. Bahkan dalil-dalil
ini jelas menunjukkan tidak terlarangnya menimpakan hukuman dengan berdasarkan
berita dari satu orang yang adil secara mutlak. Yang demikian itu menunjukkan
diterimanya persaksian satu orang adil dalam jenis kasus yang mengandung
hukuman-hukuman.” (“Majmu’”/15/307).
Al Imam Ibnu Abdil Barr berkata
dalam menjelaskan kisah penerimaan Umar hadits Abdurrohman bin ‘Auf
rodhiyallohu ‘anhuma tentang tho’un: “Dan di dalam hadits ini ada dalil
penggunaan kabar satu orang, penerimaannya dan pengharusan amal dengannya. Dan
ini adalah hadits yang paling jelas dan paling kuat yang kami lihat dari sisi
atsar-atsar dalam menerima kabar satu orang. Hal itu dikarenakan pada saat itu
kejadiannya di kalangan sekumpulan para shahabat dan di kehadiran mereka dalam
suatu perkara yang membuahkan isykal bagi mereka. Maka Umar tidak berkata pada
Abdurrohman bin ‘Auf “Engkau cuma satu orang. Dan satu orang itu kabarnya tidak
wajib diterima. Yang wajib diterima hanyalah kabar keseluruhan orang”.
Alangkah besarnya kesesatan
orang yang mengatakannya. Padahal Alloh ‘Azza Wajalla berfirman:
}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ
جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا{
“Wahai orang-orang yang beriman
jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah
kejelasan.”(QS Al Hujurot)
dibaca juga: (فتثبتوا) Maka jika ada seorang adil datang dengan
suatu berita lalu ditatsabbuti dan tidak dilaksanakan, niscaya menjadi samalah
antara orang fasiq dan orang adil. Dan ini menyelisihi Al Qur’an. Padahal Alloh
‘Azza wajalla berfirman:
﴿أم نجعل المتقين كالفجار﴾
”Apakah Kami jadikan
orang-orang yang bertaqwa seperti orang-orang yang jahat?”
(“At Tamhid” 14/347).
Al Imam Ibnul Wazir رحمه الله : “… karena dia itu adalah berita orang
tsiqoh yang terkenal kelurusan agamanya, maka wajib untuk diterimaseperti
seluruh berita orang-orang tsiqot.” (rujuk “Ar Roudhul Basim”/2/hal. 135).
Keenam: Baromikah
ingin meruntuhkan kaidah: “Barangsiapa melakukan kesalahan yang bersifat
merusak, lalu diperingatkan dan tak mau rujuk, maka jatuhlah dia dan terkena
jarh.” Baromikah bersikeras bahwasanya barangsiapa menyelisihi kebenaran yang
jelas lalu dinasihati berkali-kali lalu membangkang terhadap kebenaran dan
menyombongkan diri dan terus-terusan di dalam kebatilannya maka tetap saja dia
itu di atas Salafiyyah. Ini menyelisihi kaidah yang telah tetap di kalangan
para imam, sama saja apakah terkait dengan hapalan hadits, atau terkait dengan
hawa nafsu.
Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله : “Adapun orang bersikeras di dalam
kesalahannya setelah ada penjelasan, maka datang riwayat dari Ibnul Mubarok dan
Ahmad Bin Hanbal dan Al Humaidiy dan yang lainnya, makariwayatnya jatuh dan
tidak ditulis, dikarenakan sikap bandelnya di atas kesalahannya tadi
membatalkan kepercayaan terhadap perkataannya. –sampai pada ucapan
beliau:- Ibnu Hibban berkata: “Sesungguhnya barangsiapa telah jelas bagi
dirinya kesalahannya dan tahu kesalahannya itu tapi tak mau rujuk darinya, dan
malah terus-terusan demikian maka dia adalah pendusta dengan ilmu yang shohih.”
At Taj At Tibriziy berkata: “Dikarenakan orang yang membangkang itu bagaikan
orang yang meremehkan hadits dengan cara melariskan perkataannya dengan
kebatilan. Adapun jika pembangkangannya itu karena kebodohannya maka dia lebih
pantas untuk jatuh karena dia menggabungkan kepada kebodohannya tadi
pengingkarannya terhadap kebenaran.” (“Taudhihul Afkar”/2/hal. 258).
Al Hafizh As Sakhowiy رحمه الله berkata: “Kemudian jika telah dijelaskan
padanya –yaitu rowi yang lupa atau salah walaupun hanya satu kesalahan-
lalu dia tak mau kembali dari kesalahannya tadi bahkan terus-terusan berbuat
itu maka jatuhlah haditsnya di mata mereka –yaitu para muhadditsin-.”
(“Fathul Mughits”/1/hal. 358).
Silakan rujuk kitab “Al
Jarh Wat Ta’dil” (4/hal. 231-323/Ibnu Abi Hatim) kisah Sufyan bin Waki’.
Demikian pula orang yang
terus-menerus duduk-duduk dengan ahlul ahwa setelah ditegakkannya hujjah. Al
Imam Abu Dawud As Sijistaniy رحمه الله berkata: “Aku katakan pada Abu Abdillah
Ahmad bin Hanbal: Saya melihat seseorang dari Ahlussunnah sedang bersamaan
dengan seseorang dari ahlul bid’ah, apakah saya boleh memboikotnya? Beliau
menjawab: “Jangan. Kenapa engkau tidak memberitahunya bahwasanya orang yang
engkau lihat dia bersamanya adalah ahlu bid’ah? Jika dia mau meninggalkan
pembicaraan dengannya maka ajaklah dia bicara. Tapi jika dia membangkang
maka gabungkanlah dirinya dengan orang tadi. Ibnu Mas’ud berkata: “Seseorang
itu sesuai dengan teman dekatnya.”([7])
(“Thobaqotul Hanabilah” /1/170/Darul Ma’rifah) ([8]).
Al Imam Al Barbahariy رحمه الله berkata: “Jika engkau melihat orang
duduk bersama ahlul ahwa maka peringatkanlah dirinya dan beritahulah dirinya.
Jika dia duduk bersamanya lagi setelah dia tahu, maka hindarilah dirinya karena
sesungguhnya dia itu adalah pengekor hawa nafsu.” (“Syarhus Sunnah”/hal.
44/Darul Atsar).
Kedelapan: di
antara kebatilan Baromikah Mar’iyyah adalah: usaha keras mereka untuk
membungkam para saksi agar tidak menegakkan persaksian terhadap kejahatan kedua
anak Mar’i dan pengikut mereka, dan upaya mereka untuk membungkam Salafiyyun
agar tidak berbicara tentang keburukan hizb baru tersebut di bawah tirai:
“Menolak fitnah” atau “Merekatkan barisan yang robek” dan yang selain itu.
Ini menyelisihi firman Alloh ta’ala:
﴿وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ
يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آَثِمٌ قَلْبُه﴾ [البقرة/283]
“Dan janganlah kalian
menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa menyembunyikannya maka dia itu
berdosa hatinya.”
Dan firman-Nya subhanahu:
﴿وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ الله ذَلِكُمْ
يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ﴾ [الطلاق/2]
“Dan hendaklah kalian tegakkan
kesaksian itu karena Alloh. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang
beriman kepada Alloh dan hari akhirat.”
Dan firman-Nya ta’ala:
﴿وَإِذْ أَخَذَ الله مِيثَاقَ الَّذِينَ
أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَه﴾ [آل
عمران/187].
“Dan (ingatlah), ketika Alloh
mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah
kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian
menyembunyikannya,”
Dan ini menyelisihi kaidah yang
telah menetap di kalangan para imam hadits: “Tidak boleh diam terhadap
kebatilan atau kesalahan padahal memiliki ilmu dan kemampuan,” dan “Wajib
memperingatkan umat dari orang yang ditakutkan membahayakan agama mereka.”
Yahya bin Sa’id -rahimahulloh- berkata : “Aku bertanya kepada Sufyan Ats
Tsauri, Syu’bah ibnul Hajjaj, Malik bin Anas, dan Sufyan bin ‘Uyainah tentang
seseorang yang lemah sekali haditsnya, lalu datang seseorang kepadaku dan
menanyaiku tentangnya. Mereka semua bersepakat untuk aku berkata,”Dia itu bukan
orang yang kokoh haditsnya” dan agar aku menjelaskan keadaannya.” ([9])
Abu Zur’ah berkata: Aku
mendengar Abu Mushir ditanya tentang orang yang suka menyembunyikan hadits dan
merubahnya. Maka beliau berkata:“Jelaskan pada manusia keadaannya”. Kukatakan
pada Abu Mushir: “Apakah Anda berpendapat bahwasanya itu termasuk ghibah?”
beliau menjawab: “Tidak.” ([10])
Diriwayatkan dari Abu Dawud
bahwasanya beliau berkata: Abbad bin Habib datang kepada Syu’bah seraya
berkata: “Saya punya kebutuhan padamu.” Beliau berkata: “Apa itu?” aku
menjawab: “Hendaknya Anda jangan berbicara tentang Aban bin Abi ‘Ayyasy.” Maka
beliau menjawab: “Berilah aku waktu selama tiga hari.” Lalu beliau datang
setelah tiga hari seraya berkata: “Wahai ‘Abbad, aku telah merenungkan apa yang
engkau katakan, lalu aku berpandangan bahwasanya tidak halal bagiku untuk diam
darinya.” ([11])
Dan diriwayatkan dari Hammad
bin Zaid bahwasanya beliau berkata: Aban bin Abi ‘Ayyasy datang kepadaku seraya
berkata: “Saya ingin Anda berbicara dengan Syu’bah untuk tidak membicarakan
diriku.” Maka akupun berbicara dengan Syu’bah tentang itu. Maka beliau tidak
berbicara tentang Aban beberapa hari. Kemudian beliau mendatangiku disebagian
malam seraya berkata: “Sesungguhnya engkau meminta padaku agar aku tidak
membicarakan Aban, tapi tidak halal bagiku untuk diam darinya karena dia
berdusta atas nama Rosululloh صلى الله عليه وسلم . ([12])
Al Khothib Al Baghdadiy رحمه الله berbicara tentang hadits ifk (kedustaan
terhadap ‘Aisyah dan Shofwan bin Mu’aththol رضي الله عنهما) : Nabi صلى الله عليه وسلم mengajak Ali dan Usamah bermusyawarah, dan
beliau juga bertanya pada Bariroh tentang apa yang mereka ketahui tentang
keluarganya (‘Aisyah), Di dalamnya ada penjelasan yang terang bahwasanya
tidaklah beliau menanyai mereka kecuali wajib bagi mereka untuk mengabari
beliau tentang apa yang mereka tahu tentangnya. Maka demikian
pula wajib atas seluruh orang yang memiliki ilmu tentang pembawa
kabar atau atsar yang kedudukannya tidak mencapai kedudukan ‘A’isyah Ummul
Mukminin dan tidak pula kedudukannya di sisi Nabi r seperti kedudukan ‘A’isyah
di sisi beliau –sampai pada ucapan beliau:- agar dia itu menampakkannya
pada orang yang tidak punya pengetahuan tentangnya, agar dia itu menjadi
penolong agama Alloh dengan peringatannya pada manusia tadi, menjadi pembela
Rosululloh صلى الله عليه وسلم dari kedustaan. Maka alangkah agungnya
kedudukan ini, dan alangkah mulianya martabat ini, sekalipun tidak diketahui
oleh orang yang bodoh dan diingkari oleh orang yang mengingkari.” (“Al
Kifayah”/Al Khothib /1/166/Bab Wujubi Ta’rifil Muzakki/Darul Huda).
Kesembilan: di antara
kaidah yang Baromikah berupaya untuk meruntuhkannya adalah: “Jarh mufassar
(terperinci) yang datang dari seorang yang ahli itu didahulukan di atas ta’dil
(pujian).” Alangkah seringnya mereka bersembunyi di balik pujian sebagian ulama
kepada anak Mar’i dalam rangka meruntuhkan seluruh kritikan Salafiyyin yang
didukung dengan keterangan-keterangan dan bukti-bukti serta
argumentasi-argumentasi.
Hal ini menyelisihi kaidah yang
telah menetap di kalangan para imam. Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Jarh itu lebih diutamakan
daripada ta’dil. Inilah ucapan sekelompok imam. Akan tetapi tempatnya adalah
jika jarh tadi muncul dengan penjelasan dari orang yang tahu sebab-sebab jarh,
dikarenakan jika jarh tadi tidak disertai penjelasan maka tidak merusak orang
yang ‘adalahnya (kelurusan agamanya) telah tetap. Jika jarh tadi bersumber dari
orang yang tidak tahu sebab-sebab jarh, maka tidak teranggap juga. Jika orang
yang di jarh tadi kosong dari ta’dil, maka jarh yang mujmal (global) tanpa menjelaskan
sebabnya terhadap dirinya diterima, jika bersumber dari orang yang tahu
sebab-sebab jarh. Inilah madzhab yang terpilih. Yang demikian itu dikarenakan
jika tidak ada ulama yang menta’dilnya, maka dia adalah orang yang majhul, dan
mengamalkan ucapan ulama yang menjarhnya lebih utama daripada mengabaikannya.”
(“Nuzhatun Nazhor”/1/hal. 46/Kunal Musammin).
Bersembunyi di balik pujian
dalam rangka lari dari jarh yang terperinci adalah kebiasaan para ahli batil
yang lemah hujjahnya. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata tentang keadaan hizbiyyin: “Dan di
antara uslub mereka juga adalah mengambil pujian/rekomendasi dari sebagian
ulama untuk orang-orang yang karya tulis mereka, sikap dan kegiatan mereka
telah dihukumi jauh dari manhaj salaf, bermusuhan dengan pengikut salaf dan
berloyalitas dengan para musuh, dan perkara yang lain. Dan kebanyakan orang
tidak tahu kaidah jarh wat ta’dil, dan bahwasanya kritikan yang terperinci itu
didahulukan terhadap pujian, karena si pemuji itu membangun pujiannya di atas
perkara yang nampak dan baik sangka. Dan si pengritik itu membangun kritikannya
di atas ilmu dan kenyataan sebagaimana telah dimaklumi bersama di kalangan para
imam jarh wat ta’dil.
Dan dengan dua uslub ini dan
yang lainnya mereka hendak menggugurkan kerja keras para penasihat dan
perjuangan para pembela sunnah dengan amat mudahnya, dan menjaring masyarakat
yang banyak dan bahkan kebanyakan pengajar, dan menjadikan mereka sebagai
tentara untuk memerangi manhaj salaf dan salafiyyun, dan membela para pemimpin
kebid’ahan dan kesesatan.
Alangkah kerasnya perhatian
para salafiyyun dalam menjaga dua celah ini, yang wajib bagi para ulama untuk
menutupnya dengan kuat, dan memotong bahaya yang diakibatkan oleh dua lubang
ini.” (“Al Haddul Fashil Bainal Haqq wal Bathil”/Syaikh Robi’
-hafidhahulloh-/hal. 144).
Nasihat ini penting sekali,
seharusnya para tokoh yang mulia untuk menerimanya dan menerapkannya. Dan kita
katakan pada mereka sebagaimana ucapan pemilik kitab “Al Haddul Fashil”
sendiri: “Alangkah kerasnya perhatian para salafiyyun dalam menjaga dua celah
ini, yang wajib bagi para ulama untuk menutupnya dengan kuat, dan memotong
bahaya yang diakibatkan oleh dua lubang ini.”
Kesepuluh: Di antara
kebatilan Baromikah Mar’iyyah adalah bahwasanya mereka berupaya untuk
meruntuhkan seluruh kritikan Salafiyyun dengan alasan yang dingin: “Ucapan
teman sejawat itu dilipat saja dan jangan diriwayatkan!”
Yang benar adalah: Bahwasanya
jarh teman sejawat itu perlu dirinci: Jika kejujuran dan keahlian orang yang meng-jarh
tadi telah diketahui, dan tidak nampak darinya kedengkian pada orang yang di
jarh, juga tak nampak dari mereka persaingan, maka jarhnya tadi
diterima, karena seseorang itu lebih tahu tentang teman sejawatnya
daripada orang lain. Adapun jika nampak darinya kedengkian pada orang yang di
jarh, atau nampak dari mereka persaingan, atau yang seperti itu jarhnya tadi
tidak diterima. Inilah yang benar yang berlangsung pada penerapan para
Shohabat, Tabi’in dan Atba’ut Tabi’in, bukan seperti pendapat Adz Dzahabiy رحمه الله.
Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله berkata: “Orang-orang telah menjadi anak
bagi Adz Dzahabiy dan kitab-kitabnya, akan tetapi yang benar adalah bahwasanya
apa yang disebutkan oleh Adz Dzahabiy bahwasanya mereka tidak menerima ucapan
teman sejawat satu sama lain itu tidak bisa diterima. Kemudian, jika yang
mereka inginkan adalah teman sejawat yang sezaman, pada masa yang sama, dan
setara ilmunya, maka hal ini rumit karena tidaklah mengetahui keadaan seseorang
kecuali orang yang sezaman dengannya. Dan tidaklah orang yang datang setelah
zaman itu mengetahui keadaan orang tadi kecuali dengan berita-berita dari teman
sejawat orang tadi. Jika yang diinginkan adalah yang pertama, maka jawabannya
adalah itu tadi. Tapi jika yang diinginkan adalah yang kedua maka para ulama
itulah yang mengetahui orang-orang yang semisal dengan mereka. Dan tidak ada
yang mengetahui siapakah pemilik keutamaan itu kecuali orang yang memang punya
keutamaan tadi juga. Maka yang lebih pantas adalah menggantungkan perkara tadi
(yaitu ditolaknya jarh teman sejawat) pada orang yang diketahui bahwasanya di
antara mereka berdua ada persaingan atau saling dengki atau perkara yang
menjadi sebab tidak dipercayanya perkataan satu sama lain, bukan karena dia itu
adalah teman sejawatnya, karena tidaklah mengetahui kelurusan agama seseorang
ataupun kekurangannya kecuali teman sejawatnya.” (“Tsamrotun Nazhor”/hal.
130/Darul ‘Ashimah).
Maka yang perlu diperhitungkan
adalah perkataan yang disertai oleh bayyinah dan burhan. Al Imam Ibnu Abdil Bar
رحمه الله
berkata: “Yang benar dalam bab ini adalah bahwasanya barangsiapa telah sah
‘adalahnya (kelurusan agamanya) dan telah tetap ilmu tentang keimamannya, serta
telah jelas tsiqohnya, dan perhatiannya pada ilmu, maka ucapan seseorang
tentang dirinya tidak perlu diperhatikan kecuali jika dalam jarhnya tadi dia
mendatangkan bayyinah yang lurus, yang dengannya suatu jarh itu menjadi sah,
dengan jalan adanya persaksian-persaksian, dan pengamalan terhadap penglihatan
yang mengharuskan adanya pembenaran terhadap apa yang diucapkannya karena yang
mengucapkannya bersih dari dendam, dengki, permusuhan dan persaingan, dan
selamatnya dirinya dari itu semua. Maka hal itu semua mengharuskan diterimanya
ucapannya dari sisi fiqh dan penelitian.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilm”/2/hal.
152/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).
Al ‘Allamah Muhammad Al
Laknawiy رحمه الله
: “Mereka terang-terangan bahwasanya ucapan seseorang terhadap orang yang
sezaman itu tidak diterima. Hal itu sebagaimana telah kami isyaratkan harus
dikaitkan dengan apabila perkataan tadi tidak disertai dengan burhan dan
hujjah, dan dibangun di atas fanatisme dan kebencian. Jika tidak ada
faktor ini ataupun itu maka perkataannya diterima tanpa ada kekaburan.
Hapalkanlah ini karena penjelasan ini termasuk perkara yang bermanfaat bagimu
di dunia dan akhirat.” (“Ar Rof’u Wat Takmil”/hal. 431/Fi bayani hukmil Jarh
Ghoirol Bari/Maktabatul Mathbu’atil islamiyyah).
Bahkan Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله telah berkata: “… para ulama tidak
berpaling kepada yang seperti ini kecuali jika disertai penjelasan dan hujjah,
dan ‘adalah mereka tidak jatuh kecuali dengan burhan yang kokoh dan hujjah,…”
dst. (“Siyar A’lamin Nubala”/7/hal. 40/tarjumah Ibnu Ishaq/muassasatur
Risalah).
Maka beliau menjadikan hujjah
dan burhan sebagai sandaran dalam kasus perkataan antar teman sejawat.
Maka wajib bagi Baromikah dan
yang lainnya untuk mengambil faidah dari manhaj Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله yang mana mereka sering menisbatkan diri
kepada beliau, dan berulangkali bersembunyi di balik punggung beliau. Beliau رحمه الله berkata: “Wahai kamu, apakah ucapan teman
sejawat itu tak bisa diterima? Aku bertanya kepada kalian wahai ikhwan: apakah
ucapan teman sejawat itu tak bisa diterima?” (Kemudian Syaikh -rahimahulloh-
bertanya kepada sebagian thalib:) ” apakah ucapan teman sejawat itu sebatas
yang telah kalian baca, dan di dalam kitab tarjumah (biografi) dan tarikh
(sejarah) diterima ataukah tak diterima?” dia menjawab,”Ucapan teman sejawat
jika nampak didasari oleh permusuhan dan hasad itu tak bisa diterima.” Beliau
berkata,”Shohih” Dia melanjutkan,”Adapun jika dia itu sebagai nasihat dan
menjelaskan hakikat urusannya dia dan penyimpangannya, maka orang yang paling
tahu tentang seseorang adalah teman sejawatnya.” Beliau berkata,”Shohih” Dia
berkata lagi,”Kaidah ini –jarhul aqron- tidaklah dilipat dan tidak diriwayatkan
secara mutlak.”
Syaikh Al Wadi`i berkata
lagi,”Iya –wahai ikhwan-, teman sejawat adalah orang yang paling tahu
tentang dirimu daripada yang lain, maka harus didahulukan. Apa arti ucapan
mereka –ahlul hadits-:”Fulan adalah orang yang paling tahu tentang penduduk
negerinya.”? “Fulan adalah orang yang paling tahu tentang penduduk Mesir”?
“Fulan adalah orang yang paling tahu tentang penduduk Syam”? Iya. Jika
diketahui bahwasanya di antara keduanya ada persaingan dan permusuhan
keduniaan, maka tidak diterima. Adapun jika dia mencela sejawatnya dan
berkata,”Pendusta” padahal tiada permusuhan di antara mereka, maka ucapan
teman sejawat terhadap sejawatnya itu paling mantap dan besar, karena dia yang
paling tahu tentang keadaannya.” (As’ilah Holandiyyah/ 23/robi’ul Awwal/1420
H).
Aku mendengar Syaikh kami al
‘allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam dars beliau di antara
maghrib dan ‘isya: “Ucapan seseorang yang diperkuat dengan bukti terhadap teman
sejawatnya itu harus diterima. Andaikata bab ini dibatalkan, niscaya kita tidak
akan menerima mayoritas kitab-kitab jarh wat ta’dil. Apakah Imam Ahmad
berbicara tentang Al-Karobisiy setelah dia mati ataukah pada zamannya?!
Demikianlah seterusnya. Kita katakan, kebenaran itu wajib untuk diterima dan
janganlah engkau melembekkan kasus dengan alasan: “Ucapan teman sejawat!” Abul
Hasan itu teman sejawat kita. Demikian pula mayoritas hizbiyyun yang ada
sekarang. Az-Zindaniy itu teman sejawat kita. Sho’tar itu teman sejawat kita.
Terus bagaimana? Apa kita tinggalkan ini dan kebenaran ditolak dikarenakan
orang ini ada di zamannya dan sebagai teman sejawatnya?! Jika demikian,
dimanakah kebenaran itu?” Selesai.
Yang mengherankan adalah:
bersamaan dengan sikap Baromikah membatalkan jarh Salafiyyin terhadap kedua
anak Mar’i di bawah kaidah yang batil itu: “Ucapan teman sejawat dilipat saja
dan jangan diriwayatkan” mereka sendiri bersemangat sekali untuk menuduh
Ahlussunnah yang sezaman dengan mereka dengan berbagai kekejian. Mereka juga
menerima perkataan batil dari orang-orang zaman sekarang terhadap ahlu Dammaj.
Kesimpulan: sesungguhnya
Baromikah mereka itulah yang menyelisihi banyak sekali dari prinsip-prinsip
para imam Salaf.
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy
حفظه الله
berkata menukil ucapan haddadiyyah: yang ketiga: “Para ulama Al
Jarh Wat Ta’dil terkadang berbicara tentang rowi disebabkan oleh
perkara-perkara yang sebenarnya tidak mengharuskan adanya jarh. Adapun para
ulama –yaitu ulama syariat menurut mereka- jika mereka berbicara tentang
seseorang dan membid’ahkannya, maka hal itu adalah setelah mereka memeriksa
manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah dan menelusuri dalil-dalil, karena mereka
mengetahui bahayanya pembid’ahan. Dan adalah beda antara yang ini dan yang
itu.”
Komentar:
Adapun sekedar terjadinya kesalahan dari sebagian imam Al Jarh Wat Ta’dil
ketika men-jarh sebagian rowi, maka hal itu pasti terjadi dan tak mungkin
dihindari karena mereka itu bukanlah orang yang ma’shum (terjaga dari kesalahan).
Akan tetapi yang demikian itu jarang sekali jika dibandingkan dengan banyaknya
rowi yang mereka kritik dengan benar. Sementara itu, hukum itu dibangun di
atas perkara yang dominan. Adapun perkara yang jarang terjadi tidaklah dibangun
di atasnya hukum. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Hukum-hukum itu hanyalah untuk
perkara yang dominan dan banyak, sementara perkara yang jarang itu dihukumi
tidak ada.” (“Zadul Ma’ad”/5/hal. 374).
Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Kami tidak menyatakan bahwasanya
para imam Al Jarh Wat Ta’dil itu ma’shum (terjaga dari kesalahan), akan
tetapi mereka itu adalah orang yang paling banyak benarnya, dan paling jarang
kesalahannya, paling adil, dan paling jauh dari kecondongan.” (“Siyar A’lamin Nubala’/11/hal.
82/tarjumah Yahya bin Ma’in).
Al Imam Al Mu’allimiy رحمه الله berkata: “Maka kebenaran dalam Al
Jarh Wat Ta’dil itulah yang dominan.” (“At Tankil”/1/hal. 149).
Kesalahan dalam perkara seperti
ini terjadi juga pada para ulama yang lain, tanpa diragukan. Maka yang seperti
ini bukanlah sebab untuk mengeluarkan kaidah-kaidah Al Jarh Wat Ta’dil
dari area ilmu syari’ah, dan bukan pula sebab untuk mengeluarkan para
imam Al Jarh Wat Ta’dil dari area ulama syari’ah.
Kesimpulannya adalah:
Bahwasanya para tokoh Darul Hadits di Dammaj dan seluruh Salafiyyun yang paham,
mereka mengingkari pembagian yang bersifat bid’ah ini –ulama Al Jarh Wat
Ta’dil dan ulama syariah-, dan mereka mengetahui bahwasanya hal itu adalah
makar dari haddadiyyah untuk meruntuhkan sebagian prinsip-prinsip Salafiyyah
dan untuk melindungi para mubtadi’ah.
Dan di dalam prinsip tadi juga
ada penghinaan yang nyata terhadap para imam Al Jarh Wat Ta’dil. Dan
prinsip bikinan tadi tidaklah diucapkan ataupun disetujui oleh Asy Syaikh Yahya
Al Hajuriy حفظه الله.
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy حفظه الله
menukilkan ucapan haddadiyyah: keempat: “Ulama Al Jarh Wat Ta’dil
terkadang berselisih pendapat tentang hukum terhadap seorang rowi tertentu,
maka tidaklah hal itu menjadi sebab untuk menghukumi ulama yang lainnya selama
mereka tidak mengambil jarh ini. Adapun para ulama jika telah berbicara tentang
seorang mubtadi’ maka wajib untuk diikuti, jika tidak, maka orang yang tak mau
mengambil vonis tadi akan digabungkan dengan mubtadi’ tadi.”
Komentar:
Jika jarh tadi terkait dengan
kekuatan hapalan rowi, maka perkaranya adalah seperti yang kalian ucapkan. Dan
kewajiban kita dalam perselisihan tadi adalah mencari pendapat yang paling
kuat. Adapun jika jarh tadi terkait dengan kesetiaan orang tadi terhadap
sunnah, maka jika seorang ulama telah menetapkan bid’ahnya seseorang dengan
bukti-buktinya, maka haruslah ucapannya itu diterima, sementara perkataan orang
yang menyelisihinya tidaklah dianggap. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله sendiri berkata demikian.
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله di salah satu kasetnya yang membantah
Falih Al Harbiy ditanya: “Apakah disyaratkan dalam men-jarh ahlul ahwa itu
kesepakatan ulama zaman itu ataukah cukup satu orang alim saja?”
Maka beliau وفقه الله
menjawab: “Ini adalah termasuk kaidah-kaidah pelembekan yang buruk –semoga
Alloh memberkahi kalian-. Pada zaman apakah disyaratkan ijma’ ini? Dan apakah
dalil tentang syarat ini? Seluruh syarat yang tidak ada pada Kitabulloh adalah
batil. Jika di sana ada syarat, maka jika Ahmad bin Hanbal menjarh seorang
mubtadi’, dan Yahya bin Ma’in menjarh mubtadi’ lalu aku berkata: “Seluruh ulama
sunnah di alam ini harus bersepakat terhadap mubtadi’ tadi”? Apabila Ahmad bin
Hanbal telah berkata: “Dia adalah mubtadi’”, maka telah cukup. Oleh karena
itu, apabila Ahmad berkata: “Fulan mubtadi’”, maka seluruh manusia akan
menerimanya dan tidak mengikuti pemikiran-pemikiran mereka. Apabila Yahya bin
Ma’in berkata: “Dia adalah mubtadi’”, maka tidak ada seorang pun yang akan
menyelisinya. Maka apakah dipersyaratkan adanya ijma’?! Ini suatu hal yang
mustahil dalam setiap hukum syari’ah, mustahil! Apabila datang dua orang
saksi bersaksi di depan hakim syar’i bahwasanya fulan telah membunuh seseorang,
maka wajib atas hakim tersebut untuk untuk menghukum dengan syariat Alloh,
baik diyat ataukah qishosh. Maka apakah
dipersyaratkan ijma’dalam perkara seperti ini, yang lebih berbahaya
daripada perkara tabdi’(pembid’ahan) seorang mubtadi’. Mereka ini
para mumayyi’, ahlul bathil, da’i yang mengajak kepada kerusakan dan
mengail di air yang keruh. Maka janganlah kalian mendengarkan perkataan batil
seperti ini. Apabila seorang alim yang berpandangan tajam
menjarh seseorang, maka wajib untuk diterima. Apabila jarh-nya tersebut
ditentang oleh seorang alim yang adil dan mumpuni ilmunya, maka saat itu
dipelajari kembali apa yang dikatakan oleh kedua alim tersebut,
baik jarh maupun ta’dilnya. Apabila jarh tersebut
jelas dan terperinci, maka didahulukan atas ta’dil walaupun yang menta’diljumlahnya
lebih banyak. Jika seorang alim menjarh seseorang dengan jarhyang
terperinci dan dua puluh atau lima puluh alim ulama lainnya menta’dilnya dengan
tidak menyertakan dalil, tetapi hanya saja dengan prasangka baik atau melihat
secara lahiriyyah saja, sedangkan yang menjarh memiliki bukti-bukti
akan jarhnya tersebut, maka jarh tersebut didahulukan, karena
yang menjarh memiliki hujjah dan hal itu
didahulukan.Hujjah itu didahulukan walau diselisihi oleh seluruh penduduk
bumi. Semuanya menyelisihinya dalam keadaan hujjah ada padanya, maka
berarti al-haq bersamanya. Al-Jama’ah itu adalah yang
mencocoki al-haq walau seorang diri. Apabila seseorang berada di
atas Sunnah, sedangkan penduduk dua atau tiga kota menyelisihinya
mereka mubtadi’ah, maka al-haq bersama satu orang
ini. Hujjah dan al-haq yang ada padanya didahulukan atas
kebatilan yang ada pada yang lainnya. Wajib bagi kita
memuliakan al-haq, hujjah dan bukti.
وقالوا لن يدخل الجنة إلا من كان هودا أو
نصارى تلك أمانيهم قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين
“Katakanlah: ”Tunjukkan
bukti-bukti yang kalian miliki, apabila kalian orang-orang jujur.”(Al-Baqoroh:
111)
وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل
الله إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون
“Apabila engkau menaati
kebanyakan penduduk bumi, maka mereka akan menyesatkanmu dari jalan
Alloh.” (QS. Al-An’am: 116)
Jumlah yang banyak itu tidak
ada nilainya apabila kosong dari hujjah. Walaupun semua penduduk bumi
berkumpul di atas kebatilan -kecuali sebagian kecil- dan tidak
memiliki hujjah, maka tidaklah ada harganya sama sekali kesepakatan mereka
walau yang menyelisihi mereka hanya seorang atau sebagian kecil saja. Hendaklah
kalian takut kepada Alloh dalam mengenal al-haq, berpegang teguh dengannya
dan menerimanya jika disertai dengan hujjah. Semoga Alloh memberikan
taufiq kepada kita semua.” (selesai penukilan dari “Mukhtashorul Bayan”/hal.
75).
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله juga berkata ketika menjawab sebagian
pertanyaan dari para pemuda ‘Adn tentang fitnah Abul Hasan: “Apabila sang pengkritik
telah mendatangkan hujjah -walaupun seratus ulama besar menentangnya-, maka
tidaklah berharga sedikitpun penentangan mereka, karena mereka itu
menyelisihi hujjahdan bukti dengan tanpa disertai hujjah dan
bukti (yang membatalkannya). Alloh -ta’ala- berfirman:
“Katakanlah: ”Tunjukkanlah
bukti-bukti yang kalian miliki, apabila kalian benar-benar orang-orang yang
jujur”(Al-Baqoroh: 111)
وقالوا لن يدخل الجنة إلا من كان هودا أو
نصارى تلك أمانيهم قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين
Maka bukti-bukti yang jelas
membuat ribuan orang yang tidak memiliki hujjah itu terdiam walaupun
mereka itu para ulama. Kaidah ini wajib untuk diketahui. Maka hendaklah
kalian membaca kembali kitab-kitab ilmu hadits, terutama kitab-kitab yang
membahas secara panjang lebar, seperti: “Tadribur-Rowy” karya As-Suyuthiy,
“Fathul Mughits” karya As-Sakhowiy dan “Syarh Alfiah” karya
Al-’Iroqiy. Perkara ini di sisi para ulama adalah suatu hal yang tidak bisa
ditolak oleh akal. Perselisihan dan memperbincangkan perkara ini secara batil
tidaklah diperbolehkan, karena dengan demikian akan merusak ilmu-ilmu agama
Islam dan menghancurkan kaedah-kaedah dan demikian seterusnya dengan metode
semisal ini. Maka tidaklah boleh bagi seorang muslim untuk memberikan kepada
umat kecualial-haq. Sekali lagi kecuali al-haq dan menjauhi dari
pengkaburan dan tipu muslihat -semoga Alloh memberkahi kalian-.” (selesai
penukilan dari “Mukhtashorul Bayan”/hal. 75, dan “Ad Dalailul Qoth’iyyah”/Asy
Syaikh Muhammad Ba Jammal/hal. 22).
Kukatakan وفقني الله: Duhai, andaikata para tokoh utama
menerapkan ucapan itu: “Maka bukti-bukti yang jelas membuat ribuan orang yang
tidak memiliki hujjah itu terdiam walaupun mereka itu para ulama.
Kaidah ini wajib untuk diketahui.”
Barangsiapa tidak mau menerima
kebenaran setelah ditegakkannya hujjah maka sungguh dia dalam bahaya. Al Imam
Ibnu Baththoh رحمه الله berkata: “Maka ketahuilah wahai saudaraku,
bahwasanya barangsiapa membenci kebenaran yang datang dari orang lain, dan
justru menolong kesalahan yang datang dari dirinya sendiri, tidak bisa
diamankan bahwasanya Alloh akan mengambil darinya apa yang sebelumnya telah dia
ketahui, dan menjadikan dia lupa terhadap apa yang diingatnya, bahkan
dikhawatirnya Alloh akan mencabut keimanannya, karena kebenaran itu datang dari
Rosululloh kepadamu, beliau mewajibkan untuk kamu taat padanya. Maka
barangsiapa mendengar kebenaran lalu mengingkarinya setelah mengetahuinya, maka
dia termasuk orang yang sombong kepada Alloh. Dan barangsiapa menolong
kesalahan, maka dia termasuk tentara setan.” (“Al Ibanatul Kubro”/2/hal. 206).
Al ‘Allamah Al Biqo’iy رحمه الله berkata tentang orang yang melindungi Ibnu
‘Arobiy dan yang semisalnya: ”Dan barangsiapa melindunginya, maka yang demikian
itu adalah qorinah yang menunjukkan bahwasanya dirinya berkeyakinan dengan apa
yang nampak dari ucapannya.” (“Tahdzirul ‘Ibad”/hal. 266).
Dan ini adalah hukum bagi orang
yang telah sampai padanya hujjah, lalu bersikeras untuk membela ahli batil.
Kami tidak mengatakan bahwasanya para tokoh utama telah sampai pada apa yang disebutkan
para imam رحمهم الله
tadi, hanya saja kami menyesalkan ketergelinciran mereka di dalam fitnah
‘Adniyyah ini.
Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata: “Iya, para pemuda Salafiy punya
kecemburuan. Jika mereka mendapati penyelisihan terhadap sunnah pada suatu
buku, atau kaset, atau mereka melihat ada orang dari Ahlussunnah berjalan
bersama mubtadi’ah setelah adanya nasihat, mereka mengingkari hal itu dan
menasihatinya, atau meminta dari sebagian masyayikh untuk menasihatinya. Jika
orang itu dinasihati tapi tak mau menerima nasihat, mereka memboikotnya. Ini
adalah kedudukan tinggi bagi mereka dan bukan celaan.” (“Al Fatawal
Jaliyyah”/1/hal. 232-234/Darul Minhaj).
Dan akan datang pembicaraan
tentang orang yang dijelaskan padanya kebatilan seseorang lalu dia bersikeras
untuk memegang kebatilan tadi setelah ditegakkannya hujjah.
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy حفظه الله menukilkan perkataan haddadiyyah
lagi: Yang kelima: “Karena itulah maka sesungguhnya kaidah-kaidah ilmu
mushtholah itu terbatas, tidak melampaui garis tepinya yang telah ditetapkan.
Kalaupun terjadi kemiripan dengan sebagian ulama para imam terhadap ahlul bida’
wal ahwa, maka tidaklah yang demikian itu menyebabkan diterapkannya
kaidah-kaidah yang lain kepada hukum terhadap orang-orang yang ada di luar
bidang riyawat. Inilah yang disebutkan berulang-ulang oleh Asy Syaikh Falih,
dan beliau ingin para pemuda salafiy untuk waspada dari pengkaburan ahlul ahwa
dalam sisi ini, karena mereka menginginkan dari para pemuda salafiy untuk menerapkan
kaidah-kaidah mushtholah dalam berbicara tentang ahlul bida’ untuk menolak
hukum-hukum ulama tentangnya.”
Komentar ana:
Sesungguhnya haddadiyyah bermudah-mudah membid’ahkan orang yang berbuat salah,
bahkan terhadap orang-orang yang bersih dari kalangan Salafiyyin dan imam
mereka. Manakala kaidah-kaidah para imam Al Jarh Wat Ta’dil tidak
mencocoki prinsip-prinsip mereka, mereka berupaya untuk meminggirkan
kaidah-kaidah yang mencocoki Al Qur’an, As Sunnah dan manhaj Salaf tadi dari
ilmu-ilmu syar’iyyah, dan mereka berupaya membungkam ulama Al Jarh Wat
Ta’dil dari berbicara tentang kebatilan ahlul ahwa dengan alasan bahwasanya
mereka itu bukanlah ulama syari’ah, dan bahwasanya ilmu mereka tentang
mushtholah itu terbatas, tidak boleh diterapkan terhadap ahlul bida’.
Haddadiyyun menyatakan bahwasanya para ulama Al Jarh Wat Ta’dil tidak
berbicara tentang tokoh-tokoh yang tak punya riwayat, dan bahwasanya
hukum-hukum para ulama tadi tidak cocok pada mereka. Pernyataan ini tertolak. Para
imam hadits telah berbicara juga tentang
jenis ini -tokoh yang tak punya riwayat- dengan perkataan yang benar, yang
muncul dari ilmu. Para ulama Al Jarh Wat Ta’dil adalah orang yang paling
banyak penjelasannya terhadap kebatilan ahlul ahwa dan menyingkapkan kejahatan
mereka, sekalipun tak punya riwayat. Yang demikian itu adalah dikarenakan yang
penting adalah penjagaan terhadap agama umat dan menolak bahaya para perusak.
Misalnya adalah:
Al Imam Al ‘uqoiliy رحمه الله menyebutkan sanadnya dalam tarjumahDhiror
bin Amr Al Qodhi: haddatsana Ahmad bin Ali: haddatsana Abu Hammam yang berkata:
“Dulu Sa’id bin Abdirrohman adalah hakim di Baghdad, dan beliau sering singgah
di ruam Saib. Lalu datanglah sekelompok orang bersaksi bahwasanya Dhiror
itu zindiq. Maka beliau berkata: “Aku telah menghalalkan darahnya, maka
barangsiapa ingin membunuhnya silakan membunuhnya.” (“Adh Dhu’afa”/Al
‘Uqoiliy/2/hal. 222).
Biografinya ada di Siyar
A’lamin Nubala (10/hal. 544/Ar Risalah) karya Adz Dzahabiy. Beliau رحمه الله berkata dalam “Mizanul I’tidal” (no.
4323/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah): “Dhiror bin ‘Amr Al Qodhi, mu’taziy garis keras,
punya perkataan-perkataan yang busuk, –sampai pada ucapan beliau:- orang
yang mundur ini tak meriwayatkan sesuatu apapun.”
Ibnun Najar Al Baghdadiy رحمه الله berkata dalam biografi Ubaidulloh bin
Muhammad bin Abdillah bin Hibatilloh ibnul Muzhoffar Abil Faroj yang
terkenal sebagai “Ibnu Roisir Ruasa”: “Dalam dirinya ada kekerasan, ketegasan,
kegarangan, kekakuan, kekejaman, dan garis hidup yang jelek. Tidak ada di
rumahnya orang yang lebih jelek jalannya selain dirinya. Aku melihat manusia
dan seluruh masyarakat bersepakat untuk mencelanya. Dia telah mendengar hadits
dari sekelompok ulama ketika masih muda. Dia mati muda dan tidak meriwayatkan
satu haditspun. Dia adalah ahli syair, dan bisa mengungkapkan syair yang
bagus.” (“Dzail Tarikh Baghdad”/2/hal. 86).
Contoh lain: Al Imam Adz
Dzahabiy رحمه الله
berkata tentang biografi Jahm bin Shofwan: “Dia adalah Abu Muhriz As
Samarqondiy mubtadi’, sesat, pimpinan Jahmiyyah. Mati pada zaman shighorut
Tabi’in. Aku tidak tahu dirinya meriwayatkan sesuatu apapun, tapi dia
menanamkan kejelekan yang besar.” (lihat “Mizanul I’tidal”/2/ hal. 159/Darul
Kutubil Ilmiyyah).
Contoh lain: Al Imam Adz Dzahabiy
رحمه الله
berkata tentang biografi Al Harits bin Sa’id: “Pendusta, mengaku nabi,
disalib oleh Abdul Malik bin Marwan.Tidak meriwayatkan sesuatu apapun,
sejarahnya ada di kitab tarikh besar punyaku.” (lihat “Mizanul I’tidal”/2/ hal.
169/Darul Kutubil Ilmiyyah).
Al hafizh Ibnu Hajar رحمه الله dalam “Lisanul Mizan” (1/hal. 266)
menambahkan: Ibnul Jauziy telah menyebutkannya dalam “Al Muntazhom” pada
kejadian tahun 69, dan menukilkan dari Abdul Wahhab bin Najdah dari Al Walid
bin Muslim dari Abdurrohman bin Hassan yang berkata: “Dulu Al Harits termasuk
dari penduduk Damaskus, ahli ibadah, berbicara tentang pujian dengan perkataan
yang belum pernah didengarkan semisal itu. Lalu dia dihadang oleh iblis dan
disesatkannya hingga menyangka bahwa dirinya adalah nabi.”.”
Lihatlah perhatian para ahlul
hadits terhadap urusan ahlul batil sekalipun mereka tak punya riwayat. Lihatlah
kepada fiqh mereka. Hanbal bin Ishaq berkata dalam biografi Dhiror bin Amr:
“Aku masuk menemui Dhiror di Baghdad. Wajahnya jelek, juga punya penyakit
Falij([13]). Dia
adalah seorang mu’taziliy. Dia mengingkari Jannah dan neraka. Dia berkata:
“Perkara itu diperselisihkan: apakah kedua telah diciptakan ataukah belum.”Maka
para ahlul hadits menerkamnya dan memukulinya.” Ahmad bin Hanbal berkata:
“Pengingkaran terhadap keberadaan Jannah dan neraka adalah kekufuran. Alloh
ta’ala berfirman:
﴿النار يعرضون عليها غدوا وعشيا﴾. [ غافر:
46 ].
“Kepada mereka dinampakkan
neraka pada pagi dan petang”.
(“Siyar A’lamin Nubala”/10/hal.
545/tarjumah Dhiror bin Amr/Ar Risalah).
Penjelasan ini cukup untuk
membantah prinsip yang dibuat oleh haddadiyyah. Sementara Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy dan yang bersama beliau berlepas diri dari prinsip-prinsip yang rusak
itu.
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy حفظه الله berkata: “Aku telah membantah
prinsip-prinsip yang rusak itu, yang menghinakan para ulama Al Jarh Wat
Ta’dil dan menghinakan prinsip-prinsip mereka yang agung, dalam kitabku:
“Aimmatul Jarh Wat Ta’dil Hum Hummatud Din”.
Komentar ana:
Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan atas jasanya kepada Islam. Syaikh
kami An Nashihul Amin حفظه الله juga telah memperingatkan umat akan bahaya
haddadiyyah, sebagaimana peringatan tadi dilakukan juga oleh sebagian ulama
yang lain. Maka bagaimana mereka mencerca Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy sementara
beliau termasuk orang yang pertama memperingatkan manusia dari kebatilan
pimpinan haddadiyyah yang baru -seri dua- yaitu Falih Al Harbiy, sampai-sampai
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy pada waktu itu meminta Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy untuk diam darinya? Silakan rujuk risalah syaikh kami An Nashihul Amin:
“Falih Al Harbiy هداه الله Muli’un Bil Jizaf Wa Qillatil Inshof”.
[PASAL EMPAT: KASUS MASLAHAT DAN MAFSADAH]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi keempat: Mereka menolak
prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam mempertimbangkan maslahat dan mafsadah.
Komentar:
Yang keempat dari sifat haddadiyyah adalah: mereka menolak untuk memperhatikan
maslahat dan mafsadah. Adapun Ahlussunnah maka mereka itu berjalan bersama
sunnah ke manapun sunnah itu berjalan. Ahlussunnah adalah pertengahan antara
sifat ghuluw hasaniyyin dalam menerapkan maslahat dan mafsadah dan yang
lainnya, dengan ghuluw haddadiyyin dalam menyia-nyiakan prinsip maslahat dan
mafsadah. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله telah memperingatkan umat dari kedua jalan
yang batil ini. Beliau berkata: “Tidaklah Alloh عز وجل melarang dari yang demikian itu –yaitu
sikap berlebihan dan sikap kurang- kecuali karena Dia mengetahui bahwasanya
sikap berlebihan dan sikap kurang yang menyelisihi kebenaran itu akan terjadi
di kalangan para hamba-Nya. Ini merupakan dua penyakit yang berbahaya. Jarang
sekali zaman dan tempat yang kosong darinya. Dan di antara perkara yang terjadi
pada masa-masa ini adalah: perkara yang dilakukan oleh hizbiyyun, dan pada sisi
lain ada kelompok lain yang dinamakan: haddadiyyun, yang berupa sikap
ghuluw terhadap beberapa orang dan perkara, dan sikap kurang pada perkara
lain.” (Kata pengantar untuk kitab “At Tahdzir Minal Ghuluw Wa Ahlihi”/karya
Asy Syaikh Sa’id Da’as Al Yafi’iy/hal. 5-6/Darul Kitab Was Sunnah).
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله berkata tentang biografi Falih Al Harbiy:
“Falih Al Harbiy, terdorong keras untuk berbuat ghuluw, ngawur dan kurang
adil. Dia lancang mencerca, mencela dan menghina Asy Syaikh Al ‘Allamah Muqbil
bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله dan sejumlah ulama yang Falih tidak
sebanding dengan masing-masing dari murid mereka dalam mengambil faidah.”
(“Syar’yyatun Nush Waz Zajr Wat Tahdzir”/Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy/no.
55/Darul Kitab Was Sunnah).
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله telah membacakan untuk kami kitab “Adabuth
Tholab” karya Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله , ketika beliau melewati perkataan: “Dan
hendaknya dia mengetahui bahwasanya syari’at yang suci, mudah dan lapang ini
dibangun di atas sifat: mengambil maslahat dan menolak mafsadah…” dst.
(“Adabuth Tholab”/hal. 129/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah)
Beliau حفظه الله membenarkannya, menolongnya dan
mendukungnya. Maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله termasuk orang yang memperhatikan perkara
ini.
Kami telah mempelajari kitab “I’lamul Muwaqqi’in” karya Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله di hadapan syaikh kami An Nashihul Amin,
dan kami melewati perkataan sang penulis رحمه الله : “Dan termasuk dari prinsip-prinsip
syari’ah adalah bahwasanya jika ada maslahat dan mafsadah yang saling
bertentangan, maka yang paling beratlah yang didahulukan –sampai pada
ucapan beliau:- bahkan kaidah syari’ah berlawanan dengan itu([14]) ,
yaitu menolak bahaya yang lebih besar dengan cara memikul bahaya yang lebih
ringan….” Dst. (“I’lamul Muwaqqi’in”/2/hal. 25)
Maka beliau menolongnya dan
mendukungnya.
Beliau حفظه الله berkata dalam dars umum beliau: “Perkara
yang ditunjukkan oleh suatu dalil bahwasanya dia itu diperintahkan, maka
sungguh dia itu adalah maslahat yang terbesar. Dan perkara yang ditunjukkan
oleh suatu dalil bahwasanya dia itu dilarang, maka sungguh dia itu adalah
mafsadah yang terbesar.”
Bahkan perbuatan Baromikah
benar-benar merupakan suatu kerusakan terhadap dakwah Salafiyyah di Yaman dan
luar Yaman.
Ketika Abdurrohman Al Mar’iy
mengumumkan permulaan pencatatan nama –orang-orang yang akan membeli tanah di
calon markiz Fuyusy- tersebut, dia menebarkan berita di tengah-tengah penuntut
ilmu bahwasanya tenggang waktu pencatatan tidak lebih dari empat hari
saja, dan bahwasanya pembangunan tanah tersebut akan selesai dalam tempo satu
tahun. Tentu saja tempo yang amat sempit dan pembatasan yang telah dirancang
tadi menunjukkan padamu besarnya bahaya impian dan makar tadi. Orang ini
tidak memberikan kesempatan yang cukup bagi pelajar untuk memikirkan tadi bahaya,
efek dan akibat dari urusan ini. Dan dia tidak tahu tipu daya tadi. Tapi Alloh
ta’ala berfirman:
}وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ
خَيْرُ الْمَاكِرِينَ{ [الأنفال/30]
“Mereka membikin tipu daya, dan
Alloh membalas tipu daya mereka. Dan Alloh itu sebaik-baik pembalas tipu
daya.” (QS. Al Anfal: 30).
Maka yang terjadi sebagai akibat dari tenggang waktu yang cukup mencekik
tersebut adalah: banyak pelajar yang tertimpa kesusahan. Sebagian dari mereka
akhirnya harus membuang rasa malu untuk mengemis dalam mencari uang. Ada
sebagiannya yang sibuk berpikir dan goncang hatinya dikarenakan waktu tidak
mengizinkan untuk terlambat.
Keadaan ekonomi para pelajar sudah diketahui bersama, dan jumlah uang yang
harus dibayarkan untuk membeli tanah itu tidak dimiliki oleh mayoritas mereka([15]).
Tentu saja kondisi seperti ini telah benar-benar diketahui oleh Abdurrohman Al
Mar’iy. Tapi dia memanfaatkan kelemahan ekonomi para pelajar tersebut. Oleh
karena itulah dia menawarkan kepada mereka harga yang menurut orang lain cukup
murah tersebut. Akibatnya sebagian dari pelajar bagaikan orang gila yang
goncang dalam upayanya mendapatkan dana senilai harga tersebut.
Mestinya yang wajib dilakukan oleh Abdurrohman Al Mar’iy dalam kondisi seperti
ini adalah untuk tidak membuat sempit para pelajar, dan tidak membikin pembatas
waktu yang menjerumuskan mereka ke dalam kesusahan. Ini jika kita menerima
bahwasanya perbuatannya tadi benar([16]).
Engkau bisa melihat sebagian pelajar menjual emas istrinya, ada juga yang
berutang, ada juga bisa engkau lihat dia itu sedih karena tidak mendapatkan
uang untuk membeli tanah tadi, terutama dengan sempitnya waktu. Ada juga dari
mereka yang menghasung sebagian pelajar untuk menjual rumahnya yang di Dammaj
sehingga bisa memiliki dana untuk membeli tanah yang di kota perdagangan
Fuyusy. Akibatnya sebagian pelajar ada yang terjerumus ke dalam jebakan tadi,
ada yang tertimpa kesempitan, ada juga yang kesusahan.
Adapun orang yang telah membeli tanah tadi, mulailah dia setelah itu memikirkan
pembangunannya, dan darimana mendapatkan dana agar bisa mendirikan bangunan di
atas tanah tadi. Maka terjatuhlah orang tadi ke dalam kesusahan, yang
meyebabkan sebagiannya berkurang semangat belajarnya dan mulai condong kepada
dunia. (diringkas dari “Tadzkirotun Nubaha Wal Fudhola”/Asy Syaikh yang
utama Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy Al ‘Adniy حفظه الله /hal. 3-9).
Dengan penjelasan ini maka Baromikah kalaupun tidak meniatkan makar terhadap
dakwah Salafiyyah maka sesungguhnya perbuatan mereka itu menyebabkan bahaya
yang besar terhadap dakwah karena mereka tidak mempertimbangkan maslahat dan
mafsadah. Maka mereka dalam bab ini mirip haddadiyyah. Akan tetapi mereka
memang sengaja membikin makar terhadap dakwah, sebagaimana akan datang
penjelasannya pada babnya nanti.
[PASAL LIMA: KASUS PENGAMBILAN RUKHSHOH (KERINGANAN) DALAM
PRINSIP-PRINSIP DAN KEWAJIBAN-KEWAJIBAN]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi kelima: Mereka menolak
prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam mengambil rukhshoh dalam prinsip dan
kewajiban, dan menolak ucapan-ucapan ulama sunnah dalam menjelaskan
keadaan-keadaan yang di dalamnya syariat yang penuh hikmah itu memberikan
keringanan. Dan mereka pura-pura tidak tahu terhadap nash-nash Qur’an dan
Sunnah dalam mempertimbangkan maslahat dan mafsadah dan pengambilan keringanan,
dan mereka ingin membelenggu manhaj Salafiy dan pemeluknya dengan tali-tali dan
belenggu-belenggu mereka yang membinasakan itu.
Komentar ana:
Yang kelima dari sifat
haddadiyyah adalah: menolak untuk mengambil rukhshoh([17])
(keringanan). Sementara seluruh orang yang belajar kepada Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy حفظه الله
dengan jujur mereka tahu bahwasanya beliau itu menganjurkan manusia untuk
mencocoki sunnah, dengan jalan memberikan keringanan dalam perkara yang di situ
syariat memberikan keringanan, dan mengambil ‘azimah([18]) di
tempat yang dianjurkan syariah untuk yang demikian itu. Demikian pula beliau
mengulang-ulang ayat ini:
﴿قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ
وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِين﴾ [ص/86]
“Katakanlah (hai Rosululloh):
“Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku
termasuk orang-orang yang memberat-beratkan diri.”
Dan ayat ini:
﴿لَا يُكَلِّفُ الله نَفْسًا إِلَّا
وُسْعَهَا﴾ [البقرة/286]
“Tidaklah Alloh membebani suatu
jiwa kecuali dengan kesanggupannya.”
Dan hadits ini:
«صل قائما ، فإن لم تستطع فقاعدا ، فإن لم
تستطع فعلى جنب ». (أخرجه البخاري (1117) عن عمران بن حصين رضي الله عنهما).
“Sholatlah dengan berdiri, jika
engkau tidak sanggup maka duduklah, jika engkau tidak sanggup, maka dengan
berbaring ke samping.”
Dan hadits ‘Aisyah رضي الله عنها :
«سددوا وقاربوا ، واعلموا أن لن يدخل أحدكم
عمله الجنة ، وأن أحب الأعمال أدومها إلى الله ، وإن قلّ ». (أخرجه البخاري (6464)
واللفظ له، ومسلمٌ (783)).
“Luruslah kalian, dan
mendekatlah kepada kelurusan, dan ketahuilah bahwasanya amalan salah seorang
dari kalian tak akan memasukkannya ke dalam Jannah, dan bahwasanya amalan yang
paling dicintai Alloh adalah yang paling rutinnya (bisa dijalankan
terus-menerus), sekalipun sedikit.”
Dan bersamaan dengan itu beliau
juga mengulang-ulang semisal perkataan As Salafush Sholih: “Dan barangsiapa
mengikuti setiap kekeliruan ulama akan hilanglah agamanya.” (“Siyar A’lamin
Nubala”/13/hal. 465/tarjumah Al Mu’tadhid Billah)
Atau perkataan Al Imam Adz
Dzahabiy رحمه الله
: “Dan barangsiapa mengikuti rukhshoh-rukhshoh dari madzhab-madzhab yang ada,
dan ketergelinciran para mujtahidin, akan rapuhlah agamanya, sebagaimana
perkataan Al Auza’iy atau yang lainnya: “Barangsiapa mengambil perkataan ahli
Makkah dalam masalah nikah mut’ah, dan ahli Kufah dalam masalah nabidz, dan
ahlul Madinah dalam masalah nyanyian, dan ahlusy Syam dalam masalah ma’shumnya
kholifah, maka sungguh dia telah mengumpulkan semua kejelekan. Demikian pula
yang mengambil pendapat orang yang memakai tipu daya dalam masalah perdagangan
riba, dan pendapat orang yang berlapang-lapang dalam masalah tholaq dan nikah
tahlil, dan yang seperti itu, maka sungguh dia telah menyodorkan diri untuk
lepas dari agama.” (“Siyar A’lamin Nubala”/8/hal. 90/tarjumah Al Imam Malik/Ar
Risalah),
Atau yang semakna dengan itu.
Ini semua menunjukkan kepada semangat Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله untuk lurus dan mengambil jalan tengah
dalam segala perkara. Maka bukanlah beliau itu seorang haddadiy, dan bukan pula
mumayyi’ (yang membikin lembek agama), bahkan beliau itu adalah seorang sunniy
salafiy dengan taufiq dari Alloh. Ahlussunnah itu lebih
tahu –dikarenakan perhatian mereka pada Al Kitab, As Sunnah dan atsar
Salaf-, lebih bijaksana –karena mereka meletakkan segala sesuatu pada
tempatnya-, dan lebih selamat –karena mereka mengikuti ketiga prinsip
tadi dan mereka meresa cukup dengan itu-. Dan Alloh memberikan petunjuk pada
orang yang kembali dan memusatkan perhatian pada Alloh, kepada jalan yang
paling lurus.
Beliau حفظه الله telah memperingatkan manusia dari sikap
tamayyu’ (lembek) dan ghuluw (berlebihan) dalam agama ini. Beliau رعاه الله berkata: “Tamayyu’ adalah upaya melepaskan
diri dari kebenaran, dan tidak tetap pendirian dalam kebenaran tadi. Adapun
ghuluw adalah: melampaui batas kebenaran, mengangkat perkara mustahab sampai ke
derajat wajib, meletakkan perkara bukan pada tempatnya, dan membawa dalil bukan
pada apa yang dikandungnya. Tamyii’ dan ghuluw adalah dua ujung yang saling
bertentangan. Dan sebaik-baik perkara adalah perkara yang berlalu di atas
petunjuk. Dan ghuluw menyebabkan binasanya umat-umat, sementara tamyi’ juga
menyebabkan binasanya umat-umat yang lain.”
kemudian beliau menyebutkan
dalil-dalil yang banyak tentang bahayanya ghuluw, kemudian berkata:
“Ghuluw itu tercela di setiap
zaman dan tempat. Khowarij berlebihan dalam bab ancaman, sehingga mereka
mengkafirkan Muslimin. Dan terkadang mereka saling mengkafirkan satu sama lain
dalam satu majelis. Demikian pula mereka mengkafirkan hakim, pemerintah, dan
masyarakat. Dan perlu diketahui bahwasanya engkau akan melihat bahwasanya orang
yang paling telantar adalah ahlul ghuluw. Demikian pula orang yang paling besar
fitnahnya, dan paling rusak adalah ahlul ghuluw. Dan tiada seorang mubtadi’pun
kecuali dia itu punya bagian dari ghuluw.
Adapun tamyi’ telah merusak
manusia dalam agama mereka, dan merusak akhlaq mereka. Manhaj tamyi’ yang
hampir-hampir tak bisa memisahkan diri dari manhaj ahlul batil dan ahlul
ahwa –sampai pada ucapan beliau:- maka ini adalah kebiasaan ahlul batil,
yang senang melembekkan kasus, sampai pada zaman Rosululloh صلى الله عليه وسلم , mereka mendatangi beliau dan berkata:
“Wahai Muhammad, engkau telah menjelek-jelekkan sesembahan kami, menganggap
tolol akal kami, dan engkau datang pada kaummu dengan perkara yang tidak pernah
didatangkan kepada kaumnya. Tidak ada di antara kita dan kaum kita kecuali
seperti detik-detik kelahiran bayi, kita bangkit dan kita baku hantam dengan
pedang. Maukah engkau menikah dengan sepuluh wanita, dan engkau akan diberi
harta hingga engkau jadi orang terkaya …” al kisah.
Sanad-sanad jalan kisah ini
disebutkan pada tafsir surat Fushshilat dan telah kami sebutkan secara global
di “Ash Shubhusy Syariq”, dan sanad-sanadnya menunjukkan benarnya kisah
tersebut.
Sisi pendalilan dari kisah ini
adalah bahwasanya kaum musyrikin ingin melembekkan perkara, dan ingin
menjadikan masalah tersebut bersifat remeh. Maka wajib bagi Ahlussunnah dan
bahkan Muslimin untuk istiqomah, sebagaimana firman Robb kita:
﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ
مَعَكَ﴾ [هود/112]
“Maka istiqomahlah engkau
dan orang yang bertobat bersamamu, sebagaimana dirimu diperintahkan.”
(“Ats Tsawabitul Manhajiyyah”/hal.
10-13/Darul Kitab Was Sunnah).
Maka
peringatan untuk tidak bermudah-mudah dalam mengambil rukhshoh tidaklah
menunjukkan bahwasanya orang yang berbicara itu adalah orang yang ghuluw dalam
agama, ataupun sebagai haddadiyyah, dan yang seperti itu. Inilah agama kita.
Asy Syaikh Sholih Fauzan حفظه الله berkata: “Memang benar perkataan Waliyyul
‘ahd([19]) yang
agung حفظه الله
ketika beliau berkata: “Sesungguhnya ghuluw, sebagaimana dia itu terjadi dalam
bentuk penambahan terhadap agama, dia juga terjadi dalam wujud sikap
bermudah-mudah dalam agama. Maka yang namanya tasamuh (toleransi) dalam agama
itu hanyalah dengan mengamalkan rukhshoh-rukhshoh yang sesuai syari’ah pada
waktu yang dibutuhkan, dan dalam batasan kebutuhan. Dan bukanlah maknanya itu
melepaskan diri dari hukum-hukum agama dan memberontak terhadap syari’ah,
meninggalkan kewajiban dan melakukan larangan dengan nama taisir (pemudahan) …”
dst. (“Maqolatusy Syaikh Al Fauzan”/1/hal. 50-51/Al Maktabatusy Syamilah).
[PASAL ENAM: UPAYA UNTUK MENJATUHKAN ULAMA YANG KOKOH DI ATAS
KEBENARAN]
Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi keenam: Usaha mereka
untuk menjatuhkan ulama sunnah masa kini, dan penghinaan terhadap mereka, dan
menolak hukum-hukum mereka yang tegak di atas dalil-dalil dan bukti-bukti, dan
pemberontakan mereka terhadap ulama tadi, cercaan terhadap mereka, manhaj
mereka, dan prinsip-prinsip mereka yang tegak di atas Al Kitab, As Sunnah dan
manhaj As Salafush Sholih.
Komentar ana:
Yang keenam dari sifat haddadiyyah: Upaya untuk menjatuhkan ulama. Adapun
Syaikh kami Yahya Al Hajuriy An Nashihul Amin dan yang bersama beliau, mereka
menghormati ulama sunnah yang terdahulu, yang belakangan, dan yang semasa
dengan mereka, mencintai mereka, mengagungkan mereka, menyemangati manusia
untuk mengambil faidah dari mereka, tidak menghina mereka, dan tidak menolak
hukum-hukum mereka yang tegak di atas dalil-dalil. Berapa kali dinaikkan kepada
beliau رعاه الله
dalam dars-dars umum fatwa-fatwa ulama masa kini dan faidah-faidah dari mereka,
maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy mau mengambil faidah dari mereka tadi, dan
memuji pemilik fatwa dan faidah tadi. Adapun jika diangkat ke beliau fatwa yang
menyelisihi kebenaran, maka beliau membantahnya dan menjelaskan pendapat yang
lebih kuat dalam masalah tadi, bersamaan dengan tetap menghormati pemilik pendapat
tadi jika dia berasal dari ahlussunnah, dan menghinakan pemilik fatwa yang
berasal dari ahlul hawa.
Kami perhatikan dari
sikap-sikap syaikh kami رعاه الله bahwasanya beliau itu selalu
bersemangat untuk tidak mengucapkan sesuatu kecuali jika mencocoki lahiriyah
dari nash-nash, dan didahului oleh seorang pendahulu dari para imam, sama saja,
dari kalangan mutaqoddimin ataupun mutaakhkhirin. Ini semua adalah bantahan
terhadap orang yang menyatakan bahwa beliau keluar dari jalan Salaf.
Adapun kritikan terhadap
kesalahan-kesalahan tapi dengan hujjah, maka pintunya terbuka. Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “… dikarenakan para Nabi عليهم السلام itu terjaga dari menyetujui kesalahan,
berbeda dengan satu individu dari para ulama dan pemerintah, karena dia itu
tidaklah terjaga dari yang demikian itu. Oleh karena itu diperbolehkan dan
bahkan wajib untuk kita menjelaskan kebenaran yang wajib kita ikuti,
sekalipun di dalam perbuatan ini terdapat penjelasan terhadap kesalahan orang
yang berbuat salah dari kalangan ulama dan pemerintah.” (“Majmu’ul
Fatawa”/19/hal. 123).
Ucapan yang bercahaya ini
tidaklah tersembunyi dari para ulama, dan mereka sendiri jika melihat adanya
suatu ucapan dari seorang imam Muslimin atau ulama Muslimin dalam masalah fiqh
yang menyelisihi kebenaran, maka mereka membantahnya dan menjelaskan sisi yang
benar dalam masalah tadi, dan mereka tidak menganggap yang demikian itu sebagai
cercaan pada si imam atau alim tadi.
Maka mengapa mereka diam dari
kebatilan-kebatilan Ubaid Al Jabiriy yang mana kebatilan tadi lebih besar
daripada kesalahan tadi? Manakala Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan ulama serta
tholabatul ilmi yang bersama beliau membantah Ubaid Al Jabiriy dengan
hujjah-hujjah dan burhan-burhan, dan membicarakannya dikarenakan dirinya
menentang kebenaran setelah datangnya penjelasan, dan bersikerasnya dia di atas
penyelewengannya, dan kezholimannya terhadap Darul hadits di Dammaj, justru
sebagian ulama هداهم الله bangkit untuk membela Ubaid tanpa
kebenaran. Dan saya berharap perbuatan mereka tadi tidak bersumber dari
fanatisme ataupun kedengkian.
Dan tidak tersembunyi atas
mereka juga perkataan Al Imam ibnu Rojab رحمه الله : “Dan para imam yang waro’ (meninggalkan
perkara yang dikhawatirkan membahayakan akhiratnya) mengingkari dengan sangat
perkataan-perkataan yang lemah dari sebagian ulama, dan membantahnya dengan
paling keras, sebagaimana dulu Al Imam Ahmad mengingkari Abu Tsaur dan yang
lainnya atas perkataan mereka yang lemah dan menyendiri, dan beliau mengingkari
mereka dengan atas perkataan mereka itu. Ini semua adalah hukum zhohir. Adapun
secara batin: jika maksud orang yang mengkritik tadi hanyalah sekedar untuk
menjelaskan kebenaran, dan agar manusia tidak tertipu dengan perkataan orang
yang salah berbicara tadi, maka tiada keraguan bahwasanya dia akan dapat pahala
dengan niatnya tadi, dan dia dengan perbuatan tadi dengan niat ini masuk ke
dalam nasihat untuk Alloh, Rosul-Nya, pemimpin Muslimin dan masyarakat
awamnya. Sama saja, apakah yang menjelaskan kesalahan tadi itu anak kecil
ataukah orang besar, maka dia memiliki teladan dari ulama yang membantah
perkataan Ibnu Abbas yang menyendiri dan diingkari ulama, seperti masalah nikah
mut’ah, penukaran mata uang, dan dua umroh dan yang selain itu.
Dia juga punya teladan dari
ulama yang membantah Sa’id ibnul Musayyab terhadap perkataannya yang
membolehkan wanita yang telah ditholaq tiga untuk kembali ke suaminya yang
pertama dengan semata-mata akad dengan suami kedua, dan yang selain itu yang
menyelisihi sunnah yang jelas.
Dia juga punya teladan dari
ulama yang membantah Al Hasan tentang perkataan tentang tidak ihdadnya
wanita yang ditinggal mati suaminya. Dia juga punya teladan dari ulama yang
membantah ‘Atho tentang pembolehannya pengembalian kemaluan. Dia juga punya
teladan dari ulama yang membantah Thowus tentang ucapannya dalam masalah yang
bermacam-macam yang menyendiri dari ulama.
Dia juga punya teladan dari
ulama yang membantah tokoh-tokoh yang lain yang telah disepakati kaum Muslimin
bahwasanya mereka itu di atas petunjuk, ilmu, dicintai dan dipuji.
Dan tiada seorangpun dari
mereka menganggap orang-orang yang menyelisihinya dalam masalah-masalah ini dan
yang semisalnya sebagai bentuk tho’n (cercaan) kepada para imam tadi ataupun
penghinaan terhadap mereka. Kitab-kitab para imam Muslimin dari kalangan Salaf
dan Kholaf penuh dengan dengan penjelasan tentang ucapan-ucapan tadi dan yang
semisalnya, seperti kitab-kitab Asy Syafi’iy, Ishaq, Abu ‘Ubaid, Abu Tsaur dan
para imam fiqh dan hadits dan yang lainnya setelah mereka dari kalangan
orang-orang yang menyebutkan ucapan-ucapan tadi sesuatu yang banyak. Andaikata
kami menyebutkannya secara rinci niscaya akan sangat panjang.
Adapun jika keinginan orang
yang membantah tadi adalah untuk menampakkan kekurangan orang yang dibantahnya,
menghinanya, dan menjelaskan kebodohannya dan keterbatasan ilmunya dan yang
seperti itu, maka perbuatan itu adalah harom, sama saja apakah bantahannya tadi
dilontarkan di hadapan orang yang dibantahnya ataukah di belakang punggungnya.
Dan sama saja, apakah ketika dia masih hidup ataukah setelah matinya. Dan ini
masuk dalam perkara yang dicela oleh Alloh ta’ala dalam kitab-Nya dan mengancam
orang yang menyindir dengan lidah ataupun dengan anggota badan. Orang tadi juga
masuk dalam sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
« يا معشر من آمن بلسانه ولم يؤمن بقلبه لا
تؤذوا المسلمين ولا تتبعوا عوراتهم فإنه من يتبع عوراتهم يتبع الله عورته ومن يتبع
الله عورته يفضحه ولو في جوف بيته».
“Wahai orang-orang yang beriman
dengan lidahnya yang imannya itu belum sampai ke dalam hatinya, janganlah
kalian menyakiti orang-orang Islam dan janganlah kalian mencari-cari aib
mereka. Karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari aib saudaranya muslim,
maka Alloh akan mencari-cari aibnya. Sesungguhnya barangsiapa yang Alloh cari
aibnya, maka Dia akan membuka aib-aibnya meskipun ia berada di bagian dalam
rumahnya…”([20])
Ini semua adalah yang terkait
dengan hak ulama yang menjadi teladan dalam agama ini. Adapun ahlul bida’ wadh
dholalah dan orang yang menyerupakan diri dengan ulama padahal bukan ulama,
maka bolehlah menjelaskan kebodohan mereka, dan menampakkan kekurangan mereka,
sebagai bentuk peringatan pada umat agar jangan meneladani mereka. Dan bukanlah
pembicaraan kita sekarang ini kita arahkan pada jenis ini, wallohu a’lam.” (“Al
Farqu Bainan Nashihah Wat Ta’yiir”/1/hal. 7).
Aku katakan وفقني الله: ini jelas sekali bagi orang yang mencari
keadilan. Adapun orang yang tertimpa penyakit hasad maka dia akan menjauh dari
keadilan, dan memandang bahwasanya bantahan-bantahan ilmiyyah yang ditegakkan
oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para ulama dan thullab yang bersamanya itu
sebagai tho’n terhadap ulama.
Dan alangkah bagusnya apa yang dikatakan oleh Al ‘Allamah Mufti Kerajaan Arab
Saudi wilayah selatan Asy Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله : “bahwasanya ada di antara Ahlussunnah
pada zaman ini yang kebiasaan dan kesibukannya adalah untuk menelusuri
kesalahan-kesalahan, sama saja apakah kesalahan tadi ada pada karya tulis
ataukah di dalam kaset, kemudian dia memperingatkan manusia dari orang yang
melakukan kesalahan tadi. Aku katakan: Ini adalah kedudukan tinggi baginya dan
bukan celaan. Dulu perlindungan terhadap sunnah merupakan kedudukan tinggi di
mata Salaf. Iya, para pemuda Salafiy punya kecemburuan. Jika mereka mendapati
penyelisihan terhadap sunnah pada suatu buku, atau kaset, atau mereka melihat
ada orang dari Ahlussunnah berjalan bersama mubtadi’ah setelah adanya nasihat,
mereka mengingkari hal itu dan menasihatinya, atau meminta dari sebagian
masyayikh untuk menasihatinya. Jika orang itu dinasihati tapi tak mau menerima
nasihat, mereka memboikotnya. Ini adalah kedudukan tinggi bagi mereka dan bukan
celaan.” (“Al Fatawal Jaliyyah”/1/hal. 232-234/Darul Minhaj).
Asy Syaikh Robi’ ditanya:
“Apakah termasuk manhaj Salaf, mengumpulkan kesalahan-kesalahan seseorang dalam
sebuah kitab agar orang lain bisa membacanya?!!” Beliau menjawab: “Subhanalloh,
ini adalah perkataan orang-orang sesat demi menjaga kebidahan, kitab-kitab,
manhaj mereka dan orang-orang yang mereka sanjung. Alloh dan Rosul-Nya banyak
sekali menyebutkan tentang kesesatan mereka. Alloh -ta’ala- telah
mengumpulkan perkataan orang-orang Yahudi dan Nashoro serta membantah mereka
dalam banyak ayat-ayat Al-Quran. Ahlus Sunnah dari dulu sampai sekarang
berbicara tentang Jahm bin Shofwaan dan Bisyr Al Mariisy serta menyebutkan
kebidahan dan kesesatan mereka, mengumpulkan perkataan kelompok-kelompok
sempalan dan mengkritiknya, siapakah yang mengharomkan ini? Ini termasuk dari
kewajiban. Jika manusia akan tersesat dengan kebid’ahan yang banyak, dan engkau
mengumpulkan kebid’ahan tadi dalam satu tempat lalu engkau memperingatkan
manusia dari kebid’ahan itu beserta nama pelakunya tadi, maka semoga Alloh
membalasmu dengan kebaikan. Engkau dengan perbuatan tadi telah memberikan
kebaikan yang besar buat Islam dan Muslimin.” Al-Ajwibah ‘ala Asilah Abi
Rowahah/ hal. 28-29/Majalisul huda).
Alangkah indahnya perkataan
ini. Dan kita katakan pada orang yang Alloh gerakkan untuk menjalankan nasihat
ini, dari kalangan orang-orang utama dari ahlu Dammaj dan yang bersama mereka:
“Maka semoga Alloh membalas kalian dengan kebaikan. Kalian dengan perbuatan
tadi telah memberikan kebaikan yang besar buat Islam dan Muslimin.”
Jika yang dimaksudkan adalah
bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله itu mengkritik kesalahan-kesalahan dari
orang yang berbuat salah, sekalipun dia dari kalangan masyayikh Ahlissunnah,
maka ini adalah perkara yang baik dan telah dikenal di kalangan Salaful ummah.
Telah lewat baru saja perkataan para imam pada permulaan bab ini tentang
pentingnya memperingatkan umat dari kesalahan-kesalahan orang-orang yang
berbuat salah.
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله telah berkata –dan bagus sekali perkataan
beliau-: “Maka kritikan itu wahai ikhwan, tidak boleh pintunya ditutup, karena
kita berarti akan mengatakan ditutupnya pintu ijtihad –semoga Alloh memberkahi
kalian-. Dan kita tidak memberikan pensucian pada pemikiran seorangpun sama
sekali. Maka kesalahan itu harus dibantah, dari siapapun datangnya, sama
saja apakah dia itu seorang salafiy ataukah bukan salafiy. Akan tetapi
bermuamalah dengan Ahlul haq wassunnah yang telah kita ketahui keikhlasan mereka,
ijtihad mereka dan kesetiaan mereka kepada Alloh, kitab-Nya, Rosul-Nya,
pimpinan Muslimin dan orang awamnya tidaklah sama dengan muamalah dengan ahlul
bida’ wadh dholal. Kembalilah kalian kepada kitab Al hafizh Ibnu Rojab رحمه الله : “Al Farqu Bainan nashihah Wat ta’yir”.
Jika orang tadi berbicara dan
memberikan penjelasan lalu berbicara, maka penjelasan terhadap petunjuk dan
kebenaran itu memang wajib. Sa’id ibnul Musayyab telah pernah dikritik, dan
juga Ibnu Abbas, Thowus, dan para murid Ibnu Abbas juga dikritik. Tidak
ada seorangpun yang berkata: “Ini adalah tho’n” tidak ada yang berkata demikian
kecuali ahlul hawa.
Kami jika mengkritik Al
Albaniy, tidaklah kami menempuh jalan ahlul ahwa dengan berkata: “Jangan,
jangan kalian kritik Al Albaniy.” Baiklah. Kesalahannya tersebar dengan
nama agama. Begitu pula kesalahan Ibnu Baz, kesalahan Ibnu Taimiyyah, kesalahan
siapapun. Kesalahan apapun wajib untuk dijelaskan kepada manusia
bahwasanya ini adalah suatu kesalahan, setinggi apapun kedudukan orang yang
muncul darinya kesalahan ini, dikarenakan kita sebagaimana telah kami katakan
berulang kali bahwasanya kesalahannya itu dinisbatkan kepada agama Alloh.
Akan tetapi kita membedakan
–sebagaimana telah aku katakan- antara Ahlussunnah dan ahlul bid’ah,
sebagaimana kata Ibnu Hajar dan lain-lain.Mubtadi’ itu dihinakan dan tidak
ada kehormatan sedikit pun baginya dikarenakan maksudnya yang jelek. Mubtadi’
adalah pengikut hawa nafsu, –sampai pada ucapan beliau:- sisi pendalilan
kita di sini adalah bahwasanya kritikan pada ulama, dan di antara ulama ada
yang saling mengkritik dan menjelaskan pada manusia demi menjauhkan penisbatan
kesalahan itu pada agama Alloh عز وجل ini wajib, dan tidaklah kami mengatakan:
“Boleh.” Wajib untuk mereka menjelaskan kebenaran kepada manusia, dan
memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.
﴿وَإِذْ أَخَذَ الله مِيثَاقَ الَّذِينَ
أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَه﴾ [آل
عمران/187].
“Dan (ingatlah), ketika Alloh
mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah
kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian
menyembunyikannya,”
﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي
إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا
عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ * كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ
فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾ [المائدة/78، 79].
“Telah dila’nati orang-orang
kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian
itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama
lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya
amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”
Kritikan adalah termasuk dalam bab ingkarul mungkar. Maka kritikan terhadap
individu-individu besar Salafiyyin jika berbuat salah, dan penjelasan tentang
kesalahan mereka ini termasuk bab amar ma’ruf nahi munkar, dan termasuk dalam
bab penjelasan yang diwajibkan oleh Alloh, dan termasuk bab nasihat yang
diwajibkan oleh Alloh dan diharuskan-Nya terhadap kita.” (Al-Ajwibah
As-Salafiyah ‘Ala As’ilah Abi Rowahah Al-Manhajiyah: 16-19/Majalisul
Huda).
Aku –Abu Fairuz- katakan وفقني الله : Ini perkataan yang bagus. Akan tetapi
termasuk perkara yang mengherankan adalah bahwasanya ketergelinciran Ubaid Al
Jabiry هداه الله
telah menjadi banyak dan terang dan tersebar di jaringan-jaringan internet.
Termasuk di antaranya adalah:
- dia membolehkan pemilihan
umum dengan disertai sedikit pengkaburan
- dia membolehkan televisi dan
kamera
- Dia mencerca Amirul Mu’minin
fi hadits Syu’bah ibnul Hajjaj
- Dia membolehkan pekerjaan
yang di situ ada percampuran lelaki dan perempuan, disertai dengan sedikit
talbisat (pengkaburan)
- Kejahatannya terhadap Darul
hadits Dammaj, dan kedustaannya terhadap pengelolanya
- Dia mendatangkan beberapa
prinsip lalu membatalkannya sendiri dalam prakteknya
- Dia fanatik terhadap
Abdurrohman bin Mar’i dalam kasus Al Jami’atul Islamiyyah
- Dia tidak mau membid’ahkan
Ali Hasan Al Halabiy bersamaan dengan pengakuannya tentang besarnya
penyelewengan Al Halabiy. Dia juga tidak mau menyuruh Ahlusy Syam untuk
menjauhi Al Halabiy. Bersamaan dengan perbuatan itu dia mencaci Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy حفظه الله dengan berbagai cacian jahat, dan menyuruh
manusia untuk menjauhi beliau, padahal Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy tidak melakukan
apa yang diperbuat oleh Al Halabiy meskipun sepersepuluhnya.
- Dan termasuk dari kebatilan
Al Jabiriy juga adalah: dia menyemangati Muslimin Eropa untuk hijroh ke
Birmingham
- Dia membolehkan untuk
membatalkan pengaruh sihir dengan cara sihir pula
- Menyemangati Muslimin Libia
untuk memilih Abdul Jalil Al Ikhwaniy sebagai presiden bagi negara mereka, dan
berkata: “Dia itu adalah ahli agama”, padahal orang ini adalah Ikhwaniy, yang
berkata bahwasanya dirinya akan membangun negara demokratis yang bebas,
bukannya negara Islam.
Tapi kami tidak melihat dari
sang pemilik ucapan yang bagus tadi pengingkaran terhadap Ubaid atas
penyelewengan-penyelewengannya tadi. Manakala Syaikh kami Yahya Al Hajuriy dan
para muridnya حفظهم الله membantah Ubaid dengan hujjah dan burhan
ternyata sebagian orang justru meneriaki mereka dengan berkata: “Haddadiy!
Tidak meninggalkan seorangpun kecuali berbicara tentangnya!” atau yang semakna
dengan ini.
Allohul musta’an, Syaikh kami
Yahya dan yang bersama beliau itu berbicara tentangnya dengan hujjah dan burhan
ataukah semata-mata dengan dugaan belaka? Jika mereka berbicara dengan
bayyinat, kenapa orang-orang tadi tidak menerimanya? Bukankah Asy Syaikh Robi’
–yang dimuliakan oleh mereka dan oleh kami juga- telah berkata –dan bagus sekali
apa yang beliau katakan-: “Kebenaran itu wahai Abdurrohman, lebih besar
daripada seluruh langit dan bumi, dan lebih besar daripada kelompok-kelompok
yang engkau bela. Dan kebenaran itu lebih kami cintai daripada anak-anak dan
keluarga.” (“Jama’ah Wahidah”/hal. 92/cet. Darul Minhaj).
Kemudian Syaikh kami Yahya Al
Hajuriy dan ulama serta thullab yang bersama beliau حفظهم الله tidaklah berbicara tentang seorang alim
yang menisbatkan diri kepada sunnah, sampai si alim itu yang berbuat zholim
kepada mereka. Maka tidaklah setiap orang yang diam terhadap fitnah kedua anak
Mar’i itu Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau berbicara
tentangnya. Bahkan mereka bersabar terhadapnya dengan tetap memberikan
nasihat-nasihat. Ketika sebagian dari orang tadi mulai berbicara tentang Ahlu
Dammaj dan berbuat zholim kepada mereka, maka merekapun membela diri.
Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى الله إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
* وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ *
إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي
الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Dan balasan suatu kejahatan
adalah kejahatan yang serupa, Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka
pahalanya atas (tanggungan) Alloh. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang
yang zholim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya,
tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang
yang berbuat zholim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak.
mereka itu mendapat azab yang pedih.”(Asy Syuro: 40-42).
Alloh subhanahu juga berfirman:
﴿لَا يُحِبُّ الله الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ
الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ الله سَمِيعًا عَلِيمًا﴾ [النساء/148].
“Alloh tidak menyukai ucapan
buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya.
Alloh adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
Dan dari Abu Huroiroh رضي الله عنه : bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«المستبان ما قالا فعلى البادئ ما لم يعتد
المظلوم». (أخرجه مسلم (2587)).
“Dua orang yang saling memaki
itu, apa yang mereka ucapkan maka atas orang yang mulailah tanggungan dosanya,
selama orang yang dizholimi itu tidak melampaui batas.” (HR. Muslim
(2587)).
Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Maknanya adalah bahwasanya
seluruh dosa cacian yang terjadi di antara kedua orang itu dikhususkan bagi
orang yang memulainya, kecuali jika orang yang kedua melampaui kadar pembelaan
diri dan berkata pada orang yang memulai lebih banyak daripada apa yang
diucapkannya padanya. Dalam hadits ini ada dalil tentang bolehnya membela
diri, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama tentang bolehnya hal
itu. Dan telah bermunculan dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah tentang hal
itu. Alloh ta’ala berfirman:
﴿ولمن انتصر بعد ظلمه فأولئك ما عليهم من
سبيل﴾
“Dan sesungguhnya orang-orang
yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.”
﴿والذين إذا أصابهم البغي هم ينتصرون﴾
“Dan orang-orang yang jika
tertimpa kezholiman mereka membela diri.”
Dan bersamaan dengan ini maka
bersabar dan memaafkan itu lebih utama. Alloh ta’ala berfirman:
﴿ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمور﴾
“Dan barangsiapa yang bersabar
dan mengampuni maka sungguh yang demikian itu merupakan perkara yang
ditekankan.”
Dan berdasarkan hadits yang
disebutkan setelah ini:
«ما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا»
“Tidaklah Alloh menambahi
seorang hamba dengan pemaafan kecuali kemuliaan.”
Dan ketahuilah bahwasanya
mencaci seorang muslim tanpa hak adalah harom, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
«سباب المسلم فسوق».
“Mencaci seorang muslim
merupakan kefasiqan.”
Dan tidak boleh bagi orang yang
dicerca untuk membalas kecuali dengan yang semisal dengan cacian tadi, selama
bukan merupakan suatu kedustaan atau tuduhan palsu, atau cercaan pada
pendahulunya.” (“Syarhun Nawawiy ‘Ala Shohih Muslim”/8/hal. 398).
Iya, kesabaran dan pemaafan itu
lebih utama jika kezholiman tadi terkait dengan perkara pribadi atau duniawi,
misalnya. Adapun kezholiman terhadap agama ini maka tidak boleh didiamkan
saja. Maka tidak masuk akal jika dikatakan bahwasanya orang yang membela
dirinya dan agamanya dengan cara yang benar itu telah mencerca ulama. Tidaklah
mengucapkan itu kecuali orang bodoh atau dengki atau pengekor hawa nafsu.
Wallohu a’lam.
Rosululloh صلى الله عليه وسلمtelah
membela diri dalam kasus Dzul Khuwaishiroh dengan bersabda:
(ويلك من يعدل إذا لم أعدل؟)
“Celakalah kamu, siapakah yang akan
berbuat adil jika aku tidak berbuat adil?” (HR. Al Bukhoriy (3610) dari
Abu Sa’id Al Khudry رضي الله عنه).
Juga bersabda صلى الله عليه وسلمdalam
kasus pembagian emas:
(ألا تأمنوني وأنا أمين من في السماء)
“Tidakkah kalian mempercayai
diriku sementara aku adalah orang kepercayaan dari Yang ada di langit?”(HR. Al
Bukhoriy (4351) dan Muslim (1064) dari Abu Sa’id Al Khudry رضي الله عنه).
Dan beliau bersabda dalam
kejadian bantahan Sa’d bin Abu Waqqosh رضي الله عنه:
« يا سعد ، إني لأعطى الرجل وغيره أحب إلى
منه ، خشية أن يكبه الله في النار ».
“Wahai Sa’d, sungguh aku itu
memberi orang itu dalam keadaan orang yang lainnya lebih aku cintai daripada
dirinya. Aku beri dia karena takut dirinya akan ditelungkupkan Alloh ke dalam
neraka.” (HR. Al Bukhoriy (27) dan Muslim (150)).
Kemudian sesungguhnya dakwah Salafiyyah ini, yang berdiri di Darul hadits di
Dammaj adalah dakwah besar yang agung ke seluruh penjuru dunia, maka
barangsiapa mencerca para pengelolanya tanpa hujjah, maka sungguh dia telah
menghalangi manusia dari jalan Alloh dan berbuat zholim kepada Islam dan
Sunnah. Maka bagaimana engkau mengharuskan kami untuk diam dan tidak usah
membela dakwah tadi dan pengelolanya? Dengan dalil apa engkau mengharuskan kami
dengan yang demikian itu? Maka marilah kita kembali kepada Alloh dan Rosul-Nya
ketika terjadi perselisihan ini sebagaimana kita diperintahkan, dan
tinggalkanlah kami dari ro’yu para tokoh. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan bahwasanya Ahlussunnah
mengajak manusia ketika terjadi perselisihan untuk berhukum kepada As Sunnah,
bukan pendapat-pendapat para tokoh dan hasil akal mereka.” (“Mukhtashorush
Showa’iq”/hal. 603/Darul Hadits).
Adapun membiarkan pelaku kebatilan berbicara tentang Darul Hadits di
Dammaj tanpa haq, maka hal ini termasuk bentuk menolong ahlul batil untuk
meruntuhkan Darul Hadits dan untuk menghalangi manusia dari Darul Hadits. Maka
saya berharap orang yang berbuat demikian mau memeriksa kembali sikap yang
dipilihnya tadi karena saya khawatir dia akan mendapatkan bagian dari perkataan
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Dan tidaklah menghalangi manusia dari
ilmu kecuali para perampok dari kalangan mereka, dan para wakil iblis dan
polisi-polisinya.” (“Madarijus Salikin”/2/hal. 464).
[PASAL KETUJUH: BERSEMBUNYI DI BALIK SEBAGIAN ULAMA SUNNAH
SAMBIL MENYUSUN MAKAR TERHADAP SEBAGIAN ULAMA YANG MENAMPAKKAN KEBENARAN]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi yang ketujuh: Mereka
bersembunyi di balik sebagian ulama sunnah sebagai makar dan tipu daya
bersamaan dengan kebencian mereka pada ulama tadi dan penyelisihan mereka pada
prinsip-prinsip, manhaj dan sikap mereka sebagaimana yang dilakukan oleh
Rowafidh yang bersembunyi di balik Ahlul Bait dalam keadaan mereka menyelisihi
manhaj dan prinsip Ahlul Bait dan membenci mayoritas Ahlul Bait. Kenapa mereka
melakukan ini?
Komentar ana:
Yang ketujuh dari sifat
Haddadiyyah: Mereka bersembunyi di balik sebagian ulama sunnah sebagai makar
dan tipu daya bersamaan dengan kebencian mereka pada ulama tadi. Dan tidak ada
pada Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله sikap bersembunyi. Perkataan beliau jelas,
sumber penukilannya disebutkan dari kitab-kitab Salaf, kecintaan beliau pada
ulama sunnah itu terang. Beliau cinta pada orang-orang yang istiqomah, membenci
orang-orang yang menyimpang, sambil menegakkan hujjah dan burhan terhadap sikap
yang beliau ambil.
Adapun hizb baru –Mar’iyyah-,
berapa kali mereka bersembunyi di balik Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy dalam
keadaan mereka menyelisihi prinsip-prinsip Salafiyyah yang beliau ada di
atasnya? Berapa banyak pula mereka bergantung kepada nama Asy Syaikh Muqbil رحمه الله dalam kondisi mereka itu jauh dari jalan
Salafiyyah yang ‘afifah (menjaga kehormatan) yang mutamayyizah (memisahkan diri
dari ahlul batil) yang beliau tempuh?
Adapun perkara makar, maka
Mar’iyyun mereka itulah tukang makar, dan tipu daya mereka telah tersingkap
dengan seizin Alloh.
Syaikh kami Abu Abdillah
Muhammad Ba Jammal حفظه الله : “Dan telah tetap juga perkara yang
menunjukkan makar dan khianat orang ini –yaitu Salim Ba Muhriz-. Maka di antara
perkara yang kami ketahui: Pertama: Berita yang dikabarkan kepada kami, oleh
saudara kami yang mulia Muhammad bin Sa’id bin Muflih dan saudaranya Ahmad, dan
keduanya adalah penduduk Dis Timur di pesisir Hadhromaut, yaitu: Bahwasanya
Salim Ba Muhriz berkata pada mereka di pertengahan tahun 1423 H: “Kita telah
selesai dari Abul Hasan. Dan giliran berikutnya akan datang menimpa Al
Hajuriy!!!”
Ini adalah makar dan tipu daya
yang nyata serta rencana untuk menimpakan fitnah di barisan Ahlussunnah, di
mata orang-orang yang inshof (adil/objektif). Akan tetapi yang mengherankan
adalah orang yang telah sampai padanya ucapan semacam ini tapi dia diam saja
tidak bergerak seakan-akan dia ridho dengan itu!”([22]) (“Ad
Dalailul Qoth’iyyah ‘Ala Inhirofi Ibnai Mar’i”/hal. 13).
Abu Abdillah Muhammad bin Mahdi
Al Qobbash Asy Syabwiy: Kami pernah pulang dari muhadhoroh di So’dah bersama
Abdurrohman Al ‘Adniy. Dan yang demikian itu setelah pulangnya Asy Syaikh Yahya
حفظه الله
dari perjalanan beliau ke ‘Adn yang terakhir, maka berkatalah akh Shodiq Al
‘Abdiniy –dan dia termasuk teman dan orang dekat Abdurrohman Al ‘Adniy- kepada
Abdurrohman: “Yang menghadiri ceramah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy di ‘Adn itu
jumlahnya besar. Kami menyangka kerajaan kita akan berdiri di sana –di ‘Adn-.
Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “Tidak tahukah engkau wahai akh Shodiq
bahwasanya markiz –atau berkata: dakwah- akan pindah ke sana, karena markiz ini
–yaitu markiz Dammaj- itu terancam dari arah Rofidhoh.” Selesai kisah. Dan yang
demikian itu sebelum fitnah Abdurrohman Al ‘Adniy dan sebelum fitnah Hutsiyyin
(Rofidhoh).
Abdul Hakim bin Muhammad Al
`Uqoiliy Ar Roimiy berkata: “Seorang saudara dari Indonesia datang
bermusyawarah dengan Abdurrohman Al ‘Adniy dalam masalah membeli tanah di
Dammaj seharga empat juta real Yamaniy. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata:
“kunasihati engkau untuk tidak membelinya.” Lalu orang itu pergi. Maka
Abdurrohman Al ‘Adniy berkata padaku: “Nasihatilah orang itu. Ini adalah harta
yang besar. Wallohu a’lam apakah Dammaj ini akan tetap ada setelah ini
atau tidak. Bisa jadi hartanya tadi akan hilang.” Atau ucapan yang semakna
dengan itu. Dan ucapan tadi terjadi sebelum fitnah ini, dan Alloh menjadi saksi
atas perkataanku ini.”
Abul Khoththob Thoriq Al Libiy
–salah satu kepala gerombolan fitnah ini- berkata pada Akh Aiman Al Libiy
sebelum fitnah ini: “Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy akan membuka markiz
besar di ‘Adn, fasilitas lengkap, dukungan juga kuat, dan akan dinamakan “Kota
ilmu.” Dan Insya Alloh akan ada jalan keluar bagi problem para pelajar
asing.” Lalu Abul khoththob berkata lagi: “Tak akan tersisa seorang
pelajarpun di Dammaj.”
Abdulloh Al Jahdariy –pengelola
penertiban jadwal pelajaran di Dammaj, dan dulunya termasuk orang dekat dan
teman duduk Abdurrohman Al ‘Adniy- berkata bahwa dirinya dulu ingin membeli
rumah di Dammaj, maka Abdurrohman Al ‘Adniy menasihatinya untuk tidak
membeli rumah. Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “Kita tidak tapi bagaimana urusan
ini nantinya, dan apa yang akan terjadi besok.” Ucapan ini dilontarkannya pada
akhir fitnah Abul Hasan.
Dan semisal dengan ini
Abdurrohman Al ‘Adniy menasihati orang lain dengan dihadiri
Abdulloh Al Jahdariy kurang lebih dua tahun setelah itu.
Abdurrohman bin Ahmad An
Nakho’iy berkata: “Saya berkendara bersama Abdurrohman Al ‘Adniy di mobilnya
dari Mudiyah ke Laudar, saya disertai Abdul Bari Al Laudariy. Lalu Abdul Bari
Al Laudariy menanyainya: “Wahai Syaikh Abdurrohman, bagaimana kabar tentang
markiz?” Abdurrohman berkata: “Kami masih berupaya untuk itu.” Maka Abdul Bari
Al Laudariy berkata: “Ini adalah upaya yang bagus agar mereka mengakhiri
makelar di Dammaj.” Lalu dia tertawa. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy diam.
(Rujuk “Mukhtashorul
Bayan”/hal. 4-5/ditulis oleh para pengajar darul hadits Dammaj, di antaranya
adalah Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy, Asy Syaikh Abu Amr Al Hajuriy, Asy
Syaikh Abdul hamid Al Hajuriy dan yang lainnya).
Manakala makar mereka terbongkar, dan para masyayikh berkumpul di Darul Hadits
Dammaj –pertemuan yang pertama- Abdurrohman Al ‘Adniy mengakui di hadapan
mereka bahwasanya ketika Sholih Al Bakriy telah jatuh, beberapa orang
mendatanginya seraya berkata: “Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka
bangkitlah Anda.” Demikianlah Asy Syaikh Abu Abdirrohman Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabarkan kepada kami. Dan berita ini
juga tersebut di risalah “Al Muamarotul Kubro” karya Abu Basysyar Abdul Ghoni
Al Qo’syamiy حفظه الله hal. 16.
[PASAL DELAPAN: MENGADU DOMBA DI ANTARA AHLUL MANHAJUS SALAFIY]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله : melanjutkan: jawabnya adalah: Agar
memungkinkan bagi mereka untuk menjatuhkan orang-orang yang memerangi mereka
dari kalangan Ahlussunnah, dan agar memungkinkan bagi mereka untuk
mencerca mereka, dan memperburuk citra mereka dan citra prinsip-prinsip
mereka, dan agar bisa merealisasi sasaran mereka dalam memecahbelah Ahlul
manhajis Salafiy dan membenturkan mereka satu sama lain.
Komentar ana:
Yang kedelapan dari sifat Haddadiyyah adalah: mengadu domba di antara ulama.
Dan ini juga kenyataan dari karakter Mar’iyyin, mereka menjilat ke para ulama
seperti Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله , Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy, Asy
Syaikh Ubaid Al Jabiriy untuk menjatuhkan orang yang membongkar hizbiyyah
Mar’iyyah agar memungkinkan bagi mereka untuk mencerca mereka, memperburuk
citra mereka. Para Salafiyyun yang adil dan objektif dan ulama mereka menjadi
saksi atas kerasnya usaha Mar’iyyin dalam mengadu domba para pemeluk manhaj
Salafiy.
Dan inilah yang dilakukan oleh
Abdurrohman Al ‘Adniy dan saudaranya Abdulloh, Hani Buroik, dan ‘Arofat bin Hasan,
yang digambarkan oleh Ubaid Al Jabiriy وفقه الله bahwasanya mereka adalah orang-orang
khususnya. Maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata pada ‘Ubaid وفقه الله : “Sisi ketiga: apakah termasuk dari duduk
yang baik adalah mengadu domba di antara Ahlussunnah?!! Dan ini adalah perkara
yang telah pasti dari orang-orang tadi. Pindah kesana kemari, menelpon
kesana dan kesini dari satu tempat ke tempat lain di tempat-tempat para
masyayikh, di Yaman dan selain Yaman, hingga hampir saja mereka membikin fitnah
di antara kami di Yaman, akan tetapi Alloh menyelamatkan, sesungguhnya Dia Maha
Mengetahui isi dada.” (“At Taudhih Lima Jaa Fit Taqrirot”/Asy Syaikh Yahya
/hal. 9).
Dan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy
حفظه الله
berkata pada ‘Ubaid Al Jabiriy وفقه الله : “Dan aku tidak lupa untuk mengingatkan
padamu wahai Syaikh, bahwasanya kebanyakan orang yang membikin fitnah dan
kegoncangan terhadap Dakwah Salafiyyah di Yaman itu jika mereka terbongkar di
sisi kami, mereka akan lari ke ulama Saudi, sambil berpura-pura baik di
hadapan mereka, sampai-sampai ada dari Ahlussunnah yang berkata: “Kenapa kalian
tidak bersepakat saja bersama Az Zindaniy, dan bersama saudara kalian anggota
Jam’iyyah ini dan itu?” mereka punya udzur atas ucapan tadi, sebagaimana yang
engkau sebutkan dalam jawabanmu ini. Hanya saja pujian mereka dan baik
sangkanya mereka kepada orang-orang tadi tidaklah membersihkan mereka dari
kasus yang mereka bikin, menurut orang yang telah mengetahui kejahatan mereka
tadi. Bahkan yang demikian itu hanya akan menambah pengetahuan dan keyakinan
bahwasanya mereka itu adalah para pelaris fitnah, bukan orang-orang yang
tenang, bukan orang-orang yang cepat bertobat pada Alloh عز وجل dari kejahatan mereka itu.” (“At Taudhih
Lima Jaa Fit Taqrirot”/Asy Syaikh Yahya /hal. 10-11).
Lihatlah perincian upaya adu
domba yang dilakukan oleh para pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy dalam “Nashbul
Manjaniq” (hal. 134,136,139/Yusuf Al Jazairiy), “Iqodzul Wisnan” (hal. 5,29)
dan “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 31-32/Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy),
“Al Qoulush Showab Fi Abil Khoththob” (karya Haidaroh Al ja’daniy), dan “Zajrul
‘Awi” (juz 3/Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy).
Sebagai contoh saja dalam
penyebutan para tokoh adu domba Mar’iyyun adalah sebagai berikut:
‘Arofat Al Bushoiriy. Berupaya
mengadu domba para tokoh utama, sementara dia sendiri meremehkan ulama Yaman
dan pimpinan mereka yaitu Al Imam Muhadditsil Jaziroh Asy Syaikh Muqbil
Al Wadi’iy رحمه الله
. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 9/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).
Muhammad Gholib. Termasuk
orang-orang yang mengadu domba antara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan Ubaid.
Yang demikian itu dikarenakan kedekatannya pada Ubaid. Muhammad Gholib adalah
teman duduk yang jelek. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 9/Abdurrohman bin Ahmad An
Nakho’iy حفظه الله).
Hani bin Buroik Al ‘Adniy. Dia
termasuk pengadu domba para tokoh utama. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy berkata
tentangnya: Hani bin Buroik, pada hakikatnya dia itu tak punya nilai besar di
sisi kami –sampai pada ucapan beliau:- dan dia mengadu domba antara kami
dan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –semoga Alloh memberinya taufiq dan
perlindungan. Dia berkata: “Tamparlah mereka, wahai Syaikh, sekaranglah saatnya
bagi Anda untuk untuk menampar mereka wahai Syaikh.” Demikianlah saudara kita
mengabari aku, dan dia mendengar, dan dia yang bertanggung jawab atas berita
ini. Aku tidak menukilkan setiap perkara yang datang padaku. Aku hanya
menukilkan hakikat yang ada sanadnya.” Dst. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal.
11/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).
Hafizh Al Junaidiy. Dia
termasuk pengadu domba para tokoh utama. Semoga Alloh tidak membalasnya dengan
kebaikan. Dia telah menulis risalah yang kesimpulannya adalah cercaan terhadap
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan mengadu domba di antara ulama. Dia telah
dibantah oleh akh fillah ‘Arofat Al Qibbathiy dengan risalah yang berjudul “Ar
Roddul Badi’ ‘Ala Hafizh Al Junaidiy Ash Shori’”. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal.
17/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).
Asy Syaikh Abu Abdissalam
-Hasan bin Qosim Ar Roimiy- حفظه الله menggambarkan hizb baru itu sebagai
berikut: “Yang penting adalah bahwasanya mereka itu sebagaimana telah aku
sebutkan terdahulu berupaya keras untuk menghasilkan perpecahan di antara ulama
sunnah di dalam dan luar Yaman. Kejadian perang kaset antar dua syaikh Al
Wushobiy dan Al Hajuriy tidak lain adalah contoh yang terbaik untuk itu. Dan
tidaklah perang malzamah yang dikeluarkan Asy Syaikh Al Jabiriy وفقه الله untuk menentang Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy kecuali contoh hidup yang baik untuk membuktikan apa yang telah aku
jelaskan terdahulu.” (“Ar Roddul Qosimiy”/hal. 3).
Asy Syaikh Abu Hamzah Al
‘Amudiy حفظه الله
menyebutkan bahwasanya di antara sisi kemiripan antara Abdulloh Mar’i dengan
Abul Hasan adalah: mengadu domba di antara ulama sunnah. (“Zajrul ‘Awi”/juz
3/hal. 34).
Dan di antara perbuatan
pengikut Abdulloh bin Mar’i itu adalah sebagaimana laporan dari para pelajar
Dis Timur حفظهم الله
bahwasanya sebagian pengikut Nabil Al hamr, mereka itulah yang menelpon
Ubaid dengan soal-soal yang bersifat adu domba itu. (“Akhbar Min Tholabatil
‘Ilmis Salafiyyin Bi Manthiqotid Disisy Syarqiyyah”/ringkasan Abu Sa’id Al
Hadhromiy).
Maka Baromikah Mar’iyyah itulah Haddadiyyun dalam bab ini. Adapun Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy حفظه الله sungguh kalian telah benar-benar tahu
bahwasanya beliau sejak zaman dulu sangat menjauh dari mengadukan seseorang ke
para masyayikh. Jika beliau dituntut untuk mengemukakan hujjah tentang
kritikannya terhadap seseorang, maka beliaupun menampilkan hujjah itu. Bahkan
kalian telah sering mendengarkan ucapan beliau: “Hujjah tentang kasus ini ada
padaku, maka kebenaran itu bersamaku. Robbku tak pernah menelantarkan diriku
satu haripun, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan diriku. Jika engkau jujur pada
Alloh maka Dia juga akan jujur padamu([23]).”
[PASAL SEMBILAN: SERUAN UNTUK TAQLID KEPADA SEBAGIAN ULAMA DALAM
MENYELISIHI KEBENARAN]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi ke delapan: Seruan
untuk taqlid sebagaimana itu adalah keadaan Rofidhoh dan Ghulatush Shufiyyah,
dan inilah yang dibikin-bikin oleh Abdul Lathif Basyumail manakala Mahmud Al
Haddad dan gerombolannya gagal dalam pergulatan mereka yang tidak tahu malu
dengan ulama dan cercaan mereka yang jelas terhadap mereka. Dan Alloh
menjatuhkan Al Haddad. Maka abdul Lathif ingin maju ke depan dengan manhaj
Haddadiyyah tapi dalam baju baru di belakang dinding dan di bawah kegelapan
makar.
Komentar ana:
Yang kesembilan dari sifat Haddadiyyah adalah: seruan kepada taqlid. Dan ini
juga karakter hizb Mar’iyyah. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata tentang hizbiyyah mereka: “Titik
kedua belas adalah: taqlid.” (“An Nushhu Wat Tabyiin”/hal. 28).
Berikut ini adalah kabar dari
para pelajar Salafiyyun dari wilayah Dis timur di Hadhromaut yang mengeluhkan
sikap jeleknya Nabil Al Hamr dan teman-temannya: “Dan di antara perbuatan Nabil
Al Hamr adalah bahwasanya dirinya membela dengan sangat keras kedua anak Mar’i
dan Ba Muhrizsambil mengaku-aku bahwasanya dirinya itu berbicara dengan
perkataan para ulama, dan dirinya itu menjelaskan Bayan Ma’bar dan Bayan
Hudaidah kepada manusia. Nabil dan pengikutnya berkata: “Orang-orang yang
menyebarkan kaset-kaset Al Hajuriy dan tulisan-tulisan para muridnya tentang
fitnah ini berarti durhaka para para ulama.” Dan mereka menggambarkan para
Salafiyyin yang meninggalkan Abdurrohman Al ‘Adniy dan kelompoknya adalah berarti menentang
para ulama. Dan kerja kerasnya dalam mentahdzir umat dari Dammaj dan masyayikh
dan pelajar yang singgah di Dammaj untuk dakwah ke jalan Alloh dan menyebarkan
kebaikan. Juga upaya Nabil dan anak buahnya untuk menebarkan kedustaan dan kebohongan
seputar Dammaj yang hal itu menyebabkan manusia lari dari Dammaj. Dalil yang
dipakainya adalah sebagian dariperkataan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab
Al Wushobiy وفقه الله. (“Akhbar Min Tholabatil ‘Ilmis Salafiyyin
Bi Manthiqotid Disisy Syarqiyyah”/ringkasan Abu Sa’id Al Hadhromiy/no. 5-8).
Maka hizb Mar’iyyah itulah yang
ahli taqlid pada sebagian ulama demi meruntuhkan kritikan orang alim yang lain
terhadap mereka, dan demi menjatuhkan si alim tadi. Mereka berkata: “Kita
tunggu pertemuan ulama!”, “Kita tunggu kesepakatan ulama!”, “Asy Syaikh Fulan
belum berbicara!”
Apakah demikian itu
prinsip-prinsip As Salafush Sholih? Apa boleh taqlid pada sebagian ulama demi
meruntuhkan kebenaran yang dibawa oleh ulama lain yang telah ditegakkan di atas
hujjah yang para ulama tadi tak sanggup untuk meruntuhkannya?
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله punya perkataan bagus saat membantah Abul
Hasan Al Mishriy:
1- Ahlussunnah dalam hal ini
tidak mengambil sikap demikian. Tidaklah diketahui ucapan macam ini kecuali
dari Ikhwanul Muslimin yang melembekkan kebenaran dan
menyia-nyiakannya dengan alasan bahwasanya yang demikian itu adalah
masalah yang masih diperselisihkan, sekalipun hal itu termasuk dalam
masalah-masalah yang prinsipil (mendasar). Dan perselisihan yang kita pada hari
ini dengan Abul Hasan adalah termasuk maslah-masalah prinsipil yang besar, yang
agama ini berdiri di atasnya, pada sisi-sisi yang besar, terutama sisi
aqidah-aqidah yang bersifat ghoibiyyah.
2- Masalah-masalah yang
diperselisihkan itu harus dikembalikan kepada Alloh dan Rosul-Nya, sebagaimana
firman Alloh ta’ala:
﴿وما اختلفتم فيه من شيء فحكمه إلى
الله﴾
“Dan perkara apapun yang kalian
perselisihkan, maka hukumnya adalah kepada Alloh.”
Dan sebagaimana firman-Nya
ta’ala:
﴿فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول﴾
“Maka jika kalian berselisih
pendapat dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Alloh dan Rosul-Nya.”
Sama saja, apakah dia itu
masalah dalam usul ataukah furu’.
3- Rosululloh صلى الله عليه وسلم memberitakan:
«أنه من يعيش من الأمة فسيرى اختلافاً
كثيراً»
“karena orang yang hidup di
antara kalian sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak.”
Kemudian beliau membimbing umat
kepada perkara hendaknya mereka kembali padanya dengan bersabda:
«فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين
المهديين عضواعليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة
ضلاله «.
“Maka wajib bagi kalian untuk
memegang sunnahku dan sunnah Al Khulafaur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk.
Pegang teguhlah dia dan gigitlah dia dengan geraham kalian. Dan hindarilah
setiap perkara yang muhdats karena yang muhdats itu bid’ah, dan setiap bid’ah
itu kesesatan.”
4- Alloh ta’ala berfirman:
﴿فماذا بعد الحق إلا الضلال﴾
“Maka apa ada setelah kebenaran
selain kesesatan.”
Dan dari sini Ahlussunnah
berkata: “Sesungguhnya kebenaran itu tidak berbilang. Maka haruslah kebenaran
itu bersama salah satu dari pihak yang bertikai dari setiap kejadian
perselisihan –yaitu perselisihan yang saling berlawanan.”
5- Termasuk dari prinsip
Ahlussunnah adalah: bahwasanya setiap orang bisa diambil perkataannya dan bisa
juga ditolak kecuali Rosululloh صلى الله عليه وسلم.
6- Termasuk dari prinsip
Ahlussunnah adalah: kenalilah kebenaran maka engkau akan mengenali
tokoh-tokohnya. Dan janganlah engkau kenali kebenaran itu dengan tokoh-tokoh.
7- Termasuk dari prinsip
Ahlussunnah adalah: bahwasanya para tokoh butuh untuk didukung dengan hujjah,
dan bukannya mereka itu yang menjadi hujjah.
8- Termasuk dari prinsip
Ahlussunnah yang Ahlussunnah bersepakat di atasnya adalah: barangsiapa telah
jelas baginya sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم tidak boleh baginya untuk meninggalkannya
dikarenakan perkataan seseorang, sebagaimana Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله.
Selesailah penukilan dari
“Baroatu Ahlissunnah”/Majmu’ur Rudud/hal. 119-200/Darul Imam Ahmad.
Prinsip-prinsip ini atau dalil-dalil ini telah dibatalkan dan disia-siakan oleh
kedua anak Mar’i dan para penolong mereka, dan menguaplah seluruh klaim yang
sering mereka ulang-ulang dan mereka menyatakan bahwasanya mereka itulah Ahlussunnah.
Maka perhatikanlah wahai manusia, bukankah mereka itu lebih berhak dengan sifat
ini: “taqlid”, “menyelisihi prinsip-prinsip Salafiyyah”? Sementara Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau رعاهم الله mereka itulah yang lebih berhak dengan
Salafiyyah.
Dan di antara perkara yang
menunjukkan jauhnya Ahlussunnah di Dammaj dan yang bersama mereka dari sikap
taqlid adalah: kekokohan mereka dalam menghizbikan kedua anak Mar’i dan
orang-orang yang bersama mereka, manakala nampak bagi mereka burhan dan hujjah
akan hal itu, sekalipun banyak ulama وفقهم الله yang menyelisihi mereka.
Maka ingatlah bahwasanya tempat
kembali pada saat terjadi perselisihan adalah Al kitab dan As Sunnah dengan
pemahaman Salaful Ummah. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:
﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ
إِلَى الله وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ
ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا﴾
“Maka jika kalian berselisih
pendapat terhadap suatu perkara maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh dan
Rosul-Nya, jika memang kalian itu beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang
demikian itu lebih baik, dan lebih bagus kesudahannya” (QS. An Nisa: 59)
Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Hujjah ketika terjadi
perselisihan itu adalah As Sunnah. Maka barangsiapa menyodorkan Sunnah sebagai
hujjahnya, maka sungguh dia telah beruntung. Dan barangsiapa mengamalkannya
maka sungguh dia selamat. Dan tiada taufiq buatku kecuali dengan pertolongan
Alloh.” (“At Tamhid”/22/hal. 74/di bawah hadits: إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka nash-nash ini dan yang
lainnya menjelaskan bahwasanya Alloh telah mengutus para Rosul dan menurunkan
kitab-kitab untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, dan menjelaskan perkara
yang diperselisihkan oleh manusia, dan bahwasanya yang wajib bagi manusia
adalah mengikuti apa yang diturunkan kepada mereka dari Robb mereka, dan
mengembalikan perkara yang mereka perselisihkan kepada Al Kitab dan As Sunnah,
dan bahwasanya barangsiapa tidak mengikutinya maka dia itu adalah munafiq, dan
bahwasanya barangsiapa mengikuti petunjuk yang dibawa oleh para Rosul maka dia
itu tak akan tersesat ataupun celaka, dan bahwasanya barangsiapa berpaling dari
yang demikian itu maka dia akan digiring dalam keadaan buta, tersesat, celaka
dan disiksa.” (“Majmu’ul Fatawa”/17/hal,303).
Alloh سبحانه
وتعالى berfirman:
﴿فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا
آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ﴾
“Maka jika mereka beriman
kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat
petunjuk; dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam
permusuhan (dengan kalian).” (QS. Al Baqoroh: 137).
Dan dalam hadits Mu’awiyah bin
Abi Sufyan رضي الله
عنهما yang berkata: Sesungguhnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«إن أهل الكتابين افترقوا في دينهم على ثنتين
وسبعين ملة، وإن هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة -يعني الأهواء-، كلها في
النار إلا واحدة وهي الجماعة. وأنه سيخرج في أمتي أقوام تجارى بهم تلك الأهواء كما
يتجارى الكلب بصاحبه لا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله». (أخرجه الإمام أحمد
(16937/ الرسالة)، وهو حديث حسن).
“Sesungguhnya Ahlul Kitabain
–Tauroh dan Injil- telah tercerai-berai dalam agama mereka menjadi tujuh puluh
dua agama. Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga
agama –yaitu hawa nafsu-. Semuanya di dalam neraka kecuali satu, yaitu Al
Jama’ah. Dan bahwasanya akan keluarlah di dalam umatku kaum-kaum yang dijalari
oleh hawa-hawa nafsu tadi, sebagaimana penyakit anjing gila menjalari
korbannya. Tidaklah tersisa darinya satu uratpun dan satu persendianpun kecuali
dia akan memasukinya.” (HR. Ahmad ((16937)/Ar Risalah) hadits hasan).
Al Imam Ath Thibiy رحمه الله berkata: “Yang dikehendaki dengan Al
jama’ah di sini adalah para Shohabat dan orang yang setelah mereka dari
kalangan Tabi’in dan tabi’it tabi’in dan para Salafush Sholihin. Yaitu: Aku
perintahkan kalian untuk berpegang dengan jalan dan alur mereka, dan masuk ke
dalam rombongan mereka.” (sebagaimana dalam “Tuhfatul Ahwadzi”/Al Amtsal/Bab Ma
Jaa Fi Matsalish Sholah Wash Shiyam/7/hal. 281/cet. Darul Hadits).
Maka barangsiapa bersikeras
untuk menyelisihi jalan Salaf setelah ditegakkannya hujjah padanya, maka dia
itu adalah mubtadi’. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Sesuai dengan kadar keluarnya
seseorang dari Salaf dan dari jalan Salaf رضوان الله عليهم terjadilah kebid’ahan.” (“Ghorotul
Asyrithoh”/2/hal. 17/Maktabah Shon’al Atsariyyah).
Dan telah nampak dengan jelas
dari hizbi baru –Mar’iyyah- sikap taqlid pada ulama dalam menyelisihi
dalil-dalil dan hujjah-hujjah. Maka kukatakan pada mereka sebagaimana perkataan
Al Imam Al Albaniy رحمه الله : “Akan tetapi apakah termasuk hak seorang
alim untuk kita itu mengangkatnya sampai ke derajat kenabian dan utusan hingga
kita memberinya ‘ishmah dengan praktek perbuatan kita?! Lisanul hal (praktek
perbuatan) itu lebih bisa bercerita daripada sekedar ucapan lidah. sekalipun
kita wajib untuk benar-benar menghormati si alim dan untuk mengikutinya jika
dia menampilkan dalil pada kita, maka kita tidak berhak untuk mengangkatnya dan
meninggalkan ucapan Nabi ‘alaihish sholatu wassalam.” (“At Tashfiyyah”/hal.
22-23).
Maka bukanlah hukum itu kepada
Asy Syaikh Fulan dan ‘Allan, akan tetapi hukum itu kepada apa yang telah engkau
dengar tadi. Maka kukatakan padamu sebagai perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Kita telah berselisih pendapat dalam
masalah ini. Maka jika Al Qur’an dan As Sunnah itu bersaksi untuk mendukung
ucapan seseorang, maka itulah yang harus kita ambil, dan kita tak akan
meninggalkan kewajiban yang ditunjukkannya itu demi ucapan siapapun juga.” (“Al
Furusiyyah”/hal. 212).
Sungguh Syaikh kami An Nashihul
Amin Yahya Al Hajuriy dan para tokoh yang bersama beliau telah mendatangkan
bukti-bukti yang jelas, yang mana Anda ataupun orang yang lebih tinggi daripada
Anda tidak sanggup untuk meruntuhkannya. Dan saya katakan kepadamu seperti
perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Di manakah nilai banyak-banyakan jumlah
orang jika dibandingkan dengan banyak-banyakan dalil? Sungguh kami telah
menyebutkan sebagian dalil yang kalian tidak punya jawaban untuknya,padahal
yang wajib adalah mengikuti dalil di manapun dia berada, bersama siapapun dalil
tadi berada. Dan itulah yang diwajibkan oleh Alloh untuk kita mengikutinya, dan
mengharomkan untuk menyelisihinya, serta menjadikannya sebagai timbangan yang
benar di antara para ulama. Maka barangsiapa dalil tadi ada di sisinya,
maka dia itulah orang yang paling beruntung dengan kebenaran, sama saja apakah
orang yang mencocokinya itu sedikit ataukah banyak.” (“Al Furusiyyah”/hal.
298).
Jika engkau berkata: “Asy
Syaikh Fulan adalah imam, maka ucapan yang benar adalah perkataannya, maka kami
bersama beliau!”
Maka jawab kami adalah
sebagaimana telah lewat: Bukanlah ucapan yang benar itu adalah perkataan Asy
Syaikh Fulan ataupun orang yang lebih tinggi dari beliau. Akan tetapi ucapan
yang benar adalah firman Alloh dan sabda Rosul-Nya dengan pemahaman As Salafush
Sholih. Jika telah nampak bahwasanya perkataan Asy Syaikh Fulan itu tidak
didukung oleh dalil-dalil dan bukti-bukti, maka kami katakan padanya dengan apa
yang dikatakan oleh Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله tentang berkata tentang Syaikhul Islam Abu
Isma’il Al Harowiy رحمه الله :
شيخ الإسلام حبيب إلينا والحق أحب إلينا
منه وكل من عدا المعصوم فمأخوذ من قوله ومتروك
“Syaikhul Islam adalah orang
yang kami cintai, namun al haqq lebih kami cintai daripada beliau. Dan semua
orang yang selain al ma’shum, maka pendapatnya itu bisa diambil ataupun
ditinggalkan” (“Madarijus Salikin”/2 hal. 32/cet. Darul Hadits).
Dulu Al Qodhi Abdul Jabbar رحمه الله sering menolong madzhab Asy Syafi’iy dalam
masalah usul dan furu’. Manakala beliau mendapati kesalahan Asy Syafi’iy
beliaupun berkata:
هذا الرجل كبير، ولكن الحق أكبر منه، اهـ.
“Pria ini adalah tokoh besar,
akan tetapi kebenaran itu lebih besar daripada beliau.” (dinukilkan oleh Ilkiya
Al Hirrosiy sebagaimana disebutkan oleh Al Imam Asy Syaukaniy رحمهما الله dalam “Irsyadul Fuhul”/2/hal. 813/cet. Ar
Royyan).
Maka sikap menjadikan ucapan seorang alim atau
perbuatannya bagaikan dalil syar’iy merupakan suatu kebid’ahan. Al Imam Asy
Syathibiy رحمه الله
berkata: “Ucapan orang alim telah menjadi hujjah menurut orang awwam,
sebagaimana ucapan orang alim juga dijadikannya sebagai hujjah
yang mutlak dan menyeluruh dalam fatwanya. Maka berkumpullah pada orang awwam
ini amalan yang disertai keyakinan akan bolehnya perbuatan itu dengan adanya
syubhah (kekaburan) dalil. Dan ini benar-benar merupakan kebid’ahan.” (“Al
I’tishom”/1/hal. 364).
Maka jika seorang alim telah
mencurahkan kesanggupannya untuk mengetahui kebenaran tapi salah dalam
ijtihadnya maka dia itu mendapatkan pahala atas ijtihadnya, tapi tidak boleh
kesalahannya itu diikuti. Barangsiapa bersikeras untuk membebek kepada orang
alim tadi setelah bayyinah itu nampak, maka si pembebek itu telah membikin
bid’ah, berdasarkan ucapan Al Imam Asy Syathibiy. Dan bukan mustahil bahwasanya
orang ini menjadi mubtadi, karena dirinya bersikeras dalam kesalahannya itu dan
menganggapnya sebagai bagian dari agama, padahal telah sampai kepadanya hujjah
akan kesalahannya itu.
Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang kisah adzan Jum’at di Az
Zauro: “Bahkan Utsman itu berijtihad. Dan orang setelah Utsman jika telah
nampak baginya dalil-dalil tapi dia taqlid (membebek) pada Utsman atas
perbuatan tadi, maka dia itu termasuk mubtadi’ karena taqlid itu sendiri
adalah bid’ah.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 99/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Jika engkau melihat perkataan
salah telah muncul dari seorang imam yang terdahulu, lalu kesalahannya itu
terampuni karena belum sampai hujjah kepadanya, makatidaklah terampuni bagi
orang yang telah sampai hujjah kepadanyakesalahan yang terampuni bagi orang
pertama. Oleh karena itulah makanya orang yang sampai kepadanya hadits-hadits
tentang adzab kubur dan semisalnya jika mengingkarinya, maka dia itu
dihukumi sebagai mubtadi’. Akan tetapi ‘Aisyah dan yang semisalnya yang tidak
mengetahui bahwasanya orang-orang yang mati itu bisa mendengar di kuburannya,
tidak dihukumi sebagai mubtadi’. Ini merupakan prinsip yang agung, maka
pelajarilah dia karena dia itu bermanfaat.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 61).
Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Jenis kedua: orang yang
mengetahui kebenaran akan tetapi mereka menolaknya dalam rangka fanatisme
terhadap para pemimpin mereka. Mereka tidaklah mendapatkan udzur, dan
mereka sebagaimana firman Alloh tentang mereka:
﴿إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ
وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ﴾ (الزخرف: 22)
“Sesungguhnya kami mendapati
bapak-bapak kami ada di atas suatu agama, dan sesungguhnya kami mengikuti
jejak-jejak.”
(“Majmu’ Fatawa Wa Rosail Ibnu
Utsaimin”/9/hal. 51).
Dan sungguh para penasihat Salafiyyin telah mencurahkan kerja keras mereka
dalam menegakkan hujjah-hujjah dan nasihat-nasihat kepada para Mar’iyyin
tersebut, dan mereka bersabar untuk itu. Manakala jelas bagi para penasihat
pembangkangan mereka terhadap kebenaran, dan sikap mereka untuk lebih
menggutamakan taqlid di atas ittiba’ terhadap dalil, maka merekapun
membid’ahkan Mar’iyyun. Maka Mar’iyyun dan para penolong mereka dari
kalangan muqollidun setelah tegaknya hujjah, mereka berhak untuk dibid’ahkan.
Bahkan kita berkata sebagaimana
perkataan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله: “Maka bukti-bukti yang jelas membuat
ribuan orang yang tidak memiliki hujjah itu terdiam walaupun mereka
itu para ulama. Kaidah ini wajib untuk diketahui.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya Ahlul haq
Wassunnah mereka itu tidak memiliki panutan selain Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang tidak berbicara dari hawa nafsunya.
Tidaklah yang beliau ucapkan itu selain wahyu yang diwahyukan. Beliau itulah
yang wajib untuk dibenarkan dalam setiap apa yang beliau beritakan, dan wajib
ditaati dalam setiap apa yang beliau perintahkan. Dan tidaklah kedudukan
ini dimiliki oleh orang lain dari kalangan para imam. Bahkan setiap orang bisa
diambil perkataannya dan bisa juga ditolak kecuali Rosululloh صلى الله عليه وسلم. Maka barangsiapa menjadikan seseorang
selain Rosululloh itu dari kalangan orang yang mencintainya dan mencocokinya
segai Ahlussunnah Wal Jama’ah, sementara orang yang menyelisihinya dijadikannya
sebagi ahlul bid’ah wal furqoh –sebagaimana hal ini didapatkan pada
kelompok-kelompok yang mengikuti para imam dalam perkataan mereka dalam agama
dan yang lainnya- maka dia itulah sebenarnya orang yang termasuk dari
kalangan ahlul bida’ wadh dholal wat tafarruq.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal.
346-347).
Kesimpulannya
adalah: Sesungguhnya Mar’iyyun itulah yang lebih berhak untuk dikatakan
sebagai haddadiyyun, daripada Ahlu Dammaj.
[PASAL KESEPULUH: PURA-PURA MENGHORMATI SEBAGIAN ULAMA SUNNAH,
UNTUK MEMBENTURKANNYA KEPADA ULAMA YANG LAIN]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata tentang Haddadiyyah: Maka dia
menampakkan –sebagai tipu daya belaka- penghormatan kepada ulama Nejed dengan
mengklaim bahwasanya mereka itu adalah ahli taqlid dan para penyeru kepada
taqlid –padahal para ulama tadi jauh dari yang demikian itu- lalu berdirilah
dirinya dan sebagian dari gerombolannya dengan semangat kuat untuk membikin
pengumuman-pengumuman dan tulisan-tulisan dan sasaran mereka adalah Ahlul Madinah,
tapi Alloh menjatuhkan tipu daya mereka.
Komentar saya:
Ini adalah sifat Haddadiyyah yang kesepuluh: berpura-pura menghormati sebagian
ulama, untuk membenturkannya dengan ulama yang lain. Adapun Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy dan para ulama yang bersama beliau حفظهم الله tidak ada pada mereka makar seperti ini
-dan makar apapun-, tidak pula mereka mengincar Ahlul Madinah. Bahkan
mereka menyeru manusia kepada sunnah dan salafiyyah.
Manakala hizb Mar’iyyah bangkit
dan merobek dakwah dan membangkang terhadap nasihat-nasihat yang benar, maka
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para ulama yang bersama beliaupun
memperingatkan manusia dari kelompok tadi.
Manakala Ubaid Al Jabiriy,
Abdulloh Al Bukhoriy, dan yang lainnya membela Mar’iyyin, Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy dan para ulama yang bersama beliau bersabar sambil terus menyebarkan
penjelasan dan hujjah.
Manakala para penolong
Mar’iyyin tadi menampakkan sindiran, cercaan dan serangan kepada Darul Hadits
di Dammaj dan pengelolanya serta para Salafiyyin yang bersamanya, maka
merekapun membela diri dan memberikan kepada para penyerang tadi hak mereka,
sama saja, apakah mereka tadi dari Ahlul Madinah, Ahlu Makkah, Ahlu Mishr atau
dari negri manapun. Tiada orang yang kebal dari hukum syar’iy, barangsiapa
berbuat kejahatan haruslah menyiapkan diri untuk dihukum, sampai bahkan
walaupun dia lahir dan tinggal di dalam perut Ka’bah misalkan.Bukanlah negri
itu yang mensucikan penduduknya, akan tetapi amal sholihnyalah yang mensucikan
dirinya dengan seizin Alloh.
Maka beda jauh antara makar
Haddadiyyah dengan dakwah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau.
Barangsiapa menyamakan keduanya setelah penjelasan ini maka sungguh dia telah
membikin kedustaan yang besar. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا
ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا
مُبِينًا﴾ [النساء/112].
“Dan barangsiapa membuat suatu
kesalahan atau dosa kemudian dia menuduhkannya kepada orang yang bersih, maka
sungguh dia telah memikul kedustaan dan dosa yang nyata.”(QS. An Nisa: 112).
Akan tetapi siapakah yang akan
memahamkan mereka itu?
نظروا بعين عداوة لو
أنها عين الرضا لاستحسنوا ما استقبحوا
“Mereka memandang dengan mata
permusuhan. Seandainya dia itu adalah mata keridhaan pastilah mereka akan
menganggap bagus perkara yang mereka anggap buruk.” (“Miftah Daris
Sa’adah”/hal. 176).
وعين الرضا عن كل عيب كليلة … ولكن عين
السخط تبدي المساويا
“Dan mata keridhoan lemah untuk
melihat setiap kekurangan. Tapi mata kebencian menampakkan berbagai kejelekan.”
(“Al Aghoniy”/3/hal. 369).
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata tentang Haddadiy: Dia
menampakkan diri bersemangat membela Al Imam Muhammad bin Abdulwahhab dan
membelanya, maka dia kedustaan dan pengkhianatannya mereka-reka seorang musuh
untuk Al Imam Muhammad bin Abdulwahhab. Ketahuilah bahwasanya musuh rekaan buat
beliau adalah Asy Syaikh Al ‘Allamah Al Muhaddits As Salafiy Muhammad
Nashiruddin Al Albaniy yang berloyalitas kepada Al Imam Muhammad bin
Abdulwahhab dan berjalan di atas manhaj beliau manhaj As Salafush Sholih. Dia menjadikan
Asy Syaikh Al Albaniy musuh yang sangat jahat yang tiada taranya buat Al Imam
Muhammad bin Abdulwahhab, dakwah beliau dan keluarga Su’ud, dan mengikat Ahlul
Madinah dengan Asy Syaikh Al Albaniy, dan mengklaim bahwasanya Asy Syaikh Al
Albaniy punya manhaj yang salah yang di atasnyalah Ahlul Madinah berjalan.
Komentar ana:
Sekedar pengakuan cinta, penghormatan dan pembelaan pada seseorang tidaklah
cukup. Akan tetapi perbuatan dan bekasnya itulah saksi yang terbaik akan
kejujuran atau kedustaan orang tadi. Ibrohim At Taimiy رحمه الله berkata:
ما عرضت قولي على عملي إلا خشيت أن أكون
مكذَّبا
“Tidaklah aku sodorkan
perkataanku kepada perbuatanku, kecuali aku takut akan didustakan (dianggap
sebagai pendusta).” (“Shohihul Bukhory”/kitab Bad’il Wahyi/Bab Khoufil
Mu’min/1/hal. 93).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Andaikata di hatimu itu ada rasa
cinta, pastilah bekasnya itu tampak pada jasadmu.” (“Badai’ul Fawaid”/3/hal.
731).
Telah nampak kedustaan Haddadiyyin dan makar mereka dalam penampakan mereka
rasa cinta dan penghormatan kepada Al Imam An Najdiy رحمه الله . Dan tidak ada rasa cinta yang jujur di
dalam hati-hati para Haddadiyyin yang sakit itu. Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله mendengar seorang badui berkata:
…، وهيهات أن يظهر الودّ المستقيم من
القلب السقيم. (“جامع بيان العلم”/1 / ص 630/دار ابن الجوزي).
“… dan jauh sekali
kemungkinannya untuk munculnya rasa cinta yang lurus dari hati yang sakit.”
(“Jami’ Bayanil ‘Ilmi”/1/hal. 630/Daru Ibnil Jauziy).
Adapun kecintaan Ahlussunnah Wal jama’ah kepada dua imam Muhammad bin
Abdulwahhab An Najdiy dan Muhammad Nashiruddin Al Albaniy رحمها الله merupakan kecintaan yang jujur, nampak
dari ucapan dan perbuatan mereka sehari-hari. Ini kitab-kitab Al Imam An Najdiy
terus-menerus diajarkan di markiz ini, dihapalkan, banyak disyaroh, ditahqiq,
dan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy banyak memujinya dan mengatakan bahwasanya
beliau itu adalah seorang imam dan mujaddid. Kami sebutkan ini agar diketahui
kedustaan hizb baru Mar’iyyin bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله mencerca Al Imam An Najdiy رحمه الله . Sungguh kami telah mendengar syaikh kami
حفظه الله
berkata di hadapan majelis umum:“Kami meyakini bahwasanya wajib bagi kami untuk
membela Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab An Najdiy, sebagaimana kami
membela Al Imam Ahmad bin Hanbal, Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim, Asy Syaikh
Ibn Baz dan para imam fatwa yang lain.”
Demikian pula Al Imam Al Albaniy رحمه الله. Ini kitab-kitab beliau diambil faidahnya
di sela-sela dars umum, dalam pembahasan, saat membantah ahlul ahwa, yang
segi-segi pengambilan faidah ilmiyyah yang lain. Syaikh kami An Nashihul Amin حفظه الله juga berkata di hadapan para thullab:
“Seluruh orang yang datang setelah Asy Syaikh Al Albaniy adalah ibarat anak
piara bagi beliau.”
Dan kami tak pernah mendengar
dari beliau رعاه الله
perkataan yang batil terhadap kedua imam tersebut ataupun kepada keluarga Su’ud
حفظهم الله
.
Ketika beliau ditanya tentang
orang yang berkata bahwasanya Asy syaikh Al Albaniy رحمه الله punya
pemikiran irja’ (mengakhirkan amal dari iman) –dan tuduhan ini
merupakan bagian dari syi’ar Haddadiyyah dan kebanyakan hizbiyyin harokiyyin-,
beliaupun membantahnya dan menjelaskan kebatilan perkataan tadi.
Hal ini terulang. Di antara
contohnya adalah bahwasanya beliau حفظه الله pernah ditanya: “Apakah Asy Syaikh Al
Albaniy termasuk Murjiah fuqoha?”
Maka beliau menjawab:
“Orang-orang yang mengatakan bahwasanya Asy Syaikh Al Albaniy termasuk Murji,
maka alangkah besarnya kalimat yang keluar dari mulut-mulut mereka. Tidaklah
mereka berkata kecuali kedustaan. Maka Asy Syaikh Al Albaniy adalah seorang
alim salafiy, dan beliau telah membantah Murjiah, jahmiyyah, Qodariyyah,
Jabriyyah dan yang lainnya dengan bantahan-bantahan yang tidak dilakukan oleh
orang-orang yang menuduh beliah dengan tuduhan tersebut. Akan tetapi keadaan
ini adalah seperti pepatah: “Ini adalah tabiat yang aku kenal dari si Akhzam([24])”
tidaklah engkau dapati seorang salafiypun yang tampil menghadang kebatilan dan
ahlul batil kecuali mereka menuduhnya dengan tuduhan-tuduhan yang besar.
Ketahuilah ini.” (“Al Kanzuts Tsamin”/4/hal. 80/Darul Kitab Was Sunnah).
Dan belum pernah kami
mendengar dari beliau رعاه الله perkataan bahwasanya ahlul Madinah
berjalan di atas manhaj yang khusus dan salah. Dan kami belum pernah mendengar
dari beliau رعاه الله
bahwasanya beliau menjadikan Al Imam Al Albaniy sebagai lawan bagi Al Imam An
Najdiy رحمهما الله
.
Maka barangsiapa menyamakan
antara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan Salafiyyun yang bersama beliau, dengan
para haddadiyyin maka sungguh dia itu adalah pendusta. Dan pendusta
memang tidak kenyang dari kedustaan.
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy حفظه الله berkata: Untuk apa dia mereka-reka
manhaj ini? Agar dirinya berhasil untuk menjatuhkan Al Albaniy dan kerja
kerasnya selama enam puluh tahun dalam melayani tauhid dan sunnah, dan
menjatuhkan perjuangan beliau dalam menghadapi kebid’ahan dan pelakunya,
seluruh kebid’ahan, termasuk di dalamnya adalah irja’, dan untuk
menanamkan permusuhan dan kebencian di antara Ahlussunnah wat tauhid yang di
Najd, dengan saudara-saudara mereka dari kalangan Ahlut tauhid wassunnah yang
di Madinah, Syam, Yaman dan seluruh tempat yang di situ sunnah dan tauhid
tersebar.
Komentar ana:
Ini juga tidak dilakukan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy, dan beliau tidak
menyetujuinya. Apakah masuk akal tuduhan semacam ini diterima tanpa bayyinah.
Keadaan syaikh kami adalah sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang paling
tahu tentang beliau –Al Imam Al Mujaddid Al Wadi’iy رحمه الله – : “Dan Syaikh Yahya -hafidhahulloh-
berada pada puncak kehati-hatian dalam menentukan pilihan, taqwa, zuhud, wara’,
dan takut pada Alloh. Dan beliau adalah orang yang sangat berani dalam
mengemukakan kebenaran, tidak takut -karena Alloh- akan celaan orang yang
mencela.” [muqoddimah kitab "Ahkamul Jum'ah wa Bida'uha"/ karya Syaikhuna
Yahya hafidhahulloh-].
Berkata Imam Muqbil Al Wadi’y
-rohimahulloh-: “.. saudara kita fillah Asy Syaikh Al Fadhil At Taqy (
yang bertakwa ) az zaahid (orang yang zuhud) al Muhaddits , al faqih Abu
Abdurrohman Yahya bin ‘Ali Al Hajury -hafidhahulloh- beliau adalah pria
yang dicintai di kalangan saudara-saudaranya karena mereka melihat padanya
bagusnya aqidahnya, kecintaan pada sunnah dan kebencian pada hizbiyyah yang
merusak.” [muqoddimah "Dhiyaus Saalikiin." karya Syaikhuna Yahya hafidhahulloh-].
Beliau rahimahulloh juga
berkata,”Benarlah Robb kita manakala berfirman:
﴿يأيها الذين آمنوا إن تتّقوا الله يجعل لكم
فرقانا ويكفر عنكم سيئاتكم ويغفر لكم والله ذو الفضل العظيم﴾
“Wahai orang-orang yang
beriman, jika kalian bertaqwa pada Alloh Dia akan menjadikan untuk kalian
pembeda, dan menghapus dosa-dosa kalian serta mengampuni kalian, dan Alloh itu
maha memiliki karunia yang agung.”
Maka Asy Syaikh Yahya dengan
sebab berpegang teguhnya dia dengan Al Kitab dan As Sunnah Rosululloh
-shollallohu ‘alaihi wasallam- Alloh membukakan untuknya ilmu.” (Muqoddimah
“Ash Shubhusy Syariq” karya Syaikh Yahya -hafizhohulloh-)
[PASAL KESEBELAS: PEMBELAAN TERHADAP HIZBIYYIN]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Dulu Falih berjalan bersama
Abdullathif pada medan ini dengan gambaran yang samar dan makar, nampak
alamat-alamatnya dari waktu ke waktu sampai pada tahun-tahun dekat ini,
kemudian dia menampakkan prinsip-prinsipnya yang rusak, dan manhajnya dalam
bentuk yang baru yang lebih berbahaya dan lebih buruk daripada kenyataan
Haddadiyyah yang terdahulu, dan muncul di situ prinsip-prinsip yang batil dan
membinasakan dan meruntuhkan terhadap manhaj Salafiy dan pemeluknya. Dan
terakhir Alloh membongkar manhaj ini dan pemeluknya –setelah lama bersembunyi-
lebih banyak dan lebih banyak lagi dengan pembelaan Falih terhadp Abdullathif,
kebatilannya, kedustaannya, dan kebohongannya terhadap Al Albaniy dan Ahlul
Madinah, dan pujiannya serta pembelaannya terhadap Haddadiyyah dan ahlul batil
yang lain yang dihadapi Asy Syaikh Robi’ dan dijelaskan oleh Asy Syaikh Robi’
kebatilan mereka saat dirinya menghadapi mereka, dan dirinya menerangkan manhaj
Salafiy yang bertentangan dengan kebatilan-kebatilan dan prinsip-prinsip yang
rusak itu.
Komentar ana:
Yang kesepuluh dari sifat-sifat Haddadiyyah adalah: pembalaan terhadap
hizbiyyin. Demikianlah Falih Al Harbiy membela Abdullathif dan gerombolan
hizbiyyinnya yang membikin makar. Robb kita تعالى berfirman:
﴿وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا﴾
[النساء/105]
“Janganlah engkau menjadi
pendebat untuk membela orang-orang yang berkhianat.” (QS. An Nisa: 105).
Juga berfirman سبحانه :
ولا تجادل عن الذين يختانون أنفسهم إن الله
لا يحب من كان خوانا أثيما يستخفون من الناس ولا يستخفون من الله وهو معهم إذ
يبيتون ما لا يرضى من القول وكان الله بما يعملون محيطا هاأنتم هؤلاء جادلتم عنهم
في الحياة الدنيا فمن يجادل الله عنهم يوم القيامة أم من يكون عليهم وكيلا
“Dan janganlah kamu berdebat
untuk membela orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Alloh
tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa. Mereka
bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Alloh, padahal
Alloh beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan
rahasia yang Alloh tidak ridhoi. Dan adalah Alloh Maha meliputi (ilmu-Nya)
terhadap apa yang mereka kerjakan. Beginilah kalian, kalian adalah orang-orang
yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah
yang akan mendebat Alloh untuk (membela) mereka pada hari kiamat? atau siapakah
yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Alloh)?”(QS. An Nisa: 107-109).
Adapun syaikh kami An Nashihul Amin dan yang bersama beliau حفظهم الله maka sesungguhnya mereka tidak melakukan
itu dan tidak menyetujuinya. Mereka tidak membela hizbiyyin pada umumnya, tidak
pula membela Abdullathif Basyumail, tidak pula membela seorangpun dari
Haddadiyyin generasi pertama –pengikut Mahmud Al Haddad- ataupun yang baru
–pengikut Falih Al Harbiy-. Dan sungguh syaikh kami حفظه الله telah mengulang-ulang ucapan: “Alloh
tahu bahwasanya aku itu membenci sikap ghuluw, dan aku membenci Haddadiyyah.
Andaikata aku tahu ada satu orang dari muridku adalah haddadiy pastilah aku
akan mengusirnya.”
Tidak ada pada beliau حفظه الله prinsip yang menyelisihi prinsip-prinsip
Ahlussunnah Wal Jama’ah إن شاء الله . Maka barangsiapa mengklaim (mengaku-aku)
selain ini, maka hendaknya dia mendatangkan kepada kami hujjah yang terang﴿
ما لكم كيف تحكمون
أفلا تذكرون أم لكم سلطان مبين
فأتوا بكتابكم إن كنتم صادقين
“Apakah yang terjadi pada
kalian? bagaimana (caranya) kalian menetapkan? Maka Apakah kalian tidak
memikirkan? Atau apakah kalian mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitab
kalian jika kalian memang orang-orang yang benar.”(QS. Ash Shooffat: 154-157).
Kita kembali kepada pembicaraan kita tentang orang yang membela mubtadi’ah.
Faidah: Syaikh kami An
Nashihul Amin حفظه الله ditanya: “Seorang sunniy jika membela
ahlul bida’ wal ahwa seperti Al Qordhowiy, Az Zindaniy dan ahlul bida’ yang
lainnya, apakah dia tetap sebagai seorang sunniy ataukah digabungkan dengan
orang-orang yang dibelanya?
Maka beliau حفظه الله menjawab: “Mereka dalam masalah ini
berbeda-beda. Di antara mereka ada yang membela mereka karena kebodohan, orang
macam ini hendaknya disikapi dengan kesabaran dan dimaafkan atas kebodohannya.
Di antara mereka ada yang membela mereka berdasarkan aqidah mereka dan dasar-dasar
mereka, serta mengetahui keadaan mereka. Maka orang ini termasuk dari golongan
mereka. Menunjukkan hal ini hadits ‘Itban bin Malik bahwasanya para shohabat رضوان الله عليهم mengambil dalil bahwasanya Malik bin
Dukhsyum itu munafiq membela para munafiqin. Mereka berkata: “Sungguh kami
melihat kecintaannya dan pembicaraannya adalah untuk para munafiqin,” hingga
Rosululloh صلى الله عليه وسلم mentazkiyyah dirinya. Malik رضي الله عنهbukanlah
munafiq. Qorinah (faktor penyerta) ini, para Shohabat رضي الله عنهمmemakainya
sebagai dalil, dan mereka adalah teladan. Sisi pendalilan kita adalah:
bahwasanya orang-orang yang dulu ada di sisi Nabi صلى الله عليه وسلم pada majelis tersebut memakai dalil dengan
perbuatan itu bahwasanya Malik itu termasuk dari munafiqin, lalu Rosululloh
صلى الله
عليه وسلم menjalaskan pada mereka bahwasanya Malik
bin Dukhsyum itu mu’min, dan dia berkata: “La ilaha illalloh” yang dengannya
dia mencari wajah Alloh, dan berita dari beliau ini datang melalui wahyu.
Adapun perkara yang kita ada di atasnya sepeninggal Nabi صلى الله عليه وسلم, dan sebagaimana perkataan Umar:
“Barangsiapa menampakkan pada kami kebaikan, maka kami memberinya keamanan dan
menerima dirinya. Dan barangsiapa menampakkan yang selain itu maka kami tidak
memberinya keamanan dan tidak menerima dirinya walaupun dia berkata bahwasanya
batinnya itu baik.” Maka kita hanya berhak menghukum lahiriyyahnya. Barangsiapa
kita lihat dirinya bersama mereka dan membela mereka, maka dia itu termasuk
dari golongan mereka. Kecuali jika dia berbuat itu karena kebodohan dan
belum mendapatkan penjelasan, dan belum tahu keadaan mereka. Maka di sana ada
dalil-dalil udzur bagi orang yang bodoh, yang sesuai dengan keadaan orang ini.”
(“Al Kanzuts Tsamin”/4/hal. 448-449/Darul kitab Was Sunnah).
[PASAL KEDUA BELAS: MEREKA MENGIKUTI HAWA NAFSU HINGGA KELUAR
DARI SALAFIYYAH]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Dan dengan seluruh apa yang
kusebutkan jadilah Falih dan gerombolannya telah keluar dari manhaj Salafiy dan
menjadi termasuk lawan mahaj Salafiy yang paling jahat. Dan tampak bagi orang
yang berakal bahwasanya merka itu lebih berbahaya bagi manhaj Salafiy dan
pemeluknya, daripada setiap lawan dan kelompok-kelompok ahludh dholal.
Komentar ana:
Yang kedua belas dari sifat
Haddadiyyah: Jelasnya mereka dalam mengikuti hawa nafsu. Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy رعاه الله
sebagaimana telah terdahulu beliau adalah orang yang pertama membantah Falih Al
Harbiy, membongkar makarnya dalam menyerang para ulama sunnah,
﴿قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ الله يُؤْتِيهِ
مَنْ يَشَاءُ وَالله وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ [آل عمران/73].
“katakanlah: sesungguhnya
karunia itu adalah di tangan Alloh, diberikan-Nya kepada orang yang
dikehendaki-Nya, dan Alloh itu Wasi’ (Mahaluas) Alim (Maha Mengetahui).” (QS.
Ali ‘Imron: 73).
Falih Al Harbiy dan pengikutnya
adalah ahlul hawa wal bid’ah.
Demikian pula kedua anak Mar’i
dan gerombolannya. Tampak bagi orang yang berakal dan memperhatikan dalil-dalil
dan mencari kebenaran, bahwasanya mereka telah keluar dari manhaj Salafiy dan
menjadi termasuh lawan mahaj Salafiy yang paling jahat. Kami telah mendapatkan
dari mereka permusuhan yang keras dan tidak kami dapati dari kebanyakan
kelompok-kelompok ahludh dholal, akan tetapi kami tidak mengatakan bahwasanya
mereka itu adalah ahludh dholal yang paling berbahaya pada segala sisinya.
Syaikh kami An Nashihul Amin رعاه الله berkata: “… agar diketahui bahwasanya para
hizbiyyin yang baru itu telah menjadi lebih jahat dan dusta atas nama dakwah
daripada kebanyakan Ikhwanul Muslimin dan pecahan-pecahannya. Munculnya perkara
mereka dengan keadaan ini menjadikan orang yang mencintai Dakwah Salafiyyah
membuat perbandingan tentang mereka dan menjadi tahu lebih banyak lagi.” (“Ma
Yashna’ul A’da Fi Jahil…”/Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy/hal. 1).
Maka mereka adalah ahlul ahwa
wal bida’ dikarenakan mereka berpaling dari kebenaran dan petunjuk setelah
datang kepada mereka. Alloh ta’ala berfirman:
ولا تطع من أغفلنا قلبه عن ذكرنا
واتبع هواه وكان أمره فرطا [الكهف/28].
“Dan janganlah kamu mengikuti
orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti
hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”
Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Maka Alloh menjadikan perkara
ini terbatas di antara dua perkara saja, yaitu: mengikuti adz Dzikr dan
mengikuti hawa nafsu. Dan Alloh berfirman:
ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله إن
الله لا يهدي القوم الظالمين [القصص/50].
“Dan siapakah yang lebih sesat
daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari
Alloh sedikitpun.”
Dan ayat ini seperti ayat yang
tersebut sebelumnya. Dan renungkanlah ayat ini, karena sesungguhnya dia itu
terang-terangan menjelaskan bahwasanya barangsiapa tidak mengikuti petunjuk
Alloh demi hawa nafsunya, maka tiada seorangpun yang lebih sesat daripada
dirinya. Dan inilah karakter mubtadi’.” (“Al I’tishom”/1/hal. 33).
[PASAL KETIGA BELAS: KEDUSTAAN, KEBOHONGAN TERHADAP AHLUSSUNNAH,
PENGKHIANATAN, DAN PEMOTONG-MOTONGAN KALIMAT]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi kesembilan: Bahwasanya
mereka berdusta atas nama Asy Syaikh Robi’ dan orang yang menolong beliau dalam
kebenaran dari kalangan ulama dan anggota jaringan “Sahab As Salafiyyah”
bahwasanya mereka adalah Murjiah, dan bahwasanya mereka adalah jenis lain dari
jenis-jenis Murjiah. Mereka berdusta –demi Robb langit dan bumi- secara global
dan rinci. Asy Syaikh Robi’ dan para sahabatnya telah terkenal dalam memerangi
kebid’ahan semuanya, termasuk bid’ah irja dengan segala jenisnya. Terakhir
mereka mensifati Asy Syaikh Robi’ dan para sahabatnya sebagai Rofidhoh,
Shufiyyah, dan … (kalimat yang aku tak sanggup menceritakannya) (!!!).
Haddadiyyah itu punya kedustaan, kebohongan, khianat, dan aneka pemotongan
kalimat orang yang mereka ingin menempelkan kepadanya satu tuduhan dari
tuduhan-tuduhan yang besar. Mereka punya kedustaan dan penyelewengan kalimat
dalam membela anggota mereka dan orang yang memimpin mereka. Dengan karakter
yang buruk ini mereka menyerupai Rowafidh dan kelompok-kelompok serta
partai-partai yang sesat.
Komentar saya:
Yang ketiga belas dari sifat Haddadiyyah adalah: kedustaan, kebohongan.
Adapun Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau tidaklah
berdusta atas nama Asy Syaikh Robi’ dan yang bersama beliau bahwasanya mereka
itu Murjiah, ataupun menuduh mereka sebagai jenis lain dari jenis-jenis
Murjiah, ataupun kebatilan-kebatilan yang lain. Barangsiapa mengklaim yang
selain ini maka dia harus mendatangkan kepada kami hujjah yang terang. Jika dia
tak sanggup mendatangkannya, maka ketahuilah bahwasanya Syaikh kami dan orang
yang bersama beliau itu memang bersih dari haddadiyyah, dengan taufiq dan
karunia dari Alloh ta’ala.
Bahkan Syaikh kami dan orang
yang bersama beliau itu tidak membikin kedustaan terhadap kedua anak Mar’i
ataupun Muhammad Al Wushobiy, ataupun Ubaid Al Jabiriy. Hanya saja, orang-orang
yang zholim itu sendirilah yang memilih jalan yang jahat dan penuh tipu daya
dan kezholiman tersebut, sehingga para Salafiyyun menghukumi mereka dengan
vonis yang mereka berhak untuk mendapatkannya.
Para ulama yang cemburu
terhadap Islam dan sunnah serta para para thullab yang berpandangan tajam telah
menjelaskan banyaknya kedustaan Mar’iyyin, kebohongan dan pengkhianatan mereka,
serta kesengajaan mereka dalam memotong-motong kalimat orang yang mereka ingin
menempelkan kepadanya satu tuduhan dari tuduhan-tuduhan yang besar, kedustaan
dan penyelewengan kalimat.
Dan manakala klaim
(pengaku-akuan) itu –sama saja dari kami ataupun dari lawan kami- tidak
diterima tanpa adanya bayyinah, maka saya akan menyebutkan sedikit perkara yang
disebutkan oleh Ahlussunnah dari kedustaan-kedustaan yang dibuat oleh
Mar’iyyun.
DI ANTARA KEDUSTAAN-KEDUSTAAN MAR’IYYUN DAN KEBOHONGAN MEREKA
TERHADAP AHLUSSUNNAH DI DAMMAJ ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
Di antara tuduhan-tuduhan
Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله adalah perkataannya kepada Al Akh Kamal Al
‘Adniy حفظه الله
pada permulaan fitnah ini: “Wahai akhona Kamal, Asy Syaikh Yahya tidak
mempedulikan orang-orang ‘Adn.” (“Haqoiq Wa Bayan”/hal. 23/ Kamal Al ‘Adniy).
Di antaranya adalah ucapan Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy kepada Ahmad bin Ali
Syuwaith Al Hasyidiy حفظه الله di permulaan fitnah: “Orang ini –yaitu
Syaikhuna Yahya حفظه الله – ingin menyeret kita di atas
hidung-hidung kita. Sunnah siapakah ini? Sunnah siapakah ini?” dia
mengulang-ulanginya. (“Haqoiq Wa Bayan”/hal. 25).
Al Akh Hamud Al Wailiy حفظه الله berkata:
بسم الله الرحمن الرحيم
Ini adalah sebagian ucapan yang
aku dengar dari Asy Syaikh Abdurrohman هداه الله . aku pada suatu hari ada di luar masjid
Mazro’ah setelah sholat Zhuhr, aku berjalan bersamanya dari pintu masjid hingga
kami sampai di depan rumah Shodiq Al ‘Abdiniy, Asy Syaikh Abdurrohman diberi
tahu bahwasanya Asy Syaikh Yahya berbicara terhadap sebagian masyayikh pada
awal fitnah. Maka Asy Syaikh Abdurrohman berkata: “Dia mengkafirkan mereka”
Maksudnya adalah: Asy Syaikh Yahya mengkafirkan mereka. Maka aku menjawab:
“Bukan wahai Syaikh, ucapan beliau hanyalah nasihat.” (“Haqoiq Wa Bayan”/hal.
28).
Abdurrohman Al ‘Adniy menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya beliau tidak ingin Abdurrohman
Al ‘Adniy punya markiz. (persaksian akh Abu Mahmud Al Libiy/“Haqoiq Wa Bayan”/hal.
29).
Dan tuduhan ini tidaklah benar.
Justru di hadapan kami para thullab Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bilang ingin Abdurrohman Al ‘Adniy punya
markiz, bahkan lebih dari satu markiz. Hanya saja semangat dia dan anak buahnya
untuk mengajak para thullab Dammaj untuk keluar dari Dammaj dan bergabung
dengan markiznya yang belum lagi jadi itulah yang menyebabkan beliau dan para
ulama Dammaj melihat adanya makar di balik itu. Apalagi ditambah dengan
pengakuan dirinya sendiri pada pertemuan masyayikh yang pertama bahwasanya
ketika Sholih Al Bakriy telah jatuh dan fitnahnya padam –beberapa tahun sebelum
itu-, beberapa orang mendatanginya seraya berkata: “Sesungguhnya Al Bakri telah
jatuh, maka bangkitlah Anda.” Demikianlah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabarkan kepada kami. Dan berita ini
juga tersebut di risalah “Al Muamarotul Kubro” karya Abu Basysyar Al Qo’syamiy حفظه الله hal. 16.
Abdurrohman Al ‘Adniy juga
menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya beliau itu dengki dan zholim.
(“Al Muamarotul Kubro”/hal. 19).
Tuduhan ini juga tidak benar.
Apa yang aku sebutkan barusan cukup untuk membantahnya. Aku juga mendengar
berkali-kali Syaikh kami Yahya menyemangati para thullab Darul hadits Dammaj
untuk mengambil faidah dari Abdurrohman Al ‘Adniy ketika masih tinggal di
Dammaj, dan beliau juga meminta Abdurrohman Al ‘Adniy untuk menyelenggarakan
dars-dars, khuthbah dan selain itu.
Ini tadi sebagian tuduhan dan
kedustaan Abdurrohman Al ‘Adniy terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy.
Adapun yang dilakukan oleh
Abdulloh bin Mar’i dan pengikutnya adalah: mereka menuduh dan membuat kedustaan
terhadap sebagian saksi dengan perkara-perkara yang mereka itu bersih darinya.
Di antaranya adalah:
Mereka menuduh bahwasanya Asy
Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy mengirimkan mata-mata kepada Abdulloh bin Mar’i.
(bacalah “Naqdhur Rodd”/4/karya Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy حفظه الله).
Dan mereka menuduh beliau menyimpan dendam dan permusuhan. (bacalah “Naqdhur
Rodd”/5).
Dan mereka menuduh beliau bahwasanya beliau berkata bahwasanya Abdulloh bin
Mar’i memasukkan ke dalam kantongnya sendiri suatu keuntungan dari ma’had
komputer. Maka Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy حفظه الله menjawab: “Dari mana kalian mendapatkan
ucapan macam ini? Dan siapakah dari kami yang mengucapkan itu? Akan tetapi
memang kalian itu adalah kaum yang tidak memelihara hubungan kekerabatan
terhadap lawannya dan tidak pula mengindahkan perjanjian. Kalian ingin
memperburuk citra orang itu dengan cara apapun.” (“Naqdhur Rodd”/14).
Mereka berdusta dan menuduh Asy
Syaikh Abu Bilal Al hadhromiy حفظه الله bahwasanya beliau telah mempersiapkan
untuk melakukan semisal apa yang beliau lakukan hari ini –yaitu: berbicara
tentang Abdulloh bin Mar’i di hadapan manusia-. (“Naqdhur Rodd”/19).
Mereka berdusta dan menuduh
akhona Ba Roidiy Al ‘Amudiy bahwasanya beliau mengaku-aku bahwasanya tanah
dakwah tersebut adalah miliknya. (“Naqdhur Rodd”/18).
Termasuk kedustaan yang dibikin
hizb Mar’iyyah:
Seorang penulis gelap yang
menamakan dirinya Abdulloh bin Robi’ menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله mencerca para ulama dan da’i([25]) ,
sebagaimana dalam tulisannya “Madza Yanqumuna ‘Alasy Syaikh Al Hajuriy” (hal.
7-17). Tuduhan dia telah dibantah oleh Abu Hatim Yusuf bin ‘Id Al Jazairiy حفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al
‘Adniy”(hal. 7).
Bahkan dirinya juga berdusta
atas nama Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله demi membuka peluang untuk memukul Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله . Lihat perinciannya dalam bantahan Abu
Hatim Yusuf bin ‘Id Al Jazairiy حفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al
‘Adniy”(hal. 19)).
Abdulloh bin Robi’ dalam
tulisannya “Madza Yanqumuna ‘Alasy Syaikh Al Hajuriy” (hal. 26) ini juga
menuduh para pengkritik bahwasanya mereka menempuh seluruh jalan dan sarana
untuk melancarkan serangan gencar. Tuduhan dia telah dibantah oleh Abu Hatim
Yusuf bin ‘Id Al Jazairiy حفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al
‘Adniy” (hal. 27).
Dia pada hal. 37 juga menuduh
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berdusta. Tuduhan dia telah dibantah oleh
Abu Hatim Yusuf bin ‘Id Al Jazairiy حفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al
‘Adniy” (hal. 27).
Dia pada hal. 18 juga menuduh
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya bantahan-bantahan beliau kepada
para penyelisih adalah dalam rangka mencari pemuasan jiwa. Tuduhan dia telah
dibantah oleh Yusuf bin ‘Id Al Jazairiy حفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al
‘Adniy” (hal. 49 dan setelahnya).
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy
telah berkata kurang lebih mirip dengan perkataan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Apakah kalian mengira bahwasanya kami
ingin mencari pemuasan jiwa dan kami berbicara tentang Ikhwanul muflisin, atau
kami ingin berbicara tentang para anggota jam’iyyatul Hikmah, tidak, demi
Alloh, kami tidak ingin berbicara tentang mereka. Akan tetapi agama inilah yang
mengharuskan kami amalan ini.” (“Qom’ul Mu’anid”/1/hal. 72).
Abdulloh bin Robi’ pada halaman
3 juga menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya beliaulah yang mengangkat
bendera fitnah ini. Maka tuduhan ini telah dibantah oleh Abu Umamah Abdulloh Al
Jahdariy حفظه الله
dalam “Bayanud Dass Wat Talfiqot” hal. 2-3 dan 12).
Dia juga (pada juz 1/hal. 3)
menyatakan bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dalam jarhnya pada
Abdurrohman Al ‘Adniy tidak memberikan penjelasan. Maka tuduhan ini telah
dibantah oleh Abu Umamah Abdulloh Al Jahdariy حفظه الله dalam “Bayanud Dass Wat Talfiqot” hal. 3).
Dan termasuk dari tuduhan
hizbiy tersembunyi yang pendusta ini (pada juz 1/hal. 11-12) adalah bahwasanya
perkataan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy: “Aku tidak takut kepada seorangpun” dan
“Aku tidak berbasa-basi pada seorangpun” dan yang semisal itu merupakan bentuk
tho’n kepada ulama. Ini menunjukkan kebodohan si penulis pengecut ini tentang
definisi tho’n. Maka tuduhan ini telah dibantah oleh Abu Umamah Abdulloh Al
Jahdariy حفظه الله
dalam “Bayanud Dass Wat Talfiqot” hal. 7 dan setelahnya).
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله ورعاه bahwasanya sebagian pengikut Abdurrohman
Al ‘Adniy mengeluarkan tulisan dengan judul “Al Hajuriy Takallama Fid Daulatis
Su’udiyyah.” (Al Hajuriy berbicara tentang pemerintah Saudi). Atau yang seperti
itu. Barangkali mereka menginginkan agar Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy tertimpa
suatu musibah seperti yang menimpa Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dari arah pemerintah Saudi حرسها الله وسدده yaitu sikap keras dan larangan masuk, dan
yang selain itu, dan agar para ulama Saudi حفظهم الله bersikap keras kepada beliau. Dan Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy telah menjelaskan kedustaan hizb baru itu dan
bahwasanya seluruh serangan mereka pada tahun-tahun ini –yaitu sekitar tahun
1429 H dan yang sebelumnya- menunjukkan bahwasanya mereka itu lebih pendusta
daripada para pengikut Abul Hasan.
Dan termasuk dari kedustaan
mereka adalah apa yang dikabarkan oleh akh Muhammad bin Ahmad Al Lahjiy حفظه الله : “Abdul Ghofur berkata padaku –dan di
antara diriku dan dirinya hanya Alloh saja-: “Wahai saudara kami Muhammad,
tidakkah engkau melihat bahwasanya dakwah telah berubah. Asy Syaikh Yahya dan
Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab telah melarang kedatangan pada masyayikh
dari Saudi.” Maka kukatakan padanya: “Siapakah yang mengabarimu?” dia menjawab:
“Hani Buroik yang mengabariku hal itu.”
Tuduhan dan kedustaan merupakan
senjata hizbiyyin. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berbicara tentang ahlul bida’: “Dia tidak
bisa menghadapi Ahlussunnah kecuali dengan kedustaan dan kebohongan. Ini dalam
sejarah terdahulu. Ini juga ada sekarang, pada ahlul bida’ pada zaman
ini. Mereka tidak memerangi Ahlussunnah kecuali dengan kedustaan,
kebohongan dan tuduhan.” (“Syarh ‘Aqidatis Salaf Ashabil Hadits”/hal. 314).
Sungguh disesalkan bahwasanya
kedustaan dan berita bohong Mar’iyyah itu sedemikian banyak dan telah
ditampilkan selama bertahun-tahun, tapi terus saja sebagian orang-orang mulia
,embela mereka dalam keadaan mereka tidak sanggup membatalkan argumentasi Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau. Tapi justru
sebagia orang mulia mencerca dengan tuduhan sebagai Haddadiyyun tanpa bisa
menampilkan hujjah. Semoga Alloh –dan Dia adalah Dzat yang palling penyayang-
menyelamatkan kita dan orang-orang mulia itu dari tipu daya ahli batil.
Sesungguhnya Alloh lebih menyayangi kita daripada diri kita sendiri.
Sesungguhnya harapan kita pada-Nya itu besar sekali.
DAN TERMASUK PENGKHIANATAN-PENGKHIANATAN PARA MAR’IYYIN DAN PENIPUAN
MEREKA SEBAGAI BERIKUT:
BAGIAN PERTAMA:
PENIPUAN ABDURROHMAN BIN MAR’I AL ‘ADNIY TERHADAP UMAT
Dia mentho’n Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله, maka hal itu termasuk upaya melarikan
umat dari beliau dan dari markiz Salafiyyah ini, dan menghalangi orang dari
menerima ucapan-ucapan beliau, dan dia menipu manusia dan menyebabkan mereka
terhalang dari mengambil faidah dari beliau.
Demikian pula usaha dia untuk
mengeluarkan para pelajar Dammaj dari markiz induk untuk pindah ke markiz
khayalan pada hari itu, dan dorongan para pengikutnya terhadap para pelajar
untuk menjual rumah-rumah mereka yang ada di Dammaj, maka ini merupakan usaha
nyata untuk melarikan manusia. Dan kita berlindung kepada Alloh dari kebutaan
atau pura-pura buta.
Demikian pula pengarahan dia kepada Salafiyyin untuk mengambil ilmu dari Abul
Khoththob Al Libiy Al Hasaniy yang Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri telah
men-jarh dirinya.
Demikian pula pujiannya kepada
Abdul Ghofur Al Lahjiy Al Jam’iy Al Hasaniy bahwasanya dirinya adalah da’i yang
berada di atas ilmu dan bashiroh.
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Maka jika dia diam terhadap
orang yang berhak untuk di-jarh dan ditahdzir, maka sungguh dia itu menjadi
seorang pengkhianat dan penipu terhadap agama Alloh dan muslimin.” (“Al
Mahajjatul Baidho”/hal. 28-29).
Ini jika dia diam dari orang
macam tadi. Maka bagaimana jika diamnya tadi digabungkan dengan pujian
kepadanya?!
Maka memang sudah sepantasnya
manakala Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy berkata: “Abdurrohman Al ‘Adniy itu
ghosysyasy (penipu).”
Adapun berita-berita tentang
penipuan anak buah Abdurrohman Al ‘Adniy maka ada di “Al Khiyanatud Da’awiyyah”
(hal. 80/karya Asy Syaikh Abdul Hamid Az Za’kariy), “nashbul Manjaniq” (hal.
98/karya Yusuf Al Jazairiy), “Syarorotul Lahab” (1/hal. 18 dan 2/hal. 8 karya
Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy), “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 33/karya Abu
Zaid Mu’afa Al Hudaidiy), dan yang lainnya.
BAGIAN KEDUA:
PENIPUAN ABDULLOH BIN MAR’I TERHADAP UMAT
Adapun Abdulloh bin Mar’i maka sungguh dia telah menipu Muslimin dan
mengkhianati mereka dari beberapa sisi: yang pertama: Dia berbangga-bangga dan
bersumpah dengan nama Alloh ta’ala bahwasanya dia adalah termasuk orang yang
paling tahu tentang Abul Hasan, dan bahwasanya dia pernah melakukan beberapa
perdebatan dengan Abul Hasan pada tahun 1413 H. Dan mengklaim bahwasanya Abul Hasan
punya lima puluh kesalahan. Akan tetapi ketika api fitnah Abul Hasan menyala
sekitar tahun 1421 H, Abdulloh Mar’i diam dan tidak mau memberikan bayan dalam
keadaan umat berada pada puncak kebutuhan kepada bimbingan –karena besarnya
bahaya bid’ah Abil Hasan. Bahkan dia terus-menerus diam dalam keadaan satu
persatu sahabatnya terjatuh ke dalam jaring-jaring orang tadi. (Lihatlah
berita-berita yang menyedihkan pada hari-hari itu di risalah “Zajrul ‘Awi”
/3/hal. 280-34/karya Syaikhuna Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy Al Hadromiy).
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy
menghukumi perbuatan macam ini sebagai penipuan kepada umat. Beliau berkata:
“Bahwasanya Alloh mewajibkan kepada kita nasihat, memerintahkan yang ma’ruf dan
melarang dari kemungkaran. Dan tidak diragukan bahwasanya menyelisihi apa yang
Alloh terangkan di dalam kitab-Nya yang berupa perkara aqidah, dan dijelaskan
oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم dalam sunnah beliau dan jalan beliau
merupakan termasuk kemungkaran yang terbesar. Melalaikannya dan diam dari
memberikan bayan setelah mengetahuinya merupakan ghosysy (penipuan) dan
pengkhianatan yang terbesar terhadap Islam dan Muslimin, terutama jika
penyembunyian dan sikap diam ini disertai dengan talbis
dan tamwih (pengkaburan)…” dst. (“Matho’in Sayyid Quthb”/hal. 34).
Dan termasuk dari penipuan dan
pengkhianatan Abdulloh bin Mar’i : pujiannya kepada Abul Hasan Al Ma’ribiy dan
sebagian pengikutnya. Ketika datang kepadanya akh Muhammad As Saumahiy dan
sekelompok pemuda pada masa-masa fitnah Abul Hasan, mereka ingin menasihati
orang-orang Syihr agar tetap kokoh. Ternyata Abdulloh bin Mar’i berkata:
“Fitnah ini,mereka ingin menjatuhkan Abul Hasan, padahal Abul Hasan itu jabal
(gunung).” (risalah “Zajrul ‘Awi” /3/hal. 280-34/karya Syaikhuna Abu Hamzah
Muhammad Al ‘Amudiy Al Hadromiy).
Syaikhuna Abu Hamzah Muhammad
Al ‘Amudiy Al Hadromiy dalam sumber yang sama menyebutkan bahwasanya Abdulloh
bin Mar’i sering memuji Nabil Al Qu’aithiy yang mencabut lembaran bayan para
ulama yang berisi pemboikotan terhadap Abul Hasan. Si Nabil ini merupakan salah
satu orang dekat Abdulloh Mar’i, satu sama lain saling menyanjung. Si Abdulloh
memperkenalkan Si Nabil dan mempercayainya, dan berkata: “Kita mempercayainya
untuk dakwah, dan mempersilakannya untuk berbicara di masjid-masjid kita.”
Orang ini terpercaya di sisi Abdulloh Mar’i. Dulunya si Nabil ini adalah salah
satu tokoh besar pembela Abdulloh Al Ahdal (fitnahnya sebelum fitnah Abul Hasan
Al Mishriy). Selesai.
Jika seseorang berkata:
Abdulloh bin Mar’i telah tobat dari fitnah Abul Hasan!” kami jawab وفقنا الله : Telah kami jelaskan kedustaannya dalam
risalah kami: “At Taroju’atus Siyasiyah” maka orang yang ingin mengetahui
hakikat orang ini hendaknya merujuk ke risalah ini.
Dan di antara penipuannya
kepada umat adalah: syiar-syiarnya dan prinsip-prinsipnya yang rusak yang
menyesatkan. Silakan rujuk “At Tajliyyah Li Amarotil Hizbiyyah” (hal. 8/cet. Al
Mathbu’atus Salafiyyah/karya sang penulis). Maka renungkanlah berapa banyak
pelajar yang akan tersesat disebabkan oleh prinsip-prinsip dan syiar Abdulloh
bin Mar’i dan mereka mengira ada di atas jalan yang lurus?
Di antara penipuannya juga
adalah: kasus madrasah anak-anak. Abdulloh bin Mar’i dan pengikutnya
mengumumkan dibukanya “Madrosatul Aulad” gratis. Manakala para orang tua
mempercayai mereka dan meletakkan anak-anak mereka di sekolah itu, Abdulloh bin
Mar’i merubah alur untuk meraup uang dari mereka. Dia dan anak buahnya memang
ahli memanfaatkan rasa malu orang untuk tidak menginfakkan harta.
Abu Ibrohim Muhammad bin Farh Baroidiy
Asy Syihriy حفظه الله
berkata: “Mereka telah menyebarkan pengumuman di masyarakat pada awal pendirian
sekolah ini bahwasanya pendidikan di sekolah ini gratis. Kemudian tiba-tiba
saja Abdulloh bin Mar’i berkumpul dengan para orang tua murid, memberikan
nasihat dan pengarahan kepada mereka, kemudian menjelaskan kepada mereka
kondisi dakwah dan kebutuhan-kebutuhannya, dan hutang yang dipikul oleh dakwah,
dan bahwasanya para pengajar butuh gaji, kemudian dia melontarkan ide pada
mereka agar orang yang mampu hendaknya membayar limaratus real Yamaniy tiap
bulan per murid. Apa yang terjadi setelah penentuan ini?
Abdur Qodir Asy Syihriy
berkata: “Aku berjumpa dengan orang yang bertugas mengambil SPP murid dari
orang tua mereka, dalam keadaan dia mengeluhkan sebagian orang tua yang mampu
membayar SPP tapi tak mau membayar. Maka kutanyakan pada petugas itu:
“Berapakah SPP mereka perbulan?” Dia menjawab: “Limaratus reyal.” Aku katakan:
“Berarti dalam setahun tiap anak wajib bayar enam ribu reyal. Kenapa kalian
tidak mengambil sekalian saja satu kali tiap awal tahun? Itu lebih mudah
bagi mereka.” Petugas tadi berkata: “Kami tak ingin memungut SPP mereka dengan
sekali ambil, karena sebagian dari mereka merasa malu untuk
menyodorkan limaratus real per bulan, makanya mereka
menyodorkan lima ribu per bulan! Sebagian dari mereka membayar empat
ribu per bulan atas nama anaknya.” (lihat “At Tajawwul Fi Ba’dhi Ma ‘Inda
Abdulloh bin Mar’i Al ‘Adniy Minat Tasawwul”/ Abu Ibrohim Muhammad bin
Farh Baroidiy Asy Syihriy /hal. 6).
Termasuk dari penipuan dan
pengkhianatan Abdulloh bin Mar’i juga adalah: apa yang dikatakan oleh Asy
Syaikh Abu Bilal Kholid Al Hadhromiy –hafizhohulloh- berkata pada Abdulloh
Mar’i dan pengikutnya: “Apa yang kalian sebutkan bahwasanya kalian berdiri
bersama saudara-saudara kita orang orang asing ini, kami tidak melihat hasil
yang semestinya, sementara sebagian dari saudara-saudara kita orang orang asing
telah dikeluarkan dari Syihr, sebagian lagi dimasukkan penjara di Shon’a
dikarenakan kalian tidak memberikan pada mereka surat idzin tinggal sebagaimana
yang kalian janjikan. Bahkan salah satu dari saudara-saudara kita orang-orang
asing mengeluhkan beberapa perkara yang mereka lihat. Dia berkata: “Mereka
(anak buah Abdulloh Mar’i) mengambil dari setiap orang dari kami uang sebanyak
tiga ratus dolar di muka untuk SPP enam bulan, tapi sebagian dari kami tidak
belajar di ma’had (Ma’hadul Hasub Wal Lughot yang ada di bawah pengawasan
Abdulloh Mar’i) kecuali sekitar dua bulan saja, sisanya (empat bulan) kami
belajar di Darul Hadits (Darul Hadits Syihr yang dipimpin Abdulloh Mar’i) dan
kami tidak pergi ke ma’had karena pemerintah melarang pelajaran bahasa Arab di
situ karena tiada surat idzin. Walaupun demikian mereka (anak buah Abdulloh)
tidak mengembalikan sisa uang kami.”
Dan sebagaimana diketahui
bersama –dari penjabaran terdahulu- sebagaimana perkataan dewan Ma’had
bahwasanya Ma’hadul Hasub Wal Lughot tidak punya kaitan dengan Darul Hadits di
Syihr. Lalu apakah yang membolehkan mereka mengambil uang saudara-saudara kita
orang-orang asing? Mana pelaksanaan dari ucapan mereka “berdiri bersama
saudara-saudara kita orang-orang asing”? kami ingatkan dewan Ma’had dengan
hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu riwayat Muslim: “Bahwasanya Rosululloh
-shollallohu ‘alaihi wasallam- bertanya: “Tahukah kalian siapa itu orang
yang bangkrut?” Mereka menjawab,”Orang yang bangkrut di kalangan kami
adalah orang yang tak punya uang ataupun barang.” Maka beliau
bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang
datang pada hari kiamat dengan pahala sholat, puasa, dan zakat. Tapi dia datang
dalam keadaan telah mencaci si ini, menuduh si itu, makan harta orang ini,
menumpahkan darah orang itu, dan memukul si dia. Maka si ini diberi
kebaikannya, si itu diberi kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum
dia membayar seluruh kewajibannya, diambillah dari kejelekan mereka lalu
dipikulkan ke punggungnya, lalu dilemparkanlah dirinya ke dalam
neraka.” (HR. Muslim). (selesai penukilan dari “Naqdhur Rodd”/hal. 15).
Dan termasuk dari penipuan dan
pengkhianatan Abdulloh bin Mar’i adalah: Abdulloh bin Mar’i telah meminta
kepala Jam’iyyah Shoyyadil Khour (jam’iyyah nelayan yang ada di Khour) di Syihr
agar Jam’iyyah ini ikut ambil bagian menyumbang pembangunan atap yang tinggi
dari masjid “At Taqwa”, maka sang kepala memberinya seratus ribu real.
Setelah mereka menerima uang tadi yang maunya dipakai untuk membangun atap
bangunan tinggi masjid, ternyata sampai saat ini (sekitar tahun 1428 H)
mereka tidak juga melaksanakan pembangunannya sedikitpun padahal sudah
lewat hampir tiga tahun. (lihat “At Tajawwul”/hal. 6-7).
Dan termasuk dari penipuan dan pengkhianatannya juga adalah: dia menjerumuskan
sebagian Salafiyyin ke dalam jam’iyyat bersamaan dengan adanya beberapa
penyelisihan syariah di situ, hingga sebagian dari mereka menjadi kepala
beberapa bagian dari jam’iyyah. (lihat “Naqdhur Rodd”/karya Asy Syaikh Abu
Bilal Al Hadhromiy/hal. 20-21).
Dan termasuk dari penipuan dan
pengkhianatannya juga adalah: fatwa-fatwanya yang bersifat menggampangkan masuk
ke dalam beberapa perkara yang harom dengan alasan “darurat”, seperti masalah
gambar makhluk bernyawa. (lihat “Naqdhur Rodd”/karya Asy Syaikh Abu Bilal Al
Hadhromiy/hal. 20-21).
Dan termasuk dari penipuan dan
pengkhianatan Abdulloh bin Mar’i dan pengikutnya juga adalah: adanya
perbedaan antara pertanyaan yang mereka tanyakan kepada Ubaid Al Jabiriy dalam
kasus tanah waqof dengan apa yang mereka katakan dalam risalah “Al Mi’yar” dan
“Ar Roddul Mansyud”. (Bacalah “Nushrotusy Syuhud” (hal. 13-14) dan “Mulhaqul
Minzhor” (hal. 5-6), keduanya karya Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal Al
Hadhromiy حفظه الله).
Dan perbuatan ini seperti
perbuatan salah seorang pengikut Abul Hasan Al Mishriy ketika bertanya pada Al
Imam Al Albaniy رحمه الله tentang masalah hadits ahad, lalu dia
menjadikan jawaban beliau sebagai pukulan terhadap Ahlussunnah, padahal aqidah
beliau dalam masalah ini sama persis dengan aqidah Ahlussunnah. Asy Syaikh
Robi’ وفقه الله telah
menghukumi si penanya sebagai ghosysyasy (penipu). (bacalah dengan lengkap
“Baroatu Ahlissunnah”/Asy Syaikh Robi’ /hal. 213).
Dan termasuk dari penipuan dan
pengkhianatan Abdulloh bin Mar’i dan pengikutnya juga adalah: mereka
menukilkan jawaban Ubaid Al Jabiriy tentang tanah waqof yang mereka tanyakan
tadi dalam malzamah mereka, sebagai argumentasi untuk memukul lawan mereka,
tanpa mau menyebutkan teks pertanyaannya. Andaikata mereka mencantumkan soal
tadi niscaya akan terbongkar kedustaan mereka إن شاء الله . (Bacalah dengan teliti pembahasan ini
dalam “Nushrotusy Syuhud” (hal. 13-14) dan “Mulhaqul Minzhor” (hal. 5-6), kedua
risalah ini telah tersebar).
Kesimpulannya
adalah: ghosysy dan khianat sebagai bagian dari karakter Haddadiyyah. Dan
kami dengan taufiq dari Alloh telah menunjukkan bayyinah yang beraneka ragam
tentang penipuan dan pengkhianatan Mar’iyyin. Maka merekalah Haddadiyyun dalam
bab ini bagi orang yang adil dalam menerima kebenaran.
ADAPUN MASALAH PENYELEWENGAN LAFAZH DAN MAKNA DAN
PEMOTONG-MOTONGAN KALIMAT YANG DILAKUKAN OLEH MAR’IYYIN ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
Abdulloh bin Mar’i dan pengikutnya punya bagian dalam penyelewengan kalimat
lawan, kemudian menjatuhkan vonis kepadanya berdasarkan kalimat yang telah
diselewengkan tadi. Lihatlah risalah “Al Minzhorul Kasyif” (hal. 9-10) dan
“Naqdhur Rodd” (hal. 20-21).
Dan termasuk perkara yang
menunjukkan busuknya hizb pendusta tersebut adalah pemotongan beberapa kalimat
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله pada kejadian Jami’ah Islamiyyah hingga
terjadi adu domba yang keras antara syaikh kami حفظه الله dengan Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy وفقه الله.
Dan di antara kebusukan hizb
pendusta ini adalah: mengotak-atik lafazh dari ucapan Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy حفظه الله
sebagai berikut:
Saudara kita Abu Muslim Abdul
Mun’im Al Libiy وفقه الله mengirimkan secarik kertas lalu dibaca
oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله di hadapan para thullab, di dalamnya
berisi: “Akh Zakariya Al Libiy menelpon kami, dan dia sekarang ada di Madinah,
dan dia ingin datang ke Darul Hadits Dammaj حرسها الله untuk menuntut ilmu –sampai pada
ucapannya:- dia menyebutkan bahwasanya ada kaset yang beredar di tangan ikhwah
untuk mereka perdengarkan kepada setiap orang yang ingin pergi ke Dammaj di
sisi Asy Syaikh Yahya حفظه الله bahwasanya Asy Syaikh Yahya حفظه الله memberdirikan para pelajar di majelis dan
beliau memberikan pertanyaan padanya: “Apakah Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy
hizbiy ataukah salafiy?” jika murid itu menjawab bahwasanya beliau itu hizbiy,
maka dia diizinkan duduk. Jika bilang bahwasanya beliau itu salafiy maka Asy
Syaikh Yahya mengusirnya dari majelis.” Selesai.
Dari murid anda Abu Muslim
Abdul Mun’im Al Libiy.
Kukatakan وفقني الله: pembacaan surat ini terjadi dua tahun
sebelum Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy terang-terangan menghizbikan Ubaid Al
Jabiriy. Dan ribuan thullab Darul Hadits ini menjadi saksi Alloh di muka bumi
bahwasanya kaset tadi adalah dusta, hasil dari perbuatan para pendusta
pengotak-atik kalimat lagi pengkhianat, mereka tak punya sifat amanah dan
kejujuran dalam menukilkan ucapan. Telah gagal dan rugi dagangan mereka
sehingga mereka berpaling ke arah kedustaan dan kebohongan. Tak pernah Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy berbuat seperti itu sejak dulu hingga sekarang.
Dan di antara para penyeleweng
kalimat dari kalangan pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy adalah: Samir bin Muhammad
Ali Al ‘Udhoh. Dia adalah muta’ashshib dalam fitnah ini, dia menyelewengkan
kalimat-kalimat dari tempat-tempatnya dan mencerca Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy أعز الله مقامه. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 17).
Dan termasuk dalam bab ini
adalah: Ada seseorang yang mengambil kaset ucapan Syaikhuna Yahya -حفظه الله-, memotong-motongnya, lalu
menggandengkannya sehingga jadilah ucapan tadi berubah menjijikkan. Lalu kaset
modifikasi tadi diambil oleh Al Idrisy di Shon’a dan dilariskannya,
-sebagaimana kata Syaikhunal Fadhil Thoriq Al Ba’dany حفظه الله-, diambil oleh para pengikut Abul Hasan
dan mereka sebarkan kemana-mana Dan termasuk orang yang mengambilnya untuk
memukul Syaikhuna Yahya -حفظه الله-,adalah Nu’man bin Abdul Karim Al Watar.
Kemudian isi berita itu juga disebarluaskan oleh sebagian Mar’iyyun untuk
memukul Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dalam fitnah ini. Dan akan datang tambahan
pembicaraan tentang hal ini pada pasal kelima belas إنشاء الله.
Maka mereka dengan karakter
yang jelek ini menyerupai Haddadiyyah, dan hizbiyyin yang lain.
Setelah bayyinah ini semua –dan
telah tersebar di sebagian risalah para ikhwah, dan ini hanyalah sebagian dari
apa yang ada di sini kami- maka bagaimana orang-orang mulia itu tidak
menggerakkan lisan dan pena mereka untuk menghukumi Mar’iyyin sebagai
hizbiyyin? Aku yakin andaikata Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله beliau itulah yang terjatuh ke dalam
keburukan-keburukan itu –semoga Alloh melindungi beliau darinya- pastilah
mereka meneriaki beliau dan menghukumi beliau telah menyeleweng.
Kita kembali pada inti perbincangan kita. Maka hizb baru itu telah menyelisihi
dalil-dalil qoth’iy yang memerintahkan mereka untuk jujur dan amanah serta
menjaga jama’ah, dan melarang mereka dari semisal perbuatan-perbuatan yang
buruk itu. Dalam keadaan mereka berbuat demikian tadayyunan (sebagai
bagian dari pengamalan agama mereka), dan mereka enggan untuk kembali setelah
ditegakkannya hujjah terhadap mereka. Kebanyakan dari mereka meyakini yang
demikian dalam rangka menolong agama mereka. Sebagian dari mereka saat
dinasihati untuk meninggalkan hizbiyyah tersebut mereka berkata: “Ini adalah
aqidah yang tidak mungkin kutinggalkan”, “Ini adalah aqidah di dalam hatiku,
aku tak bisa rujuk darinya”, “Bagaimana aku bertobat dalam keadaan hal ini
adalah aqidah di dalam hatiku?”, “Ini adalah perkara yang kuyakini dalam
hatiku, aku tak bisa terbebas darinya.”
Maka seperti ini adalah
kesesatan dan kebid’ahan. Al Imam Abul Muzhoffar As Sam’aniy رحمه الله berkata: “Seluruh perkara yang termasuk
bagian dari ushulud din (prinsip-prinsip agama) maka dalil-dalilnya itu terang
dan jelas, dan orang yang menyelisihi dalam perkara tadi adalah pembangkang
yang menentang perkara yang dalilnya nyata. Dan wajib untuk menghukumi orang
tadi sebagai orang yang sesat, dan disyariatkan untuk berlepas diri darinya.”
(“Qowathi’il Adillah” (5/hal. 13)).
Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata tentang jenis kedua dari orang
yang bid’ah itu dinisbatkan kepadanya: “Dia adalah orang yang tidak bisa
mengambil istimbath dalil dengan sendirinya, tapi dia hanyalah mengikuti orang
lain yang sanggup melakukan istimbath. Akan tetapi manakala orang jenis ini menyetujui
syubhat tadi dan membenarkannya dan dia berdiri di posisi orang yang diikutinya
tadi dikarenakan dirinya menyeru manusia kepada syubhat tadi, karena syubhat
tadi telah merasuk ke dalam hatinya, maka dia itu semisal dengan orang tadi
sekalipun tidak sampai kepada keadaan dirinya, akan tetapi kecintaannya pada
madzhabnya tadi telah menetap di dalam hatinya hingga membangun permusuhan dan
loyalitas berdasarkan hal itu. Orang jenis ini tidaklah kosong dari pencarian
dalil meskipun berdasarkan dalil yang paling umum, maka dia digabungkan kepada
orang yang telah bisa melihat kepada syubhat, sekalipun dia itu awam, karena
dirinya telah mencoba masuk ke wilayah istidlal dalam keadaan dia tahu
bahwasanya dirinya itu tidak tahu bagaimana cara melihat dan apa yang
dilihatnya.” (“Al I’tishom”/1/hal. 113). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Bid’ah itu adalah apa yang
menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah serta ijma’ Salaful ummah, baik berupa
keyakinan, dan ibadah-ibadah, seperti ucapan-ucapan Khowarij, Rowafidh,
Jahmiyyah, dan seperti orang-orang yang beribadah dengan tarian, dan nyanyian
di masjid-masjid, dan orang-orang yang beribadah dengan mencukur jenggot,
memakan ganja, dan aneka jenis itu tadi termasuk dari bid’ah-bid’ah yang
dengannya para kelompok penyelisih Al Kitab dan As Sunnah beribadah. Wallohu
a’lam.” (“Majmu’ul Fatawa”/18/hal. 346).
Maka Mar’iyyun itulah yang
lebih pantas dikatakan sebagai Haddadiyyun menurut orang-orang yang menilai
hujjah dengan timbangan syariat, keadilan dan akal.
[PASAL EMPAT BELAS: BANYAKNYA SIFAT NIFAQ DI KALANGAN HIZBIYYIN]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy حفظه الله berkata: Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah رحمه اللهberkata setelah menyebutkan kekejian Rowafidh
yang di antaranya adalah loyalitas mereka kepada orang-orang kafir untuk
menentang Muslimin: “Maka mereka itu lebih besar bahayanya terhadap agama ini
dan pemeluknya, dan lebih jauh dari syariat-syariat Islam daripada khowarij
Haruriyyah. Oleh karena itulah mereka menjadi sempalan umat yang paling pendusta.
Maka tiada pada kelompok-kelompok yang menisbatkan diri ke kiblat Ka’bah yang
lebih banyak kedustaan, pembenaran terhadap kedustaan, dan pendustaan terhadap
kejujuran daripada mereka. Lebih-lebih lagi kemunafikan pada mereka lebih jelas
daripada kemunafikan di seluruh manusia. Dan dia itulah yang disabdakan
Nabi صلى الله عليه وسلم :
«آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ
كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ »
“Tanda-tanda orang munafiq itu
ada tiga: jika dia berbicara maka dia berdusta. Jika dia berjanji maka dia
mengingkarinya, dan jika dia dipercaya maka dia akan berkhianat.” (HSR Al
Bukhori (33) dan Muslim (109))
Dalam suatu riwayat:
«أربع من كن فيه كان منافقًا خالصًا، ومن
كان فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها: إذا حدث كذب، وإذا وعد
أخلف، وإذا عاهد غدر، وإذا خاصم فجر»] اهـ.
“Ada empat karakter,
barangsiapa empat karakter tadi ada padanya, maka jadilah dia itu munafiq yang
murni. Dan barangsiapa ada padanya salah satu dari karakter kemunafikan tadi,
maka pada dirinya salah satu dari karakter kemunafikan sampai dia
meninggalkannya: jika dia berbicara maka dia berdusta. Jika dia berjanji
maka dia mengingkarinya, dan jika dia dipercaya maka dia akan berkhianat, dan
jika bertengkar dia berbuat fujur.”Selesai penukilan.
Komentar saya:
Sifat Haddadiyyah yang keempat
belas adalah: kemunafikan. Telah saya jelaskan banyaknya alamat kemunafikan
pada hizb yang baru ini –Mar’iyyah-. Maka mereka itulah golongan yang lebih
berhak untuk dijuluki sebagai Haddadiyyah. Adapun Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy
dan yang bersama beliau, apa dosa mereka hingga dikatakan –tanpa iqomatul
hujjah- bahwasanya mereka adalah haddadiyyun, orang-orang tolol, orang-orang
busuk, merobek dakwah?
Tidaklah para penuduh itu
menyerang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau kecuali karena
mereka mengorbankan waktu, kehormatan, tenaga, dan badan mereka untuk
menghadapi makar hizb baru yang fajir manakala muncul kebusukan mereka, dengan
dalil-dalil dan bukti-bukti. Dan ini sebenarnya merupakan usaha yang patut
disyukuri dari Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau, sekalipun
orang-orang yang dengki dan fanatik itu menentangnya.
SETIAP KALI MUNCUL AHLI BATIL, ALLOH MENEGAKKAN TENTARA-NYA
UNTUK MEMBONGKARNYA DAN MEMERANGINYA
Al Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله تعالى: “Segala puji bagi Alloh yang menjadikan
pada setiap zaman yang kosong dari para rosul sisa-sisa ulama yang mengajak
orang yang tersesat untuk menuju kepada hidayah, dan bersabar menerima gangguan
dari mereka, menghidupkan dengan kitabulloh orang-orang yang mati, dan memberi
ilmu dengan cahaya Alloh orang-orang yang buta. Maka berapa banyaknya orang
yang telah dibunuh oleh Iblis mereka hidupkan kembali, dan berapa banyaknya
orang yang tersesat dan bingung mereka tunjuki lagi. Maka alangkah bagusnya
pengaruh mereka kepada manusia, dan alangkah jeleknya bekas manusia kepada
mereka. Mereka meniadakan dari Kitabulloh penyelewengan orang-orang yang
ghuluw, dan pengaku-akuan para pelaku kebatilan, dan ta’wil orang-orang bodoh
yang mengibarkan bendera-bendera kebid’ahan, dan melepaskan belenggu fitnah…”
dst . (“Ar Rodd ‘Alaz Zanadiqoh Wal Jahmiyyah”/hal. 52/Darul Minhaj).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله : Sesungguhnya umat ini –segala pujian
bagi Alloh- senantiasa ada di kalangan mereka orang yang tanggap terhadap
kebatilan yang ada di dalam perkataan ahli batil, lalu membantahnya. Dan mereka
itu manakala Alloh memberi mereka hidayah bersepakat untuk menerima kebenaran
dan menolak kebatilan baik secara ro’yu ataupun berdasarkan riwayat, tanpa
saling memberi tahu ataupun kesengajaan untuk bersepakat.” (Majmu’ul
Fatawa”/9/hal. 233/Maktabatu Ibni Taimiyyah).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Setiap kali setan menampilkan
suatu kebid’ahan dari bid’ah-bid’ah ini dan yang lainnya, Alloh membangkitkan
untuk menghadapinya seseorang dari partai-Nya dan tentara-Nya yang akan
membantahnya dan memperingatkan Muslimin darinya, sebagai nasihat untuk Alloh,
untuk kitab-Nya, untuk Rosul-Nya dan untuk ahlil Islam. dan Alloh menjadikan
itu sebagai warisan yang dengannya partai Rosululloh صلى الله عليه وسلم pemegang sunnah beliau dikenal, dan dengan
itu pula partai bid’ah dan penolong bid’ah dikenal.” (“Tahdzib Sunan Abi
Dawud”/As Sunnah/Fil Qodr/dalam cetakan ‘Aunul Ma’bud/11/hal. 298-299/Darul
Kutubil ‘Ilmiyyah).
Ibnul Jauziy رحمه الله berkata: “Dan manakala tidak mungkin bagi
seorangpun untuk memasukkan ke dalam Al Qur’an sesuatu yang bukan darinya,
mulailah beberapa kaum menambahkan ke dalam hadits Rosululloh صلى الله عليه وسلم , mengurangi, merubah, dan memalsukan
hadits yang tidak beliau ucapkan. Maka Alloh عز وجل menumbuhkan para ulama yang membela
penukilan, menjelaskan yang shohih dan membongkar yang busuk. Dan Alloh عز وجل tidak mengosongkan zaman dari ulama. Hanya
saja keturunan jenis ini pada zaman ini sedikit, …” dst. (muqoddimah “Al
Maudhu’at”/1/hal. 7/cet. Maktabah Adhwaus Salaf).
Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Manakala termasuk dari hikmah
Alloh yang mendalam adalah Dia menjadikan kebenaran itu punya
penentang-penentang yang dengan penentangan mereka tadi menjadi jelaslah
kebenaran dan menjadi menanglah terhadap kebatilan, karena kemurnian emas itu
tidak nampak kecuali dengan disodorkan kepada api. Alloh جل وعلا dengan kemampuan-Nya yang sempurna dan
kelembutan-Nya yang luas dan pemaksaan-Nya yang dominan menampilkan orang yang
melenyapkan hujjah-hujjah para penentang itu dan menjelaskan kepalsuan
syubhat-syubhat mereka.” (Muqoddimah “Taqribut Tadmuriyyah”/hal. 7/Maktabatul
Irsyad).
Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan termasuk dari karunia Alloh
adalah bahwasanya tidaklah seorang mubtadi’pun bangkit kecuali bangkit juga
ulama untuk menghadapinya.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 277/Darul Atsar).
Dan setelah menyebutkan usaha
Al Imam Al Albaniy dan Al Imam Al Wadi’iy رحمهما الله dan seluruh Ahlul hadits dalam memerangi
ahlul batil berkatalah Asy Syaikh al muhaddits Al Mujahid Yahya Al Hajuriy حفظه الله : “Mereka itulah para pria sejati. Setiap
kali seseorang muncul dengan suatu kebid’ahan mereka menghantamnya. Adapun
sekarang, jika ahlul hadits berbicara tentang seseorang karena kebid’ahannya,
orang-orang berkata: “Mereka membicarakan manusia!”.” (dicatat tanggal 6
Sya’ban 1430 H).
Fadhilatusy Syaikh Sholih Al
Fauzan حفظه الله
berkata: “… aqidah ini dan para pemeluknya telah mengalami ujian dan akan terus
diuji pada zaman yang beraneka ragam sebagaimana kenyataannya dan disaksikan
sekarang ini dari para musuhnya. Akan tetapu Alloh telah menyiapkan para imam
yang melakukan perbaikan, dan para pembaharu yang membela aqidah tadi dari
penyelewengan orang-orang yang ghuluw, dan pengaku-akuan para pelaku kebatilan,
dan ta’wil orang-orang bodoh.” (“Maqolatsy Syaikh Al Fauzan”/1/hal. 50-51/Al
Maktabatusy Syamilah).
Asy Syaikh Sholih As Suhaimiy وفقه الله berkata: “Maka setiap kali muncul aliran
atau jamaah yang menyeleweng, Alloh menyiapkan untuknya para ulama robbaniyyun
yang mengucapkan kebenaran dan dengannya berbuat keadilan, meniadakan dari
sunnah itu penyelewengan orang-orang yang ghuluw, dan pengaku-akuan para pelaku
kebatilan, dan ta’wil orang-orang bodoh. Dan alangkah miripnya malam ini dengan
malam kemarin.” (Muqoddimah “An Nashrul ‘Aziz”/Darul Minhaj).
[PASAL KELIMA BELAS: MEMBENARKAN KEDUSTAAN]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Maka orang-orang Haddadiyyah
itu menyerupai Rowafidh dalam berdusta, pembenaran terhadap kedustaan, dan
pendustaan terhadap kejujuran. Ada perkataan-perkataan dan ucapan yang jujur
dan tegak di atas Al Kitab dan As Sunnah, mereka mendustakan kandungannya,
menolaknya. Di antaranya adalah perkataan yang telah diteliti oleh para tokoh
ulama dalam kasus-kasus keimanan dan masalah prinsipil, Haddadiyyun justru
membantahnya dan menolaknya. Tapi ada ucapan-ucapan dan kebatilan serta
penyelewengan yang justru mereka dukung dan mereka tolong. Berapa banyak mereka
itu berbuat fujur dalam persengketaan mereka terhadap Ahlussunnah. Ini digabung
lagi dengan sifat-sifat mereka yang telah lewat.
Komentar saya:
Yang kelima belas dari sifat
Haddadiyyah adalah: Membenarkan kedustaan. Demikian pula yang dilakukan oleh
hizb yang baru ini hizb Mar’iyyah, mereka di bab ini sama dengan Haddadiyyah
bagaikan bulu panah yang kiri dengan yang kanan. Mereka menerima kedustaan para
penulis yang tak dikenal, kebohongan para pengikut Nu’man Al watar, Al Idrisiy,
dan sebagian hizbiyyun yang terdahulu yang lainnya. Dan termasuk dari bab ini
adalah apa yang diucapkan oleh syaikh kita Abdulloh Al Iryany -حفظه الله- berkata dalam “Al Qoulul Jali” hal. 8-9:
Kebatilan Tuduhan Nu’man Al
Watar Bahwasanya Syaikh Yahya Melemparkan Tuduhan Bohong
Adapun tuduhan Nu’man Al Watar bahwasanya Syaikh yang mulia Yahya -حفظه الله- melemparkan tuduhan bohong terhadap
orang-orang yang bersih, maka ini merupakan kedustaan yang besar. Kami
menantang Nu’man untuk memberikan bukti kepastian tentang ucapan Syaikhuna
Yahya tersebut di dalam kaset, atau kitab, atau persaksian orang-orang yang
adil jika dia memang termasuk orang-orang yang jujur.
Bersama si Pendusta Besar Yang
Hina: Fahd Al Ba’dany
Beberapa pelajar dan penghapal
Al Qur’an dari penduduk Ba’dan telah bersaksi bahwa Fahd Al Ba’dany berdusta,
dan dia menukil berita-berita yang tidak benar tentang Darul Hadits di Dammaj.
Dan “Penduduk Mekkah lebih tahu tentang keadaan masyarakatnya.”
Dan sisi pendalilan kita adalah
bahwasanya Fahd Al Ba’dany tersebut telah menukilkan di dalam kaset tanpa bukti
tentang Syaikh yang mulia Yahya Al Hajury:
a-
Bahwasanya beliau berkata tentang Ali Ba Ruwais yang berfatwa di televisi ‘Adn,
bahwasanya dia itu luthy digauli sebagaimana wanita digauli. Dan Fahd
juga berkata bahwasanya sebagian pelajar berkata pada beliau: “Ini adalah
tuduhan yang membutuhkan empat saksi yang adil”. Maka Syaikh Yahya menjawab
seraya berkata,”Cukuplah kemasyhuran sebagai bukti.”
Kukatakan –Syaikh Abdulloh Al
Iryany حفظه الله-:
Ini adalah dongeng palsu yang dikandung dan dilahirkan oleh Fahd Al Ba’dany,
lalu dirawat oleh Nu’man Al Watar. Pendengaran kami terhadap dongeng ini saja
sudah cukup bagi kami sebagai dalil atas kebatilannya, dan kedustaan orang yang
menukilkannya.([26]) maka
bagaimana bisa tergambarkan seorang alim yang bertaqwa dan waro’ berbuat ngawur
seperti ini?
Kisah yang sebenarnya
adalah: Para penghapal Al Qur’an, para pelajar, dan para penyeru ke jalan
Alloh yang hadir dalam kisah itu, semuanya bersaksi bahwasanya ada seorang
lelaki dari Abyan menjelek-jelekkan Ahlussunnah. Namanya adalah Ali Adh
Dhombary. Ketika Syaikh Yahya Al Hajury bertekad untuk membantahnya, sebagian
penduduk Abyan berkata,”Mereka berkata bahwa dia itu digauli sebagaimana wanita
digauli.” Maka Syaikh berkata, ”Dengarkanlah wahai ikhwah, apa yang mereka
ucapkan?” lalu Syaikh berkata,”Seperti ini membutuhkan bayyinah (bukti)!” Maka
salah seorang yang hadir dari Abyan berkata,”Ini sudah terkenal.” Maka Syaikh
berkata,”Sekedar keterkenalan tidak mengharuskan benarnya berita.” Selesai.
Kisah dan pembicaraan berkisar
tentang seseorang, tapi pertama kali: omongan Al Ba’dany terbalik, lalu yang
kedua: berbicara tentang orang lain. Maka berkumpullah antara kemungkaran dan
kepalsuan dalam ucapan Al Ba’dany.
Kemudian Ahlussunnah mereka
mempercayai diri mereka sendiri, mereka tidak terpengaruh oleh berita-berita
palsu. Para Nabi Alloh telah dituduh dengan tuduhan yang lebih besar daripada
ini, dan mereka bersabar. Kedustaan itu benang-benangnya pendek saja, dan Alloh
‘azza wajalla berfirman:
﴿سَيَعْلَمُونَغَدًامَنِالْكَذَّابُالْأَشِر﴾ [القمر/26]
“Besok mereka akan tahu
siapakah pendusta besar yang jahat itu.” (QS Al Qomar 26).
b-
Orang yang telah tersebut di atas juga menukilkan bagian atas tanpa bayyinah
terhadap Syaikh Yahya Al Hajury -حفظه الله- bahwasanya beliau berkomentar tentang
jajaran pemerintahan bahwasanya mereka itu tukang homoseksual dan banci.
Kedustaan ini juga sejenis
dengan dongengan tadi. Dan kami berkata,”Kami jadikan Alloh sebagai saksi
bahwasanya si penukil ini pendusta besar([27]).” Dan
kami berkata sebagaimana firman Robb kami:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ
جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ
فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ ﴾ [الحجرات/6]
“Wahai orang-orang yang beriman
jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah
kejelasan, jangan sampai kalian menimpakan kecelakaan pada suatu kaum dengan
ketidaktahuan sehingga jadilah kalian menyesal dengan apa yang kalian
lakukan.” (QS Al Hujurot 6)
Dan kami berkata pada orang
yang membikin kedustaan terhadap para pemilik ilmu dan keutamaan, sebagaimana
firman Robb kami ‘azza wajalla:
﴿قُلْهَاتُوابُرْهَانَكُمْإِنْكُنْتُمْصَادِقِينَ﴾ [البقرة/111]
“Katakanlah : Datangkanlah
bukti kebenaran kalian jika kalian memang orang-orang yang jujur.”(QS Al
Baqoroh 111).
Dan di dalam “Ash Shohihain”
dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma berkata : Rosululloh saw
bersabda :
«لويعطىالناسبدعواهملادعىناسدماءرجالوأموالهمولكناليمينعلىالمدعىعليه».
“Andaikata manusia diberi
sesuai dengan dakwaan mereka, pastilah orang-orang akan mendakwa harta suatu
kaum dan darah mereka. Akan tetapi sumpah adalah kewajiban orang yang dituduh.”
Dan dalam riwayat Al
Baihaqy :
«لَوْيُعْطَىالنَّاسُبِدَعْوَاهُمْلاَدَّعَىرِجَالٌأَمْوَالَقَوْمٍوَدِمَاءَهُمْوَلَكِنَّالْبَيِّنَةَعَلَىالْمُدَّعِىوَالْيَمِينَعَلَىمَنْأَنْكَرَ ».
“Andaikata manusia diberi
sesuai dengan dakwaan mereka, pastilah orang-orang akan mendakwa harta suatu
kaum dan darah mereka. Akan tetapi bayyinah (bukti) adalah kewajiban si
penuduh, dan sumpah adalah kewajiban orang yang dituduh.”
Dan apakah seorang muslim akan
lancang berkata seperti itu, lebih-lebih lagi orang yang tahu tentang Alloh,
waro’, punya perhatian dan semangat untuk menjaga kehormatan muslimin, serta
membelanya ?!!
Aku telah bertanya pada Syaikh
Yahya حفظه الله
ta’ala tentang itu, maka beliau bersumpah dengan nama Alloh tidak
mengucapkannya.
Selesai ucapan Syaikhuna
Abdulloh Al Iryani حفظه الله.
Dan telah berdatangan ucapan
syukur, pujian dan selamat setelah keluarnya risalah yang mantap tersebut, dari
kalangan Salafiyyun yang punya kecemburuan.
Bahkan Nu’man Al Watar sendiri telah mengakui kedustaan tadi. Syaikh Abdulloh
Al Iryany -حفظه الله-
di dalam risalahnya yang kedua berkata,” “Kalaulah tidak ada pembongkaran aib
mereka di dalam risalah mereka “Al Muhannadul Yamani..” kecuali bahwasanya
mereka itu sikapnya bertolak belakang dan goncang, dan mereka mengakui atas
kebohongan mereka dalam melemparkan tuduhan pada Asy Syaikh Al Fadhil Al Bari’
(yang bersih dari tuduhan tadi) Yahya Al Hajuri bahwasanya beliau menuduh ‘Ali
Ba Ruwais, setelah mereka terbang dengan tuduhan tadi ke segala penjuru,
niscaya yang demikian itu cukup untuk menetapkan kedustaan mereka dan
menjelaskan keadaan mereka, dan pendustaan orang-orang terhadap mereka, waspada
terhadap penukilan dan berita-berita mereka, jatuhnya mereka dari pandangan
mata orang-orang, dan tidak percaya lagi pada mereka ..” (“Ta’zizul Qoulil
Jali” hal. 5)
Maka sifat Mar’iyyun adalah
menerima berita dari para pendusta yang mencocoki hawa nafsu mereka, lalu mereka
menyebarkannya. Maka mereka itulah Haddadiyyun dalam bab ini.
Adapun syaikh kami An Nashihul
Amin dan orang yang bersama beliau, sungguh mereka telah mencurahkan kerja
keras untuk tidak menerima perkataan kecuali jika diperkuat dengan dalil yang
kuat, yang mencocoki Al Kitab dan As Sunnah dan Salafiyyah. Demikianlah saya
melihat dari mereka, dan bukanlah berita itu seperti melihat langsung. Dan aku
dengan sebagian ikhwah telah capek memerangi hizb baru -Mar’iyyah- dari
bangsaku sendiri, dan kami telah merasakan pahitnya pukulan tangan, sindiran
lidah dan jahatnya pena mereka. Manakala kasus-kasus mereka kami angkat ke Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله, kami dapati beliau pada puncak perhatian
terhadap kejujuran dan kekuatan bayyinah dalam menerima berita-berita, maka
beliau tidak menerima berita dari kami ataupun dari lawan kami kecuali jika
diperkuat oleh bayyinah.
Dari sisi lain, kalian juga tak
sanggup membuktikan bahwasanya beliau itu berdusta, atau membenarkan kedustaan,
atau mendustakan kejujuran. Maka apakah setelah ini semua dikatakan bahwasanya
beliau itu Haddadiy padahal beliau berbeda dengan mereka dalam karakter ini
sebagaimana beliau juga berpisah dengan mereka dalam sifat-sifat yang lain?
Sungguh ini adalah vonis yang jahat.
[PASAL KEENAM BELAS:
BERUBAH-RUBAH WARNA DAN MELANCARKAN MAKAR MEREKA DENGAN
BERTAHAP]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi kesepuluh: Makar
bertahap berdasarkan metode Bathiniyyah, walaupun kami tidak berpendapat
bahwasanya mereka itu Bathiniyyah akan tetapi kami berpendapat bahwasanya
mereka menyerupai mereka dalam memiliki banyak wajah dan melancarkan makar
mereka dengan bertahap.
Komentar saya:
Yang
keenam belas dari sifat Haddadiyyah: Talawwun(berubah-rubah
warna). Telah saya jabarkan di dalam risalah “At Talawwun Fid Din Wa
Ti’dadu Aujuhil Mundassin” banyaknya sifat talawwun para hizbiyyun. Dan saya
sebutkan banyaknya sifat talawwun dari Mar’iyyin. Adapun syaikh kami dan orang
yang bersama beliau maka keadaan mereka إن شاء الله adalah bagaikan apa yang diucapkan oleh Al
Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- berkata: “Maka dakwah itu di sisi kami lebih
mulia daripada jiwa, keluarga dan harta kami. Kami siap untuk makan meskipun
tanah dalam keadaan kami tidak mengkhianati agama dan negri kami, dan tidak
bersikap “talawwun”. “Talawwun” bukanlah karakter Ahlussunnah.” dst (“Al Ba’its
‘ala Syarhil Hawadits” hal. 57/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).
Maka Mar’iyyun lebih berhak
dengan gelar Haddadiyyah daripada para Salafiyyun Dammaj, والحمد لله.
Yang ketujuh belas dari sifat
Haddadiyyah adalah: menjalankan makar secara bertahap. Dan ini adalah perbuatan
Mar’iyyah. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy yang berpandangan tajam رعاه الله berkata dalam “Bayan” beliau: “Kekacauan
yang dibikin oleh Abdurrohman Al ‘Adniy dan orang-orang yang fanatik padanya
itu dekat dengan kekacauan yang diperbuat oleh Abul Hasan Al Mishriy dan
orang-orang yang fanatik padanya, dan tidak mungkin pengacauan tadi ditafsirkan
dengan yang selain hizbiyyah yang serupa dengan para pendahulunya, yang
membikin pergolakan terhadap kami di Dammaj, kemudian tersingkap jati dirinya
sedikit demi sedikit, hingga menjadi jelas bagi setiap slafiy yang jauh dari
kekacauan tadi,…” dst. (“Ma Syahidna Illa Bima ‘Alimna”/Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy).
Maka bukanlah para penghuni
markiz Dammaj dan yang bersama mereka itu adalah Haddadiyyun. Bahkan yang punya
sifat Haddadiyyah itu ada di markiz Al Fuyusy dan yang mencocoki mereka.
[PASAL KETUJUH BELAS:
MENGINCAR SEBAGIAN IMAM SUNNAH DAN ULAMA SALAFIYYAH]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Mereka dulu hingga di
waktu-waktu dekat ini menampakkan pemuliaan kepada sekumpulan ulama, dan
menganggap bahwasanya barangsiapa menyelisihi mereka berarti telah mendustakan
Islam dan mendustakan Al Qur’an dan As Sunnah, serta memusnahkan Islam. dan
mereka juga mengajak manusia untuk taqlid pada sekumpulan ulama tadi dengan
kerasnya. Manakala mereka menyangka bahwasanya siku mereka telah menguat, dan
tongkat mereka telah keras, merekapun mengumumkan peperangan kepada ulama tadi,
menganggap perkataan mereka itu tolol, dan menjadikan orang-orang yang lemah
akal menjadi lancang kepada ulama tadi. Dan demikianlah mereka secara bertahap
dalam dakwah mereka yang rahasia, dan mereka memulai dengan menampakkan
penghormatan pada Al Imam Ibnu Baz hingga Ibnu Taimiyyah, kemudian sedikit demi
sedikit mereka mempengaruhi orang-orang yang tertipu hingga mereka meyakini
bahwasanya mereka telah memantapkan cengkeraman mereka, dan mulai menjatuhkan
para ulama dengan metode mereka yang penuh makar, satu persatu, hingga sampai
kepada Ibnu Taimiyyah. Kemudian mereka itu seperti Rowafidh: jika mereka merasa
takut, mereka menampakkan pemuliaan kepada Shohabat, mencintai mereka, mendoakan
ridho buat mereka. Jika mereka merasa aman, merekapun mencaci Shohabat dan
mencerca mereka. Dan para Haddadiyyah berbuat seperti mereka: jika merasa aman,
merekapun mencaci ulama dengan cercaan yang sebagiannya telah kami sebutkan di
permulaan ucapan ini.
Komentar saya:
Sifat ini telah lewat penyebutannya di sela-sela pembahasan. Dan tidak ada pada
Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله kebusukan tersebut, tidak berbolak-balik,
tidak membikin makar pada seorangpun, tidak juga pada Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah.
Adapun jika sebagian orang yang
terlalaikan itu berkata: “Dia telah menjatuhkan Abul Hasan kemarin,
kemudian Al ‘Adniy. Maka siapakah lagi besok setelah mereka berdua?!”, “Dia
mengincar para ulama: Al ‘Adniy, kemudian Al Wushobiy, kemudian Al Jabiriy,
kemudian siapa?!” ini merupakan perkataan orang yang menyeleweng yang tahu
bahwasanya dirinya itu menyeleweng kemudian merasa takut bahwasanya dirinya
akan dijatuhkan sebagaimana yang diduganya. Maka wahai kaum, Robb kalian عز وجل berfirman:
﴿قُلِ اللهمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي
الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ
تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرٌ﴾ [آل عمران/26].
“Katakanlah: Wahai Alloh
Pemilik kerajaan, Engkau memberikan kekuasaan pada orang yang Engkau kehendaki,
Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan orang
yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki, di
tangan-Mu sajalah kebaikan, sesungguhnya Engkau Maha Mampu terhadap segala
sesuatu.”
Dan Abu Huroiroh رضي الله عنهberkata:
Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«يد الله ملأى لا يغيضها نفقة ، سحاء الليل
والنهار – وقال – أرأيتم ما أنفق منذ خلق السموات والأرض ، فإنه لم يغض ما في يده –
وقال – عرشه على الماء وبيده الأخرى الميزان يخفض ويرفع ». (أخرجه البخاري
(7411)).
“Tangan Alloh penuh, pemberian
nafkah tidak menguranginya. Dia banyak memberikan karunia di waktu malam dan
siang. Bagaimana pendapat kalian terhadap apa yang Dia infakkan sejak
diciptakan-Nya langit dan bumi, karena hal itu tidak mengurangi apa yang ada di
tangan-Nya. ‘Arsy-Nya ada di atas air. Dan di tangan-Nya yang lain ada
timbangan, Dia merendahkan dan mengangkat.” (HR. Al Bukhoriy (7411)).
Maka urusan itu di tangan Alloh, Dia memuliakan orang yang dikehendaki-Nya,
menghinakan orang yang diinginkan-Nya. Dengan karunia-Nya Dia mengangkat orang
yang menaati-Nya, dan dengan keadilan-Nya Dia mrendahkan orang yang
mendurhakai-Nya. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: Dan Alloh berfirman kepada
Nabi-Nya: ﴿ورفعنا
لك ذكرك﴾
“Dan Kami angkat untukmu
penyebutanmu.”
Maka para pengikut beliau punya
bagian dari penyebutan ini sesuai dengan kadar pewarisan mereka dari ketaatan
mereka dan pengikutan mereka. Dan setiap orang yang menyelisihi mereka maka
pengangkatan tadi luput dari mereka sesuai dengan kadar penyelisihan dan
kedurhakaan mereka.” (“Al Jawabul Kafi”/hal. 113/Maktabah ‘Ibadurrohman).
Alloh ta’ala berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ الله وَرَسُولَهُ
أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّين﴾ [المجادلة/20].
“Sesungguhnya orang-orang yang
memusuhi Alloh dan Rosul-Nya mereka itulah yang berada dalam golongan
orang-orang yang hina.”(QS. Al Mujadilah: 20).
Orang-orang yang tersebut tadi jatuh disebabkan oleh kesesatan mereka dan
pembangkangan mereka terhadap kebenaran. Demikian pula orang yang setelah
mereka: jika mereka kokoh di atas ketaatan maka Alloh akan mengangkat mereka
sekalipun tiada seorangpun yang mengenalnya, tapi jika mereka menyimpang maka
Alloh akan menghinakan mereka sekalipun ditazkiyyah oleh seluruh orang yang ada
di bumi.
Adapun Abul Hasan Al Ma’ribiy, maka sungguh dia itu jatuh disebabkan oleh
kesesatannya, bukan karena dimakari oleh seorangpun dari Ahlu Dammaj. Adapun
kedua anak Mar’i maka seperti itu pula. Adapun Muhammad Al Wushobiy maka
sebagai berikut:
KASUS MUHAMMAD BIN ABDIL WAHHAB AL WUSHOBIY
Telah banyak bantahan
Ahlussunnah kepada Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy هداه الله di antaranya adalah:
- “Al Wala Wal Baro Adh Dhoyyiq
‘Indasy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/Syaikhuna An Nashihul
Amin
- “Asmaul Maftunin Wa Roddun
‘Alasy Syaikh Al Wushobiy”/Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy
- “Minnatul Karimil Hamid
Binaqdhi Tala’ubati Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ Asy Syaikh Abu
Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy
-“Ihyaul Wushobiy Li Qowa’idil
Mishriy, Wa ‘Ar’ur Wal Maghrowiy”/Abu ‘Ammar Yasir bin ‘Ali Al Hudaidy
- “Tahdzirul Bariyyah Mimma
‘Indal Wushobiy Minal Inhirofatil Quthbiyyah”/Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al
Mighlafiy
- “Nushhun Wa ‘Itabun Lil
Wushobiy”/Asy Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy
- “At Ta’mid Wat Tad’im”/Asy
Syaikh Kamal bin Tsabit Al ‘Adniy
- “Asy Syaikh Al Wushobiy
Bainal Ifroth Wat Tafrith Fit Tilfiziyun Wad Dusysy”/Fahmiy Bin Dawud Al
‘Amiriy
- “Al Idhohatun Nayyiroh Bi
Mawaqifil Wushobiyl Mutaghoyyiroh”/Asy Syaikh Muhammad bin Abdillah Ba Jammal
- “Al Kawi Li Ta’shilat Wa
Syathohat Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ /Asy Syaikh Abu Hamzah
Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy
- “Tahdzirus Salafiyyin Min
mafasid Wa Adhrori Nuzulisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy Fi
Amakin Wa Masajidil Hizbiyyin”/ Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy
- “Al Wushobiy Wa Tauhidul
Hakimiyyah” /Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal
- “Nashihatu Abi Basyir Al
Hajuriy Lisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ Abu Basyir Al
Hajuriy
- “Jinayatu Muhammad bin Abdil
Wahhab Al Wushobiy ‘Alal Ushulis Salafiyyah”/ Asy Syaikh Kamal bin Tsabit Al
‘Adniy
- “At Tanbihus Sadid ‘Ala
Dzammit Taqlid, War Roddu ‘Ala Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy”/Abur Robi’
Muhammad bin ‘Iwadh Al Qulaishiy
- “Tholi’atur Rududis Sadidah
‘Ala Risalati Nashoih ‘Ulamail Ummah” /Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin
Husain Al ‘Amudiy
- “Ar Roddusy Syar’iy”/Asy
Syaikh Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Khoyyath Al Ba’daniy
Barangsiapa ingin melihat kepada penampilan bayyinat, hujaj dan barohin atas
kebatilan Muhammad Al Wushobiy, pembangkangannya kepada kebenaran,
kesombongannya kepada nasihat-nasihat yang benar, hendaknya dia melihat kepada
risalah-risalah ini tadi, kemudian hendaknya dia menerima berita-berita dan
hukum-hukum yang dibangun di atas dalil-dalil yang kuat dan berat itu. Jika dia
enggan menerimanya maka dia harus membantah hujjah dengan hujjah pula, karena
pintu untuk itu terbuka.
KEBURUKAN ABDULLOH BIN ABDIRROHIM AL BUKHORIY
Adapun
Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhoriy, maka di antara keburukannya adalah:
Yang pertama: dia
memperbanyak cercaan terhadap Salafiyyin yang di Darul hadits di Dammaj dan
orang-orang yang bersama mereka. dia berkata tentang mereka: bahwasanya mereka
itu pendusta, mereka adalah pelaku kedustaan dan kebohongan yang nyata, pelaku
dugaan dusta, mereka adalah pelaku kejahatan, mereka adalah orang-orang yang
terfitnah yang busuk, Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy terpengaruh oleh pemikiran
syaikhnya Al Imam Al Wadi’iy dengan pemikiran Khowarij, mereka merobek barisan
dan memecah-belah salafiyyin, mereka itu aliran keras, haddadiyyah yang berlebihan.
Yang kedua: Abdulloh Al
Bukhoriy fanatik terhadap kebatilan.
Yang ketiga: Abdulloh Al
Bukhoriy menelantarkan al haq dan ahlul haq.
Yang keempat: Abdulloh Al
Bukhoriy menghina salafiyyin yang di Dammaj dan yang bersama mereka bahwasanya
mereka itu orang-orang tolol, orang-orang dungu, mereka itu orang-orang yang
tak dikenal.
Yang kelima: kedustaan
Abdulloh Al Bukhoriy terhadap salafiyyin yang di Dammaj dan yang bersama
mereka, bahwasanya mereka itu ingin memalingkan manusia dari kebenaran.
Yang keenam: Abdulloh Al
Bukhoriy main ramalan dan berkata bahwasanya salafiyyin yang di Dammaj dan yang
bersama mereka itu akan sirna di sampah sejarah, dan akan hilang di tempat
bertiupnya angin, dan bahwasanya urusan mereka akan menjadi debu halus yang beterbangan,
dan insya Alloh mereka akan melebur seperti meleburnya orang-orang selain
mereka.
Silakan rujuk risalah saya: “Al
Fathur Robbaniy Fir Roddi ‘Ala Abdillah Al Bukhoriy Al Muftaril Jani” ([28])
Demikian pula risalah “’Aunul
bari Bi Bayani Hizbiyyah Ibnai Mar’i Waman Jaro Majrohum, War Rodd ‘Ala
Takhorrushoti Abdillah Bin Abdirrohim Al Bukhoriy” (karya Syaikh kami Abu
Muhammad Abdul Hamid Al Hajuriy).
Demikian pula risalah “Isyharus
Saifil Yamaniy Li Izhaqi Khoza’balat Wa Iftiroatil Mu’tadil Jani” (karya Syaikh
kami Abu Abdissalam Hasan Bin Qosim Ar Roimiy).
Mereka (Abul Hasan Al Ma’ribiy,
kedua anak Mar’i, Muhammad Al Wushobiy, Abdulloh Al Bukhoriy, dan yang seperti
mereka) itu manakala menampakkan kezholiman terhadap Darul Hadits di Dammaj,
Syaikh kami dan sebagian pelajar membantah mereka. jika orang-orang jahat tadi
jatuh, maka jatuhnya mereka tadi bukanlah di tangan seorangpun dari manusia,
dan bukan pula karena sasaran Ahli Dammaj, akan tetapi jawabannya adalah
sebagaimana telah lewat.
Inilah jalan kami, jalan yang
sesuai dengan Al Qur’an, As Sunnah dan As Salafiyyah dengan seidzin dan taufiq
dari Alloh, bukannya jalan orang yang memerintahkan seorang salafiy untuk diam
terhadap kebatilan, apabila salafiy tadi tetap bersikeras untuk membantah
kebatilan tadi dengan hujjah-hujjah maka dituduhnya salafiy tadi sebagai
haddadiy.
Maka kejadian ini adalah
kejadian amar ma’ruf dan nahi munkar, serta jarh terhadap mu’anidin (para
pembangkang) terhadap kebenaran setelah jelasnya dalil-dalil, bukan kasus upaya
penjatuhan fulan dan fulan.
Seseorang itu sekalipun
kedudukannya tinggi di masyarakat, jika dia berpegang dengan hizbiyyah setelah
ditegakkannya hujjah kepadanya maka dia itu adalah mubtadi’. Al Imam Al Wadi’iy
رحمه الله
berkata tentang Ikhwanul Muslimin: “Di kalangan mereka ada yang menjadi
koruptor dakwah. Kami tidak mengatakan bahwa mereka semua seperti itu. Di
kalangan mereka ada orang-orang utama. Akan tetapi orang yang utama dari
mereka adalah mubtadi’ karena dia berpegang dengan hizbiyyah.” (“Ghorotul
Asyrithoh”/1/hal. 491).
Maka bukanlah kasus ini kasus
pengincaran terhadap ulama. Akan tetapi barangsiapa menghinakan diri dengan
kemaksiatan maka sungguh dia telah menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam
kebinasaan, maka jangan sampai dia mencela kecuali dirinya sendiri. Alloh
ta’ala berfirman:
﴿قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ
خَابَ مَنْ دَسَّاهَا﴾ [الشمس/9، 10]
“Sungguh telah beruntung orang
yang mensucikan jiwanya, dan sungguh telah merugi orang yang
mengotorinya.” (QS. Asy Syams: 9-10).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan maknanya adalah: Sungguh
telah beruntung orang yang membesarkan jiwanya, meninggikannya dan
memunculkannya dengan ketaatan pada Alloh. Dan sungguh telah rugi orang yang
menyembunyikannya, menghinakannya, dan mengecilkannya dengan kedurhakaan pada
Alloh. Asal dari تدسية adalah penyembunyian. Di antaranya adalah
firman Alloh ta’ala:
يدسه في التراب
“Menyembunyikannya ke dalam
tanah”.
Maka pelaku maksiat itu
menyembunyikan –atau menguburkan- dirinya ke dalam maksiat dan menyembunyikan
tempatnya, dan bersembunyi dari para makhluk dikarenakan jeleknya apa yang
dikerjakannya. Dia telah terhina di sisi dirinya sendiri, terhina di sisi
Alloh, dan terhina di sisi para makhluk. Adapun ketaatan dan kebajikan itu
membesarkan jiwa, memuliakannya dan meninggikannya hingga menjadi paling mulia,
paling besar, paling suci dan paling tinggi,…” dst. (“Al Jawabul Kafi”/1/hal.
52).
[PASAL KEDELAPAN BELAS:
BERBOLAK-BALIK DAN MENUDUH AL IMAM AL ALBANIY SEBAGAI MURJIAH]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Dan lihatlah apa yang mereka
perbuat terhadap Al Albaniy. Mereka menampak diri dengan mengormati beliau dan
membela beliau, dan mereka menuduh orang-orang yang mensifati beliau sebagai
Murjiah adalah khowarij. Kemudian mereka sendiri berpindah dengan mencerca Al
Albaniy dan menuduh beliau sebagai Murjiah dan sebagai orang yang menyelisihi
manhaj Salaf.
Komentar saya:
Ini bagian dari talawwunat (berubah-rubah warnanya) Haddadiyyah.
Telah saya jelaskan penghormatan syaikh kami dan orang yang bersama beliau
kepada Al Imam Al Albaniy رحمه الله , mengagungan mereka kepadanya, dan pembelaan
mereka kepadanya. Dan termasuk dari nikmat Alloh kepada syaikh kami An Nashihul
Amin dan orang-orang yang bersama beliau adalah: bahwasanya mereka itu kokoh di
atas kebenaran yang terang, dan tidak berbolak-balik. Sikap berbolak-balik
adalah termasuk ciri khas hizbiyyin. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Akan tetapi hizbiyyah menjadikan
pelakunya berubah-rubah warna dan berbolak-balik.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal.
237/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).
Taqollubat (berbolak-balik)
adalah termasuk dari sifat Mar’iyyah. Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy
حفظه الله
berkata: “Sesungguhnya Abdulloh bin Mar’i telah mengumumkan dengan
terang-terangan: “Sesungguhnya orang-orang yang terfitnah dengan fitnah Abul
Hasan jika mereka bertobat mereka tidak akan diberi kedudukan.” Sementara
itu, yang termasuk pengikutnya yang terbesar dari kalangan orang-orang yang
terfitnah adalah Abu Hisyam Jamal Khomis Surur. Dia itu banyak
berbolak-balik dan fitnah-fitnah. Dulu termasuk dalam jam’iyyatul Ihsan dan
menjadi termasuk orang terfitnah dengan Abdulloh Al Ahdal yang
terbesar. Kemudian dia menampakkan penggabungan diri kepada Ahlussunnah.
Kemudian datangkan fitnah Abul Hasan. Maka orang tadi gigh dan fanatik pada
Abul Hasan. Kemudian dia menampakkan rujuk dan bergabung dengan Abdulloh bin
Mar’i hingga datanglah hizbiyyah yang baru ini, maka dia bergabung
dengannya dan menjadi orang yang berada pada puncak ta’ashshub (fanatisme)
untuknya.
Dan selain Abu Hasyim di antara orang yang fanatis dalam fitnah Abul Hasan
kemudian menampakkan rujuk seperti Abdulloh bin Ali Ba Sa’id,
dan Ahmad Umar Ba Wafi, serta Abdul Hafizh Ibrohim Al ‘Amiriydan yang
lainnya. Mereka semua setelah fitnah Abul Hasan terfitnah oleh hizbiyyah yang
baru ini. Yang mengherankan dari mereka adalah: mereka itu termasuk
orang-orang khusus dan tokoh-tokoh kepercayaan Abdulloh bin Mar’i dalam keadaan
mereka itu seperti yang engkau lihat. Maka semisal mereka itu tidaklah pantas
untuk dipercaya walaupun untuk sebiji bawang. Mereka adalah orang-orang yang
lemah agamanya([29]),
banyak berbolak-balik. Bahkan mereka itu tidak bisa dianggap aman dalam keadaan
yang demikian bahwasanya mereka itu adalah disusupkan ke tengah-tengah barisan
Ahlussunnah demi merusak dan mengadu domba. Maka semisal mereka tidak boleh
diberi posisi dan tidak diangkat dari kadar mereka hingga tampak dari mereka
taroju’ yang shohih dan tobat yang murni. Hanya saja kenyataannya tidak
demikian. Abdulloh bin Mar’i telah membatalkan perkataannya terdahulu
untuk tidak memberikan kedudukan pada mereka itu. Dia memberi mereka kedudukan
untuk berkhothbah, mengajar yang selain itu sehingga setelah itu menjadi fitnah
terhadap manusia. Bahkan dirinya menjadikan mereka sebagai tentara dalam
hizbiyyahnya yang baru ini untuk membantah Ahlussunnah dan mencerca mereka dan
menuduh mereka dengan kezholiman, kedustaan dan kebohongan.” (selesai penukilan
dari “Zajrul ‘Awi”/3/hal. 34-35/Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy Al Hadhromiy).
Maka alangkah jauhnya Ahlu Dammaj –segala pujian hanya milik Alloh semata- dari
Haddadiyyah, dan alangkah dekatnya Ahlul Fuyusy kepada Haddadiyyah. Maka tiada
kesamaran bagi kami –dengan taufiq dari Alloh- perbedaan antara kedua kelompok
ini.
﴿قَدْ فَصَّلْنَا الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ
يَفْقَهُونَ﴾ [الأنعام/98].
“Sungguh Kami telah merincikan
ayat-ayat bagi orang-orang yang memahami.”
[PASAL KESEMBILAN
BELAS:
SETELAH MEREKA MENUDUH AL IMAM AL ALBANIY DENGAN PERKARA-PERKARA
YANG BESAR, MEREKA MENAMPAKKAN PUJIAN KEPADA BELIAU DAN MENYEBARKAN KITAB-KITAB
BELIAU]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه اللهberkata: Dan pada
hari-hari ini nampak pada situs internet mereka “Al Asyariy” judul-judul
sebagai berikut:
1- “At Tauhid Awwalan Ya
Du’atal Islam” karya Al ‘Allamah Al Albaniy
2- “Iqtironul ‘Ilmi Bis Saif Fi
Da’watil Imam Muhammad bin Abdil Wahhab” karya Al ‘Allamah Al Muhaddits Al
Kabir Albaniy
3- “Asy Syaikh Al Albaniy
Yaruddu ‘Alalladzina Ya’rifunal Haqq Wa Yaktumunah”. Aku katakan: Ini adalah
agar mereka bisa mencerca -dengan kedustaan dan kebohongan- Ahlussunnah karena
mereka tak mau menolong Haddadiyyin dan tak mau mendukung kedustaan mereka dan
prinsip-prinsip mereka yang menentang dasar-dasar Salafiyyah dan manhaj Salaf.
4- “Az Zakah” karya Al ‘Allamah
Asy Syaikh Muhammad Al ‘Utsaimin
5- “Az Zakah Wa Fawaidiha”
karya Al ‘Allamah Al ‘Utsaimin
Komentar saya:
Ini juga bagian dari kemunafikan dan talawwunat Haddadiyyah untuk mencari ridho
manusia, dan menyedot –menghilangkan- kemarahan Salafiyyin, serta untuk
melanjutkan makar mereka –Haddadiyyah-. Al Imam Al Wadi’iy rohimahulloh
berkata: “Hizbi siap untuk memiliki lima wajah. Rosululloh -shalallohu ‘alaihi
wa sallam- bersabda:
«إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ
الَّذِى يَأْتِى هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ».
“Sesungguhnya orang yang paling
jelek adalah yang bermuka ganda, yang mendatangi pihak sini dengan suatu wajah,
dan menemui pihak sana dengan wajah lain.” (HR. Al Bukhori (6058) dan
Muslim (6454) dari Abu Huroiroh رضي الله عنه).
Adapun seorang sunni, maka
sungguh dia itu memegang teguh agamanya, baik si fulan ridho ataupun tidak.
Beda dengan hizbiyyin.” (“Tuhfatul Mujib” /290).
Dan syaikh kami An Nashihul
Amin dan yang bersama beliau adalah Salafiyyun, mereka teguh di atas kebenaran
dengan dalil-dalilnya. Mereka tidak peduli terhadap penyelisihan orang yang
menyelisihi, ataupun kemarahan orang yang marah, ataupun keridhoan orang yang
ridho. Al Imam Asy Syafi’iy berkata kepada Yunus bin Abdil A’la رحمهما الله : “Ridho manusia itu adalah puncak yang
tak bisa digapai. Dan tiada jalan untuk selamat dari mereka. Maka engkau harus
memegang apa yang bermanfaat bagimu, lalu tekunilah dia.” (“Siyaru A’lamin
Nubala”/10/hal. 89/Biografi Al Imam Asy Syafi’iy/Ar Risalah).
Ahmad bin Harb bin Fairuz An
Naisaburiy رحمه الله
berkata: “Aku beribadah kepada Alloh selama limapuluh tahun, maka aku tidak
mendapatkan kemanisan ibadah hingga aku meninggalkan tiga perkara: Aku
meninggalkan keridhoan manusia hingga akupun sanggup untuk berbicara dengan
kebenaran. Dan aku meninggalkan persahabatan dengan orang-orang fasiq hingga
akupun mendapatkan persahabatan dengan orang-orang sholih. Dan aku tinggalkan
manisnya dunia hingga akupun mendapatkan manisnya akhirat.” (“Siyaru A’lamin
Nubala”/11/hal. 34/Biografi Ahmad bin Harb/Ar Risalah).
Maka bagaimanakah setelah ini
semua dikatakan bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang
bersama beliau حفظهم الله haddadiyyun, bersamaan dengan besarnya
perbedaan di antara kedua golongan ini!? Maka tidaklah pantas Ahlu Dammaj yang
kokoh di atas Salafiyyah itu ditanya tentang apa yang dikerjakan oleh
Haddadiyyun. Alloh ta’ala berfirman:
﴿لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ
وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾ [البقرة/134]،
“Mereka akan mendapatkan apa
yang mereka kerjakan, dan kalian juga akan mendapatkan hasil dari apa yang
kalian kerjakan. Dan kalian tidak ditanya tentang apa yang mereka kerjakan.” (QS.
Al Baqoroh: 134).
Dan Alloh سبحانه berfirman:
﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾
[الأنعام/164].
“Dan seorang yang berbuat dosa
tak akan memikul dosa orang lain.”
Sebagian orang-orang yang punya
kecemburuan dan kewaspadaan telah menetapkan di dalam risalah-risalah mereka
bahwasanya Mar’iyyun itu hizbiyyun dan punya sifat-sifat yang buruk tadi. Maka
mereka lebih berhak untuk dijuluki sebagai Haddadiyyah, sekalipun dibela oleh
siapapun.
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Aku katakan: Mereka itu
mencerca beliau –yaitu Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin- dan saudara-saudara beliau
dari kalangan kibarul ulama sejak gerakan Haddadiyyah mereka yang pertama
bangkit dan pada langkah yang baru yang berhadapan dengan manhaj salafiy dan
para pemikulnya dan membantah ucapan-ucapan mereka yang shohihah yang
menyelisihi manhaj mereka yang rusak. Syaikh mereka sendiri telah mencerca
kedua syaikh tersebut: Al Albaniy dan Ibnu ‘Utsaimin. Maka cukuplah hal itu
sebagai bukti permainan mereka dan upaya untuk menaburkan abu ke dalam mata.
Komentar saya:
Tidak ada pada syaikh kami yang mulia dan orang yang bersama beliau kejahatan
macam ini. Mereka juga tidak bermain-main, tidak mencerca kibarul ulama ataupun
shighorul ulama –jika ungkapan macam ini pantas diucapkan-. Mereka juga tidak
membantah perkataan yang benar, dan tidak pula memiliki ide untuk membikin
manhaj yang tersendiri. Mereka itu kokoh –sesanggup mereka- di atas apa yang
disebutkan oleh Al Imam Al ‘Auza’iy رحمه الله : “Wajib bagimu untuk meniti jejak Salaf
sekalipun manusia menolakmu. Dan hindarilah olehmu pendapat-pendapat para tokoh
sekalipun mereka menghiasinya untukmu dengan perkataan yang indah.” (“Asy
Syari’ah”/Al Ajurriy/hal. 67/Darul Kitabil ‘Arobiy).
KRITIKAN ILMIYYAH DI ANTARA AHLUSSUNNAH KETIKA TERJADI KESALAHAN ITU
WAJIB, DAN BUKANLAH TERMASUK THO’N (CERCAAN)
Pembicaraan ini seperti
terulang, akan tetapi kelalaian sebagian manusia menuntutku melakukannya agar
mereka sadar.
Ahlu Dammaj dan yang bersama
mereka tidaklah mencerca ulama yang istiqomah di atas kebenaran. Adapun masalah
kritikan ilmiyyah telah lewat penjelasan kami. Dan dari Abu Sa’id Al Khudriy
رضي الله عنه
bahwasanya Rasululloh r bersabda:
لا يمنعن أحدكم هيبة الناس أن يقول في حق
إذا رآه، أو شهده، أو سمعه
“Sungguh janganlah sampai
kewibawaan manusia itu menghalangi salah seorang dari kalian untuk mengucapkan
yang benar jika melihatnya atau menyaksikannya atau mendengarnya.”
Dalam satu riwayat:
«لا يمنعن أحدكم مخافة الناس أن يقول بالحق
إذا شهده أو علمه».
“Sungguh janganlah sampai rasa
takut pada manusia itu menghalangi salah seorang dari kalian untuk mengucapkan
yang benar jika menyaksikannya atau mengetahuinya.”
Lalu Abu Sa’id berkata:
فحملني على ذلك أني ركبت إلى معاوية فملأت
أذنيه ثم رجعت.
“Maka aku menaiki kendaraanku
berangkat kepada Mu`awiyah, kemudian aku penuhi kedua telinganya, kemudian
akupun pulang.”
(HR. Ahmad ((11793)/cet. Ar Risalah) dengan
sanad shohih, dan dishohihkan pula oleh Al Imam Al Albaniy dalam “Ash Shohihah”
((no. 168)/Maktabah Al Ma’arif), dan asal hadits dishohihkan oleh Al Imam Al
Wadi’iy dalam “Al Jami’ush Shohih” ((no. 414)/cet. Darul Atsar).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Oleh karena itulah wajib
hukumnya menjelaskan keadaan orang yang keliru dalam hadits dan riwayat, dan
orang yang keliru dalam berpendapat dan fatwa, dan orang yang keliru dalam
zuhud dan ibadah, sekalipun orang yang salah dan berijtihad tadi kesalahannya
diampuni, dan dirinya mendapatkan pahala karena ijtihadnya. Maka penjelasan
ucapan dan amalan yang ditunjukkan oleh al Kitab dan as Sunnah itu wajib
sekalipun ada pada yang demikian itu penyelisihan terhadap ucapan dan amalan
orang tadi.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 233-234).
Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Maka ketika itulah makabantahan
terhadap ucapan yang lemah, dan penjelasan kebenaran yang menyelisihinya dengan
dalil-dalil syar’iyyah itu bukanlah perkara yang dibenci oleh para ulama itu,
bahkan hal itu merupakan perkara yang mereka cintai dan mereka memuji pelakunya
dan menyanjungnya. Maka hal itu tidak masuk ke dalam bab ghibah secara
keseluruhan. Seandainya ada orang yang membenci untuk ditampilkannya
kesalahannya yang menyelisihi kebenaran, maka kebenciannya tadi tidaklah
teranggap, karena kebencian dimunculkannya kebenaran jika menyelisihi ucapan
orang tadi bukanlah sifat yang terpuji. Bahkan wajib bagi seorang muslim untuk
mencintai munculnya kebenaran, dan mencintai agar para Muslimin mengetahui
kebenaran tadi, sama saja apakah hal itu mencocoki dirinya ataukah
menyelisihinya. Dan ini termasuk dari bagian nasihat untuk Alloh, untuk
kitab-Nya, Rosul-Nya, agama-Nya , dan pemimpin Muslimin dan orang awamnya. Dan
yang demikian itulah agama ini sebagaimana diberitakan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم. (“Al Farqu Bainan Nashihah Wat Ta’yiir”
/3/hal. 467/Majmu’ Rosail Ibni Rojab)
Saya katakan وفقني الله: jika orang yang berbuat salah tadi dari
kalangan Ahlussunnah –bahkan dari ulama Ahlussunnah-, maka perbaikannya itu
wajib sebagaimana telah lewat penjelasannya. Maka bagaimanakah jika kebatilan
tadi muncul dari orang yang tampak jelas pembangkangannya, nyata pengikutannya
terhadap hawa nafsu, dan terang penyimpangannya dari kebenaran, serta terlihat
makarnya terhadap pembawa kebenaran? Maka yang seperti ini lebih pantas lagi
untuk dihadapi dan keadaannya itu diterangkan kepada manusia.
JIKA AHLUL HAQ DIAM TERHADAP AHLUL AHWA NISCAYA AKAN MEMBESARLAH
KEBATILAN
Jika Ahlul haq diam terhadap keburukan pengekor hawa nafsu pastilah agama umat
ini akan rusak. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَلَوْلَا دَفْعُ الله النَّاسَ بَعْضَهُمْ
بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ الله ذُو فَضْلٍ عَلَى
الْعَالَمِينَ﴾ [البقرة/251].
“Seandainya Alloh tidak menolak
(keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah
bumi ini. tetapi Alloh mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”
Al Imam Ibnu Qutaibah رحمه الله berkata: “Hanyalah kebatilan itu menjadi
kuat dengan dia itu didiamkan.” (“Al Ikhtilaf Fil Lafzh”/karya beliau/sebagaimana
dalam kitab “Ash Showarif ‘Anil Haqq”/Hamd bin Ibrohim Al ‘Utsman/hal.
140/Darul Imam Ahmad).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Setiap kali orang yang tegak
dengan cahaya kenabian itu melemah, maka menguatlah kebid’ahan.” (“Majmu’ul
Fatawa”/3/hal. 104).
Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata: “Hanyalah ahlul batil itu bisa
bekerja dan menjadi rajin manakala ilmu itu menjadi tersamar sementara
kebodohan itu muncul, bersamaan dengan kosongnya medan ini dari orang yang
berkata: “Alloh berfirman” dan “Rosululloh bersabda”. Maka ketika itulah mereka
menjadi berani untuk menentang lawan mereka dan rajin untuk melakukan kebatilan
mereka, dikarenakan tidak adanya orang yang mereka takuti dari kalangan ahlul
haqq wal iman dan ahlul bashiroh.” (“Majmu’ Fatawa Wa Maqolat Ibnu Baz”/4/hal.
75/Dar Ashiddaul Mujtama’).
Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan kebid’ahan itu muncul jika
Ahlussunnah tidak melaksanakan penyebaran sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم –sampai pada ucapan beliau:- maka
jika sunnah itu muncul, maka sungguh bid’ah itu akan pergi dari negri yang di
situ ada sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal.
155-156/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).
Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Al Basyir
Al-Ibrohimi -rohimahulloh- berkata: “Wajib bagi seorang alim agama
ini untuk bersemangat dalam memberikan petunjuk ketika bersemangatnya kesesatan
itu dan untuk bersegera di dalam menolong kebenaran ketika dia melihat kebatilan sedang
melawannyaserta untuk menyerang kebid’ahan, kejelekan serta kerusakan
sebelum menjadikuat dan semakin memuncak, sebelum manusia menjadi terbiasa
dengannya dan meresap dalam hati-hati mereka sehingga sulit untuk mencabutnya.
Maka wajib atas seorang alim untuk terjun ke tengah-tengah kancah sebagai
mujahid, janganlah dia menjadi orang yang tertinggal di belakang dan hanya
duduk-duduk saja. Hendaknya juga untuk berbuat sebagaimana yang dilakukan oleh
para pengobat pemberi nasehat di tempat-tempat terjangkitnya wabah penyakit
untuk menyelamatkan manusia dan untuk menyadarkan orang-orang yang berada dalam
kesalahan, bukannya berjalan bersama mereka, tetapi berusaha untuk membubarkan
perkumpulan mereka di atas kesalahan tersebut.” (“Al-Atsar”/karya
beliau/4/110-111/sebagaimana dalam kitab “Ash Showarif ‘Anil Haqq”/Hamd bin
Ibrohim Al ‘Utsman/hal. 143/Darul Imam Ahmad).
Dikarenakan pentingnya hal ini maka para imam Salaf yang sangat cemburu
terhadap agama mereka tegak melaksanakan tugas ini sekalipun sangatlah berat di
dalam jiwa.
Al Imam Ibnu Wadhdhoh رحمه الله menyebutkan bahwasanya Asad bin Musa
berkata dalam kitabnya yang ditulis kepada Asad bin Furoth: “Ketahuilah, wahai
Saudaraku. Bahwasanya yang menggerakkanku untuk menulis surat kepadamu ini
adalah apa yang disebutkan oleh penduduk setempatmu mengenai kesholehan yang
telah Alloh anugerahkan kepadamu yang diantaranya adalah keadilanmu terhadap
sesama manusia, keadaanmu yang baik dengan menampakkan sunnah, celaanmu
terhadap ahli bid’ah dan banyaknya celaanmu terhadap
mereka. Sehingga Alloh menghancurkan mereka dan menguatkan
punggung-punggung Ahlus Sunnah melalui tanganmu dan menguatkanmu di atas mereka
dengan cara membongkar aib dan mencela mereka. Maka Alloh pun menghinakan
mereka dengan hal tersebut. Maka jadilah mereka itu pun bersembunyi dengan
kebid’ahan mereka. Maka bergembiralah wahai Saudaraku dengan pahala amalanmu
tersebut. Anggaplah hal tersebut termasuk amalan baikmu yang lebih utama dari
sholat, haji dan jihad. Dimanakah keutamaan amalan-amalan tersebut dibandingkan
dengan menegakkan Kitabulloh dan menghidupkan Sunnahnya?!” (Al-Bida’ wan Nahi
‘Anha oleh Ibnu Wadhdhoh/1/hal. 7).
Al Imam Ibnu ‘Asakir رحمه
الله berkata:
Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad biografi Imam Ahmad bin ‘Aunillah Abu Ja’far
Al-Andalusi (tahun 378H): “Dahulu Abu Ja’far Ahmad bin ‘Aunillah adalah seorang
yang senantiasa ber-ihtisab (mengharapkan pahala) dalam bersikap
keras terhadap ahlul bida’ dan menghinakan mereka, mencari kejelekan-kejelekan
mereka, bersegera untuk menimpakan bahaya kepada mereka, pijakannya sangat
keras terhadap mereka, mengusir mereka jika bisa menguasai mereka tanpa
menyisakan mereka. Orang yang termasuk dari mereka merasa takut kepada beliau
dan bersembunyi dari beliau. Beliau tidak berbasa-basi pada seorangpun
dari mereka sama sekali, tidak berdamai dengannya. Apabila beliau mendapati
suatu kemungkaran dan menyaksikan
suatu penyimpangan terhadap Sunnah, maka beliau menentangnya, membeberkan
kesalahannya, secara terang-terangan menyebut namanya, berlepas diri darinya
dan mencercanya dengan sebutan kejelekan di depan khalayak ramai, dan
menyemangati masyarakat untuk menghukumnya hingga membinasakannya atau bertobat
dari buruknya madzhabnya dan jeleknya aqidahnya. Beliau terus-menerus mengerjakan
yang demikian, berjihad pada yang demikian dalam rangka mencari wajah Alloh
hingga berjumpa dengan Alloh عز جل beliau punya kisah-kisah terkenal dan
kejadian-kejadian yang disebut-sebut orang dalam menghadapi orang-orang yang
menyimpang”. (“Tarikh Dimasyq”/5/hal. 118/biografi Ahmad bin ‘Aunillah Abu
Ja’far).
Maka barangsiapa menyatakan
bahwasanya orang yang menegakkan kewajiban ini berdasarkan Al Kitab dan As
Sunnah bahwasanya dia itu Haddadiy yang tolol, memecah belah dakwah, maka
sungguh orang yang yang menuduh tadi telah berbuat kejahatan dan kezholiman.
[PASAL KEDUA PULUH:
SIKAP SALING MENOLONG DI KALANGAN MEREKA DALAM DOSA DAN
PERMUSUHAN]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi kesebelas: Sikap Saling
Menolong di Kalangan Mereka Dalam Dosa, Permusuhan, kezholiman, dan baku tolong
dalam kedustaan, kejahatan, dan pembentukan dasar-dasar yang batil.
Komentar saya:
Yang kedelapan belas dari sifat haddadiyyah adalah: Sikap Saling Menolong di
Kalangan Mereka Dalam Dosa dan Permusuhan untuk menghadapi Ahlussunnah. Dan ini
adalah harom. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ
وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا الله إِنَّ الله شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ [المائدة/2].
“Dan janganlah kalian baku
tolong dalam dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kalian kepada Alloh,
sesungguhnya Alloh Maha keras siksaan-Nya.”
Juga berfirman:
﴿ثُمَّ أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ
أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ
عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ﴾[البقرة/85].
“Kemudian kalian (Bani Israil)
membunuh diri kalian (saudara kalian sebangsa) dan mengusir segolongan daripada
kalian dari kampung halamannya, kalian bantu-membantu terhadap mereka dengan
membuat dosa dan permusuhan“
Ini juga cocok dengan Mar’iyyun. Bukankah baku tolongnya mereka bersama
hizbiyyin yang terdahulu dan sebagian dari penulis gelap untuk memerangi
prinsip-prinsip Salafiyyah kecuali sebagai saksi yang terbaik terhadap baku
tolong mereka dalam dosa dan permusuhan?
Bukankah baku tolongnya mereka
bersama sebagian polisi pemerintah untuk menimpakan keburukan kepada Salafiyyun
kecuali sebagai saksi yang terbaik terhadap baku tolong mereka dalam dosa dan
permusuhan?
Bukankah baku tolongnya
sebagian dari mereka dengan sebagian orang-orang kementrian Waqof untuk
mengambil masjid-masjid Ahlussunnah kecuali sebagai saksi yang terbaik terhadap
baku tolong mereka dalam dosa dan permusuhan?
Contohnya adalah: Masjid Al
Imam Al Albaniy di kawasan Baitu ‘Iyadh di propinsi Lahj. Telah sempurna
pemabilannya pada tanggal 2/9/2007 M. mereka berbuat itu dengan minta bantuan
dari tanda tangan orang-orang awam setelah mereka dihasung untuk memusuhi imam
masjid tersebut. Dan pelaksaannya dari jalur kementrian waqof. Kemudian nampaklah
bahwasanya sebagian nama dan tanda tangan itu adalah palsu. Manakala sebagian
orang awam itu mengetahui hal tersebut maka bersegeralah mereka mengembalikan
masjid tersebut kepada imamnya dari kalangan Ahlussunnah. Akhirnya masjid tadi
dikembalikan.
Contoh yang lain: Masjid Al
Bukhoriy di desa MahAlloh di propinsi Lahj. Masjid ini diambil dari tangan imam
dan khothib masjid masjid tersebut melalui aparat keamanan. Kemudian imam tadi
dipenjara dan diberhentikan dari jabatan sebagai imam dan khothib masjid
melalui jalur kementrian Waqof. Abdul ‘Aziz bin Abdil Karim sang imam masjid
tadi berkata: “Mereka membakar jiwa masyarakat untuk membenciku dikarenakan
saya dalam fitnah ini berdiri bersama kebenaran, dan saya mengharuskan diri
saya untuk diam setelah mengetahui kebenaran tadi. Hanya saja para pengikut
Abdurrohman Al ‘Adniy tidak ridho dengan yang demikian itu yang mana mereka
mengirimkan sesseorang yang bernama Muhammad Al Khidasiy, dn dia dulunya
termasuk dari pelajar di Dammaj, dan dia termasuk pengikut Abdurrohman Al
‘Adniy. Mereka menyewa rumah untuknya di samping masjid, lalu dirinya membuat
kekacauan di masjid dan mengadu domba mayarakat dengan diriku, dan membuat
dars-dars tanpa seidzinku dan tak mau rujuk kepadaku padahal telah diketahui
bahwasanya aku telah menghentikan seluruh kegiatan dimasjid demi menjauhkan
terjadinya keruwetan apapun. Hanya saja mereka itu –pengikut Abdurrohman Al
‘Adniy- bersikeras untuk melangsungkan dars-dars dan ceramah-ceramah. Demikian
pula mereka menyelenggarakan pengumpulan tanda-tangan dari orang-orang awam
untuk mengeluarkan diriku dari keimamahan masjid, padahal telah diketahui
bahwasanya diriku adalah imam masjid ini dengan gaji tertentu dari Departemen
Perwakafan dan Bimbingan di propinsi.
Dan demikianlah, setelah
terkumpulnya tanda tangan-tanda-tangan, mereka memperingatkan
orang-orang awwam, anak-anak kecil penduduk desa untuk menjauhi
Syaikh Yahya dan Darul Hadits Dammaj, dan tidak menziarahi istana ilmu ini.
Kemudian mereka semakin keras
kepala untuk melakukan muhadhoroh di masjidku untuk dua orang dari pengikut
Abdurrohman yaitu Abdul Ghofur As Syarohbiy dan Muhammad Al Khidasyiy tanpa
sepengetahuanku, tatkala aku melarang muhadhoroh maka berdirilah sebagian orang
yang ta’asshubdengan Abdurrohman mengeluarkanku dari masjid. Dan mereka
memadamkan lentera dan lampu dan memanggil petugas keamanan dan membawaku
kemudian aku dipenjarakan tanpa satu sebabpun, dan menyogok dengan memberi
harta kepada penanggung jawab pemerintah untuk memecatku dari imam.
Mereka mendapatkan sambutan
baik dari orang-orang yang membenci dakwah Salafiyyah dari
orang-orang isytirokiyyah (sosialis) dan memenuhi
keinginan mereka serta membantu mereka dalam urusan ini, sebagaimana mereka
mengusirku dari tempat tinggalku di masjid dengan cara yang keji dan licik yang
mana mereka memutus sambungan listrik untuk keluargaku, mematikan air di musim
panas. Maka aku sampaikan hal tersebut kepada bagian penanggung jawab bagian,
akan tetapi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, aku telah diusir secara resmi
dari rumahku dengan bantuan hizbyyyin dari orang-orang yayasan dan yang
lainnya.
Tatlaka orang-orang
yang ta’asshub mendatangkan petugas keamanan mereka memprovokasi
mereka untuk menyeretku saat aku sedang menyampaikan muhadhoroh dan mereka
memprovokasi orang-orangawwam…” dan seterusnya. (Rujuk “Mukhtashorul
Bayan”/hal. 25-26).
Dan apa sih makna ucapan dua
orang yang mengunjungi Abdurrohman Al ‘Adniy: “Sesungguhnya Al Bakri telah
jatuh, maka bangkitlah Anda” selain baku tolong untuk membuat makar terhadap
Dakwah Salafiyyah di Yaman? Maka Mar’iyyun Barmakiyyun itulah haddadiyyun dalam
bab ini.
Adapun syaikh kami yang mulia
dan orang yang bersama beliau رعاه الله maka tidak ada pada beliau perkara-perkara
ini. Tidaklah kami menyatakan bahwa mereka itu ma’shumun (terlindungi dari
kesalahan) akan tetapi seorang hamba jika takut kepada Alloh dan mencurahkan
kerja kerasnya untuk mengetahui kebenaran kemudian mengikutinya sesanggupnya,
dan juga untuk mengetahui kebatilan kemudian menjauh darinya sejauh-jauhnya,
dan mohon ampun pada Robbnya atas-dosa-dosanya dan mengakui
kekurangan-kekurangannya, maka sesungguhnya Alloh tak akan menyia-nyiakan
pahala orang-orang yang berbuat ihsan.
Maka Mar’iyyun itulah
Haddadiyyun. Dan Ahlu Dammaj mereka itulah Salafiyyun.
[PASAL KEDUA PULUH SATU:
SIKAP ‘INAD MEREKA TERHADAP KEBENARAN SETELAH DIJELASKANNYA
KEBENARAN TADI, TERUS-MENERUS DI DALAM KEBATILAN, DAN PEMUTARBALIKAN FAKTA
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله : Sisi yang keduabelas: Mukabaroh (pengingkaran
terhadap perkara yang sangat terang) dan ‘Inad (pembangkangan terhadap
kebenaran setelah diberi penjelasan) dan terus-menerus di dalam kebatilan dan
berlama-lama di situ, ditambah lagi kelancangan yang mengherankan dalam
membalik perkara, menjadikan yang benar jadi batil, dan yang batil jadi benar,
kejujuran jadi kebohongan, kebohongan jadi kejujuran, orang-orang hina jadi
gunung, gunung jadi orang hina, mengagungkan apa yang dihinakan oleh Alloh, dan
menghinakan apa yang diagungkan oleh Alloh, menuduh lawan mereka yang bersih
dengan penyakit-penyakit mereka yang membinasakan.
Komentar saya:
Yang kesembilan belas dari sifat Haddadiyyah adalah: ‘Inad (pembangkangan
terhadap kebenaran setelah diberi penjelasan) dan terus-menerus di dalam
kebatilan. Dan ini adalah karakter hizbiyyin, termasuk dari mereka adalah
Mar’iyyun. Dan saya telah sebutkan yang demikian itu dalam kitab “At Tajliyyah
Li Amarotil Hizbiyyah” (cet. Al Mathbu’atus Salafiyyah/Shon’a).
Dan tidak ada pada syaikh kami
yang mulia dan juga orang yang bersama beliau karakter ini. Maka barangsiapa
berkata yang selain itu maka hendaknya dia mendatangkan burhan kepada kami.
﴿أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ * فَأْتُوا
بِكِتَابِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين﴾ [الصافات/156، 157]
“Atau apakah kalian mempunyai
bukti yang nyata? Maka bawalah kitab kalian jika kalian memang orang-orang yang
benar.” (QS. Ash Shooffat: 156-157).
Yang kedua puluh dari sifat Haddadiyyah adalah:Pemutarbalikan fakta. Dan saya
telah menyebutkan bahwasanya hal itu termasuk dari sifat Mar’iyyah dalam kitab
“At Tajliyyah Li Amarotil Hizbiyyah” (cet. Al Mathbu’atus Salafiyyah/Shon’a).
Termasuk dari pemutarbalikan fakta yang diupayakan oleh Abdurrohman Al ‘Adniy
adalah: bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله ingin menolong para ikhwah dari ‘Adn –atas
permintaan mereka sendiri- dengan menyampaikan nasihat lewat telpon kepada
masyarakat ‘Adn dalam perkara yang terkait dengan penyebaran kerusakan di
sana.([30])
tapi Abdurrohman Al ‘Adniy membalikkan hakikat dan berkata: “Sesungguhnya Asy
Syaikh Yahya tidak peduli dengan orang-orang ‘Adn.” (lihat “Haqoiq Wa
Bayan”/hal. 23).
Di antaranya juga adalah ucapan dia: bahwasanya Asy Syaikh Yahya
-hafizhohulloh- tidak ingin berdirinya markiz buat Abdurrohman Al ‘Adniy. Ini
adalah dusta dan pemutarbalikan fakta. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy telah
berkata padanya di dalam ruangan di rumah beliau: “Wahai Abu Abdillah,
janganlah engkau mengira bahwasanya kami tidak menginginkan markiz untukmu.
Bahkan kami ingin lebih dari satu markiz di ‘Adn, dan kami jika singgah di ‘Adn
kami akan singgah di tempatmu di markizmu.” Beliau juga berkata padanya:
“Engkau adalah pendukungku, dan aku adalah pendukungmu.” (Lihat “Haqoiq Wa
Bayan”/hal. 20). Berapa kali beliau menyemangatinya untuk mendirikan
markiz di kota beliau sendiri –Adn-?
Dan saya bersaksi bahwasanya
saya mendengar syaikh kami berkata demikian di depan kami semua.
Dan termasuk dalam bab ini adalah ucapan Abdurrohman Al ‘Adniy kepada saudara
kita Kamal Al ‘Adniy حفظه الله : “Wahai Kamal, ketika para masyayikh
datang, Asy Syaikh Yahya memasukkan mereka ke dalam kamarnya dan meninggalkan
diriku dan Salim Ba Muhriz di luar. Kemudian dia datang lalu memasukkan Salim
Ba Muhriz dan meninggalkan diriku di luar.” Dan sungguh Asy Syaikh Yahya حفظه الله mengabariku bahwasanya beliau
berkata: “Demi Alloh, sungguh aku telah berulang-ulang meminta mereka berdua
untuk masuk, tapi mereka berdua tak mau. Lagi pula, mereka berdua itu tidaklah
ada di luar rumah. Hanya saja mereka berdua ada di dalam rumah, antara ruangan
itu dan kamarku hanyalah satu dinding saja. Maka aku –Asy Syaikh Yahya-
berkata: “Barangkali mereka berdua terganggu dengan ruang yang sempit. Semoga
Alloh memberi Abdurrohman Al ‘Adniy petunjuk. Tidak sepantasnya hal macam ini
ada di hatinya, kecuali dari setan. Aku sama sekali tidak berbuat jelek padanya
sedikitpun. Tapi justru perbuatan jelek itu datang dari dirinya. Dia dan
sejumlah orang pergi keluar dari markiz ini menuju Shon’a tanpa seidzinku
ataupun musyawarahku, lalu mereka datang dengan membawa Asy Syaikh ‘Ubaid حفظه الله seakan-akan beliau singgah di tempat
mereka dan seakan-akan tidak ada di markiz ini seorangpun selain mereka.”
(Lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 24).
Dan termasuk dari bab ini juga
bahwasanya Abdurrohman Al ‘Adniy pada pertemuan pertama di markiz induk di
Dammaj, para masyayikh حفظهم الله menasihati mereka untuk dirinya menasihati
orang-orang yang fanatik pada dirinya. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata pada
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله: “Ini adalah disebabkan oleh dirimu.” Atau
ucapan seperti itu. Demikianlah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabari kami. Dan ini terbalik. Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy hanyalah membela diri dan markiz ini dari makar mereka.
Berita-berita tentang
pemutarbalikan para pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy ada di “Iqozhul Wisnan” (hal.
9-10), “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 18 dan 35) dan “Syarorotul Lahab” (2/hal.
8).
Adapun pemutarbalikan fakta
yang diusahakan oleh Abdulloh bin Mar’i adalah: bahwasanya dirinya puny
ide-ide yang banyak sekali dalam membuka bisnis-bisnis dengan nama dakwah, dan
setiap kali usahanya gagal dia menjadikan dakwah itulah yang memikul hutang
besar tadi sampai-sampai dia menenggelamkan dakwah ke dalam hutang-hutang.
Bacalah “Nubdzatun Mukhtashoroh ‘An Masyari’ Abdulloh bin Mar’i Al Musytaharoh”
(karya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy Al hadhromiy Asy Syihriy). Dan bersamaan
dengan itu Abdulloh bin Mar’i mencaci Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dengan berkata: “Aku mengkhawatirkan
dakwah ini dari Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy”. Lihat “Al Minzhorul Kasyif”/hal.
16).
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله juga mensifati Abdulloh bin Mar’i
bahwasanya dirinya memutarbalikkan hakikat.
Dan di antara pemutarbalikan
hakikat yang diperbuat oleh para pengikutnya –yang menamai dirinya Abdulloh bin
Robi’- yang menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy bahwasanya beliau telah merubah
alur dakwah, sebagaimana dalam tulisannya “Madza Yanqumuna ‘Alasy Syaikh Al
Hajuriy” (hal. 10). Bahkan mereka itulah yang merubah dan mengganti alur
dakwah, lalu mereka pengecut, tak berani berkata: “Iya memang, kami telah bosan
dengan jalan Salaf maka kamipun merubahnya dan menggantinya!”
Maka Mar’iyyun Barmakiyyun
itulah Haddadiyyun dalam bab ini.
[PASAL KEDUA PULUH DUA:
HADDADIYYAH DITUMBUHKAN ADALAH UNTUK MEMERANGI SALAFIYYAH, PARA
HADDADIYYUN TAK PUNYA KESIBUKAN SELAIN ITU]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Dan perkara-perkara ini
sebagiannya –lebih-lebih seluruhnya- menunjukkan bahwasanya kelompok ini
tidaklah ditumbuhkan kecuali untuk memerangi Sunnah dan Ahlussunnah. Termasuk
dari perkara yang menunjukkan hal itu adalah bahwasanya engkau pada suasana
yang susah dan ujian yang besar ini, yang mana orang-orang Yahudi dan Nashoro
serta kelompok-kelompok sesat mengeroyok Sunnah dan Ahlussunnah, engkau dapati kelompok
Haddadiyyah inilah yang menjadi mata-mata mereka dalam peperangan yang ramai
ini. Dan kelompok inilah yang paling keras peperangannya, yang mana mereka -dan
situs mereka yang dikhususkan untuk membikin fitnah itu- tak punya kesibukan
selain untuk memerangi Ahlussunnah, manhaj mereka dan prinsip-prinsip mereka
dan memerangi situs Ahlussunnah Salafiy satu-satunya “Sahab” yang mengangkat
bendera Sunnah dan membelanya dan membela Ahlussunnah.”
Komentar saya:
Sifat
Haddadiyyah yang keduapuluh satu: Haddadiyyah ditumbuhkan adalah untuk
memerangi Salafiyyah. Dan tidak ada pada syaikh kami yang mulia dan
orang-orang yang bersama beliau perkara-perkara ini. Darul Hadits di Dammaj ini
tidaklah ditumbuhkan untuk memerangi Salafiyyah dan Salafiyyun. Dan Darul
Hadits ini didirikan berdasarkan ketaqwaan sejak awal harinya. Dan Darul Hadits
ini pada hari ini masih seperti dulunya, bahkan lebih bagus lagi, dengan
karunia Alloh. Dan di antara yang memperkuat hal ini adalah kenyataan
bahwasanya para penghuninya sibuk dengan menghapal Kitabulloh, sunnah
Rosululloh صلى الله عليه وسلم, matan-matan ilmiyyah, juga sibuk belajar
dan mengajar, sibuk mentahqiq warisan-warisan Salaf, menulis kitab-kitab
ilmiyyah dalam bidang tauhid, aqidah, adab, mushtholah, fiqh, zuhd, waro’,
dakwah kepada Islam, peringatan bahaya kristenisasi, dan yang selain itu.
Barangsiapa meragukan sedikit
saja dari hal itu maka silakan mengunjungi kami sekarang juga. Demikian pula
mereka menulis risalah-risalah pembelaan terhadap sunnah dan salafiyyah dan
membongkar kejahatan-kejahan mubtadi’ah. Kesibukan mereka itu banyak dan
diberkahi إن شاء الله.
DI ANTARA PUJIAN ULAMA KEPADA DARUL HADITS DI DAMMAJ
Maka disebabkan oleh besarnya
taufiq Alloh untuk para penghuni Darul Hadits ini, para ulama memberikan
tazkiyyah kepada mereka tanpa mereka mengharap-harapkannya.
Manakala dikatakan pada
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Banna رحمه الله tentang Ahlu Dammaj: “Tidak seperti yang
diklam oleh sebagian dari mereka bahwasanya mereka telah melakukan perubahan
dan penggantian sepeninggal Asy Syaikh Muqbil.”
Maka beliau رحمه الله menjawab: “Demi Alloh, aku tidak tahu apa
yang harus kukatakan, demi Alloh, demi Alloh aku tidak tahu apa yang harus
kukatakan. Yaitu sekarang tempat yang paling utama jika kamu ingin belajar
Salafiyyah pada hakikatnya, dengan ilmu dan amal adalah Dammaj.Mekkah sekarang
dimasuki Khowwanul Muslimin. Mereka merusaknya, demi Alloh. Yang
menginginkan belajar Salafiyyah yang benar beserta amalannya adalah di Dammaj.”
Kemudian beliau berkata: “Demi Alloh mereka adalah orang-orang terbaik sekarang
ini.” (Selesai penukilan dari program “Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih
At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).
Al Akh Abdurrohman Abdulloh Al
‘Imad حفظه الله
berkata: “Bahkan al akh Abul Fida As Sudaniy bahwasanya mereka berjumpa dengan
Syaikh kami al muhaddits al ‘allamah Robi’ Al Madkholiy حفظه الله pada awal hari dari hari-hari Idul Fithr
yang diberkahi pada tahun 1429 H, lalu mereka menanyai beliau tentang
orang yang mentahdzir manusia dari Dammaj. Maka beliau menjawab: “Ini adalah
pengekor hawa nafsu.” Dst. (“Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih At
Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Aku tidak menyetujui Asy Syaikh
‘Ubaid dalam tahdzirnya dari Dammaj sama sekali. Andaikata aku tahu bahwasanya
ini ada di “Sahab” pastilah kukatakan pada ikhwah untuk menghapusnya. Dan
tidaklah seluruh apa yang ada di “Sahab” telah aku lihat.”
Ini diucapkan pada malam Rabu 3
Jumadal Akhir 1430 H. (Selesai penukilan dari situs “Al ‘Ulumus Salafiyyah”
dari sanad akh Mahdi bin Ibrohim Asy Syabwiy/“Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin
Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).
Bahkan Mar’iyyah dan Darul
Fuyusy itulah yang ditumbuhkan untuk memerangi dakwah Salafiyyah secara khusus.
Saudara kami yang mulia Muhammad bin Sa’id bin Muflih dan saudaranya Ahmad, dan
keduanya adalah penduduk Dis Timur di pesisir Hadhromaut, berkata: Bahwasanya
Salim Ba Muhriz berkata pada mereka di pertengahan tahun 1423 H: “Kita telah
selesai dari Abul Hasan. Dan giliran berikutnya akan datang menimpa Al
Hajuriy!!!”
Abdurrohman Al ‘Adniy berkata
kepada Shodiq Al ‘Abdiniy: “Tidak tahukah engkau wahai akh Shodiq bahwasanya
markiz –atau berkata: dakwah- akan pindah ke sana, karena markiz ini –yaitu
markiz Dammaj- terancam dari arah Rofidhoh.” Selesai kisah. Dan yang demikian
itu sebelum fitnah Abdurrohman Al ‘Adniy dan sebelum fitnah Hutsiyyin
(Rofidhoh).
Abdul Hakim bin Muhammad Al
`Uqoiliy Ar Roimiy berkata: “Seorang saudara dari Indonesia datang
bermusyawarah dengan Abdurrohman Al ‘Adniy dalam masalah membeli tanah di
Dammaj seharga empat juta real Yamaniy. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata:
“kunasihati engkau untuk tidak membelinya.” Lalu orang itu pergi. Maka
Abdurrohman Al ‘Adniy berkata padaku: “Nasihatilah orang itu. Ini adalah harta
yang besar. Wallohu a’lam apakah Dammaj ini akan tetap ada setelah ini
atau tidak. Bisa jadi hartanya tadi akan hilang.” Atau ucapan yang semakna
dengan itu. Dan ucapan tadi terjadi sebelum fitnah ini, dan Alloh menjadi saksi
atas perkataanku ini.”
Abul Khoththob Thoriq Al Libiy
–salah satu kepala gerombolan fitnah ini- berkata pada Akh Aiman Al Libiy
sebelum fitnah ini: “Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy akan membuka markiz
besar di ‘Adn, fasilitas lengkap, dukungan juga kuat, dan akan dinamakan “Kota
ilmu.” Dan Insya Alloh akan ada jalan keluar bagi problem para pelajar
asing.” Lalu Abul khoththob berkata lagi: “Tak akan tersisa seorang
pelajarpun di Dammaj.”
Abdulloh Al Jahdariy –pengelola
penertiban jadwal pelajaran di Dammaj, dan dulunya termasuk orang dekat dan
teman duduk Abdurrohman Al ‘Adniy- berkata bahwa dirinya dulu ingin membeli
rumah di Dammaj, maka Abdurrohman Al ‘Adniy menasihatinya untuk tidak
membeli rumah. Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “Kita tidak tapi bagaimana urusan
ini nantinya, dan apa yang akan terjadi besok.” Ucapan ini dilontarkannya pada
akhir fitnah Abul Hasan.
Dan semisal dengan ini
Abdurrohman Al ‘Adniy menasihati orang lain dengan dihadiri
Abdulloh Al Jahdariy kurang lebih dua tahun setelah itu.
Abdurrohman bin Ahmad An
Nakho’iy berkata: “Saya berkendara bersama Abdurrohman Al ‘Adniy di mobilnya
dari Mudiyah ke Laudar, saya disertai Abdul Bari Al Laudariy. Lalu Abdul Bari
Al Laudariy menanyainya: “Wahai Syaikh Abdurrohman, bagaimana kabar tentang
markiz?” Abdurrohman berkata: “Kami masih berupaya untuk itu.” Maka Abdul Bari
Al Laudariy berkata: “Ini adalah upaya yang bagus agar mereka mengakhiri
makelar di Dammaj.” Lalu dia tertawa. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy diam.
(Rujuk “Mukhtashorul
Bayan”/hal. 4-5).
Manakala makar mereka
terbongkar, dan para masyayikh berkumpul di Darul Hadits Dammaj –pertemuan yang
pertama- Abdurrohman Al ‘Adniy mengakui di hadapan mereka bahwasanya ketika
Sholih Al Bakriy telah jatuh, beberapa orang mendatanginya seraya berkata:
“Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka bangkitlah Anda.” Demikianlah Asy
Syaikh Abu Abdirrohman Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabarkan kepada kami. Dan berita ini
juga tersebut di risalah “Al Muamarotul Kubro” karya Abu Basysyar Abdul Ghoni
Al Qo’syamiy حفظه الله hal. 16.
Maka orang yang adil,
berpandangan tajam dan jujur mengetahui bahwasanya Mar’iyyun yang dibela Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy mereka itulah Haddadiyyun, sementara Asy Syaikh Yahya
Al Hajuriy dan yang bersama beliau حفظهم الله yang dituduh dengan kedustaan oleh Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy mereka itulah Salafiyyun.
[PASAL KEDUA PULUH TIGA:
TUQIYYAH DI BELAKANG GELAR ATSARIYYAH UNTUK MENYUSUP DI KALANGAN
SALAFIYYUN]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Apa yang mereka sebutkan di
dalam situs mereka yang dinamai secara dusta dengan “Al Atsariy” tentang
sebagian ulama hal itu tidak lain kecuali untuk menutupi diri mereka, dan
kecuali untuk memperkuat diri mereka dalam memerangi Ahlussunnah.”
Komentar saya:
Semata-mata gelar tanpa penerapan secara syar’iy tidaklah bermanfaat. Maka
gelarnya Haddadiyyun untuk mereka sendiri sebagai “Al Atsariy” tidaklah
bermanfaat manakala mereka menyelisihi atsar-atsar Salaf. Sebagian manusia
bersembunyi dengan gelar yang besar ini untuk membikin kerancuan kepada
manusia. Padahal perkara yang paling penting di sisi seorang mukmin adalah:
kecocokan dengan kebenaran, sama saja apakah dia menamai dirinya dengan “Al
Atsariy” ataukah tidak. Maka yang teranggap adalah hakikat perkaranya, bukan
sekedar sampulnya. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka orang yang berakal itu
melihat kepada hakikat-hakikat, hukan pada lahiriyah-lahiriyah semata.” (“Al
‘Ubudiyyah”/1/hal. 23).
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Yang terpenting adalah kejujuran
penamaan ini terhadap orang yang menamakan diri dengannya, karena pada zaman
ini telah banyak klaim dan berbangga-bangga dengan sesuatu yang tiada wujudnya
dalam kehidupan pelakunya. Berapa banyak orang yang mengaku sunniy sementara dirinya
pada hakikatnya adalah asy’ariy, atau berkata bahwasanya dirinya itu atsariy
padahal hakikatnya adalah haddadiy –sampai pada ucapan beliau:- dan
barangsiapa memang benar dia itu punya manhaj salafiy atsariy sunniy, tidak
mengapa dirinya menamai diri dengan itu –sampai pada ucapan beliau:- akan
tetapi yang paling penting adalah kecocokan dengan orang yang dinamai dengan
itu, tanpa sikap berlebihan dan tanpa pengurangan, dan tanpa penisbatan tadi
membawanya kepada ketertipuan, kekaguman pada diri sendiri, pongah, dan
meremehkan yang lain, dikarenakan orang yang demikian itu dikhawatirkan akan
tertimpa kesudahan yang buruk. Keberkahan yang paling besar itu ada pada sikap
istiqomah, tawadhu’ dan rasa butuhnya kepada Penciptanya yang Mahatinggi. (“Al
Kanzuts Tsamin”/5/hal. 32/darul Kitab Was Sunnah).
Mar’iyyun telah menempuh jalan Haddadiyyin dalam memperbanyak gelar tadi untuk
diri mereka. Para penulis gelap mereka: Abdulloh bin Robi’As Salafiy, Abu
Abdillah As Salafiy, Abu Hajir As Salafiy, ‘Ammar As Salafiydan
yang semisal mereka termasuk dalil terbesar atas apa yang kami katakan.
Kami telah sebutkan kerasnya pukulan-pukulan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy
terhadap para penulis gelap di dalam kitabku “At Tajliyah Li Amarotil Hizbiyyah”.
Maka manakala Mar’iyyun menempuh jalan yang hina ini, mereka sangat pantas
mendapatkannya.
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Dan sesungguhnya sebagian
dari amal mereka ini, pada masa-masa sulit ini, benar-benar menyingkap dengan
sangat terang bahwasanya gerombolan ini hanyalah susupan yang telah disiapkan
untuk merealisasikan sasaran dan tujuan mereka.”
Komentar saya:
Telah lewat penjelasan tentang terangnya jalan kami. Dan bukanlah syaikh kami yang
mulia itu susupan yang disiapkan untuk merealisasikan suatu sasaran dan tujuan.
Maka ucapan Asy Syaikh Robi’ ini tidaklah sesuai dengan kenyataan beliau. Saya
telah menyebutkan beberapa orang yang disusupkan ke dalam barisan kedua anak
Mar’i dari kalangan hizbiyyin yang terdahulu, sementara kedua bersaudara ini
mendiamkan kebatilan mereka, dan bahkan menyambut baik mereka. Bahkan sebagian
masyayikh juga diam saja terhadap mereka. Apa rahasianya? Maka
bukanlah Ahlu Dammaj itu Haddadiyyun, bahkan Haddadiyyun itu adalah Mar’iyyun
yang mendekat di telapak kaki sebagian masyayikh sehingga mereka melindungi
mereka dan membalaskan untuk mereka.
[PASAL KEDUA PULUH EMPAT:
PURA-PURA MENANGIS, DAN PENGAKUAN DUSTA UNTUK MENIPU MANUSIA]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Maka jangan sampai
mempedaya kalian wahai salafiyyun, tangisan bohong mereka, dan pengakuan batil
mereka, yang telah dibongkar sendiri oleh perkataan mereka, prinsip-prinsip
mereka, sikap dan akhlaq mereka, serta kedustaan mereka yang nyata dan
tersingkap bagi orang yang punya mata hati dan pengetahuan yang paling rendah
sekalipun.”
Komentar saya:
Yang
keduapuluh dua dari sifat Haddadiyyah: pura-pura menangis untuk menipu
orang-orang. Adapun Salafiyyun mereka itu berjalan di atas langkah yang jelas,
jujur, bersih, mencari ridho Alloh. Maka mereka tidak butuh untuk menipu
manusia, juga tidak butuh tangisan dusta. Mereka itu menaati Rosululloh صلى الله عليه وسلم dalam sabda beliau:
«ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا
أو ليصمت».
“Dan barangsiapa beriman pada
Alloh dan hari akhir maka hendaknya dia itu berkata yang baik atau hendaknya
dia diam saja.” (HR. Al Bukhoriy (6018) dan Muslim (47) dari Abu Huroiroh
رضي الله عنه).
Maka Salafiyyun tidak memperbanyak pengaku-akuan, lebih-lebih lagi untuk
berdusta dalam pengaku-akuan tadi. Adapun Abdurrohman Al ‘Adniy maka tanyailah
dirinya –demi Robb langit dan bumi- berapa banyaknyakah dirinya menangis di
hadapan sebagian orang demi menarik perasaan mereka. Dan demikianlah sebagian
pengikutnya sering pura-pura menangis di hadapan sebagian orang untuk menarik
perasaan mereka, tapi manakala mereka keluar dari sisi orang-orang tadi maka
sebagian dari merekapun tertawa. Maka Mar’iyyun itulah yang lebih berhak dengan
Haddadiyyah daripada Darul hadits di Dammaj. Dan ini jelas sekali bagi orang
yang punya mata hati dan pengetahuan yang paling rendah sekalipun.
[PASAL KEDUAPULUH LIMA:
LOYALITAS DAN PEMUTUSAN HUBUNGAN BERDASARKAN TOKOH-TOKOH, BUKAN
BERDASARKAN AL KITAB DAN AS SUNNAH]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi ketigabelas: “Loyalitas
dan pemutusan hubungan berdasarkan tokoh-tokoh, sebagaimana yang dilakukan oleh
Rowafidh dalam Loyalitas mereka yang dusta untuk beberapa tokoh Ahlul Bait.
Akan tetapi mereka –Haddadiyyun- membangun loyalitas dan pemutusan hubungan
berdasarkan tokoh-tokoh yang mana dia itu termasuk orang yang paling bodoh,
paling dusta, paling jahat, dan paling keras permusuhannya kepada manhaj Salafiy
dan ulamanya. Dan pengkultusan orang-orang yang bodoh tadi, yang tenggelam di
dalam kebodohan dan termasuk dalam jajaran orang-orang yang hina dengan segala
ukuran agama, umur, manhaj, aqidah dari orang yang tidak dikenal secara
keilmuan, akhlaq islamiy, adab islamiy atapun adab kemanusiaan.”
Komentar saya:
Yang keduapuluh tiga dari sifat Haddadiyyah adalah: membuat loyalitas ataupun
memutuskan hubungan dengan barometer tokoh-tokoh yang tidak ma’shum. Dan
ini adalah sifat ahlul bida’. Dan saya bersaksi dengan nama Alloh bahwasanya
syaikh kami An Nashihul Amin memerangi hal ini. Beliau bersama orang yang
bersama beliau adalah sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله : “Maka jadilah orang yang diagungkan di
sisi mereka adalah orang yang memang diagungkan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Dan
orang yang diutamakan di sisi mereka adalah orang yang memang diutamakan oleh
Alloh dan Rosul-Nya. Dan jadilah orang yang dicintai di sisi mereka adalah
orang yang memang dicintai Alloh dan Rosul-Nya, dan jadilah orang yang
terhinakan di sisi mereka adalah orang yang memang dihinakan oleh Alloh. Ini
semua sesuai dengan kadar apa yang diridhoi Alloh dan Rosul-Nya, bukan sesuai
dengan hawa nafsu.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 17).
Syaikh kami حفظه الله
telah melarang dari taqlid, dan menyebutkan ucapan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله: “Tidaklah membebek kepadaku kecuali orang
yang jatuh.”
Demikian pula masalah pujian, syaikh kami حفظه الله tidaklah menyukainya. Manakala sebagian penyair
banyak memuji beliau, beliaupun berkata pada mereka: “Semoga Alloh
membalas dirimu dengan kebaikan, dan memaafkan diriku dan dirimu. Kuingatkan
kalian dengan Alloh, kuingatkan kalian dengan Alloh, kami itu lebih rendah dari
yang demikian itu. Kami ini adalah penuntut ilmu. Kami mohon Alloh untuk
memaafkan kami. Demi Alloh kami mengakui pada Alloh عز وجل akan kelemahan dan kekurangan kami. Dan
kami mohon pada Alloh agar menerima taubat kami. Dan kami itu kurang dan banyak
dosa, sementara saudara-saudara kami حفظهم الله banyak berbaik sangka kepada kami padahal
kami tidaklah seperti itu sama sekali. Aku kasih tahu kalian, ambillah
pengetahuan ini dariku dengan sanad yang pendek: bahwasanya kami itu –demi
Alloh- tidaklah seperti itu sama sekali. Kami adalah penuntut ilmu yang lemah
dan patut dikasihani. Kami mohon pada Alloh Robbul ‘alamin agar memaafkankan
kami dan memaafkan saudara-saudara kami. Hanya pada Alloh sajalah kami mohon
pertolongan. Dan semoga Alloh membalas kalian dengan kebaikan.”
Demikianlah saya dengar ucapan
beliau itu di hadapan kami semua. Dan pernyataan ini juga disebutkan dalam
program “Fitnatul ‘Adniy” (karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin
Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).
Adapun Baromikah Mar’iyyah
mereka itulah haddadiyyun dalam bab ini. Para penulis telah menjelaskan
bahwasanya Baromikah memancangkan wala dan baro berdasarkan para tokoh, bukan
berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah. Silakan rujuk: “Al Wala Wal Baro Adh
Dhoyyiq ‘Indasy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy” (Syaikhuna An
Nashihul Amin), “Al Ajwibatus Sadidah” (Asy Syaikh Hasan bin Qosim Ar Roimiy حفظه الله /hal. 9-10), “Al Fathur Robbaniy” (karya
penulis ini sendiri وفقه الله/hal. 5-6) dan yang lainnya.
[PASAL KEDUAPULUH ENAM:
KASUS ‘UBAID BIN SULAIMAN AL JABIRIY]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Perhatikanlah bagaimana
ributnya mereka manakala Asy Syaikh ‘Ubaid Al Jabiriy mengkritik salah seorang
komandan bayi mereka, lalu mereka mengangkat harkat si bayi ini secara umur,
ilmu dan akhlaq tadi, dan mereka memperluas cercaan dan penghinaan kepada Asy
Syaikh ‘Ubaid Al Jabiriy setelah dulunya mereka berlebihan dalam
mengagungkannya sebagaimana kebiasaan mereka terhadap ulama yang lain, yang
mana mereka dulunya pura-pura mengagungkan mereka, manakala mereka menyelisihi
kebatilan tokoh mereka sekarang, dan menyelisihi mereka dalam kebatilan,
kebodohan dan kedustaan mereka, maka merekapun memperluas cercaan, pendustaan
dan penghinaan kepada para ulama tadi.”
Komentar saya:
Haddadiyyun dulu memerangi ‘Ubaid Al Jabiriy pada hari-hari istiqomahnya.
Mereka memeranginya dalam rangka fanatik kepada pemimpin-pemimpin mereka. Dan
hati-hati kami dengan hati-hati para Salafiyyin ketika itu bersama ‘Ubaid Al
Jabiriy. Kami mencintainya dikarenakan kebenaran yang ditegakkannya.
Akan tetapi manakala dirinya
menyeleweng dari kebenaran, menampakkan serangan-serangan ke Darul hadits tanpa
kebenaran, dan menyombongkan diri terhadap nasihat-nasihat yang lembut dan
bayyinah-bayyinah yang jelas, maka kamipun membencinya.
Telah banyak bantahan-bantahan
Ahlussunnah terhadap ‘Ubaid bin Sulaiman Al Jabiriy, di antaranya adalah:
1- “At Taudhih Lima Jaa Fit
Taqrirot…”/Asy Syaikh Yahya
2- “I’lamusy Syaikh ‘Ubaid”/Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy
3- “Ar Roddu ‘ala ‘Ubaid Al
Jabiriy Fi Fatwahu Fil Intikhobat”/Syaikh kami Yahya
4- “Al Qodho ‘Ala Fatwa ‘Ubaid
Fit Tilfaz Wal Kamiro”/Abdul Fattah Ash Shumaliy Al Kindiy 5- “Ad Difa’ ‘An ‘Alamil A’lam
Syu’bah ibnil Hajjaj”/Abu Abdirrohman Gholib bin Ali Al Mahwithiy
6- “Asy Syaikh ‘Ubaid Wal
A’malil Ikhtilithiyyah”/Asy Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy
7- “Al Bayanul Amin ‘Ala Anna
Na’syi ‘Ubaid Al Jabiriy Li Sholihil Bakriy Ghosysyun Lil Islam Wal
Muslimin”/Asy Syaikh Muhhamad ibnul Husain Al ‘Amudiy
8- “Bayanul ‘Ulama Fi Tahdziri
‘Ubaid”/Abu Ibrohim Ali bin Mutsanna
9- “Daf’u Buhtanil Mu’tadin ‘An
Daril Hadits Bi Dammaj”/Abu Abdirrohman Muhammad Al Khofifiy Al Libiy([31])
10- “Al Bayanul Mufid Li Ba’dhi
Ma Ashsholahu Wa Naqodhohu ‘Ilmiyyan Syaikhuna ‘Ubaid”/Asy Syaikh Abu Abdillah
Muhammad bin Abdillah Ba Jammal
11- “Bayanul Inhirofat Fi
Fatwasy Syaikh ‘Ubaid wa Da’wahu Ilal Intikhobat”/Abu Ishaq Ayyub bin Mahfuzh
Asy Syibamiy
12- “Nashihatu Abi ‘Amr Al
Hajuriy Lil Jabiriy”/Asy Syaikh Abu ‘Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy
13- “Irsyadul ‘ibad Fi Bayani
Mujanabati ‘Ubaid Lil Hikmah Was Sadad”/Asy Syaikh Abu Abdirrohman Abdulloh bin
Ahmad Al Iryaniy
14- “Ar Roddusy Syar’iy”/Asy
Syaikh Abu Abdillah Thoriq Al Khoyyath Al Ba’daniy
Dan di antara perkara yang memperkuat akan buruknya perjalanan ‘Ubaid Al
Jabiriy هداه الله
adalah: fanatisme dirinya kepada Abdurrohman Al ‘Adniy. Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy رعاه الله
dengan sangat tenang dan beradab telah menyebutkan padanya bahwasanya
Abdurrohman Al ‘Adniy sendiri telah mentahdzir ikhwah dari belajar di Jami’ah
Islamiyyah di Madinah dikarenakan di sana banyak hizbiyyun. Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy حفظه الله
berkata: “Saya tidak lupa untuk menyebutkan ucapan saudara kita yang terfitnah
akhir-akhir ini –dengan sangat menyesal- Abdurrohman Al ‘Adniy هداه الله yang telah tetap darinya dengan suaranya
pada tanggal 23 Rojab 1426 H tentang Jami’ah Islamiyyah bahwasanya Jami’ah ini
telah berubah dan jadilah yang berkuasa di situ adalah para hizbiyyun. Dia هداه الله berkata: “Secara hakiki, Jami’ah Islamiyyah
dulunya adalah termasuk menara Ilmiyyah yang megah di dunia dan di alam,
menghasilkan dan mengeluarkan para ulama. Akan tetapi pada masa-masa
terakhir banyak hizbiyyin yang menguasainya, jadi pengelola, pengajar,
doktor-doktor. Seorang manusia itu tidaklah merasa aman dirinya untuk
menghadiri ceramah seorang hizbiy, atau menghadiri dauroh musim panas yang di
situ sekelompok pengajar hizbiyyun ikut andil, maka bagaimana dengan sistem
belajar yang berkesinambungan minimal empat tahun, doktor ini hizbiy, yang ini
sururiy, yang ini quthbiy, yang ini punya kecondongan kepada tashowwuf. Maka
secara hakikat, seorang insan tidaklah merasa aman dirinya. Engkau wahai
saudaraku, andaikata diumumkan di kotamu akan diselenggarakannya dauroh musim
panas, di dalamnya akan hadir ulama sunnah, dan hadir juga di situ ahlul bida’.
Bisa jadi di antara mereka ada yang alim. Maka apa yang hendak engkau pilih?
Sementara engkau tahu bahwasanya para ulama yang hadir itu punya dars-dars
khusus di masjid-masjid mereka. Aku tidak mengira engkau perlu menimbang untuk
meninggalkan kehadiran di dauroh itu tadi, demi menjaga agamamu dan melindungi
manhajmu, dan engkau pergi ke para ulama tadi di masjid-masjid dan tempat
mereka. Dan demikianlah Jami’ah Islamiyyah, di dalamnya ada orang yang selamat,
dan ada pula orang yang jatuh, disebabkan oleh adanya para pengajar tadi. Wahai
saudaraku, empat tahun, orang ini adalah pengajar, doktor, sementara engkau
adalah murid, dia memberimu apa yang diberikannya kepadamu.Maka yang kami
nasihatkan kepada para ikhwah adalah: mereka jangan pergi ke sana. Barangsiapa
ingin ilmu maka dia harus pergi ke para ulama di kerajaan Saudi, di Yaman, dan
tempat lain. Adapun dia berjalan ke Jami’ah demi mendapatkan ijazah, apa faidah
yang hendak didapatkannya? Para ikhwah yang bergabung ke Jami’ah-jami’ah,
khususnya pada tahun-tahun terakhir ini, tidaklah kami lihat di kalangan mereka
ada orang yang mendapatkan taufiq, karena dirinya tinggal bertahun-tahun di
Jami’ah dan mendapatkan ijazah, apakah kalian mengira setelah dirinya lulus dia
mau pergi ke Dammaj –misalnya-, atau siap untuk menjadi imam di masjid salah
satu blok perumahan, di salah satu kota, atau suatu desa, ataukah berusaha
untuk mencari pekerjaan dengan ijazah yang dikeluarkannya? Jawabnya adalah: inilah
yang kami dapati dan kami saksikan, dia akan berusaha keras untuk mendapatkan
pekerjaan…” dst.
Maka Anda –’Ubaid Al Jabiriy- harus menakar untuk dirinya dan untuk orang lain
yang mengatakan yang demikian itu dengan cercaan seperti cercaan yang Anda
takarkan untuk saya. Dan kami mengharapkan dari Anda wahai fadhilatusy Syaikh وفقك الله agar Anda tidak berkelit dari yang
demikian itu sebagaimana berkelitnya musuh kita Bisyr Al Marisiy. Ini jika
tujuan yang diinginkan dalam pengobaran pembelaan terhadap Jami’ah sekarang ini
bukanlah mencari sarana untuk melindungi Abdurrohman Al ‘Adniy dan pengikutnya,
sebagaimana berita itu tersebar di tempat kami, yang mana Abdurrohman Al ‘Adniy
هداه الله
telah terang-terangan sebagaimana yang lainnya tentang telah berubahnya Jami’ah
dari keadaannya yang dulu. Dan ini menyelisihi apa yang telah Anda tetapkan
dalam risalah yang Anda namakan dengan “An Naqdush Shohih” bahwasanya Jami’ah
Islamiyyah itu Salafiyyah sampai pada hari ini, dan dia menetapkan perubahannya,
bahwasanya dirinya telah dikuasai hizbiyyun akhir-akhir ini.” (“At
Taudhih”/hal. 4-5).
Dan setelah penjelasan dari syaikh kami An Nashihul Amin رعاه الله ini, dan tuntutan beliau terhadap ‘Ubaid
Al Jabiriy agar menempuh jalan keadilan dan sportivitas, ternyata ‘Ubaid Al
Jabiriy menakar dengan dua takaran, dan tidak rela untuk menyikapi Abdurrohman
Al ‘Adniy seperti sikapnya kepada syaikh kami An Nashihul Amin yang sangat
penyabar itu, padahal ‘illahnya (sifat yang mengumpulkan antara pihak ini dan
pihak itu) adalah sama bagi orang yang punya dua mata. Bahkan ‘Ubaid Al Jabiriy
menambahi berbagai cercaan dan caci-makian terhadap syaikh kami yang mulia رفعه الله . Maka fanatisme Ubaid itu jelas.
Dan pada masa munculnya fatwa jahat yang baru dari ‘Ubaid Al Jabiriy –tanpa
bukti ataupun hujjah- yang memperingatkan para pelajar di Yaman yang luar Yaman
untuk jangan belajar di Darul hadits di Dammaj –demi menolong para hizbiyyun-
tiba-tiba saja dia mengeluarkan fatwa yang di dalamnya membolehkan
masyarakat Syam untuk belajar ke Ali Hasan Al Halabiy, padahal dia tahu
kerasnya penyelewengan orang itu. ‘Ubaid Al Jabiriy berkata tentang Ali Hasan:
“Hingga saat ini pada hakikatnya kami tidak berkata bahwasanya akh Ali mubtadi’
sesat. Akan tetapi aku menasihati agar orang-orang tidak datang kepadanya dari
luar negrinya. Adapun orang yang di dalam negrinya, lahiriyyah mereka butuh
kepadanya, dan mereka butuh kepada orang yang lebih rendah dari dia bersamaan
dengan keadaan dirinya itu, karena kami tidak tahu ada seorang alim di negrinya
sepeninggal Al Albaniy yang orang-orang bisa kembali kepadanya, berjalan
berdasarkan ucapan, fatwa dan hukumnya. Aku tak tahu seorangpun hingga saat
ini.Maka kondisi dirinya untuk orang di negrinya merujuk kepadanya, mengambil
hadits darinya, syaroh kitab-kitab aqidah-aqidah yang bersih, maka ini tidak
terlarang إن شاء الله , adapun orang dari luar negrinya
datang kepadanya, jangan, dikarenakan sekarang ini adalah waktu perang yang
sengit dalam keadaan dia menghunuskan pedangnya yang tajam kepada Ahlussunnah
tanpa henti. Semoga Alloh memaafkan kami dan dirinya. Dan kami mohon pada Alloh
agar mengembalikannya kepada kebenaran dengan pengembalian yang baik.” (Saya
telah menukilkan perkataan ini secara lengkap dari risalah “Al Jabiriy Ma’al
Halabiy” karya saudara kita yang mulia Abu Ibrohim Ali Mutsanna حفظه الله dalam risalahku “Al Fathur Robbaniy Fir
Roddi ‘Ala Abdillah Al Bukhoriy Al Muftariy Al Jani” maka silakan merujuk di
situ).
Memungkinkan bagi ‘Ubaid Al Jabiriy untuk menganjurkan Ahlusy Syam untuk
melakukan perjalanan dalam mencari ilmu sebagaimana yang dilakukan oleh As
Salafush Sholih, atau mengambil faidah dari kitab-kitab As Sunnah yang tersebar
dan kaset-kaset Salafiyyah, dan minta fatwa pada para ulama atas problematika
yang mereka hadapi, atau mengambil faidah dari murid-murid Al Imam Al Albaniy رحمه الله yang masih istiqomah. Akan tetapi ‘Ubaid
Al Jabiriy memberikan keringanan pada mereka untuk belajar kepada Ali Al
Halabiy, dan ini adalah penipuan terhadap Muslimin Syam, dan menyodorkan mereka
kepada kebinasaan, dan barangkali sekian hari kemudian mereka akan jadi
tentara-tentara pendukung Al Halabiy untuk menghadapi Ahlussunnah disebabkan
oleh barokah fatwa ‘Ubaid Al Jabiriy. Dan hanya Alloh sajalah yang dimintai
pertolongan.
Ubaid Al Jabiriy lalai –atau memang bermudah-mudah- dalam kasus menyikapi
halusnya makar ahlul bida’, sementara terlampau banyak orang yang terperangkap
dengan makar tadi. Ubaid telah menjauh dari nasihat-nasihat salaf dalam hal
ini.
Dari Asma bin khorijah رحمه الله yang bercerita: Ada dua orang dari
kalangan ahli ahwa yang masuk menemui Muhammad bin Sirin seraya berkata: “Wahai
Abu Bakr, bolehkah kami menyampaikan hadits padamu?” beliau mejawab: “Tidak
boleh.” Lalu keduanya berkata: “Maka kami akan membacakan padamu satu ayat dari
Kitabulloh عز وجل
,” Maka beliau menjawab: “Tidak boleh. Kalian yang pergi dari sisiku, atau aku
yang akan pergi.” (diriwayatkan Al Ajurriy رحمه الله dalam “Asy Syari’ah” no. (113)/ cet. Darul
Kitabil ‘Arobiy dan dishohihkan Syaikhuna Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله ).
Dari Mufadhdhol bin Muhalhil رحمه الله yang berkata : “Andaikata pelaku
kebid’ahan jika engkau duduk di sisinya, dia menyampaikan kebid ‘ahannya,
pastilah engkau akan menghindar darinya dan lari darinya. Akan tetapi dia akan
menyampaikan hadits-hadits sunnah di permulaan majelisnya, lalu memasukkan
kepadamu kebid’ahannya. Maka bisa jadi kebid’ahan itu akan bercokol di hatimu.
Maka kapankah kebid’ahan itu akan keluar dari hatimu ?” (“Al Ibanatul
Kubro”/karya Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله/no. (399)/cet. Al Faruqul
Haditsiyyah/sanad hasan).
Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله berkata: “Maka demi Alloh wahai kaum
Muslimin, jangan sampai baik sangka salah seorang dari kalian terhadap dirinya
sendiri dan terhadap keshohihan madzhabnya yang diketahuinya membawa dirinya
untuk melakukan taruhan dengan agamanya, dengan duduk-duduk dengan para
pengekor hawa nafsu, lalu berkata: “Aku akan masuk kepadanya untuk
melakukan diskusi dengannya, atau akan kukeluarkan darinya
madzhabnya.” Karena sesungguhnya ahli hawa itu lebih besar fitnahnya
daripada dajjal. Ucapan mereka lebih lengket daripada kurap, dan lebih membakar
hati daripada gejolak api. Sungguh aku telah melihat sekelompok orang yang
dulunya melaknati ahli hawa, mencaci mereka. Lalu mereka duduk-duduk
dengan mereka untuk mengingkari mereka dan membantah mereka. Terus-menerus
berlangsung ramah-tamah di antara mereka, makar tersembunyi, dan halusnya
kekufuran tersamarkan hingga akhirnya orang-orang tadi masuk ke madzhab
ahli hawa tadi.” (“Al Ibanatul Kubro”/di bawah no. 480).
Dan di antara kebatilannya juga
adalah dirinya menganjurkan Muslimin Eropa untuk hijroh ke Birmingham di
Inggris.
Jika ‘Ubaid Al Jabiriy
mengatakan: dulu para Shohabat رضي الله عنهمhijroh
ke Habasyah (Ethiopia) yang saat itu berupa kerajaan Kristen!
Maka kami jawab bahwasanya pada
saat itu tiada negara Islam di muka bumi. Dan Habasyah merupakan negara yang
bisa dicapai oleh para Shohabat رضي الله عنهمyang
rajanya melindungi kebebasan mereka untuk beribadah. Dan tidaklah hal itu
mereka lakukan kecuali setelah dapat izin dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang mendapatkan wahyu dari Alloh ta’ala.
Manakala sebagan ahlul Madinah masuk Islam dan kemudian Islam tersebar dengan
pesat di sana, Rosululloh صلى الله عليه وسلم diwahyukan oleh Alloh untuk hijroh ke
sana, hingga akhirnya Madinah jadi Negara Islam, tiada lagi hijroh ke
Habasyah. Adapun sekarang, sudah banyak Negara Islam, kenapa ‘Ubaid Al
Jabiriy justru dia menyuruh Muslimin Eropa jika ingin hijroh hendaknya hijroh
ke Birmingham Inggris?
Dan telah saya sebutkan dalam
pasal keenam sebagian dari poin-poin kebatilan ‘Ubaid Al Jabiriy yang dengannya
dia dikritik oleh ulama salafiyyin dan para penuntut ilmu.
Dan setelah
penjelasan-penjelasan yang jelas ini, dan bantahan-bantahan yang banyak, serta
bukti-bukti yang terang, maka mustahil para masyayikh dan yang lainnya tidak
tahu akan benarnya kritikan-kritikan yang beraneka ragam dari ulama Darul
hadits Salafiyyah di Dammaj dan para ulama sunnah dan pelajar yang bersama
mereka terhadap ‘Ubaid Al Jabiriy. Maka termasuk kezholiman dan ‘ashobiyyah
(fanatisme) untuk seorang manusia yang paham itu berpura-pura buta terhadap
bukti-bukti ini, kemudian bersikeras untuk menyatakan bahwasanya ‘Ubaid Al
Jabiriy itu adalah salafiy murni, dan bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله adalah haddadiy yang tolol, dan
merobek-robek dakwah Salafiyyah di seluruh penjuru alam.
Mahasuci Alloh, ini adalah
kedustaan yang besar dan kezholiman yang berat!
Maka barangsiapa punya hujjah
untuk meruntuhkan hujjah-hujjah yang bercahaya tadi yang menghasilkan keputusan
bahwasanya ‘Ubaid Al Jabiriy telah tersesat dan menyeleweng, maka hendaknya dia
menampilkannya. Adapun sekedar teriakan tanpa hujjah, maka hal itu hanyalah
teriakan yang batil dan kosong walaupun datang dari siapapun.
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata –sebagaimana telah lewat-: “Maka
bukti-bukti yang jelas membuat ribuan orang yang tidak
memiliki hujjah itu terdiam walaupun mereka itu para ulama. Kaidah
ini wajib untuk diketahui.”
Adapun ketidakmampuan untuk adu
hujjah, lalu mulai mencaci dengan perkataan: “Yahya Al Hajuriy haddadiy, safih
(tolol), merobek dakwah Salafiyyah” maka sikap yang seperti ini merupakan perbuatan
yang mana seorang dai Salafiyyah merasa malu untuk melakukannya.
Dan setelah ini, maka siapakah
yang mengharuskan kami untuk menghormati ‘Ubaid bersamaan dengan tegaknya
bayyinat, dalil-dalil dan bukti-bukti akan penyimpangannya? Al Imam Sufyan Ats
Tsauriy رحمه الله
berkata: “Jika seseorang cinta pada saudaranya karena Alloh عز وجلkemudian orang yang dicintainya
itu membuat perkara baru dalam Islam lalu dia tidak membencinya Karena
perbuatan tadi maka berarti dia tidak mencintainya karena Alloh عز وجل. (riwayat Ibnu Abi Hatim dalam “Al
Jarh Wat Ta’dil”/1/hal. 52/sanadnya shohih).
Di antara kami dan kalian
adalah Kitabulloh. Maka barangsiapa menyamakan keadaan Salafiyyun di Darul
Hadits di Dammaj dengan keadaan Haddadiyyun sekedar berdasarkan kesamaan kedua
pihak tersebut dalam ‘illah (sifat pengumpul) yang lemah –sama-sama memerangi
Al Jabiriy- maka sungguh dia telah berbuat zholim, dan mengqiyaskan perkara
dengan qiyas yang rusak. Haddadiyyun ingin merusak prinsip-prinsip Salafiyyah
dan memerangi orang yang kokoh di atas kebenaran. Mereka adalah fujjar (perobek
tabir keagamaan) dan perusak di muka bumi. Sementara para penghuni Darul Hadits
di Dammaj dan yang bersama mereka adalah orang-orang yang teguh di atas
prinsip-prinsip Salafiyyah, membelanya dan membela para pemegangnya, memerangi
orang-orang yang menyeleweng dari prinsip-prinsip Salafiyyah. Mereka
orang-orang yang bertaqwa dan berbuat perbaikan di bumi dengan taufiq Alloh,
sebagaimana mereka juga tawadhu’ kepada Alloh dengan taufiq-Nya. Maka bagaimana
kalian menyamakan pihak ini dan itu? Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian
menghukumi? Alloh ta’ala berfirman:
﴿أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آَمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ
الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ﴾ [ص/28].
“Patutkah Kami menganggap
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholih sama dengan
orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami
menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat
ma’siat?”
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan Alloh Yang Mahasuci telah
meniadakan dari hukum dan hikmah-Nya penyamaan antara dua perkara yang berbeda
dalam hukum. Alloh ta’ala berfirman:
﴿أفنجعل المسلمين كالمجرمين مالكم كيف
تحكمون﴾
“Maka apakah Kami akan
menjadikan Muslimin itu seperti Mujrimin (orang-orang yang jahat)? Ada apa
dengan kalian? Bagaimana kalian menghukumi?”
Maka Alloh mengabarkan
bahwasanya ini adalah hukum yang batil secara fitroh dan akal, tidak pantas
dinisbatkan kepada-Nya سبحانه. Alloh ta’ala berfirman:
﴿أم حسب الذين اجترحوا السيئات أن نجعلهم
كالذين آمنوا وعملوا الصالحات سواء محياهم ومماتهم ساء ما يحكمون﴾
“Apakah orang-orang yang
membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara
kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka hukumkan itu.”
Dan Alloh ta’ala berfirman:
﴿أم نجعل الذين آمنوا وعملوا الصالحات
كالمفسدين في الأرض أم نجعل المتقين كالفجار﴾
“Patutkah Kami menganggap
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholih sama dengan
orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami
menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat
ma’siat?”
Apakah engkau tidak melihat bagaimana Alloh mengingatkan akal-akal dan
memperingatkan fitroh-fitroh dengan kemampuan yang diletakkan-Nya ke dalamnya
untuk memberikan hukum kepada suatu perkara sama dengan hukum perkara yang
mirip dengannya, dan tidak menyamakan hukum di antara dua perkara yang berbeda.
Dan ini semua merupakan bagian dari timbangan yang Alloh turunkan bersama
kitab-Nya, dan menjadikan timbangan tadi sebagai sejawat kitab-Nya dan
pembantunya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 110/Darul Hadits).
Qiyas yang rusak merupakan tempat tumbuhnya kesesatan Iblis dan sumber segala
kesesatan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Kesalahan dalam qiyas itu
terjadi disebabkan oleh penyerupaan sesuatu dengan perkara yang berbeda, dan
mengambil kejadian yang menyeluruh dengan pertimbangan adanya suatu sisi
kesamaan, tanpa membedakan di antara kedua jenis tadi. Maka ini adalah qiyas
yang rusak –sampai pada ucapan beliau:- sebagian Salaf berkata: “Yang pertama
kali melakukan qiyas adalah Iblis. Dan tidaklah matahari dan bulan itu disembah
kecuali disebabkan oleh qiyas-qiyas, yaitu qiyas yang menentang nash. Dan
barangsiapa melakukan qiyas yang rusak, dan setiap qiyas yang menentang nash
tidaklah terjadi kecuali dia itu adalah qiyas yang rusak. Adapun qiyas yang
shohih maka hal itu termasuk dari timbangan yang Alloh turunkan dan tidak akan
menyelisihi nash sama sekali bahkan pasti mencocokinya.” (“Majmu’ul
Fatawa”/6/hal. 299-300).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “dan setiap bid’ah dan perkataan yang
rusak yang masuk pada agama-agama para Rosul itu maka asalnya adalah qiyas yang
rusak.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/hal. 319/Darul hadits).
[PASAL DUAPULUH TUJUH:
BERLEBIHAN DALAM MENYANJUNG ORANG YANG BERSAMA MEREKA, MANAKALA
DIRINYA MENINGGALKAN MEREKA MAKA MEREKAPUN BERLEBIHAN DALAM MENCERCANYA]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Maka keadaan mereka seperti
keadaan Yahudi bersama Abdulloh bin Salam salah seorang ulama Bani Isroil yang
dimuliakan Alloh dengan Islam. Al Bukhoriy meriwayatkan dalam “Shohih”nya
(3151) dengan sanad sampai ke Anas رضي الله عنه berkata:
( بلغ عبد الله بن سلام مقدم رسول الله صلى
الله عليه وسلم المدينة فأتاه فقال: إني سائلك عن ثلاث لا يعلمهن إلا نبي: ما أول
أشراط الساعة ؟ وما أول طعام يأكله أهل الجنة ؟ ومن أي شيء ينزع الولد إلى أبيه
ومن أي شيء ينزع إلى أخواله ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «خَبَّرَنِي بهن
آنفا جبريل». قال: فقال عبد الله: (ذاك عدو اليهود من الملائكة) ! فقال رسول الله
صلى الله عليه وسلم: «أما أول أشراط الساعة فنار تحشر الناس من المشرق إلى المغرب
وأما أول طعام يأكله أهل الجنة فزيادة كبد حوت وأما الشبه في الولد فإن الرجل إذا
غشي المرأة فسبقها ماؤه كان الشبه له وإذا سبق ماؤها كان الشبه لها». قال: أشهد
أنك رسول الله. ثم قال: يا رسول الله إن اليهود قوم بهت إن علموا بإسلامي قبل أن
تسألهم بهتوني عندك. فجاءت اليهود ودخل عبد الله البيت فقال رسول الله صلى الله
عليه وسلم: «أي رجل فيكم عبد الله بن سلام؟» قالوا: أعلمنا وابن أعلمنا،
وأَخْيَرُنَا وابنُ أَخْيَرِنا. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أفرأيتم إن
أسلم عبد الله» قالوا: أعاذه الله من ذلك. فخرج عبد الله إليهم فقال: أشهد أن لا
إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله. فقالوا: شرُّنَا وابن شَرِّنا. ووقعوا
فيه).
“Sampai kepada Abdulloh bin
Salam berita tentang kedatangan Rosululloh صلى الله عليه وسلم ke Madinah, maka diapun mendatangi
beliau seraya berkata: “Sesungguhnya saya ingin menanyai Anda tentang tiga
perkara yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi: Apa awal tanda kiamat?
Apa awal makanan Ahlul Jannah? Dari manakah seorang anak itu menjadi mirip
dengan ayahnya? Dan dari manakah dia mirip dengan paman-pamannya?” maka
Rosululloh صلى الله عليه وسلم menjawab: “Jibril telah mengabariku
akan hal itu barusan.” Maka Abdulloh berkata: “Dia adalah musuh yahudi dari
kalangan malaikat.” Lalu Rosululloh صلى الله عليه وسلمbersabda:
“Adapun awal tanda kiamat adalah api yang menggiring manusia dari timur ke
barat. adapun awal makanan Ahlul Jannah adalah tambahan hati ikan paus. Adapun
kemiripan pada seorang anak, maka seseorang itu jika menggauli istrinya lalu
air maninya mendahului air mani istrinya, maka anaknya menjadi mirip dengannya.
Tapi jika air mani istrinya mendahului air maninya, maka anaknya menjadi mirip
dengan istrinya.” Maka Abdulloh berkata: “Saya bersaksi bahwasanya Anda adalah
Rosululloh.” Kemudian dia berkata: “Wahai Rosululloh sesungguhnya Yahudi adalah
kaum pendusta. Jika mereka mengetahui bahwasanya saya telah masuk Islam sebelum
Anda menanyai mereka tentang saya mereka pasti akan berdusta tentang saya di
hadapan Anda.” Maka datanglah Yahudi, sementara Abdulloh masuk ke dalam rumah.
maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bagaimana kedudukan
Abdulloh bin Salam di sisi kalian?” Mereka menjawab: “Dia adalah orang yang
paling berilmu di antara kami, anak dari orang yang paling berilmu di antara
kami. Dia juga orang yang paling baik di antara kami, anak dari orang yang
paling baik di antara kami.” Maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bagaimana pendapat kalian
jika di masuk Islam?” mereka menjawab: “Semoga Alloh melindunginya dari yang
demikian itu.” Maka Abdulloh bin Salam keluar kepada mereka seraya berkata:
“Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan selain Alloh dan aku bersaksi
bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh.” Maka mereka berkata: “Dia adalah
orang yang paling jelek di antara kami, anak dari orang yang paling jelek di
antara kami.” Dan mereka mencacinya.”
Al Hafizh dalam “Al Fath” (7/hal. 298) dalam syarh hadits (3911) berkata:
“dalam riwayat Yahya bin Abdillah: maka kukatakan: “Wahai Rosululloh, bukankah
saya telah memberitahu Anda bahwasanya mereka adalah kaum pendusta, orang-orang
yang mengkhianati perjanjian, berbohong dan jahat?” dalam suatu riwayat:
“Mereka menghinakannya”. Maka dia berkata: “Inilah yang saya takutkan wahai
Rosululloh.”
Sisi pendalilan dari hadits ini
adalah bahwasanya Yahudi manakala mereka mengira bahwasanya Abdulloh bin Salam
akan tetap di atas kesesatan mereka dan kebatilan mereka, merekapun memujinya
dan berkata: Dia adalah orang yang paling baik di antara kami, anak dari orang
yang paling baik di antara kami.” Manakala beliau mengumumkan kebenaran,
berbaliklah mereka dengan segera, mencaci beliau dan berkata: “Dia adalah orang
yang paling jelek di antara kami, anak dari orang yang paling jelek di antara
kami.” Dan mereka mencacinya.
Dan demikianlah perbuatan Haddadiyyah
bersama para tokoh utama Ahlussunnah wal haqq, berulang kali mereka
menyanjungnya demi tujuan dan maksud yang telah mereka rencanakan dan diri
mereka. Manakala para tokoh utama tadi menghadapi kebatilan mereka dan
menyelisihi mereka, merekapun mencaci mereka satu persatu dan memerangi mereka.
Setiap kali para ulama menambahkan penjelasan tentang kebatilan mereka,
merekapun bertambah melampaui batas, bertambah dusta dan bohong kepadanya dan
jahat dalam memeranginya sampai kepada perbuatan dan ucapan yang banyak yang
setiap kelompok-kelompok yang sesat merasa malu untuk melakukannya.”
Selesai ucapan Asy Syaikh
Robi’.
Komentar saya:
Sifat
Haddadiyyah yang keduapuluh empat adalah: mereka berlebihan dalam menyanjung
(orang yang bersama mereka), lalu mereka berlebihan dalam mencerca (orang
yang meninggalkan mereka). Dulunya Yahudi menyukai Abdulloh bin Salam
sebelum beliau masuk ke dalam agama terakhir yang dibawa oleh rosululloh صلى الله عليه وسلم. Manakala mereka mengetahui masuknya beliau
ke Islam merekapun mencacinya dan membencinya. Seperti inilah sifat hizbiyyun:
mereka menyukai seseorang selama dirinya bersama mereka dalam kebatilan mereka
–atau selama dirinya tidak menyerang mereka- manakala dirinya memilih kebenaran
merekapun membencinya. Aku telah menyebutkan karakter ini beserta contoh-contoh
kisahnya dalam risalah yang lain.
Adapun syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau, mereka
dulu mencintai ‘Ubaid Al Jabiriy, mengagungkannya, dan memuliakannya karena
Alloh ta’ala. Bahkan manakala dirinya mengunjungi Yaman sesaat sebelum fitnah
ini, Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau menerimanya,
mengagungkannya, dan memuliakannya, padahal banyak masyayikh Yaman pada hari
itu yang menjauhinya (menjauhi ‘Ubaid).
Manakala muncul penyimpangannya
dan peperangannya terhadap kebenaran dan pembawa kebenaran, dan enggan untuk
kembali kepada kebenaran, syaikh kami dan para salafiyyunpun membantah
kebatilannya itu. Ini termasuk dari pelaksanaan cinta dan benci karena Alloh.
Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:
«سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله
الإمام العادل ، وشاب نشأ في عبادة ربه ، ورجل قلبه معلق في المساجد ، ورجلان
تحابا في الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه ، ورجل طلبته امرأة ذات منصب وجمال فقال:
إني أخاف الله . ورجل تصدق أخفى حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه ، ورجل ذكر الله
خاليا ففاضت عيناه». (أخرجه البخاري (كتاب الأذان/من جلس في المسجد/(660)) ومسلم
(كتاب الزكاة/فصل إخفاء الصدقة/(1031)).
“Ada tujuh golongan yang dinaungi
Alloh di dalam naungan-Nya pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya:
“Pemimpin yang adil, anak muda yang tumbuh dalam ibadah kepada Robbnya,
seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid-masjid, dua orang yang saling
cinta karena Alloh, berkumpul karena Alloh, dan berpisah pun karena-Nya,
seseorang yang diminta oleh seorang perempuan yang punya kedudukan dan
kecantikan tapi dia berkata: “Sesungguhnya aku takut pada Alloh.” Dan seseorang
yang bersedekah dan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang
diinfaqkan oleh tangan kanannya, serta orang yang mengingat Alloh sendirian
lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Al Bukhory (kitabul Adzan/Man Jalasa
Fil Masjid/(660)) dan Muslim (Kitabuz Zakah/Fadhlu Ikhfaish Shodaqoh/(1031))).
Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Yang keempat: dua orang yang
saling cinta karena Alloh عز وجل, karena hawa nafsu itu menyeru untuk
saling cinta bukan karena Alloh, karena di dalamnya ada ketaatan jiwa kepada
hasrat-hasrat dunia. Maka dua orang yang saling cinta karena Alloh, mereka
berdua memerangi jiwa mereka untuk menyelisihi hawa nafsu hingga jadilah rasa
cinta keduanya itu adalah karena Alloh tanpa ada hasrat duniawiy yang
mencampurinya. Ini berat sekali –sampai pada ucapan beliau:- sabda beliau: “berkumpul
karena Alloh, dan berpisah pun karena-Nya” ada kemungkinan beliau ingin
bahwasanya keduanya itu berkumpul atas dasar kecintaan karena Alloh hingga
kematian memisahkan keduanya di dunia, atau hingga salah satunya tidak hadir di
samping sahabatnya.
Dan mungkin juga bahwasanya beliau صلى الله عليه وسلم menghendaki bahwasanya keduanya itu
berkumpul atas dasar rasa cinta karena Alloh, maka jika salah satunya berubah
dari perkara yang mengharuskan dia dicintai karena Alloh dulu dia ada di
atasnya, maka diapun memisahkan diri darinya dengan sebab itu. Maka rasa cinta
keduanya itu berkisar pada ada atau tiadanya ketaatan pada Alloh. Sebagian
Salaf berkata: “Jika engkau punya saudara yang engkau cintai karena Alloh,
lalu dia membuat perkara baru, kemudian engkau tidak membencinya karena Alloh,
maka tidaklah rasa cintamu itu karena Alloh.” Atau dengan makna ini.”
(“Fathul Bari”/Ibnu Rojab/3/hal. 370-371/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).
Maka perbedaan antara perbuatan Haddadiyyun dengan perbuatan syaikh kami yang
orang yang bersama beliau adalah bagaikan perbedaan antara langit dan bumi.
Akan tetapi sebab-sebab kebutaan itu banyak, sehingga sebagian orang tak
sanggup membedakan hal ini.
Bahkan Mar’iyyun itu punya
bagian dalam menyerupai Yahudi dan haddadiyyun dalam bab ini. Abdurrohman Al
‘Adniy dulu memuji Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dan menyebutkan kemampuan beliau untuk
memikul dakwah, serta menyemangati orang-orang untuk mengambil ilmu dari beliau
حفظه الله.
Tapi ternyata Abdurrohman Al ‘Adniy dalam risalahnya di tengah-tengah masa
fitnahnya dalam risalah “At Ta’liqotur Rodhiyyah” bersaksi dengan nama Alloh
bahwasanya dirinya belum pernah melihat seorangpun yang menisbatkan diri kepada
ilmu –sejak dirinya belajar sampai sekarang- lebih dusta dan lebih besar
makarnya daripada syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله .
Kenyataan menjadi saksi
bahwasanya Abdurrohman Al ‘Adniy itulah yang pendusta dan pembuat makar, dan
bahwasanya hizbiyyun itulah yang pendusta dan pembuat makar.
[PASAL KEDUAPULUH DELAPAN:
PENAMAAN SESUATU BUKAN DENGAN NAMANYA]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: bersamaan dengan kejahatan,
kehinaan dan kesesatan ini semua, mereka mengklaim dengan kebohongan dan
kedustaan yang terbongkar bahwasanya mereka itu adalah Ahlussunnah, dan mereka
pura-pura saling memuji dengan itu. Maka dikatakan pada mereka apa yang
diriwayatkan dari ‘Amr ibnul ‘Ash رضي الله عنهbahwasanya
dia berkata pada Musailimah lama mengaku-aku sebagai Nabi dan mulai membacakan
pada ‘Amr رضي الله عنهkedustaannya yang dinamainya sebagai Al Qur’an,
maka ‘Amr berkata padanya: “Demi Alloh sesungguhnya engkau tahu bahwasanya aku
itu tahu bahwasanya engkau itu pendusta.”
Komentar saya:
Sifat keduapuluh lima dari Haddadiyyah: Penamaan sesuatu bukan dengan
namanya. Maka yang terpandang adalah kesesuaian dengan Al Kitab dan As Sunnah
serta Salafiyyah, bukan sekedar pengakuan. Maka barangsiapa mencocoki tiga
dasar ini, ucapannya diterima. Jika tidak demikian maka akan ditolak, siapapun
dia.
Dan telah nampak dengan jelas
kekokohan Ahlu Dammaj dan yang bersama mereka di atas Al Qur’an, As Sunnah dan
Salafiyyah dengan bayyinat yang bercahaya. Dan para salafiyyun telah
menjelaskan jauhnya Mar’iyyun dari prinsip-prinsip Salafiyyah dan upaya mereka
untuk meruntuhkannya, sekalipun mereka mengaku termasuk pengikutnya. Maka
Mar’iyyun-Barmakiyyun itu mirip dengan Haddadiyyun.
Maka termasuk dari metode Iblis
untuk menyesatkan bani Adam adalah:Penamaan sesuatu bukan dengan namanya. Alloh
ta’ala berfirman:
﴿فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا
آَدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا
يَبْلَى﴾ [طه/120].
“Maka setan membisikkan
kepadanya, berkata: Wahai Adam maukah kutunjukkan padamu pohon kekekalan dan
kerajaan yang tidak akan rusak?”
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka ini adalah makar dan tipu
daya yang pertama. Dan darinyalah para pengikutnya mewarisi penamaan perkara
yang terlarang dengan nama-nama yang disukai oleh jiwa. Maka mereka menamakan
khomr dengan ummul afroh (induk kegembiraan), dan menamakan
saudaranya sebagai suapan ketentraman, dan menamakan riba dengan mu’amalah,
menamai pajak dengan hak-hak kekuasaan, menamai kezholiman yang paling buruk
dan paling keji dengan syari’ah dewan, menamai kekufuran yang paling mendalam
–yaitu menentang sifat-sifat Robb- dengan pensucian, dan menamai
majelis-majelis kefasikan sebagai majelis-majelis kebaikan…” dst. (“Ighotsatul
Lahfan”/1/hal. 113).
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy حفظه الله berkata: “Maka seluruh Salafiyyin
–bukan hanya satu orang Amr- tahu bahwasanya kalian adalah pendusta pada
seluruh apa yang dengannya kalian berhadapan dengan Ahlussunnah. Mereka juga
yakin bahwasanya kalian itu tahu bahwasanya diri kalian adalah pendusta. Dan
kalian tak akan bisa membahayakan Islam sedikitpun. Dan kalian juga tak akan
bisa membahayakan Salafiyyah dan Salafiyyun sedikitpun. Dan percayalah
bahwasanya kalian tak membahayakan kecuali diri kalian sendiri di dunia dan
akhirat jika kalian tidak bertobat kepada Alloh dengan tobat nashuha. Jika
kalian membikin senang para musuh Alloh dan musuh manhaj Salafiy, maka yang
demikian itu tak akan membahayakan manhaj yang agung ini sebagaimana sabda
Rosululloh صلى الله عليه وسلم:
«لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا
يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذلك». صحيح مسلم (1920)
“Akan senantiasa ada sekelompok
orang dari umatku yang tampil di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka
orang yang menelantarkan mereka hingga datangnya urusan Alloh dalam keadaan
mereka seperti itu.” (HR. Muslim (1920)).
Al Imam Al Bukhoriy telah
menulis bab dalam “Shohih” beliau: “Bab sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
«لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق»
Mereka adalah ulama.”
Komentar saya:
Ini adalah perkataan yang benar. Dengan seluruh penjelasan yang telah lewat
kita mengetahui bahwasanya Haddadiyyah adalah saudari dari Mar’iyyah, dan
bahwasanya syaikh kami dan orang-orang yang bersama beliau mereka adalah
Salafiyyun yang tampil di atas kebenaran, tidaklah membahayakan mereka
banyaknya orang yang menelantarkan mereka ataupun menyelisihi mereka, dengan
seidzin Alloh. Kami mohon kepada Alloh agar mengokohkan mereka hingga datangnya
kematian, dan agar menolong mereka karena keteguhan mereka di atas Al Kitab, as
Sunnah dan As Salafiyyah, dan agar menelantarkan musuh-musuh mereka yang jahat
itu, yang keluar dari kaidah-kaidah Qur’aniyyah-Nabawiyyah-Salafiyyah,
sekalipun musuh-musuh tadi banyak jumlahnya dan berbangga-bangga dengan jumlah
yang banyak.
Al ‘Allamah Burhanuddin Al Biqo’iy رحمه الله berkata: “Dan janganlah kalian pikirkan
banyaknya ucapan para pengikut setan dan serangan cacian mereka dengan dosa dan
permusuhan kepada kita, wahai saudaraku. Mereka itu hanyalah mengatakan yang
demikian secara ghibah. Mereka dengan itu akan mendapatkan dosa dan kerugian,
karena sesungguhnyaAlloh telah menjamin datangnya pertolongan, sekalipun pelaku
kebatilan itu disertai oleh jumlah yang banyak.” (“Mashro’atut Tashowwuf”/Al
Biqo’iy/hal. 243/Darul Iman).
Al Imam Abu Bathin رحمه الله berkata: “Dan telah diketahui
bahwasanyaAhlul haqq itu sedikit jumlahnya akan tetapi mereka adalah
orang-orang yang paling agung nilainya di sisi Alloh.” (“Ar Roddu ‘Alal
Burdah”/Abu Bathin/hal. 44/Darul Atsar).
Inilah akhir dari komentar-komentar saya terhadap poin-poin isi kitab bagusnya
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله “Khuthurotul Haddadiyyah”. Dan
sekarang kita akan masuk kepada komentar terhadap poin-poin isi kitab beliau
yang bagus juga “Manhajul Haddadiyyah”. Dan hanya dengan pertolongan Alloh
sajalah kami mendapatkan taufiq.
BAB EMPAT:
BERSAMA RISALAH ASY SYAIKH ROBI’ AL MADKHOLIY “MANHAJUL HADDADIYYAH”
Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy حفظه الله berkata: “Manhajul Haddadiyyah”.
Komentar saya: Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy حفظه الله mulai masuk ke dalam penjelasan manhaj
Haddadiyyin untuk menyingkapkan kebatilan-kebatilan mereka, dan menasihati
umat. Semoga Alloh membalas beliau dengan balasan terbaik. Akan tetapi manakala
para Hasaniyyun dan Mar’iyyun memanfaatkan risalah ini untuk memukul
Salafiyyun, maka kamipun akan mulai masuk pada penjelasan akan batilnya upaya
mereka tersebut secara terperinci. Dan hanya dengan pertolongan Alloh sajalah
kami mendapatkan taufiq:
[PASAL SATU: KEBENCIAN MEREKA TERHADAP ULAMA MANHAJUS SALAFIY]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang pertama: Kebencian
Mereka Terhadap Ulama Manhajus Salafiy pada zaman ini, dan peremehan mereka
terhadap para ulama tadi, menganggap mereka itu bodoh dan sesat, membikin-bikin
kedustaan atas nama mereka, terutama Ahlul Madinah, kemudian mereka melampaui
batas hingga sampai kepada Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu Abil ‘Izz
pensyaroh “Ath Thohawiyyah”. Mereka mengulang-ulang pembicaraan di sekitar para
imam tadi untuk menjatuhkan kedudukan mereka dan menolak ucapan mereka.”
Komentar saya:
Yang keduapuluh enam dari sifat Haddadiyyah adalah: kebencian mereka pada ulama
sunnah yang kokoh di atas sunnah.Telah lewat penjelasan bahwasanya syaikh kami
dan orang-orang yang bersama beliau mencintai ulama manhaj Salafiy, yang
terdahulu ataupun yang datang setelah mereka, seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul
Qoyyim, Ibnu Abil ‘Izz pensyaroh “Ath Thohawiyyah”, dan yang lainnya. Tidak ada
pada mereka peremehan terhadap para ulama tadi, tidak pula menganggap mereka
itu bodoh dan sesat, tidak pula membikin-bikin kedustaan atas nama mereka, baik
Ahlul Madinah ataupun yang lainnya. Mereka tidak berbicara seputar para imam
tadi untuk menjatuhkan kedudukan mereka atau untuk menolak ucapan mereka.
Kami telah menjelaskan
kekokohan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau dari
kalangan ulama sunnah di atas manhaj Salaful ummah. Dan dengan sebab itulah
para Mar’iyyun memusuhi mereka dan membuat makar terhadap mereka, membangkitkan
dunia untuk memerangi mereka, dan menghasung masyayikh Yaman dan luar Yaman
untuk memerangi mereka. Maka kebencian Mar’iyyun terhadap ulama sunnah yang
kokoh itu tampak jelas sekali.
Sungguh mereka itu membenci
Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Al Muhaddits Yahya Al Hajuriy dan duapuluh ulama
–dari ulama sunnah yang kokoh dalam memerangi Mar’iyyin- حفظهم الله. ([32])
Maka Mar’iyyun mereka itulah
Haddadiyyun, bukannya Asy Syaikh Yahya dan yang beserta beliau حفظهم الله.
[PASAL KEDUA: MEREKA MEMBID’AHKAN SETIAP ORANG YANG TERJATUH KE
DALAM BID’AH]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang kedua: Mereka
membid’ahkan setiap orang yang terjatuh ke dalam bid’ah. Dan Ibnu Hajar menurut
mereka lebih keras dan lebih berbahaya daripada Sayyid Quthb.”
Komentar saya:
Yang keduapuluh tujuh dari sifat Haddadiyyah adalah: Mereka membid’ahkan setiap
orang yang terjatuh ke dalam bid’ah. Dan ini bukanlah madzhab Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy حفظه الله dan bukan pula madzhab orang-orang yang
bersama beliau. Bahkan mereka itu menegakkan hujjah sebelum menjatuhkan vonis.
Syaikh kami telah mengulang-ulang penjelasan bahwasanya kebodohan terhadap
hukum merupakan salah satu udzur yang menghalangi pembid’ahan dan pengkafiran
terhadap pelakunya. Beliau berdalilkan firman Alloh ta’ala:
﴿وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ
رَسُولًا﴾ [الإسراء/15]
“Dan tidaklah Kami menyiksa
hingga Kami mengutus seorang Rosul.”
Dan firman Alloh ta’ala:
﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ
مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ
مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾.
“Dan barangsiapa yang menentang
Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan
orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah
dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu
seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa: 115).
Dan mereka tidak berkeyakinan
bahwasanya Ibnu Hajar penulis kitab “Fathul Bari” itu lebih berbahaya daripada
Sayyid Quthb. Bahkan mereka memuliakan Ibnu Hajar, dan banyak membaca kitab-kitabnya
sambil memberikan peringatan terhadap kesalahan-kesalahannya. Asy Syaikh Yahya
Al Hajuriy berkata: “Ibnu Hajar terkena pengaruh Asy’ariyyah.”
Maka berdasarkan sisi ini –dan
sisi-sisi yang lain- bukanlah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang
bersama beliau itu Haddadiyyun.
[PASAL KETIGA: MEREKA MEMBID’AHKAN ORANG YANG TIDAK MEMBID’AHKAN
ORANG YANG TERJATUH KE DALAM KEBID’AHAN]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang ketiga: Mereka
membid’ahkan orang yang tidak membid’ahkan orang yang terjatuh ke dalam
kebid’ahan. Mereka juga memusuhi dan memeranginya. Dan tidak cukup menurut
mereka untuk dirinya berkata: “Pada diri fulan ada Asy’ariyyah” misalkan, atau:
“Fulan Asy’ariy”, bahkan engkau harus berkata: “Fulan mubtadi’” jika tidak
demikian maka dia harus diperangi, diboikot dan divonis sebagai mubtadi’.”
Komentar saya:
Yang kedelapan dari sifat Haddadiyyah adalah: Mereka membid’ahkan orang yang
tidak membid’ahkan orang yang terjatuh ke dalam kebid’ahan. Mereka juga
memusuhi dan memeranginya. Ini semua bukanlah ciri Ahlu Dammaj dan
orang-orang yang bersama mereka. Syaikh kami حفظه الله berkata: “Tidaklah setiap orang yang
terjadi padanya kebid’ahan itu menjadi mubtadi’. Para ulama punya perincian dalam
hal itu. –sampai pada ucapan beliau:- tinggAlloh orang yang tenggelam
dalam mencocoki Ahlul bida’ maka dia adalah termasuk dari mereka. Dan
barangsiapa tetap bersikeras pada suatu kebid’ahan setelah datangnya penjelasan
maka dia adalah mubtadi’.” (“Al Kanzuts Tsamin”/5/hal. 89-90/Darul Kitab Was
Sunnah).
Iya, barangsiapa berhak untuk dihukumi sebagai mubtadi’ dengan dalil-dalilnya,
maka barangsiapa telah sampai padanya hujjah-hujjah Ahlussunnah tentang
kebid’ahan seseorang kemudian dirinya membelanya, maka dia digabungkan
dengannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: ” ”Wajib untuk menghukum setiap
orang yang menisbatkan diri kepada mereka, atau membela mereka, atau memuji
mereka, atau mengagungkan kitab-kitab mereka, atau diketahui bahwasanya dirinya
itu saling bantu dan saling tolong dengan mereka, atau tidak menyukai
kritikan kepada mereka, atau mulai memberikan udzur untuk mereka,
bahwasanya perkataan mereka itu tidak diketahui apa maksudnya, atau tidak
diketahui siapakah yang menulis kitab ini, atau udzur-udzur yang seperti ini
yang tidaklah mengucapkannya kecuali orang yang bodoh atau munafiq. bahkan
wajib untuk menghukum orang yang tahu keadaan mereka dan tidak mau saling
menolong untuk menghadapi mereka, karena perjuangan untuk menghadapi mereka
merupakan termasuk kewajiban yang paling agung dst” (“Majmu’ul Fatawa” 2/132).
Al Imam Al Biqo’iy رحمه الله berkata: “Sesungguhnya orang yang
membelanya –yakni membela Ibnul Faridh- dia itu bersegera kepada orang yang
sekarakter dengan dirinya, menyerupai orang yang perbuatannya seperti perbuatan
dirinya.” (“Tahdzirul ‘Ibad”/hal. 245).
Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata tentang alamat hizbiyyah Ibrohim
bin Hasan Asy Sya’biy: “Dan di antara perkara yang menunjukkan terjerumusnya
dirimu ke dalam hizbiyyah adalah: pengingkaranmu kepadaku dan pengingkaranmu
terhadap apa yang aku sebutkan tentang hizbiyyin.” (“Dahrul Hajmah”/hal. 13/
Asy Syaikh Ahmad An Najmiy/Darul Minhaj).
[PASAL KEEMPAT: MENGHAROMKAN MENDOAKAN ROHMAT BAGI AHLUL BIDA’
SECARA MUTLAK]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Keempat: Mengharomkan
mendoakan rohmat bagi ahlul bida’ secara mutlak, tidak ada perbedaan antara
rofidhiy, qodariy, jahmiy, dan antara seorang alim yang terjatuh ke dalam
bid’ah.”
Komentar saya:
Yang
keduapuluh Sembilan dari sifat Haddadiyyah: Mengharomkan mendoakan rohmat bagi
ahlul bida’ secara mutlak.Syaikh kami telah mendoakan rohmat bagi Ibnu Hajar,
An Nawawiy –dan seluruh imam- di sela-sela jam pelajaran beliau dengan doa
rohmat yang tak bisa menghitung banyaknya kecuali Alloh. Yang demikian itu
adalah dikarenakan mereka berdua menurut Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy adalah
termasuk dari imam Muslimin, yang bisa benar dan bisa salah, kaki keduanya
telah tergelincir ke dalam sebagian ta’wilat, maka beliau mendoakan rohmat
untuk keduanya. Hanya saja beliau tidak mendoakan rohmat bagi orang kafir atau
orang yang berada pada hukum kafir.
Adapun tentang mendoakan rohmat
bagi ahlul bida’, Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya: “Apakah diharomkan mendoakan
rohmat bagi ahlul bida’ pada saat membantah kesalahannya dan selain itu?”
Maka beliau حفظه الله menjawab: “Di antara ahlul bida’ ada orang
yang diharomkan mendoakan rohmat bagi mereka sama sekali, dan mereka itu adalah
pelaku kebid’ahan yang menyebabkan kekafiran. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ
أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُون﴾[التوبة/84]
“Dan janganlah kamu sekali-kali
menyolati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu
berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Alloh
dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik.”
Maka Alloh عز وجل
melarang nabi-Nya dari menyolati mereka, dan sholat tersebut adalah doa. Nabi
صلى الله
عليه وسلم meminta idzin pada Robbnya untuk
memintakan ampun untuk ibunya, tapi Alloh سبحانه وتعالى tidak mengidzinkan beliau. Dan beliau
meminta idzin untuk mengunjungi kuburannya maka Alloh عز وجل mengidzinkan untuk beliau, sebagaimana
dalam “Ash Shohih”([33]).
Maka para pelaku bid’ah yang
menyebabkan kefasikan setelah matinya mereka, tidak mengapa mendoakan rohmat
untuk mereka karena keumuman firman Alloh ta’ala:
﴿وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ﴾ [محمد/19]
“Dan mohonkanlah ampunan untuk
dosamu dan untuk mukminin dan mukminat.”
(“Al Kanzuts Tsamin”/4/hal. 462/Darul Kitab
Was Sunnah).
Maka barangsiapa menuduh Ahlu
Dammaj dengan Haddadiyyah maka sungguh dia telah berbuat salah, dan zholim dan
ngawur.
[PASAL KELIMA: MEMBID’AHKAN ORANG YANG MENDOAKAN ROHMAT KEPADA
SEMISAL ABU HANIFAH, ASY SYAUKANIY DAN YANG LAINNYA]
Kemudian
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang kelima: membid’ahkan
orang yang mendoakan rohmat kepada semisal Abu Hanifah, Asy Syaukaniy, Ibnul
jauziy, Ibnu Hajar dan An Nawawiy.”
Komentar saya:
Yang ketigapuluh dari sifat Haddadiyyah adalah: membid’ahkan orang
yang mendoakan rohmat kepada semisal Abu Hanifah, Asy Syaukaniy, Ibnul jauziy,
Ibnu Hajar dan An Nawawiy. Sesungguhnya Alloh ta’ala telah melindungi Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau dari penyakit ghuluw ini, dan
mereka memeranginya. Andaikata Haddadiyyun tahu bahwasanya syaikh kami An
Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau mendoakan rohmat buat seluruh orang-orang
yang disebut tadi –dan memang inilah kenyataannya- pastilah mereka akan
membid’ahkan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau. Jika memang
demikian, maka bagaimana kalian menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang
bersama beliau itu Haddadiyyun?
Sebagai faidah: Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya: “Ada sekelompok orang jika kami
katakan pada mereka: Kembalilah pada kitab-kitab Ahlussunnah seperti “Fathul
Bari Syarh Shohihil Bukhoriy”, mereka berkata: ”Kitab itu penuh dengan
kebid’ahan, maka apakah nasihat Anda untuk semisal mereka? Semoga Alloh
membalas Anda dengan kebaikan.”
Maka beliau حفظه الله
menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang sesat dan bodoh. Kitab “Fathul
Bari Syarh Shohihil Bukhoriy” adalah termasuk dari ktab-kitab sunnah yang
penting yang penuntut ilmu ataupun seorang alim itu butuh dengannya. Telah
tersebar fatwa milik sebagian ghulah (orang-orang yang berlebihan) yang bernama
Mahmud Al Haddad bahwasanya “Fathul Bari” itu harus dibakar. Ketika ucapan ini
sampai kepada syaikh kami Al ‘Allamah Al Wadi’iy رحمه الله beliaupun berkata: “Andaikata Rosululloh
صلى الله
عليه وسلم tidak bersabda:
«لا يعذب بالنار إلا رب النار»
“Tidak boleh menyiksa dengan
api kecuali Robb api.”
Pastilah kami berkata:
Sesungguhnya Mahmud Al Haddad itu lebih berhak untuk dibakar daripada “Fathul
Bari”.
Adapun kesalahan-kesalahan Al
Hafizh Ibnu Hajar dan yang semisalnya رحمهم الله yang terjadi pada ta’wil sebagian sifat
atau terlalu melebar dalam masalah mencari barokah dengan atsar-atsar orang
sholih, maka kesalahan ini harus dijauhi, dijelaskan dan manusia diperingatkan
darinya sambil tetap mengambil faidah kitab-kitab yang bermanfaat yang penuh
dengan ilmu dan sunnah itu.” (“Al Kanzuts Tsamin”/5/hal. 65-66/Darul Kitab Was
Sunnah).
Sisi pendalilan kita di sini
adalah: perhatian syaikh kami An Nashihul Amin untuk membantah Haddadiyyah dan
menjelaskan sikap ghuluw (berlebihan), kesesatan dan penyelisihan manhajiyyah
mereka, bersamaan dengan kokohnya beliau di atas manhaj Salafiy yang
pertengahan antara ifroth(berlebihan) dan tafrith (kurang). Maka
alangkah besarnya rohmat yang Alloh jadikan ada di hati-hati para ulama sunnah
–termasuk dari mereka adalah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy-, beda dengan Haddadiyyun.
Dan alangkah besarnya kejahatan orang yang menuduh beliau sebagai Haddadiy,
tolol, dan merobek dakwah Salafiyyah.
[PASAL KEENAM: PERMUSUHAN YANG KERAS TERHADAP SALAFIYYUN YANG
MEMBELA SUNNAH]
Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه
الله berkata:
“Yang keenam: Permusuhan yang keras terhadap Salafiyyun sekalipun telah
mencurahkan kerja keras untuk mendakwahkan Salafiyyah dan membelanya, dan
sekalipun telah mencurahkan kerja keras untuk menghadapi bid’ah, hizbiyyah dan
kesesatan. Mereka juga memusatkan konsentrasi kepada Ahlul Madinah, kemudian
kepada Asy Syaikh Al Albaniy رحمه
الله karena
beliau termasuk dari ulama besar manhaj Salafiy, yaitu: beliau termasuk
ulama Sunnah yang paling keras menghantam hizbiyyin, ahlul bida’ dan ahlut
ta’ashshub. Salah seorang dari Haddadiyyun telah mendustakan Ibnu ‘Utsaimin
dalam majelisku sepuluh kali sehingga aku sangat marah, dan diapun aku usir
dari majelisku. Kemudian mereka menulis kitab-kitab dalam masalah itu dan
menyebarkan kaset-kaset, dan menyebarkan seruan-seruan untuk menentang ulama
Sunnah. Mereka memenuhi