KARAKTER HADDADIYYAH
DALAM DISKUSI ILMIYYAH
(Bagian Sepuluh)
(Komentar
terhadap isi Kitab “Khuthurotul haddadiyyatil Jadidah Wa Aujuhusy Syabah
Bainaha Wa Bainar Rofidhoh” dan Kitab “Manhajul Haddadiyyah” dan Ucapan Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy Pada Akhir Tahun 1432 H)
Diperiksa
Oleh:
Fadhilatusy
Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy Al
Yamaniy
Dan
Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy
Al Hajuriy
Al Yamaniy
حفظهما الله ورعاهما
Penulis:
Abu Fairuz
Abdurrohman Al Indonesiy
Al Qudsiy
Aluth Thuriy
عفا الله عنه
Pengantar
Penerjemah
الحمد لله وأشهد لأ إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صلى
وسلم على محمد آله وأصحابه أجمعين أما بعد:
Dengan pertolongan
Alloh semata kita akan memasuki seri kesepuluh dari terjemah kitab “Shifatul
Haddadiyyah Fi Munaqosyatun ‘Ilmiyyah”. Pada kesempatan ini kita akan
membahas kepura-puraan Haddadiyyun menempel pada kebesaran nama Al Imam Ahmad,
dan kemiripan Mar’iyyun dengan mereka.
Kemudian
membahas hubungan sebagian haddadiyyun dengan para hizbiyyin dan orang-orang
fasiq.
Kemudian
kita masuk akhir tulisan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله tentang sifat Haddadiyyun, tuntutan beliau kepada Abul
Hasan yang menuduh Salafiyyun sebagai haddadiyyun, dan nasihat-nasihat beliau
kepada para Salafiyyun. Dan para pembaca akan melihat –dengan taufiq dari
Alloh- bagaimana tanpa susah payah kalimat-kalimat tadi berbalik kepada orang
yang mengucapkannya.
Kemudian
penjelasan bahwasanya tuduhan-tuduhan Mar’iyyun terhadap Salafiyyun Dammaj
kebanyakannya berbalik kepada mereka sendiri. Dan memang benarlah ucapan ulama
bahwasanya ahlul bida’ itu jika berdalil dengan suatu dalil syar’iy
ataupun dalil aqliy, dalil-dalil tadi justru menjadi argumentasi untuk
menghantam mereka sendiri, bukan untuk mendukung mereka.
Kemudian
penjelasan para ulama bahwasanya barangsiapa telah mengetahui dalil kemudian
dia mengamalkan yang menyelisihi dalil tadi maka dia itu termasuk mubtadi’.
Kemudian kita
masuk pada Bab Lima: Kezholiman Orang yang menuduh Ahlussunnah Di Dammaj
Sebagai Haddadiyyun. Penjelasan tentang makna “baghyu”, hukumnya dan bahayanya.
Dan berisi pembelaan Fadhilatusy Syaikh Al Mufti Ahmad An Najmiy رحمه الله untuk Ahlu Dammaj sepeninggal Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله.
Kemudian
kita masuk pada Bab Enam: Apakah Upaya Menampilkan Kebenaran Itu Dinilai
Merobek Dakwah?
Kemudian
kita masuk pada Bab Tujuh: menolong Ahlul Haq Dengan Dalil-dalilnya Bukanlah
Suatu Fanatisme Ataupun Taqlid
Kemudian
saya sebutkan peristiwa yang terjadi di masjid “Al Bukhoriy” di Lahj, yang
mana Kisah nyata ini memberikan faidah ilmu tentang penyelewengan
Mar’iyyun, bagi orang yang punya mata hati. Adapun bagi orang yang telah
dibutakan oleh ta’ashshub dan kedengkian, maka ayat-ayat itu tidaklah
bermanfaat bagi orang-orang yang tidak yakin, sekalipun telah datang pada
mereka seluruh ayat.
Juga berisi
pembahasan tentang hakikat ilmu. Dan bahwasanya Ahlu Dammaj dalam fitnah ini
benar-benar di atas ilmu dan hujjah.Bahkan hizb Mar’iyyah yang menuduh
Ahlussunnah di Dammaj dengan Haddadiyyah, mereka itulah yang berdiri di atas
dugaan dan persangkaan semata, tanpa bayyinah.
Saya
cukupkan sampai di sini kata pengantar ini, dan seri kesepuluh ini adalah akhir
dari rangkaian terjemahan kitab ini. tiada upaya ataupun kekuatan kecuali
dengan pertolongan Alloh. Dan segala pujian hanyalah milik Alloh saja.
Perlu saya
tambahkan bahwasanya terjemahan ini adalah terjemahan dari risalah yang selesai
saya perbaiki pada tanggal 25 Syawwal 1432 H. adapun jika di kemudian hari saya
memandang ada yang perlu saya rubah atau saya sesuaikan, maka itulah yang إن شاء اللهakan saya lakukan demi mengurangi kesalahan
yang pasti ada.
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ
الْحِسَابُ [إبراهيم/41]
“Ya Robb
Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin
pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)".
Selamat
menyimak, semoga Alloh memberkahi kita semua.
Pasal
Kelimabelas:
Pura-pura Menempel Pada Kebesaran Nama Al Imam Ahmad
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang keduabelas: mereka dulu sering menempel
pada kebesaran nama Al Imam Ahmad. Manakala dijelaskan penyelisihan Al Haddad
terhadap Al Imam Ahmad dalam mensikapi ahlul bida’ mereka mengingkari hal itu
dan menuduh orang yang menisbatkan yang demikian itu kepada Al Imam Ahmad.
Kemudian Al Haddad berkata: “Kalaupun hal itu shohih dari Al Imam Ahmad, maka
kita tidaklah membebek kepada beliau.” Mereka itu tidaklah mencintai kebenaran
dan tidak pula mencari kebenaran. Mereka itu hanyalah menginginkan fitnah dan
merobek Salafiyyin.”
Komentar
saya:
Sekedar
penisbatan suatu kelompok kepada seorang tokoh yang agung, atau mengklaim
bahwasanya beliau itu termasuk dari mereka tanpa mau mengikuti jalan beliau
yang mencocoki kebenaran tidaklah cukup. Dulu Ahlul Kitab menisbatkan diri
mereka kepada Bapak para Nabi, yaitu Ibrohim sang kekasih عليه السلام. Maka penisbatan mereka itu tidak bisa menolong mereka
dari adzab Alloh manakala mereka menyelisihi jalan beliau.
Alloh ta’ala
telah membantah penisbatan mereka yang bohong tersebut dengan berfirman:
﴿أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ
وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ
نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ الله وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ
شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ الله وَمَا الله بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ﴾ [البقرة/140].
“Ataukah
kalian (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma'il,
Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau
Nasrani?" Katakanlah: "Apakah kalian lebih mengetahui ataukah Alloh,
dan siapakah yang lebih zholim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari
Alloh yang ada padanya?" dan Alloh sekali-kali tiada lengah dari apa yang
kalian kerjakan.”
Juga
berfirman:
﴿مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا
نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ
وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَالله وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ﴾ [آل عمران/67، 68].
“Ibrohim
bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah
seorang yang lurus lagi Muslim dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan
orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah
orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang
beriman (kepada Muhammad), dan Alloh adalah pelindung semua orang-orang yang
beriman.”
Al Imam Al
Qurthubiy رحمه
الله berkata: “Alloh ta’ala
mensucikan Ibrohim dari pengakuan-pengakuan dusta mereka, dan Dia menjelaskan
bahwasanya beliau itu ada di atas Hanifiyyah (memusatkan perhatian pada Alloh
dan berpaling dari selain-Nya) Islamiyyah, dan beliau itu bukanlah seorang
musyrik.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/4/hal. 109).
Karakter
Haddadiyyah yang busuk itu memang demikian, mereka menisbatkan diri mereka
kepada Salafush Sholih, padahal alangkah besarnya perbedaan antara orang yang
ke timur dengan orang yang ke barat. Dan demikianlah sifat Mar’iyyin:
mereka menisbatkan diri mereka kepada Salafush Sholih, tapi manakala dijelaskan
pada mereka prinsip-prinsip Salafiyyah yang mereka selisihi, mereka tak mau
kembali. Mereka juga menempelkan diri kepada Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله, tapi manakala dijelaskan pada mereka penyelisihan mereka
terhadap jalan agama beliau, mereka tak mau kembali. Mereka juga bersembunyi di
balik Asy Syaikh Robi’ وفقه الله, tapi manakala para salafiyyun membantah mereka dengan
ucapan-ucapan beliau yang jelas, dan salafiyyun menjelaskan pada mereka
penyelisihan mereka terhadap jalan agama beliau dan manhaj beliau, mereka tak
mau bertobat dan tak mau kembali.
Adapun
syaikh kami dan ulama sunnah yang bersama beliau, mereka semua menisbatkan diri
mereka kepada Salafush Sholih dengan jujur, mereka menimbang aqidah, ucapan,
perbuatan dan keadaan dengan apa yang dulunya generasi yang utama itu ada di
atasnya. Mereka juga kembali kepada kebenaran walaupun terasa pahit. Dan tiada
seorangpun kecuali bisa diambil ucapannya ataupun ditolak, kecuali
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam. Adapun ‘inad terhadap
kebenaran maka sungguh hal itu adalah sebab kerusakan di tengah-tengah
makhluq.
Setiap orang
bisa saja menisbatkan dirinya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Tapi jika datang
ujian, terpisahlah emas dari kuningan. Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh-
berkata: "Ujian dan cobaan itu akan menampakkan jati diri orang-orang.
Maka alangkah cepatnya orang yang mengaku-aku itu terbongkar keasliannya."
("Badai'ul Fawaid"/3/hal. 751).
Al Imam Al
Wadi’iy رحمه
الله menyitir penggalan
bait:
ومن تزيا بغير ما هو فيه فضحته شواهد الامتحان. ("غارة
الأشرطة"/1/ص537).
“Dan
barangsiapa bergaya bukan dengan sifat aslinya, saksi-saksi ujian akan
menyingkapkan jati dirinya.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 537).
[Pasal keenam Belas: Mereka
Memiliki Hubungan Dengan Hizbiyyin]
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Bersamaan dengan berdalam-dalamnya Haddadiyyun
untuk perkara tadi, para Salafiyyun melihat adanya hubungan-hubungan sebagian
mereka dengan para hizbiyyin, dan sebagian mereka berhubungan dengan
orang-orang fasiq pada waktu yang mana saat itu mereka memerangi Salafiyyin dan
meluapkan dendam yang amat sangat pada mereka. Barangkali mereka menyembunyikan
kejahatan yang banyak. Alloh sajalah yang paling tahu tentang apa yang mereka
rencanakan.
Catatan
saya:
Demikianlah
karakter Ahlul Kitab dan Ahlul Batil sebagaimana firman Alloh ta’ala:
﴿تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى﴾ [الحشر/14]
“Engkau
mengira mereka itu bersatu, padahal hati-hati mereka itu berselisih.”
Qotadah رحمه الله berkata tentang tafsir ayat ini: “Engkau akan mendapati
ahlul batil itu persaksian mereka berbeda-beda, hawa nafsu mereka berbeda-beda,
perbuatan mereka juga berbeda-beda, akan tetapi mereka bersatu untuk memusuhi
ahlul haq.” (“Tafsir Ath Thobariy”/23/hal. 292/Darut Tarbiyyah Wat Turots)(1).
Para
hizbiyyun juga memiliki akhlaq ini. Mereka sanggup untuk bersatu dengan makhluq
yang paling jahat untuk memukul Ahlussunnah.
Yang
berlangsung pada Abdurrohman Al 'Adniy وفقه الله adalah kumpul-kumpulnya dia bersama sebagian hizbiyyin dan
upayanya untuk mendekatkan sebagian hizbiyyin yang lain:
Pertama: Abdurrohman
Al 'Adniy وفقه
الله dalam
ceramah-ceramahnya memanggil dan berkumpul bersama Ali Al Hudzaifiy, padahal
orang ini adalah seorang hizbiy yang telah di-jarh oleh Al Imam Al Wadi’iyرحمه الله.
Kedua: upayanya
mendekati Sholah Ali Sa’id yang dulu bersama Abul Hasan dan tidak nampak
darinya tobat, dan dulu dia ini mencerca sebagian ulama. (lihat satu dan dua
ini di “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 13/ Kamal Al ‘Adniy).
Ketiga: Upayanya
untuk berkumpul dengan Jalal bin Nashir, padahal Al Imam Al ‘Allamah Al
Wadi’iy رحمه
الله telah
mengkritiknya, dan dia itu masih ada pada thobaqot pengikut Abul Hasan.
(Bacalah beritanya di “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 13).
Keempat: Dia
menjadikan Abdul Ghofur bin ‘Ubaid Asy Syarjiy Al Lahjiy sebagai sahabat
kepercayaannya. Saya harus menyingkap keadaannya dikarenakan tertipunya
kebanyakan Salafiyyun dengannya.
Orang ini
dulu terdidik di kalangan hizbiyyin di Jami’ud Da’wah Shon’a. dia dulu adalah
murid setia dari Abdul majid Ar Roimiy hizbiy (sururiy). Dulu Abdul Ghofur Al
Lahjiy termasuk pembawa bendera Jam’iyyatul Hikmah untuk menentang Ahlussunnah.
Dia punya penipuan dan pengkhianatan serta penipuan dalam kasus pembelian tanah
di wilayah “Wahth” di Lahj yang menunjukkan rakusnya dia terhadap dunia, pengkhianatan,
lemahnya kejujuran sampai-sampai orang awampun bersaksi yang demikian. (lihat
“Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 10).
Akh Husain
bin Thoha Al Lahjiy juga bersaksi bahwasanya dirinya itu tak bisa dipercaya.
(lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 8).
Dia juga
suka menghinakan orang-orang. Salah seorang tetangganya yang Salafiy telah
menulis beberapa pengaduan dan keluhan akan gangguannya. Dia juga terkenal suka
menjilat kepada ulama. (“Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 10).
Dia juga melakukan
berbagai tipu daya untuk mengambil harta milik orang lain atas nama pembangunan
masjid. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 9).
Dia juga
melakukan kezholiman yang besar dalam kasus pembangunan masjid “Al Musawiy”
(lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2).
Dia juga
melakukan kebatilan yang hina sekali untuk menjatuhkan imam masjid “Al Khothib”
yaitu saudara kita Muhsin Labbah (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal.
4), dan (“Tanbihus Sajid”/hal.3).
Abdul Ghofur
Al Lahjiy ini juga imam di suatu masjid yang di situ seorang wanita hizbiyyah
mengajar. Wanita ini adalah istri Ahmad bin Ubaid, saudara Abdul Ghofur Al
Lahjiy. Ahmad bin Ubaid ini adalah anggota Jam’iyyatul Ihsan dan duduk-duduk
dengan hizbiyyin. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal.4).
Orang ini
dulu juga termasuk anggota “Baroatudz Dzimmah” dan jam’iyyatul Hikmah.
Abdul Ghofur
Al Lahjiy ini juga telah membikin beberapa makar untuk menjatuhkan imam masjid
“Sholahuddin”. Masjid ini dulu termasuk masjid Ahlussunnah yang paling terkenal
di sana, imamnya terkenal berpegang teguh dengan sunnah dan keras terhadap
hizbiyyin. Sekarang imamnya adalah seorang Hasaniy (pengikut Abul Hasan Al
Mishriy yang telah ditabdi’ oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy), ipar masjid
ini adalah kepala jam’iyyah. Masjid ini sekarang menjadi tempat ceramah
Hasaniyyun, dan mereka menolak saudara kita Sami Dzaiban (da’i sunnah di ‘Adn)
untuk berceramah di situ. Ketika Abdurrohman Al 'Adniy datang memberikan
ceramah di situ merekapun menyambutnya dengan hangat dan gembira seraya
berkata: “Wahai syaikh, di manakah Anda selama ini?” (berita dari saudara kita
Mushthofa Al ‘Adniy حفظه
الله ).
Termasuk
dari kebatilan Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga adalah apa yang akan disebutkan
oleh saudara kita Muhammad bin Ahmad Al Lahjiy حفظه الله : Abdul Ghofur berkata kepadaku –dan hanya Alloh yang ada
di antara kami berdua saat itu-: “Wahai saudara kami Muhammad, tidakkah engkau
melihat bahwasanya dakwah telah berubah? Asy Syaikh Yahya dan Asy Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab melarang kedatangan masyayikh dari Saudi.” Kukatakan
padanya: Siapakah yang mengabarimu? Dia menjawab: “Hani Buroik yang mengabariku
hal itu.” Kemudian Abdul Ghofur juga berkata: “Bahkan dakwah Asy Syaikh Muqbil
juga ada kritikan tentangnya.” (persaksian Muhammad bin Ahmad Al Lahjiy di
hadapan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan seluruh pelajar saat dars antara
maghrib dan ‘Isya).
Abdul Ghofur
Al Lahjiy ini juga sangat gigih dalam membela ahlul batil dan membela hizbiyyah
Abdurrohman Al 'Adniy.
Bacalah
berita tentangnya di “Silsilatun Nushhu Wal Bayan” ((seri 1,2,3) karya Abul
Hasan Ihsan bin Abdillah Al Lahjiy), dan juga “Al Khiyanatud Da’awiyyah” (hal.
32/karya Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy az Za’kariy), dan “Al Muamarotul
Kubro” (hal. 26/karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qo’syamiy).
Kelima:
bersatunya Abdurrohman Al 'Adniy dengan saudaranya: Abdulloh bin Mar'i Al
‘Adniy. Untuk pengkhianatan orang ini terhadap da’wah telah ada risalah-risalah
bantahan yang banyak.
Ini tadi
adalah penyerupaan Abdurrohman Al 'Adniy terhadap Haddadiyyin dalam membangun
hubungan-hubungan dengan hizbiyyin. Adapun penyerupaan Abdulloh bin Mar’i Al
'Adniy terhadap Haddadiyyin dalam bab ini adalah sebagai berikut:
Yang
termasuk dari teman kepercayaan Abdulloh bin Mar'i adalah: Salim Ba
Muhriz هداهما الله. Dialah yang berkata di
pertengahan tahun 1423 H: “Kita telah selesai dari Abul Hasan. Dan giliran
berikutnya akan datang menimpa Al Hajuriy!!!”. Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy حفظه
الله berkata tentangnya
saat terbongkarnya fitnah orang ini sekitar tahun 1429H: “Orang ini punya
fanatisme, dan tercium darinya aroma fanatisme yang keras, dan pengelompokan
yang keras, serta wala wal baro yang sempit terhadap Abdulloh bin
Mar'i dan saudaranya.
Di antara
sahabat Abdulloh bin Mar'i juga adalah sebagian pengikut Abul Hasan yang
pura-pura rujuk. Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy حفظه الله berkata: “Sesungguhnya Abdulloh bin Mar'i telah
mengumumkan dengan terang-terangan: “Sesungguhnya orang-orang yang terfitnah
dengan fitnah Abul Hasan jika mereka bertobat mereka tidak akan diberi
kedudukan.” Sementara itu, yang termasuk pengikutnya yang terbesar dari
kalangan orang-orang yang terfitnah adalah Abu Hisyam Jamal Khomis Surur.
Dia itu banyak berbolak-balik dan fitnah-fitnah. Dulu termasuk dalam jam’iyyatul
Ihsan dan menjadi termasuk orang terfitnah dengan Abdulloh Al
Ahdal yang terbesar. Kemudian dia menampakkan penggabungan diri kepada
Ahlussunnah. Kemudian datangkan fitnah Abul Hasan. Maka orang tadi gigih
dan fanatik pada Abul Hasan. Kemudian dia menampakkan rujuk dan bergabung
dengan Abdulloh bin Mar'i hingga datanglah hizbiyyah yang baru ini, maka dia
bergabung dengannya dan menjadi orang yang berada pada puncak ta’ashshub
(fanatisme) untuknya.
Dan selain
Abu Hasyim di antara orang yang fanatis dalam fitnah Abul Hasan kemudian
menampakkan rujuk seperti Abdulloh bin Ali Ba Sa’id, dan Ahmad Umar
Ba Wafi, serta Abdul Hafizh Ibrohim Al ‘Amiriy dan yang lainnya.
Mereka semua setelah fitnah Abul Hasan terfitnah oleh hizbiyyah yang baru ini.
Yang mengherankan dari mereka adalah: mereka itu termasuk orang-orang
khusus dan tokoh-tokoh kepercayaan Abdulloh bin Mar'i dalam keadaan mereka itu
seperti yang engkau lihat. Maka semisal mereka itu tidaklah pantas untuk
dipercaya walaupun untuk sebiji bawang. Mereka adalah orang-orang yang lemah
agamanya, banyak berbolak-balik. Bahkan mereka itu tidak bisa dianggap aman
dalam keadaan yang demikian bahwasanya mereka itu adalah disusupkan ke
tengah-tengah barisan Ahlussunnah demi merusak dan mengadu domba. Maka semisal
mereka tidak boleh diberi posisi dan tidak diangkat dari kadar mereka hingga
tampak dari mereka taroju’ yang shohih dan tobat yang murni. Hanya saja
kenyataannya tidak demikian. Abdulloh bin Mar'i telah membatalkan perkataannya
terdahulu untuk tidak memberikan kedudukan pada mereka itu. Dia memberi mereka
kedudukan untuk berkhothbah, mengajar yang selain itu sehingga setelah itu
menjadi fitnah terhadap manusia. Bahkan dirinya menjadikan mereka sebagai
tentara dalam hizbiyyahnya yang baru ini untuk membantah Ahlussunnah dan
mencerca mereka dan menuduh mereka dengan kezholiman, kedustaan dan
kebohongan.” (selesai penukilan dari “Zajrul ‘Awi”/3/hal. 34-35/Asy Syaikh Abu
Hamzah Al ‘Amudiy Al Hadhromiy).
Dan di
antara perkara yang menunjukkan bersatunya orang-orang fajir tersebut satu sama
lain setelah sebelumnya mereka berpisah adalah apa yang diceritakan oleh Asy
Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy حفظه الله: “… sungguh aku sebelum itu –yaitu pada permulaan kasus
pencatatan thullab yang mau beli kapling di Fuyusy- aku mengabari saudara kita
Ali bin Salim Al ‘Adniy: “Jika Asy Syaikh Abdurrohman Al 'Adniy jadi membuka
markiz maka hendaknya beliau berhati-hati dengan orang-orang itu –yaitu
orang-orang ‘Adn yang penjaga perpustakaan umum Dammaj-“ karena mereka itu pada
hakikatnya tidaklah berdiri di sekeliling Abdurrohman Al 'Adniy, dan
Abdurrohman Al 'Adniy sendiri juga tidak berdiri di sekeliling mereka. Mereka
itu tidak ada pada satu hati. Akan tetapi Mahasuci Dzat yang menyatukan
orang-orang yang bercerai-berai, dan memisahkan orang yang bersatu.”
(“Syarorotul lahab”/2/hal. 9).
Barangkali
yang termasuk dalam bab ini juga adalah masuknya Abu Malik Ar Riyasiy ke dalam
hizb baru ini padahal dulu antara dirinya dengan Yasin Al ‘Adniy permusuhan.
Mereka kemudian di Ma’bar berkumpul untuk sasaran yang sama. (rujuk “Tanbihus
Salafiyyin”/hal. 4).
Demikian
pula antara Abdurrohman Al 'Adniy dengan Yasin Al ‘Adniy, padahal perselisihan
mereka berdua di markiz Dammaj ini sangatlah terkenal.
Juga antara
Ahmad Misybah dengan Fahd bin Salim bin Sulaiman Al ‘Adniy. Fahd ini termasuk
dari musuh dari Ahmad Misybah, pembantu Yasin Al ‘Adniy. Demikian pula antara
Ahmad Misybah dengan Ali bin Salim Al ‘Adniy, mereka tak bisa saling cocok,
dari dekat ataupun dari jauh. (rujuk “Tanbihus Salafiyyin”/hal. 7).
Ali Al
Hudzaifiy (telah lewat penyebutannya), termasuk kepala dalam fitnah ini di
‘Adn, ternyata sekarang jadi orang dekatnya Abdurrohman Al 'Adniy setelah
keduanya saling bermusuhan. Ali sendiri dulunya menghina Abdurrohman Al 'Adniy.
(rujuk “Tanbihus Salafiyyin”/hal. 9).
Adapun
syaikh kami dan tokoh-tokoh yang bersama beliau, mereka itu memisahkan diri
dari ahlul batil sekalipun dalam keadaan yang sempit. Mereka kokoh di atas apa
yang diucapkan oleh As Salafush Sholih untuk menjauhi ahlul ahwa, dan mereka
teguh di atas apa yang diucapkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Dan
kami menasihati Ahlussunnah untuk tamayyuz (memisahkan diri dari
Ahlul bida’) dan membangun masjid-masjid untuk diri mereka sendiri sekalipun
dari batu lempung ataupun dari pelepah kurma, karena mereka tak akan sanggup
menyebarkan sunnah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- kecuali dengan
cara tamayyuz. Jika tidak demikian, maka ahlul bida’ itu tak akan
membiarkan mereka menebarkan As Sunnah.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 208/Darul
Atsar).
Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy حفظه
الله berkata: “Kami
menasihatkan kalian untuk tamayyuz karena bercampur dengan ahlul batil itu
merupakan penyia-nyiaan terhadap kebenaran. Rosulullohصلى الله عليه وسلم bersabda:
«من سمع بالدجال فلينأ عنه».
“Barangsiapa
mendengar kedatangan Dajjal maka hendaknya dia menjauh darinya.”(2)
Juga
bersabda:
«الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل». (15 شعبان 1430 هـ).
"Seseorang
itu berdasarkan agama teman dekatnya. Maka hendaknya seseorang dari kalian itu
memperhatikan dengan siapa dia berteman dekat."(3)
(ucapan
beliau ini dicatat tanggal 10 Sya’ban 1430 H).
Beliau حفظه الله juga berkata: “Ukuran tamayyuz menurut Ahlussunnah adalah:
kekokohan di atas kebenaran sambil menjauhi ahlul batil.” (ucapan beliau
ini dicatat tanggal 15 Dzul Qo’dah 1430 H).
Beliau حفظه الله juga berkata: “Tamayyuz dari ahlul batil merupakan prinsip
yang paling mendasar. Tidaklah fitnah itu keluar kecuali dikarenakan tidak
adanya tamayyuz dari ahlil batil. Dan dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunnah
serta ijma’ salaf menunjukkan yang demikian itu.” (ucapan beliau ini
dicatat tanggal 20 Jumadats Tsaniyah 1431 H).
Ini dia
manhaj Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau. Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy sendiri telah tahu itu dan mengakui hal itu. Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy dalam kritikannya kepada Abul Hasan berkata: “… Asy Syaikh Muqbil dan
para murid seniornya, karena mereka itu sejak dulu dan senantiasa memandang
harusnya memboikot pelaku hizbiyyah dan memisahkan diri dari mereka. Bahkan Asy
Syaikh Muqbil berkata: “Inilah dakwahku, dan inilah jalanku yang membedakan
diriku dari orang-orang bodoh itu.” (“Intiqod ‘Aqody Manhajiy ‘ala Abil
Hasan”/hal. 303).
Maka
hendaknya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله mengakui bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang
bersama beliau itulah salafiyyun, dan bahwasanya Mar’iyyun itulah Haddadiyyun.
s _ _ _ _ _ g
Di akhir
tulisan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه اللهtentang sifat Haddadiyyun ini beliau berkata:
“Maka apabila Abul Hasan menjelaskan kepada kita dengan dalil-dalil yang terang
bahwasanya orang-orang yang dituduhkan sebagai haddadiyyah itu punya sifat
dengan sifat-sifat ini, nanti kami akan terus-menerus mencurahkan kerja keras
untuk memvonis mereka sebagai Haddadiyyah, dan bahkan menghukum mereka dengan
tulisan tentang mereka dan memperingatkan umat dari mereka, serta menggabungkan
mereka dengan Haddadiyyah tanpa berhenti. Tapi jika dirinya tak sanggup
membuktikannya, maka dirinya wajib untuk bertobat kepada Alloh عز وجلdan mengumumkan tobatnya ini di hadapan umat. Jika tidak demikian
maka dia tak mau berbuat itu maka kami tak akan berhenti bekerja keras untuk
menolong mereka dan menolong manhaj Salafiy yang mereka berjalan di atasnya,
membela manhaj Salaf dan membela para pembawanya.”
Komentar
saya:
Risalah Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy ini adalah jawaban beliau terhadap Abul Hasan Al
Ma’ribiy yang menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang yang bersama beliau
sebagai Haddadiyyun.
Sekarang,
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله itu sendirilah yang menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy
dan orang yang bersama beliau sebagai Haddadiyyun tanpa dalil yang jelas yang
menunjukkan bahwasanya para tokoh yang mulia tadi memang punya sifat-sifat
Haddadiyyah tersebut.
Dan saya
telah menjelaskan batilnya tuduhan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy terhadap Ahlu
Dammaj bahwasanya mereka adalah Haddadiyyun, saya juga telah terangkan
kegagalan Mar’iyyun dan semisal mereka dalam menempelkan gelar Haddadiyyah
kepada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang yang bersama beliau رعاهم الله, lebih-lebih lagi untuk menjadi “Haddadiyyun ghulah”
sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian pendusta.
Maka kami
meminta kepada Samahatusy Syaikh Robi’ Al Madkholiy -sebagaimana beliau
menuntut pada Abul Hasan- agar beliau dan orang-orang yang mencocoki beliau
dalam masalah ini untuk bersikap tawadhu kepada Alloh kemudian bertobat kepada
Alloh عز وجل dari kejahatan yang besar ini, dan
untuk mengumumkan tobatnya ini di hadapan umat.
Al Imam
Ibnul Qoyyim رحمه
الله berkata:
“sebagaimana orang yang merendahkan diri untuk Alloh maka Alloh mengangkatnya,
maka demikian pula orang yang menyombongkan diri dari menaati kebenaran Alloh
akan menghinakannya, merendahkannya, mengecilkannya, meremehkannya. Dan barangsiapa
menyombongkan diri dari menaati kebenaran walaupun datang dari tangan anak
kecil, atau dari tangan orang yang dibencinya atau dimusuhinya, maka dia itu
sebenarnya hanyalah menyombongkan diri kepada Alloh, karena Alloh itulah Al
Haqq, perkataan-Nya benar, agama-Nya benar. Kebenaran adalah sifat-Nya, datang
dari-Nya, dan milik-Nya. Maka jika sang hamba menolaknya dan menyombongkan
diri dari menerimanya, maka dia itu hanyalah membantah Alloh dan menyombongkan
diri kepada Alloh.” (“Madarijus Salikin”/2/hal. 271/Darul hadits).
Dan kami
dengan seidzin Alloh akan terus-menerus menolong para Salafiyyun yang benar
yang bersih dari tuduhan tadi, dan untuk menolong manhaj Salafiy yang mereka
ada di atasnya, membela manhaj Salaf dan membela para pembawanya.
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Dan wajib bagi para Salafiyyin yang jujur untuk
menolong mereka dan menolong manhaj Salafiy yang mereka ada di atasnya, dan
menangkap tangan orang yang menzholimi mereka dan menzholimi manhaj mereka.
Dan
hendaknya mereka benar-benar berhati-hati, jangan sampai salah seorang dari
mereka terjatuh ke dalam perkara yang Haddadiyyun terjatuh ke dalamnya, atau ke
dalam sebagian perkara yang mereka terjatuh ke dalamnya. Dan ini adalah medan
pengamalan yang memisahkan antara orang yang jujur dari orang yang dusta,
sebagaimana firman Alloh ta’ala:
﴿ألم أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم
لا يفتنون ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين آمنوا وليعلمن الكاذبين﴾. انتهى النقل.
"Apakah
manusia mengira bahwasanya mereka itu dibiarkan mengatakan "Kami
beriman" dalam keadaan mereka itu tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji
orang-orang sebelum mereka sebelum mereka sehingga Alloh mengetahui orang-orang
yang jujur dan mengetahui para pendusta." (QS. Al 'Ankabut: 2-3).
Selesailah
seluruh penukilan dari kitab Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy.
Komentar
saya:
Setelah
jelasnya dalil dan burhan dan bayyinah tentang batilnya cercaan terhadap Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para Salafiyyun yang bersama beliau حفظهم الله sebagai Haddadiyyah, dan telah nampak kebersihan mereka
dari Haddadiyyah, dan nampak istiqomah mereka di atas sunnah, wajib bagi
para Salafiyyin yang jujur dan adil untuk menolong mereka dan menolong manhaj
Qur’aniy Nabawiy Salafiy yang mereka ada di atasnya, dan menangkap tangan orang
yang menzholimi mereka dan menzholimi manhaj mereka.
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا
قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ
عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ
إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون﴾ [المائدة/8] .
“Hai
orang-orang yang beriman hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah
sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum, mendorong kalian untuk
berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.
dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang
kalian kerjakan.”
Kemudian,
sesungguhnya kitab ini, sebagaimana dia itu adalah pembelaan yang jujur dan
adil إن شاء الله terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy
dan orang-orang mulia yang bersama beliau رعاهم الله demikian pula kitab ini merupakan bantahan yang jelas
terhadap Haddadiyyah, memperingatkan umat dari mereka, dan menjelaskan
kebodohan dan kebusukan mereka.
Maka
hendaknya Muslimin semua benar-benar berhati-hati, jangan sampai salah
seorang dari mereka terjatuh ke dalam perkara yang Haddadiyyun terjatuh ke
dalamnya, atau ke dalam sebagian perkara yang mereka terjatuh ke dalamnya. Dan
ini adalah medan pengamalan yang memisahkan antara orang Mukmin yang jujur dari
orang munafiq yang dusta, sebagaimana firman Alloh ta’ala:
﴿مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا
عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ
يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا * لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ
الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا
رَحِيمًا ﴾.[الأحزاب/23، 24]
“Di antara
orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka
janjikan kepada Alloh; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara
mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya),
Supaya Alloh memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena
kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima
taubat mereka. Sesungguhnya Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dan jangan
sampai dia fanatik terhadap orang yang telah tetap kebid’ahannya dan
penyelewengannya, sekalipun martabatnya besar seperti 'Ubaid Al Jabiriy dan
Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy dan yang selainnya. Dan hendaknya
kebenaran itu lebih agung di hati mereka daripada apapun juga.
Dan telah
nampak sangat jelas ketika diteliti bahwasanya Mar’iyyun itulah yang berhasil
meraih tongkat kejuaraan untuk bergabung dengan Haddadiyyun, dan pendalilan
mereka dengan ucapan-ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه اللهtentang Haddadiyyah telah berbalik menjadi
argumentasi untuk menghantam mereka sendiri. Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah رحمه
الله berkata: “Dan
demikianlah ahlul bida’, hampir-hampir mereka itu tidak berdalil dengan suatu
dalil syar’iy ataupun dalil aqliy, kecuali dalam keadaan dalil-dalil tadi
ketika direnungkan justru menjadi argumentasi untuk menghantam mereka sendiri,
bukan untuk mendukung mereka.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 254).
Saya
katakan وفقني
الله : Maka
Mar’iyyah-Barmakiyyah tidak punya hujjah syar’iyyah atas kedustaan mereka
terhadap salafiyyin tadi, ataupun juga hujjah aqliyyah. Bahkan pendalilan
mereka dengan ucapan-ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله tentang sifat-sifat Haddadiyyah hampir semuanya telah
berbalik menghantam mereka sendiri. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا
بِأَهْلِهِ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّةَ الْأَوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ
لِسُنَّةِ الله تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ الله تَحْوِيلًا﴾ [فاطر/43].
“Rencana
yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah
yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Alloh yang telah
berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan
mendapat penggantian bagi sunnah Alloh, dan sekali-kali tidak (pula) akan
menemui penyimpangan bagi sunnah Alloh itu.”
Maka
hendaknya mereka berkata:
هذه بضاعتنا ردت إلينا.
“Ini adalah
barang dagangan kami dikembalikan kepada kami.”
“Anak panah
telah kembali kepada orang yang memanahnya.”(4)
Para
salafiyyun telah mencurahkan nasihat yang banyak disertai dengan dalil-dalil
yang menunjukkan kebatilan Mar’iyyun, ternyata mereka tak mau tunduk pada Robb
mereka dan tak mau merunduk, bahkan mereka menyelisihi kebenaran dengan sengaja
dengan niat beragama sebagaimana sifat Haddadiyyun. Maka mereka adalah
mubtadi’ah. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Barangsiapa telah mengetahui dalil kemudian dia
mengamalkan yang menyelisihi dalil tadi maka dia itu termasuk mubtadi’”.
(“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 164).
Bahkan Al
Imam Al Barbahariy رحمه
الله : berkata: “Dan
barangsiapa menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, maka dia itu adalah shohibul
bida’ sekalipun dia adalah orang yang banyak riwayat dan kitab.” (“Syarus
Sunnah”/hal. 36/Darul Atsar).
Perkataan
kami “dengan niat beragama” untuk menghalangi masuknya orang yang menyelisihi
syariah karena kedurhakaan semata. Maka kami tidak berkata bahwasanya pelaku
maksiat itu mubtadi’. Akan tetapi barangsiapa melakukan perkara yang tidak
disyariatkan oleh Alloh ataupun Rosululloh dengan keyakinan bahwasanya hal itu
disyariatkan, maka dia telah berbuat bid’ah dalam Islam. maka pembatasan tadi
itu penting.
Al Imam Asy
Syathibiy رحمه
الله berkata: “Tiada
makna untuk kebid’ahan kecuali jika perbuatan tadi dalam keyakinan si mubtadi’
tadi adalah disyariatkan padahal tidak disyariatkan.” (“Al I’tishom”/1/hal.
364).
Bab
Lima:
Kezholiman
Orang yang menuduh Ahlussunnah Di Dammaj Sebagai Haddadiyyun
Ibnu
Manzhur رحمه
الله berkata: “Al
baghyu” adalah melampaui batas. Jika dikatakan: (بغى الرجل علينا بغيا) maknanya adalah menyeleweng dari kebenaran dan mencerca secara
dusta. (“Lisanul ‘Arob”/14/hal. 75).
Al Imam
Ibnul Qoyyum رحمه
الله : “Bahwasanya istilah
baghyu itu kebanyakan penggunaannya adalah pada hak-hak para hamba dan cercaan
pada mereka.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 370).
“Al Baghyu”
itu harom. Alloh ta’ala telah berfirman:
﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ
مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ
وَأَنْ تُشْرِكُوا بِالله مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا
عَلَى الله مَا لَا تَعْلَمُون﴾ [الأعراف/33]،
“Katakanlah:
"Robbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang
tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar,
(mengharamkan) mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh tidak menurunkan
hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Alloh apa yang
tidak kalian ketahui."
Firman Alloh
ta’ala:
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ
عَلَى أَنْفُسِكُمْ﴾ [يونس/23].
“Hai
manusia, Sesungguhnya (bencana) kezholiman kalian akan menimpa diri kalian
sendiri.”
Dan dari Abu
Bakroh رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم berkata:
«ما من ذنب أجدر أن يعجل الله تعالى لصاحبه العقوبة في الدنيا - مع ما يدخر له في الآخرة -مثل
البغي وقطيعة الرحم».
“Tiada satu
dosapun yang lebih pantas untuk Alloh ta’ala menyegerakan hukuman di dunia bagi
pelakunya bersamaan dengan hukuman yang disimpan-Nya di akhirat seperti al
baghyu (kezholiman pada yang lain) dan pemutusan silaturrohim.” (HR. Al
Imam Ahmad (5/hal. 36), Abu Dawud (14/hal. 200) dan yang lainnya, dihasankan
oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih” (4301)/darul Atsar).
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka orang yang baghi dan zholim itu Alloh akan
menimpakan balasan baginya di dunia dan akhirat, dikarenakan baghyu itu adalah
sebab terbantingnya dirinya.” (“Majmu’ul Fatawa”/35/hal. 82).
Al Imam
Ibnul Qoyyim رحمه
الله berkata: “Dan
telah lewat sunnatulloh bahwasanya jika ada gunung berbuat baghyu (zholim)
kepada gunung yang lain, maka Alloh akan menjadikan gunung yang zholim tadi
hancur.” (“Badai’ul Fawaid”/2/hal. 464).
Dan
sesungguhnya termasuk dari baghyu adalah penuduhan terhadap Ahlussunnah di
Dammaj sebagai Haddadiyyun, padahal mereka itu bersih darinya. Abdulloh
bin Umar -semoga Alloh meridhoi keduanya- berkata: Aku mendengar Rosululloh
-shollallohu 'alaihi wasallam- bersabda:
« ... وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ الله رَدْغَةَ
الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ».
"… dan
barangsiapa berkata tentang seorang mukmin dengan suatu perkara yang tidak ada
pada dirinya, maka Alloh akan menjadikan dia tinggal di dalam rodghotul khobal
(perasan penduduk neraka) sampai dia keluar dari apa yang
diucapkannya." (HR. Abu Dawud (3592) dan dishohihkan Imam Al Wadi'y
-semoga Alloh merohmatinya- dalam "Ash Shohihul Musnad" (755)).
Asy Syaikh
Ahmad An Najmiy رحمه
الله ditanya: “Apa
pendapat Anda tentan orang yang memperingatkan manusia dari ma’had Asy Syaikh
Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy, dan menuduh para murid beliau sebagai Haddadiyyun?”
Maka
beliau رحمه الله menjawab: “Para murid Asy Syaikh Muqbil
secara umum kami mengetahui bahwasnya mereka itu di atas As Sunnah. Adapun
orang yang menyatakan bahwasanya mereka itu Haddadiyyah, maka pernyataannya itu
batil, dan perkataannya itu merupakan kriminalitas dan baghyu (kezholiman)
terhadap para murid Asy Syaikh Muqbil رحمه الله. Dan sesungguhnya ma’had Dammaj yang didirikan oleh Asy Syaikh
Muqbil رحمه الله di sumur tasyayyu’ dan di tengah-tengah
tasyayyu’. Maka kemudian sunnah tersebar di situ, di tempat yang dulunya tiada
orang yang berani berbicara lebih-lebih untuk membantah syi’ah. Alloh telah
memberikan manfaat dengan para murid Asy Syaikh Muqbil. Maka dengan mereka
sunnah itu tersebar. Di seluruh penjuru Yaman kecuali sebagian kecil dari
mereka yang menyelisihi aqidah Ahlussunnah Wal jama’ah –yang Asy Syaikh
Muqbil رحمه الله mendidik mereka dan menjadikan mereka
tumbuh di atasnya- dan mengambil jalan mubtadi’ah, dan setan menghiasi
jalan-jalan bid’ah untuk kelompok kecil tadi. Maka kelompok kecil tadi tidaklah
teranggap. Yang terpandang hanyalah orang-orang yang tetap kokoh di atas sunnah
dan beragama dengannya, menyerukan kepadanya, berloyalitas dan bermusuhan
karenanya, dan membenci karenanya. Maka mereka itulah yang terpandang, dan
mereka itulah yang menempuh jalan Ahlul Hadits wal Atsar dan mengikuti madzhab
Ahlussunnah Wal Jama’ah. Oleh karena itulah aku berkata: barangsiapa
berkata bahwasanya mereka itu Haddadiyyah, maka orang ini adalah baghi
zholim,dan perjumpaan adalah di hadapan Alloh…” dst. (“Al Fatawal
Jaliyyah”/2/hal. 71-72/Darul Minhaj).
Bab
Enam:
Apakah
Upaya Menampilkan Kebenaran Itu Dinilai Merobek Dakwah?
Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Sesungguhnya
Yahya Al Hajuriy telah merobek-robek dakwah Salafiyyah di seluruh penjuru
alam.”
Saya
menjawab وفقني
الله: Alloh ta’ala
berfirman:
﴿وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون﴾
“Dan bahwa
(yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan
janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh
agar kalian bertakwa.” (QS. Al An’am: 153).
Juga
berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا
شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى الله ثُمَّ
يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُون﴾ [الأنعام/159]،
“Sesungguhnya
orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak
ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka
hanyalah terserah kepada Alloh, kemudian Alloh akan memberitahukan kepada
mereka apa yang telah mereka perbuat.”
Alloh ta’ala
berfirman:
﴿فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ
فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ﴾ (البقرة: 137)
“Maka jika
mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka
telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada
dalam permusuhan (dengan kalian).”
Dan dalam
hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنهما yang berkata: Sesungguhnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«إن أهل الكتابين افترقوا في دينهم على ثنتين وسبعين ملة، وإن هذه
الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة -يعني
الأهواء-، كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة. وأنه سيخرج في أمتي أقوام تجارى بهم تلك الأهواء كما يتجارى الكلب
بصاحبه لا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله».(أخرجه
الإمام أحمد (16937/ الرسالة)، وهو حديث حسن).
“Sesungguhnya
Ahlul Kitabain –Tauroh dan Injil- telah tercerai-berai dalam agama mereka
menjadi tujuh puluh dua agama. Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi
tujuh puluh tiga agama –yaitu hawa nafsu-. Semuanya di dalam nereka kecuali
satu, yaitu Al Jama’ah. Dan bahwasanya akan keluarlah di dalam umatku kaum-kaum
yang dijalari oleh hawa-hawa nafsu tadi, sebagaimana penyakit anjing gila
menjalari korbannya. Tidaklah tersisa darinya satu uratpun dan satu
persendianpun kecuali dia akan memasukinya.” (HR. Ahmad ((16937)/Ar Risalah)
hadits hasan).
Al Imam Ath
Thibiy رحمه الله berkata: “Yang dikehendaki dengan Al
Jama’ah di sini adalah para Shohabat dan orang yang setelah mereka dari
kalangan Tabi’in dan tabi’it tabi’in dan para Salafush Sholihin. Yaitu:
Aku perintahkan kalian untuk berpegang dengan jalan dan alur mereka, dan masuk
ke dalam rombongan mereka.” (sebagaimana dalam “Tuhfatul Ahwadzi”/Al Amtsal/Bab
Ma Jaa Fi Matsalish Sholah Wash Shiyam/7/hal. 281/cet. Darul Hadits).
Dengan
dalil-dalil ini dan yang semisalnya kita mengetahui bahwasanya yang
namanya perpecahan itu adalah yang menyelisihi Al Kitab, As Sunnah dan manhaj
Shohabah,sebagaimana Al Jama’ah itu adalah yang mencocoki tiga dasar ini.
Syaikhul Islam رحمه
الله berkata:
“Dan syi’ar dari firqoh-firqoh ini adalah : pemisahan diri dari Al Kitab,
As Sunnah dan ijma’. Maka barangsiapa berbicara dengan Al Kitab, As Sunnah dan
ijma’ maka dia itu adalah termasuk dari Ahlussunnah Wal Jama’ah.” (“Majmu’ul
Fatawa”/3/hal. 346).
Maka yang
menjadi timbangan dalam hukum-hukum aqidah hati dan ucapan lisan serta gerakan
anggota badan adalah ini tadi, sebagaimana kata Syaikhul Islam رحمه الله : “Hanyalah yang diikuti dalam penetapan hukum-hukum Alloh
adalah: Kitabulloh, sunnah Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم dan jalan As Sabiqunal Awwalun. Tidak boleh menetapkan
hukum syar’iy tanpa ketiga prinsip ini, baik secara nash ataupun istimbath sama
sekali.” (“Iqtidhoush Shirothil Mustaqim”/2/hal. 171).
Syaikh kami
An Nashihul Amin dan ulama sunnah yang bersamanya telah menampilkan
hujjah-hujjah tentang kekokohan mereka di atas Al Kitab, As Sunnah dan As
Salafiyyah, bersamaan dengan bersihnya dakwah mereka dari kotoran penyimpangan
dari ketiga prinsip tadi. Maka mereka adalah Ahlussunnah Wal jama’ah. Mereka
juga telah menampilkan dalil-dalil yang terang akan bengkoknya jalan hizb baru
itu dan terlumurinya mereka dengan hawa nafsu dan manhaj-manhaj orang
belakangan. Maka mereka itu adalah firqoh dari firqoh-firqoh yang ada.
Al Imam Asy
Syathibiy رحمه
الله berkata: “Alloh
ta’ala berfirman:
}واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا{
"Dan
berpegangteguhlah kalian semua dengan tali Alloh dan janganlah kalian
bercerai-berai." (QS Ali 'Imron 103)
Setelah
firman-Nya:
}اتقوا الله حق تقاته{
“Bertaqwalah
kalian kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya.”
Maka ini
memberikan pengetahuan bahwasanya “berpegangteguh dengan tali Alloh” adalah
ketaqwaan kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, dan bahwasanya yang selain itu
adalah perpecahan, dikarenakan firman-Nya:
}ولا تفرقوا {
“dan
janganlah kalian bercerai-berai."
Dan
perpecahan merupakan sifat yang paling khusus dari ahli bid’ah karena dia itu
keluar dari hukum Alloh dan menyelisihi jama’ah Ahlul Islam.” (“Al
I’tishom”/hal. 88).
Dan tepat
untuk diterapkan kepada mereka perkataan syaikh kami حفظه الله : “Barangsiapa menjauh dari apa yang dulunya para Shohabat
Rosululloh صلى الله
عليه وسلم maka sesungguhnya
dia itu adalah termasuk dari tujuh puluh dua sempalan.” (dicatat tanggal 9
Sya’ban 1430 H).
Para
Nabi عليه السلام dan para pewaris mereka mengejak kepada
ijtima’ di atas Al Kitab dan As Sunnah. Kemudian terjadi perpecahan di antara
ahlul haq dengan ahlul batil ketika da’watul haq datang. Alloh ta’ala
berfirman:
﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ
صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا الله فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ﴾ [النمل/45].
“Dan sungguh
Kami telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Sholih yang menyeru:
“Beribadahlah kalian kepada Alloh” maka tiba-tiba saja mereka menjadi dua
kelompok yang yang bersengketa.” (QS. An Naml: 45).
Dalam hadits
Jabir bin Abdillah رضي الله
عنهما :
ومحمد - صلى الله عليه وسلم - فرق بين الناس
“Dan
Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu memisahkan di antara manusia.” (HR.
Al Bukhoriy (Al I’tishom/Al Iqtida Bisunanir Rosul/(7281)/Darus Salam)).
Mulla ‘Ali
Al Qoriy رحمه
الله menukilkan
maknanya: “Maknanya adalah: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu
pemisah antara orang yang beriman dan orang yang kafir, orang yang sholih dan
orang yang fasiq.” (“Mirqotul Mafatih”/1/hal. 496).
Syaikhul
Islam رحمه الله berkata: “Alloh telah mengutus
Muhammad صلى الله
عليه وسلم dengan petunjuk
dan agama yang benar. Dengan beliau Alloh memisahkan antara tauhid dan syirik,
antara kebenaran dan kebatilan, antara petunjuk dan kesesatan, antara
pengamalan ilmu dan pembangkangan terhadap ilmu, dan antara ma’ruf dan munkar.”
(“Majmu’ul Fatawa”/27/hal. 442/Maktabah Ibnu Taimiyyah).
Dari Abu
Musa Al Asy'ary رضي الله
عنه yang berkata:
Rosululloh -shalallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
« مَثَلِى وَمَثَلُ مَا بَعَثَنِي الله كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمًا
فَقَالَ رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَىَّ ، وَإِنِّى أَنَا النَّذِيرُ الْعُرْيَانُ
فَالنَّجَا النَّجَاءَ . فَأَطَاعَتْهُ طَائِفَةٌ فَأَدْلَجُوا عَلَى مَهْلِهِمْ فَنَجَوْا ،
وَكَذَّبَتْهُ طَائِفَةٌ فَصَبَّحَهُمُ الْجَيْشُ فَاجْتَاحَهُمْ »
"Permisalanku
dengan permisalan apa yang dengannya Alloh mengutus diriku adalah permisalan
seseorang yang mendatangi suatu kaum seraya berkata,"Aku melihat pasukan
dengan mata kepalaku. Dan sungguh aku ini adalah pemberi peringatan yang jujur,
maka carilah keselamatan, carilah keselamatan. Makasekelompok dari mereka
menaatinya seraya berangkat di awal malam tanpa penundaan sehingga mereka
selamat. Tapisekelompok lagi mendustakannya, sehingga mereka dihantam oleh
pasukan tentara tadi di waktu pagi dan dimusnahkan." (HSR Al Bukhoriy
(6482)).
Perhatikanlah وفقني الله وإياكم: saat al haq datang mereka terpecah jadi dua. Yang ikut al haq
selamat dan yang menolaknya celaka. Apakah yang mengikuti al haq patut dicerca
karena tidak mau terus bersatu bersama kelompok kedua agar celaka bersama-sama?
Ataukah sang pemberi peringatan itu yang tercela? Ataukah beritanya tadi yang
dicela karena membikin perpecahan? Ataukah mereka dibiarkan saja hidup tenang
bersatu tanpa menyadari adanya bahaya besar yang mendekat? Maka persatuan yang
benar adalah persatuan di atas jalan Rosululloh صلى الله عليه وسلم.
Maka barangsiapa
taat pada para utusan Alloh maka dia itu bersama mereka di atas jalan yang
lurus, dan mereka itu adalah ahlul Jama’ah. Tapi barangsiapa mendurhakai mereka
maka sungguh dia telah meninggalkan jalan yang lurus dan condong kepada
jalan-jalan yang menyimpang tadi dan memisahkan diri dari Jama’ah, maka dia
itulah yang tercela. Maka sebab dari perpecahan adalah keluarnya seseorang dari
mengikuti Al Kitab, As Sunnah dan manhaj Salaf.
Asy Syaikh
Abdul Muhsin Al ‘Abbad حفظه الله dalam bantahannya terhadap Hasan Al Malikiy berkata:
“Adapun penyimpangan ahlul bida’ wal ahwa dari Al Kitab dan As Sunnah, itulah
sebab yang hakiki dari perpecahan mereka dan robeknya barisan mereka…” dst.
(rujuk “Al Intishor Li Ahlissunnah”/hal. 33/Darul Fadhilah).
Fadhilatusy
Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله berkata: “Peringatan untuk umat dari manhaj-manhaj yang
menyelisihi manhaj salaf itu merupakan penyatuan kalimat Muslimin, bukan
pemecah-belahan terhadap barisan mereka, karena sesungguhnya yang memecahbelah
barisan Muslimin adalah manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf itu.” (“Al
Ajwibatul Mufidah” milik Asy Syaikh Sholih Al Fauzan/ditulis oleh Jamal Al
Haritsiy/hal. 157/Maktabatul Hadyil Muhammadiy).
Maka
teranglah dengan penjelasan ini bagi orang-orang yang punya keadilan dan
fithroh bahwasanya Salafiyyun Dammaj dan yang bersama mereka adalah Ahlussunnah
Wal Jama’ah, mengajak umat kepada persatuan di atas jalan yang lurus, dan
bahwasanya hizb baru yang dibela oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy itu adalah
ahlul bid’ah wal furqoh yang mengajak umat untuk meninggalkan jalan yang lurus
lalu berpaling ke arah jalan-jalan yang membinasakan.
Maka ini
adalah agama kami, kami tak akan diam terhadap penyelewengan orang yang
menyimpang dari kebenaran إن شاء اللهwalaupun Asy Syaikh Robi’ memerintahkan kami
untuk diam sebagaimana terjadi berkali-kali, dan menuduh kami –dengan zholim-
sebagai Haddadiyyah, tolol, busuk, dan merobek dakwah. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka kami tak akan meninggalkan agama Islam
karena cercaan orang yang mencerca, ataupun karena pengkafiran orang yang
mengkafirkan atau juga penyesatan orang yang menuduh kami sesat, karena
kembalinya para makhluk adalah kepada Alloh, dan perhitungan mereka adalah
tanggungan Alloh.Maka orang yang men-tauhidkan Alloh Yang Mahasuci akan
menampilkan kebenaran di manapun berada, secara khusus dan umum dan secara
tertulis, sampai walaupun dia diminta untuk menyembunyikan kebenaran di waktu
rasa takut yang amat sangat dia tidak menyembunyikannya.” (“Ar Roddu ‘Alal Bakriy”/2/hal.
765-766).
Kami
mengagungkan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله, memuliakannya dan mengakui kebesarannya. Akan tetapi manakala
beliau berbuat baghyu (kezholiman, melanggar kehormatan) kepada kami dan
membikin kedustaan terhadap kami, maka inilah jawaban kami. Kami mohon kepada
Alloh عز وجل untuk mengembalikan beliau kepada
kebenaran dengan bagus, dan menjadikannya paham bahwasanya orang-orang yang
beliau tuduh dengan kata-kata yang jahat itu tadi mereka itulah saudara-saudara
beliau yang berbakti, singa-singa sunnah yang ikhlas dengan seidzin Alloh, dan
bahwasanya orang-orang yang beliau bela itu justru mereka itulah para serigala
pengkhianat yang bersembunyi di balik jubah kebesaran beliau. Maka hanya Alloh
sajalah yang dimintai pertolongan.
Bab
Tujuh:
menolong
Ahlul Haq Dengan Dalil-dalilnya Bukanlah Suatu Fanatisme Ataupun Taqlid
Sebagian
pengikut hizb yang baru itu menuduh para pelajar yang membantu syaikh kami An
Nashihul Amin telah melakukan ‘ashobiyyah (fanatisme) dan taqlid. Bukanlah
kenyataannya demikian.
Yang namanya
‘ashobiy adalah orang yang marah demi membela kelompoknya dan melindungi
mereka. Ta’ashshub berasal dari ‘ashobiyyah. Dan ‘Ashobiyyah adalah: seseorang
menyeru orang lain untuk menolong keluarganya, dan bergabung dengan mereka
untuk menghadapi orang yang menyerang mereka, dalam keadaan zholim ataupun
dizholimi. (Lihat “Lisanul ‘Arob”/6/hal. 276, dan “An Nihayah Fi Ghoribil
Atsar”/3/hal. 204).
Ini
menunjukkan bahwasanya muta’ashshib (orang yang fanatik) adalah orang yang menolong
keluarganya atau kelompoknya dan melindunginya dalam keadaan benar ataupun
salah. Dan kami tidaklah demikian. Bayyinat dan hujjah-hujjah yang saya
sebutkan sejak dari permulaan risalah ini sampai akhirnya itu cukup bagi
Salafiyyin yang berakal untuk memahami bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin
dan para ulama yang bersama beliau dalam perselisihan ini mereka itulah ahlul
haq. Demikianlah kami menilai mereka berdasarkan zhohir dari dalil-dalil, dan
Alloh yang akan menghisab mereka. Dan tidaklah kami mensucikan seorangpun atas
nama Alloh.
Kebenaran
itu dikenali dengan hujjah. Dan hujjah itu adalah sikap mengikuti Al Kitab As
Sunnah dengan pemahaman Salaf. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:
﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ
إِلَى الله وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ
ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا﴾
“Maka jika
kalian berselisih pendapat terhadap suatu perkara maka kembalikanlah hal itu
kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika memang kalian itu beriman kepada Alloh dan
hari akhir. Yang demikian itu lebih baik, dan akan lebih baik lagi
kesudahannya” (QS. An Nisa: 59)
Al Imam
Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata
tentang masalah perselisihan: “Dan ketika itu maka jadilah masalah tersebut
adalah perselisihan yang wajib untuk dikembalikan kepada Alloh ta’ala dan
Rosul-Nya. Barangsiapa enggan untuk yang demikian itu maka dia itu bisa jadi
adalah orang yang bodoh dan taqlid, atau bisa jadi adalah muta’ashshib pengekor
hawa nafsu yang durhaka pada Alloh ta’ala dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم, dia menyodorkan dirinya untuk bergabung dengan ancaman Alloh
untuk orang macam ini, karena Alloh ta’ala berfirman –lalu menyebutkan ayat
tadi- maka apabila telah tetap bahwasanya masalah ini adalah masalah yang
diperselisihkan, maka wajib secara pasti untuk dikembalikan kepada Kitabulloh
ta’ala dan Sunnah Rosul-Nya.” (“Ighotsatul Lahfan”/1/hal. 323).
Dan kami,
manakala kami mengetahui bahwsanya kebenaran, hujjah dan sunnah itu bersama
syaikh kami An Nashihul Amin dan orang-orang yang bersama beliau dari kalangan
para ulama Salafiyyin dan para penuntut ilmu, wajib bagi kami untuk menolong
mereka berdasarkan firman Alloh عز وجل:
﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا الله إِنَّ الله شَدِيدُ
الْعِقَابِ﴾[المائدة/2].
“Dan
tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kalian
kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.”
Alloh Yang Mahasuci
berfirman:
﴿فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ
قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى الله قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ الله
آَمَنَّا بِالله وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ﴾
“Maka
tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia:
"Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama)
Alloh?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah
penolong-penolong (agama) Alloh, Kami beriman kepada Alloh; dan saksikanlah
bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali
‘Imron: 52).
Syaikhul
Islam رحمه الله berkata: "Maka apabila terjadi
persengketaan dan perselisihan antar pengajar, atau antar murid, atau antara
pengajar dan murid, tidak boleh bagi seorangpun untuk menolong satu
pihak sampai dia tahu yang benar. Maka tak boleh baginya untuk saling
menolong dengan kebodohan dan hawa nafsu. Akan tetapi dia harus memperhatikan
perkara tersebut. Apabila jelas baginya kebenaran, dia harus menolong
pihak yang benar untuk menghadapi pihak yang berbuat batil, sama saja apakah
pihak yang benar itu dari temannya ataukah bukan. Dan sama saja apakah pihak
yang batil itu dari temannya ataukah bukan. Maka jadilah tujuannya itu ibadah
kepada Alloh semata dan ketaatan kepada Rosul-Nya, dan mengikuti kebenaran dan
menegakkan keadilan." ("Majmu'ul Fatawa"/28 /hal. 16).
Para saksi
yang tsiqot (terpercaya) telah tegak bersaksi terhadap para Mar’iyyun. Para
ulama yang ahli juga telah menampilkan bayyinat akan makar mereka dan
penyimpangan mereka tadi. Tanda-tanda dan alamat-alamat akan penyelewengan
mereka juga telah bermunculan. Maka kitab-kitab, malzamah-malzamah dan
kaset-kaset yang berbicara tentang mereka telah tegak di atas ilmu.
Apakah ini
semua tidak teranggap di sisi kalian? Akan tetapi itu semua memberikan faidah
ilmu bagi orang yang punya dua mata.
Saya akan
tambahi lagi: Akhunal fadhil Abu Anas Yunus Al Lahjiy –ro’ahulloh- menuliskan:
“Alhamdulillah
washsholatu wassalam ‘ala man la nabiyya ba’dahu. Amma ba’du:
Al Akh Al
‘Amudiy telah meminta padaku untuk menceritakan hakikat peristiwa yang terjadi
di masjid “Al Bukhoriy” yang ada di propinsi Lahj di desa MahAlloh. Yang
demikian dikarenakan ana ada ketika berlangsungnya peristiwa tersebut. berikut
ini hakikat dari kejadian tersebut:
Kami berangkat
dari masjid Akhunal fadhil Abu Harun menuju masjid Akhunal fadhil Abdul ‘Aziz
yang di situlah terjadi peristiwa tersebut. Dan muhadhoroh (ceramah) akan
diberikan oleh Akhuna Abdul ‘Aziz, imam dari masjid tersebut. Ketika kami
sampai di masjid sebelum maghrib, kami mendapati masjid tersebut terkunci.
Kemudian dibukalah masjid tersebut, dan kami tidak tahu bahwasanya sebagian
orang-orang bodoh yang fanatik pada Ibnu Mar’iy beserta orang-orang awam dari
penduduk desa tersebut akan melakukan kegaduhan terhadap masjid ini. Dan kami
tidak tahu bahwasanya pemerintah akan mengunci masjid ini.
Maka kamipun
masuk ke area masjid dan berwudhu, kemudian kami keluar menuju masjid. Dan hal
itu sebelum adzan maghrib. Ketika kami dalam keadaan demikian kami mendengar
ada suara-suara keras dan kegaduhan besar dari
sebagian muta’ashshibun (orang-orang yang fanatik pada Ibnu Mar’iy)
beserta orang-orang awam yang didorong-dorong oleh sebagian hizbiy Abdurrohman
–hadahumulloh-. Mereka masuk, mengunci pintu dan mematikan lampu. Pengeras
suara dirampas.
Dalam
keadaan seperti itu berdirilah sang imam masjid seraya mengumandangkan adzan
dalam keadaan yang sedemikian gaduhnya. Kemudian
beberapa muta’ashshibun datang dengan polisi untuk mengambil Akhuna
Abdul ‘Aziz dalam keadaan beliau menyampaikan ceramah. Mereka juga mendatangkan
tentara untuk mengambil beliau. Hanya saja sang tentara lebih berakal daripada
para hizbiyyin yang fanatik. Para tentara berkata: “Bagaimana mungkin kita
menahan beliau dalam keadaan beliau menyampaikan ceramah?” Maka duduklah sang
tentara dan mereka mendengarkan ceramah, dalam keadaan
para muta’ashshibun terus membikin kegaduhan.
Kemudian
lewatlah sebagian muta’ashshibun yang rencananya menghadiri ceramah
di masjid lain di desa yang sama. Manakala mereka melihat kegaduhan di masjid
ini datanglah mereka dan singgah di sini seraya menyempurnakan gangguan. Bahkan
sebagian ingin menantang adu pukul.
Seusai
ceramah berangkatlah kami menuju kantor polisi. Ternyata kami
dapati muta’ashshibun sudah ada di sana dan dikepalai oleh Muhammad
Al Khidasyi –ashlahahulloh-. Sebagian saudara kita dimasukkan ke dalam penjara.
Dan pada hari yang lain berangkatlah Abdul Ghofur Al Lahjiy –hadahulloh-
(tangan kanan Abdurrohman bin Mar’iy di propinsi tersebut. Dulunya adalah anggota
jam’iyyatul Hikmah lalu jam’iyyatul Ihsan, lalu jam’iyyatul Birr). Kami
diberitahu bahwasanya dia berkata para polisi: “Orang awamlah yang akan
memutuskan siapa yang akan menjadi imam masjid. Siapa yang mereka pilih jadi
imam, jadilah dia imam.” Pada kami sudah tahu bahwasanya
para muta’ashshibun telah menghasung orang-orang awam untuk
menurunkan Akhuna Abdul ‘Aziz –hafizhohullohu wa saddadahu- dari jabatan imam.
Ditulis oleh
Abu Anas Yunus Al Lahjiy.
(“Zajrul
‘Awi”/Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy -hafizhohulloh-/3/hal. 24-25).
Kisah nyata
ini memberikan faidah ilmu yaqiniy tentang penyelewengan Mar’iyyun, bagi orang
yang punya mata hati. Adapun bagi orang yang telah dibutakan oleh ta’ashshub
dan kedengkian, maka ayat-ayat itu tidaklah bermanfaat bagi orang-orang yang
tidak yakin, sekalipun telah datang pada mereka seluruh ayat.
Perhatikanlah
kisah di Syam. Al Muntadayat “Al Aqsho As Salafiyyah” telah mengeluarkan topik
berita dengan judul: “Kejadian Perjumpaan sejumlah Ikhwah Salafiyyin dari
Palestina dengan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholy” pada hari Kamis bertepatan
dengan tanggal 4 Romadhon 1429 H , dan di antara yang diucapkan beliau adalah
yang berkenaan dengan masalah Palestina , di mana sebagian orang yang fanatik
kepada Ali Hasan Al Halabiy – dan Halabiy ini adalah propokator sebab
terjadinya fitnah tersebut- merampas sebuah markiz ikhwah salafiyyin.
Maka
berkatalah Asy Syaikh Robi` kepada Usamah `Athoya : "Mereka wajib
mengembalikan markiz , madrosah salafiyah itu kepada Asy Syaikh Hisyam,"
maka seraya Usamah `Athoya berkata: “Mereka tidak menginginkan”. Maka Asy
Syaikh Robi` mendesah keras sambil mengatakan: "Bagaimana mereka tidak mau
, ini pokok inti dalam perdamaian, perbuatan ini – merampas markiz dan madrosah
– kami tidak pernah mendengar semisalnya sama sekali"(5). kemudian Asy Syaikh Robi` berkata
setelah berhenti sejenak : "Mereka itu apabila tidak meninggalkan
fanatik kepada Ali Halaby dan tidak mengembalikan markiz dan madrosah kepada
Hisyam maka mereka bukanlah salafiyyiin". Selesai. (“Mukhtashorul
Bayan”/hal. 25).
Bagaimana
kejadian ini memberikan faidah ilmu tentang keluarnya Halabiyyun (pengikut Ali
Hasan Al Halabiy) dari salafiyyah, akan tetapi kejadian yang berlipat-lipat
dari itu tidak bisa memberikan faidah ilmu tentang keluarnya Mar’iyyun dari
salafiyyah?
Maka segala
puji bagi Alloh yang telah memahamkan para Salafiyyun dan member mereka taufiq
untuk bersikap adil dan tidak menakar dengan dua takaran, sehingga bisa tegak
menolong kebenaran dan pembawa kebenaran dalam fitnah ini, di atas ilmu dan
keyakinan, bukan sekedar dugaan ataupun taqlid.
Ibnu
Hazm رحمه الله berkata: “Ilmu adalah: keyakinan
terhadap suatu perkara sesuai dengan kenyataannya, bisa jadi berdasarkan burhan
dhoruriy (bukti yang tak mungkin bisa ditolak) yang menyampaikan kepada
keyakinannya itu tadi, dan bisa jadi yang pertama dengan indera, atau dengan
pemahaman akal yang sangat jelas hingga tak butuh pada pendalilan,…” dst. (“Al
Ahkam”/1/hal. 34).
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Bahwasanya ilmu itu adalah apa yang tegak di
atasnya suatu dalil. Dan ilmu yang bermanfaat adalah apa yang dibawa oleh
Rosul. Maka yang penting dalam hal ini adalah hendaknya kita berbicara dengan
ilmu, yang berasal dari penukilan yang terpercaya dan pembahasan yang telah
diteliti. Adapun yang selain itu meskipun sebagian orang telah menghiasi dengan
yang semisalnya maka dia itu hanyalah hiasan saja. Jika tidak demikian maka dia
itu adalah kebatilan yang mutlak.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 388).
Al Imam
Ibnul Qoyyim رحمه
الله berkata dalam “An
Nuniyyah” (1/hal. 65):
إذ أجمع العلماء أن مقلدا*** للناس
والأعمى هما أخوان
والعلم معرفة الهدى بدليله*** ما ذاك
والتقليد مستويان
“…karena
para ulama telah bersepakat bahwasanya orang yang membebek pada manusia dan
orang yang buta itu keduanya adalah saudara. Dan ilmu adalah: mengetahui
petunjuk dengan dalilnya. Tidaklah dia itu sama dengan taqlid.”
` Al Imam
Ash Shon’aniy رحمه
الله berkata: “Maka
ilmu adalah makna yang menuntut ketenangan jiwa dengan apa yang diketahuinya
itu. Dan dia itulah yang diungkapkan oleh para ulama bahwasanya dia itu adalah:
pembenaran yang pasti yang mencocoki kenyataan disertai dengan ketenangan
jiwa.” (“Ijabatus Sail Syarhu Bughyatil Amil”/1/hal. 33).
Al Imam
Abdullathif bin Abdirrohman Alusy Syaikh رحمه الله berkata: “Dan ilmu adalah mengetahui petunjuk dengan
dalilnya, dan mengetahui hukum sesuai dengan kenyataannya secara hakiki.”
(“Uyunur Rosail”/karya beliau/2/hal. 525-526/Maktabatur Rusyd).
Maka
orang-orang yang berakal jika bayyinat dan persaksian orang-orang tsiqot telah
tegak di sisinya, disertai dengan tanda-tanda dan alamat, dan dia telah
mendapatkan ilmu. Bahkan ilmu itu bisa didapatkan dengan yang lebih sederhana
dari itu.
Bahkan hizb
Mar’iyyah yang menuduh Ahlussunnah di Dammaj dengan Haddadiyyah, mereka itulah
yang berdiri di atas dugaan dan persangkaan semata, tanpa bayyinah dan tanpa
batasan yang jelas. Maka pantas untuk dikatakan pada mereka ucapan Al Imam As
Sarkhosiy رحمه
الله : “Jika engkau
menyatakan bahwasanya engkau mengucapkan itu berdasarkan ilmu, maka ilmu yang
dihasilkan oleh seseorang itu tidaklah terwujud kecuali dengan dalil.”
(“Ushulus Sarkhosiy”/2/hal. 217).
Maka dengan
penjelasan ini semua tahulah orang-orang yang berakal bahwasanya Salafiyyun
yang saling membantu dengan syaikh kami An Nashihul Amin dalam posisi ini
mereka itu ada di atas bayyinah dari Robb mereka, bukan di atas taqlid, ataupun
‘ashobiyyah. Yang demikian itu adalah dari karunia Alloh kepada mereka dan
kepada orang-orang yang berakal, akan tetapi kebanyakan hizbiyyun dan
orang-orang yang dengki tidak tahu.
Bahkan kami
telah tegakkan hujjah-hujjah bahwasanya Mar’iyyun Barmakiyyun itulah para ahli
taqlid yang batil, dan mereka menggabungkan kepada taqlid saudaranya yaitu:
qiyas yang rusak. Yang mana mereka itu telah gagal mengqiyaskan Ahlussunnah
Dammaj dengan Haddadiyyah. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan ini adalah qiyas yang batil yang telah
disepakati bahwasanya dia itu tercela. Dan qiyas ini adalah saudara dari taqlid
yang batil. Kedua-duanya sama dalam kebatilan.
والله تعالى أعلم، والحمد لله رب العالمين.
Malam Senin,
tanggal 9 Jumadal Ula 1432 H
Tanggal
perbaikan: malam Ahad, 25 Syawwal 1432 H
Darul hadits
Salafiyyah di Dammaj Yaman
Semoga Alloh
menjaganya
1(
) Atsar ini hasan. Lihat catatan kaki dari kitab “Shifatul Haddadiyyah Fi
Munaqosyatun ‘Ilmiyyah”
2(
) Shohih. HR. Abu Dawud (Al Malahim/Khurujud Dajjal/(4331)/Darul
Hadits) dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam
“Ash Shohihul Musnad” ((1019)/Darul Atsar/cet. baru).
3(
) Hasan. HR. Abu Dawud (Al Adab/man Yu’mar An Yujalis/(4835)/Aunul
Ma’bud/Darul Hadits) dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam
“Ash Shohihul Musnad” ((1019)/Darul Atsar/cet. baru) dan At Tirmidzi (Zuhd/bab
45/2552/Tuhfatul Ahwadzi/Darul Hadits), dihasankan oleh Al Imam Al
Albaniy رحمه الله dalam
“As Silsilah Ash Shohihah” (2/no. 927/Maktabatul Ma’arif) dan Al imam Al
Wadi’iy رحمه الله dalam
“Ash Shohihul Musnad” ((1272)/Darul Atsar/cet. baru).
4(
) Maksudnya adalah: akibat kezholiman itu kembali kepada orang yang
zholim. Ini juga kiasan untuk menggambarkan kekalahan yang menimpa kaum itu.
(lihat “Majma’ul Amtsal”/Al Maidaniy/1/hal. 204).
5(
) Komentar Abu Fairuz وفقه الله :
Bahkan hal itu telah banyak dilakukan oleh Mar’iyyun, dan telah disebar di
berbagai risalah, hanya saja ada sebagian orang berkata: “Aku tidak percaya
sampai aku melihatnya sendiri!”
