KARAKTER HADDADIYYAH
DALAM DISKUSI ILMIYYAH
KARAKTER HADDADIYYAH
(Bagian lima)
Komentar terhadap isi Kitab
“Khuthurotul haddadiyyatil Jadidah Wa Aujuhusy Syabah Bainaha Wa Bainar
Rofidhoh”
dan Kitab “Manhajul Haddadiyyah” dan Ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy
Pada Akhir Tahun 1432 H
Diperiksa Oleh:
Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli
Al Ba’daniy Al Yamaniy
Dan
Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy
Al Hajuriy
Al Yamaniy
حفظهما الله ورعاهما
Penulis:
Abu Fairuz
Abdurrohman Al Indonesiy Al Qudsiy
Aluth Thuriy
عفا الله عنه
Pengantar
Penerjemah
الحمد لله وأشهد لأا لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صلى
وسلم على محمد آله وأصحابه أجمعين أما بعد:
Dengan pertolongan
Alloh semata kita akan memasuki seri ke lima dari terjemah kitab “Shifatul
Haddadiyyah Fi Munaqosyatun ‘Ilmiyyah”.
Isi dari
seri kelima ini adalah gambaran tipu daya Haddadiyyah dalam kepura-puraan
mereka menghormati ulama Nejed dengan mengklaim bahwasanya mereka itu adalah
ahli taqlid dan para penyeru kepada taqlid. Lalu kami jelaskan jauhnya Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau dari perbuatan macam ini.
Juga
semangat haddadiyyin untuk membikin pengumuman-pengumuman dan tulisan-tulisan
dengan sebagai sasaran mereka adalah Ahlul Madinah. Dan kami jelaskan jauhnya
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau dari perbuatan macam ini.
Yang
berikutnya adalah kejahatan Haddadiyyah menggambarkan Asy Syaikh Al ‘Allamah
Muhammad Nashiruddin Al Albaniy sebagai musuh untuk Al Imam Muhammad bin
Abdulwahhab. Ini merupakan upaya mereka untuk menjatuhkan Al Albaniy dan
kerja kerasnya selama enam puluh tahun dalam melayani tauhid dan sunnah. Dan
kami tegaskan akan jauhnya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama
beliau dari perbuatan macam ini.
Yang
berikutnya adalah pembelaan Falih terhadp Abdullathif Basyumail. Dan Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau tidak membela hizbiyyin. Dan
justru Mar’iyyun itulah yang banyak membela hizbiyyin.
Yang
berikutnya adalah penetapan tentang keluarnya Falih dan gerombolannya dari
manhaj Salafiy dan menjadi termasuk lawan mahaj Salafiy yang paling jahat. Kami
jelaskan kebenaran penetapan tersebut, dan bahwasanya Mar’iyyin juga telah
keluar dari Salafiyyah karena mengikuti hawa nafsu setelah datangnya dalil dan
hujjah.
Yang
berikutnya adalah kedustaan haddadiyyin atas nama Asy Syaikh Robi’ dan orang
yang menolong beliau dalam kebenaran bahwasanya mereka adalah Murjiah. Dan kami
tegaskan akan jauhnya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau
dari perbuatan macam ini. Dan justru Mar’iyyun itulah yang banyak membikin
kedustaan.
Oya,
sebagian teman mengkritik saya kenapa menulis risalah ini? Bisa jadi nanti Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy berkata: “Aku tak pernah mengatakan Asy Syaikh Yahya
Al Hajuriy haddadiy, kok!”. Perlu kami tegaskan sekali lagi akan banyaknya
sumber pemberitaan akan cercaan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy pada Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy.
Abu Waqid
Abdulloh bin Sholih Al Qohthoniy menukilkan ucapan Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy –hadahulloh- pada awal-awal bulan Rojab 1432 H: “Yahya Al
Hajuriy tolol, haddadiy, busuk, semoga Alloh tidak
memberkahinya.” (Wahyain).
Dan pada
tanggal 1 Sya’ban 1432 H Abul Mundzir Dzul Akmal Al Indonesiy –hadahulloh-
menukilkan apa yang didengarnya dari Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy:
“Sesungguhnya
Yahya Al Hajuriy telah merobek-robek dakwah Salafiyyah di seluruh penjuru alam.
Dia tidak meninggalkan seorangpun, tidak meninggalkan Muhammad, Bukhoriy,
Jabiriy dan yang lainnya.”
Ini
disebarkan oleh Dzul Akmal di situsnya. Dia adalah salah satu orang yang paling
dekat dengan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy dari bangsa Indonesia.
Asy Syaikh
Abdul ‘Aziz Al Buro’iy هداه الله dalam kasetnya menceritakan kunjungannya ke Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه
اللهdi tahun ini, 1432 H. Dia berkata: “Aku hadir dalam majelis Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy, dan aku mendengar beliau berkata: “Yahya Al
Hajuriy haddadiy.”
Dan pada
akhir-akhir bulan Romadhon 1432 H sebagian pemuda Aljazair menelpon Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه
الله dan menanyai
beliau tentang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله maka dijawabnya: “Al Hajuriy haddadiy
khobits.” Ini kabar dari akhuna Mushthofa Al Jazairy حفظه الله.
Ini baru
sebagian. Kabar-kabar dan persaksian ini cukup banyak, dan tidak mungkin
ditolak dengan sekedar ucapan: “Aku tidak pernah mengucapkannya” atau berkata:
“Aku tidak ingat.”
Jika
sebagian saksi itu fasiq, maka saksi yang lain cukup menguatkan bahwasanya
kejadian ini benar-benar ada dan telah terjadi.
Dan sampai
kini Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy tidak mengumumkan pernyataan lepas diri dari
berita-berita itu, dan tidak mendustakan para pembawa berita tadi. Jika dia
telah mengetahuinya dan tidak mengingkarinya maka dia itu seperti orang yang
mengakuinya.
Telah lewat
dalil-dalil tentang diterimanya berita dari orang tsiqoh, dan juga dari orang
fasiq yang terbukti jujur beritanya dalam hal ini. Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy وفقه
الله sendiri
berkata: "Agama kita berdiri di atas berita orang-orang adil, di
antara kaidah-kaidahnya adalahberita dari orang-orang adil. Maka jika seorang
yang adil menukilkan kepadamu suatu perkataan, maka pada asalnya berita itu
adalah shohih, dan wajib untuk engkau membangun hukum di atasnya. Dan
Alloh telah memperingatkan dari berita orang fasik. Maka jika ada orang yang
dikenal kefasikannya dan mendatangimu dengan suatu berita, jangan kau dustakan
dia. Telitilah dulu karena ada kemungkinan bahwasanya si fasik ini jujur dalam
berita tersebut… dst" ("Al Mauqifush Shahih"/ Syaikh Robi' Al
Madkholi/hal. 22)
Perlu kami
tegaskan sekali lagi bahwasanya kami menulis risalah ini bukanlah untuk
membikin gaduh medan dakwah salafiyyah, dan bukan pula untuk bersikap tidak
hormat pada ulama. Akan tetapi dalam rangka membela diri kami dan Dakwah
Salafiyyah yang ada di Yaman yang dipimpin oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy.
Apakah Anda
mau dituduh sebagai pencuri –misalkan- padahal Anda tidak mencuri, berhubung
yang menuduh adalah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy? Demikian pula dalam kasus
ini. Diskusi ilmiyyah menunjukkan bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan
yang bersama beliau bukanlah Haddadiyyun. Apakah sesuai dengan syariah untuk
menuduh para Salafiyyun yang mulia itu sebagai haddadiyyin, berhubung yang
menuduh adalah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy, sementara beliau tak sanggup
mendatangkan bayyinah?
Di dalam
"Ash Shohihain" dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma berkata :
Rosululloh saw bersabda :
«لو يعطى الناس بدعواهم لادعى ناس دماء رجال
وأموالهم ولكن اليمين على المدعى عليه».
"Andaikata
manusia diberi sesuai dengan dakwaan mereka, pastilah orang-orang akan mendakwa
harta suatu kaum dan darah mereka. Akan tetapi sumpah adalah kewajiban orang
yang dituduh." (HR. Al Bukhoriy (4552) dan Muslim (1711)).
Dan dalam riwayat
Al Baihaqy (”As Sunanul Kubro"/10/hal. 525):
«لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ لاَدَّعَى
رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ وَلَكِنَّ الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِى
وَالْيَمِينَ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ ».
"Andaikata
manusia diberi sesuai dengan dakwaan mereka, pastilah orang-orang akan mendakwa
harta suatu kaum dan darah mereka. Akan tetapi bayyinah (bukti) adalah
kewajiban si penuduh, dan sumpah adalah kewajiban orang yang dituduh."
Tibalah
saatnya kita masuk pada inti risalah :
Pasal
Kesepuluh:
Pura-pura
Menghormati Sebagian Ulama Sunnah, Untuk membenturkannya Kepada ulama yang lain
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata tentang Haddadiyyah: Maka dia menampakkan –sebagai
tipu daya belaka- penghormatan kepada ulama Nejed dengan mengklaim bahwasanya
mereka itu adalah ahli taqlid dan para penyeru kepada taqlid –padahal para
ulama tadi jauh dari yang demikian itu- lalu berdirilah dirinya dan sebagian
dari gerombolannya dengan semangat kuat untuk membikin pengumuman-pengumuman
dan tulisan-tulisan dan sasaran mereka adalah Ahlul Madinah, tapi Alloh
menjatuhkan tipu daya mereka.
Komentar
saya:
Ini adalah
sifat Haddadiyyah yang kesepuluh: berpura-pura menghormati sebagian ulama,
untuk membenturkannya dengan ulama yang lain. Adapun Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy dan para ulama yang bersama beliau حفظهم الله tidak ada pada mereka makar seperti ini -dan makar
apapun-, tidak pula mereka mengincar Ahlul Madinah. Bahkan mereka menyeru
manusia kepada sunnah dan salafiyyah.
Manakala
hizb Mar’iyyah bangkit dan merobek dakwah dan membangkang terhadap
nasihat-nasihat yang benar, maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para ulama
yang bersama beliaupun memperingatkan manusia dari kelompok tadi.
Manakala
Ubaid Al Jabiriy, Abdulloh Al Bukhoriy, Muhammad bin Hadi dan yang lainnya
membela Mar’iyyin, Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para ulama yang bersama
beliau bersabar sambil terus menyebarkan penjelasan dan hujjah.
Manakala
para penolong Mar’iyyin tadi menampakkan sindiran, cercaan dan serangan kepada
Darul Hadits di Dammaj dan pengelolanya serta para Salafiyyin yang bersamanya,
maka merekapun membela diri dan memberikan kepada para penyerang tadi hak
mereka, sama saja, apakah mereka tadi dari Ahlul Madinah, Ahlu Makkah, Ahlu
Mishr atau dari negri manapun. Tiada orang yang kebal dari hukum syar’iy,
barangsiapa berbuat kejahatan haruslah menyiapkan diri untuk dihukum, sampai
bahkan walaupun dia lahir dan tinggal di dalam perut Ka’bah misalkan.Bukanlah
negri itu yang mensucikan penduduknya, akan tetapi amal sholihnyalah yang
mensucikan dirinya dengan seizin Alloh.
Maka beda
jauh antara makar Haddadiyyah dengan dakwah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan
yang bersama beliau. Barangsiapa menyamakan keduanya setelah penjelasan ini
maka sungguh dia telah membikin kedustaan yang besar. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ
يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا
مُبِينًا﴾ [النساء/112].
“Dan
barangsiapa membuat suatu kesalahan atau dosa kemudian dia menuduhkannya kepada
orang yang bersih, maka sungguh dia telah memikul kedustaan dan dosa yang
nyata.” (QS. An Nisa: 112).
Akan tetapi
siapakah yang akan memahamkan mereka itu?
نظروا بعين عداوة لو أنها عين الرضا لاستحسنوا ما استقبحوا
"Mereka
memandang dengan mata permusuhan. Seandainya dia itu adalah mata keridhaan
pastilah mereka akan menganggap bagus perkara yang mereka anggap buruk."
(“Miftah Daris Sa'adah”/hal. 176).
وعين الرضا عن كل عيب كليلة ... ولكن عين السخط تبدي
المساويا
“Dan mata
keridhoan lemah untuk melihat setiap kekurangan. Tapi mata kebencian
menampakkan berbagai kejelekan.” (“Al Aghoniy”/3/hal. 369).
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata tentang Haddadiy: Dia menampakkan diri bersemangat
membela Al Imam Muhammad bin Abdulwahhab dan membelanya, maka dia kedustaan dan
pengkhianatannya mereka-reka seorang musuh untuk Al Imam Muhammad bin
Abdulwahhab. Ketahuilah bahwasanya musuh rekaan buat beliau adalah Asy Syaikh
Al ‘Allamah Al Muhaddits As Salafiy Muhammad Nashiruddin Al Albaniy yang
berloyalitas kepada Al Imam Muhammad bin Abdulwahhab dan berjalan di atas
manhaj beliau manhaj As Salafush Sholih. Dia menjadikan Asy Syaikh Al Albaniy
musuh yang sangat jahat yang tiada taranya buat Al Imam Muhammad bin
Abdulwahhab, dakwah beliau dan keluarga Su’ud, dan mengikat Ahlul Madinah
dengan Asy Syaikh Al Albaniy, dan mengklaim bahwasanya Asy Syaikh Al Albaniy
punya manhaj yang salah yang di atasnyalah Ahlul Madinah berjalan.
Komentar
ana:
Sekedar
pengakuan cinta, penghormatan dan pembelaan pada seseorang tidaklah cukup. Akan
tetapi perbuatan dan bekasnya itulah saksi yang terbaik akan kejujuran atau
kedustaan orang tadi. Ibrohim At Taimiy رحمه الله berkata:
ما عرضت قولي على عملي إلا خشيت أن أكون مكذَّبا
“Tidaklah
aku sodorkan perkataanku kepada perbuatanku, kecuali aku takut akan didustakan
(dianggap sebagai pendusta).” (“Shohihul Bukhory”/kitab Bad’il Wahyi/Bab
Khoufil Mu’min/1/hal. 93).
Al Imam
Ibnul Qoyyim رحمه
الله berkata:
“Andaikata di hatimu itu ada rasa cinta, pastilah bekasnya itu tampak pada jasadmu.”
(“Badai’ul Fawaid”/3/hal. 731).
Telah nampak
kedustaan Haddadiyyin dan makar mereka dalam penampakan mereka rasa cinta dan
penghormatan kepada Al Imam An Najdiy رحمه الله . Dan tidak ada rasa cinta yang jujur di dalam hati-hati
para Haddadiyyin yang sakit itu. Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه اللهmendengar seorang badui berkata:
...، وهيهات أن يظهر الودّ المستقيم من
القلب السقيم. ("جامع بيان العلم"/1 / ص 630/دار ابن الجوزي).
“… dan
jauh sekali kemungkinannya untuk munculnya rasa cinta yang lurus dari hati yang
sakit.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi”/1/hal. 630/Daru Ibnil Jauziy).
Adapun
kecintaan Ahlussunnah Wal jama’ah kepada dua imamMuhammad bin Abdulwahhab An
Najdiy dan Muhammad Nashiruddin Al Albaniy رحمها الله merupakan kecintaan yang jujur, nampak dari ucapan dan
perbuatan mereka sehari-hari. Ini kitab-kitab Al Imam An Najdiy terus-menerus
diajarkan di markiz ini, dihapalkan, banyak disyaroh, ditahqiq, dan Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy banyak memujinya dan mengatakan bahwasanya beliau itu adalah
seorang imam dan mujaddid. Kami sebutkan ini agar diketahui kedustaan hizb baru
Mar’iyyin bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه اللهmencerca Al Imam An Najdiy رحمه الله . Sungguh kami telah mendengar syaikh kami حفظه الله berkata di hadapan majelis umum:“Kami meyakini bahwasanya
wajib bagi kami untuk membela Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab An Najdiy,
sebagaimana kami membela Al Imam Ahmad bin Hanbal, Asy Syaikh Muhammad bin
Ibrohim, Asy Syaikh Ibn Baz dan para imam fatwa yang lain.”
Demikian
pula Al Imam Al Albaniy رحمه الله. Ini kitab-kitab beliau diambil faidahnya di sela-sela dars
umum, dalam pembahasan, saat membantah ahlul ahwa, yang segi-segi pengambilan
faidah ilmiyyah yang lain. Syaikh kami An Nashihul Amin حفظه الله juga berkata di hadapan para thullab: “Seluruh orang yang
datang setelah Asy Syaikh Al Albaniy adalah ibarat anak piara bagi beliau.”
Dan kami tak
pernah mendengar dari beliau رعاه الله perkataan yang batil terhadap kedua imam tersebut ataupun
kepada keluarga Su’ud حفظهم الله .
Ketika beliau
ditanya tentang orang yang berkata bahwasanya Asy syaikh Al Albaniy رحمه الله punya pemikiran irja’ (mengakhirkan amal dari
iman) –dan tuduhan ini merupakan bagian dari syi’ar Haddadiyyah dan kebanyakan
hizbiyyin harokiyyin-, beliaupun membantahnya dan menjelaskan kebatilan
perkataan tadi.
Hal ini
terulang. Di antara contohnya adalah bahwasanya beliauحفظه الله pernah ditanya: “Apakah Asy Syaikh Al Albaniy termasuk
Murjiah fuqoha?”
Maka beliau
menjawab: “Orang-orang yang mengatakan bahwasanya Asy Syaikh Al Albaniy
termasuk Murji, maka alangkah besarnya kalimat yang keluar dari mulut-mulut
mereka. Tidaklah mereka berkata kecuali kedustaan. Maka Asy Syaikh Al Albaniy
adalah seorang alim salafiy, dan beliau telah membantah Murjiah, jahmiyyah,
Qodariyyah, Jabriyyah dan yang lainnya dengan bantahan-bantahan yang tidak
dilakukan oleh orang-orang yang menuduh beliah dengan tuduhan tersebut. Akan
tetapi keadaan ini adalah seperti pepatah: “Ini adalah tabiat yang aku kenal
dari si Akhzam(1)” tidaklah engkau dapati seorang
salafiypun yang tampil menghadang kebatilan dan ahlul batil kecuali mereka
menuduhnya dengan tuduhan-tuduhan yang besar. Ketahuilah ini.” (“Al Kanzuts
Tsamin”/4/hal. 80/Darul Kitab Was Sunnah).
Dan belum
pernah kami mendengar dari beliau رعاه الله perkataan bahwasanya ahlul Madinah berjalan di atas manhaj
yang khusus dan salah. Dan kami belum pernah mendengar dari beliau رعاه اللهbahwasanya beliau menjadikan Al Imam Al
Albaniy sebagai lawan bagi Al Imam An Najdiy رحمهما الله .
Maka
barangsiapa menyamakan antara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan Salafiyyun yang
bersama beliau, dengan para haddadiyyin maka sungguh dia itu adalah pendusta.
Dan pendusta memang tidak kenyang dari kedustaan.
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Untuk apa dia mereka-reka manhaj ini? Agar
dirinya berhasil untuk menjatuhkan Al Albaniy dan kerja kerasnya selama enam
puluh tahun dalam melayani tauhid dan sunnah, dan menjatuhkan perjuangan beliau
dalam menghadapi kebid’ahan dan pelakunya, seluruh kebid’ahan, termasuk di
dalamnya adalah irja’, dan untuk menanamkan permusuhan dan kebencian di
antara Ahlussunnah wat tauhid yang di Najd, dengan saudara-saudara mereka dari
kalangan Ahlut tauhid wassunnah yang di Madinah, Syam, Yaman dan seluruh tempat
yang di situ sunnah dan tauhid tersebar.
Komentar
ana:
Ini juga
tidak dilakukan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy, dan beliau tidak menyetujuinya.
Apakah masuk akal tuduhan semacam ini diterima tanpa bayyinah.
Keadaan
syaikh kami adalah sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang paling tahu
tentang beliau –Al Imam Al Mujaddid Al Wadi’iy رحمه الله - : "Dan Syaikh Yahya -hafidhahulloh- berada pada
puncak kehati-hatian dalam menentukan pilihan, taqwa, zuhud, wara', dan takut
pada Alloh. Dan beliau adalah orang yang sangat berani dalam mengemukakan
kebenaran, tidak takut -karena Alloh- akan celaan orang yang mencela."
[muqoddimah kitab "Ahkamul Jum'ah wa Bida'uha"/ karya Syaikhuna Yahya
hafidhahulloh-].
Berkata Imam
Muqbil Al Wadi’y -rohimahulloh-: ".. saudara kita fillah Asy Syaikh
Al Fadhil At Taqy ( yang bertakwa ) az zaahid (orang yang zuhud) al Muhaddits ,
al faqih Abu Abdurrohman Yahya bin 'Ali Al Hajury -hafidhahulloh- beliau
adalah pria yang dicintai di kalangan saudara-saudaranya karena mereka melihat
padanya bagusnya aqidahnya, kecintaan pada sunnah dan kebencian pada hizbiyyah
yang merusak.” [muqoddimah "Dhiyaus Saalikiin." karya Syaikhuna Yahya
hafidhahulloh-].
Beliau
rahimahulloh juga berkata,”Benarlah Robb kita manakala berfirman:
﴿يأيها الذين آمنوا إن تتّقوا الله يجعل لكم
فرقانا ويكفر عنكم سيئاتكم ويغفر لكم والله ذو الفضل العظيم﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa pada Alloh Dia akan menjadikan
untuk kalian pembeda, dan menghapus dosa-dosa kalian serta mengampuni kalian,
dan Alloh itu maha memiliki karunia yang agung.”
Maka Asy
Syaikh Yahya dengan sebab berpegang teguhnya dia dengan Al Kitab dan As Sunnah
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- Alloh membukakan untuknya ilmu.”
(Muqoddimah “Ash Shubhusy Syariq” karya Syaikh Yahya -hafizhohulloh-)
Pasal
Kesebelas:
Pembelaan Terhadap Hizbiyyin
Kemudian Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه
الله berkata: Dulu
Falih berjalan bersama Abdullathif pada medan ini dengan gambaran yang samar
dan makar, nampak alamat-alamatnya dari waktu ke waktu sampai pada tahun-tahun
dekat ini, kemudian dia menampakkan prinsip-prinsipnya yang rusak, dan
manhajnya dalam bentuk yang baru yang lebih berbahaya dan lebih buruk daripada
kenyataan Haddadiyyah yang terdahulu, dan muncul di situ prinsip-prinsip yang
batil dan membinasakan dan meruntuhkan terhadap manhaj Salafiy dan pemeluknya.
Dan terakhir Alloh membongkar manhaj ini dan pemeluknya –setelah lama
bersembunyi- lebih banyak dan lebih banyak lagi dengan pembelaan Falih terhadp
Abdullathif, kebatilannya, kedustaannya, dan kebohongannya terhadap Al Albaniy
dan Ahlul Madinah, dan pujiannya serta pembelaannya terhadap Haddadiyyah dan
ahlul batil yang lain yang dihadapi Asy Syaikh Robi’ dan dijelaskan oleh Asy
Syaikh Robi’ kebatilan mereka saat dirinya menghadapi mereka, dan dirinya
menerangkan manhaj Salafiy yang bertentangan dengan kebatilan-kebatilan dan
prinsip-prinsip yang rusak itu.
Komentar
ana:
Yang
kesepuluh dari sifat-sifat Haddadiyyah adalah: pembalaan terhadap hizbiyyin.
Demikianlah Falih Al Harbiy membela Abdullathif dan gerombolan hizbiyyinnya
yang membikin makar. Robb kita تعالىberfirman:
﴿وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا﴾ [النساء/105]
“Janganlah
engkau menjadi pendebat untuk membela orang-orang yang berkhianat.” (QS.
An Nisa: 105).
Juga
berfirman سبحانه :
ÈÒÉÊÇ
ru2ÅxW
ãt=nökÍNö
t3äqbã
B¨`
&rP
#$9ø)Éu»JypÏ
tqöQu
ãt]÷kåNö
#$!©
ãfy»ÏAã
ùsJy`
#$9R÷u$
#$9øsyuq4oÍ
ûÎ
ãt]÷kåNö
_y»y9øFçOó
dy»¯sàwIäÏ
dy»¯'rRFçOó
ÈÑÉÊÇ
CètÏܸ$
tè÷Jy=èqbt
/ÎJy$
#$!ª
ru.x%bt
4
#$9ø)sqöAÉ
BÏ`z
töÌyÓ4
w
Bt$
ã;uhÍGçqbt
)Îø
BtèygßNö
rudèqu
#$!«
BÏ`z
o¡óGt÷ÿàqbt
ruw
#$9Z¨$¨Ä
BÏ`z
o¡óGt÷ÿàqbt
ÈÐÉÊÇ
&rOÏJV$
zyq§#Rº$
.x%bt
Bt`
ätÏ=
w
#$!©
)Îb¨
4
&rRÿà¡|hæNö
søFt$Rçqbt
#$!©%Ïïú
ãt`Ç
Bégp»ÏAö
ruw
“Dan
janganlah kamu berdebat untuk membela orang-orang yang mengkhianati dirinya.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi
bergelimang dosa. Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak
bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam
mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhoi. Dan adalah Allah
Maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. Beginilah kalian,
kalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan
dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada
hari kiamat? atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa
Allah)?” (QS. An Nisa: 107-109).
Adapun
syaikh kami An Nashihul Amin dan yang bersama beliau حفظهم الله maka sesungguhnya mereka tidak melakukan itu dan tidak
menyetujuinya. Mereka tidak membela hizbiyyin pada umumnya, tidak pula membela
Abdullathif Basyumail, tidak pula membela seorangpun dari Haddadiyyin generasi
pertama –pengikut Mahmud Al Haddad- ataupun yang baru –pengikut Falih Al
Harbiy-. Dan sungguh syaikh kami حفظه الله telah mengulang-ulang ucapan: “Alloh tahu bahwasanya
aku itu membenci sikap ghuluw, dan aku membenci Haddadiyyah. Andaikata aku tahu
ada satu orang dari muridku adalah haddadiy pastilah aku akan mengusirnya.”
Tidak ada
pada beliau حفظه
الله prinsip yang
menyelisihi prinsip-prinsip Ahlussunnah Wal Jama’ah إن شاء الله . maka barangsiapa mengklaim (mengaku-aku) selain ini,
maka hendaknya dia mendatangkan kepada kami hujjah yang terang.
﴿ $tB ö/ä3s9 y#øx. tqbãKä3øtrB ÈÍÎÊÇ xsùr& trbã©.xs?ÈÎÎÊÇ ÷Pr& ö/ä3s9 Ö»`sÜù=ß ÑüúÎ7B ÈÏÎÊÇ (#qè?ù'sùóOä3Î7»tFÅ3Î/ bÎ) ÷LäZêä. tüûÏ%Ï»|¹﴾
“Apakah yang
terjadi pada kalian? bagaimana (caranya) kalian menetapkan? Maka Apakah kalian
tidak memikirkan? Atau apakah kalian mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah
kitab kalian jika kalian memang orang-orang yang benar.” (QS. Ash
Shooffat: 157-159).
Dan sesuatu
itu disebut disebabkan oleh sesuatu yang lain. Adapun perkara yang terkait
dengan ditampilkannya kitab dan hujjah yang terang, maka dulu Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه
اللهbersabar terhadap kebatilan-kebatilan Abul Hasan Al Mishriy selama
tujuh tahun, kemudian beliau mengeluarkan risalah-risalah tentangnya satu
persatu, di antaranya adalah: “Tanbihu Abil Hasan Ilal Qoul Billati Hiya
Ahsan”, kemudian “I’anatu Abil Hasan ‘Alar Ruju’ Billati Hiya Ahsan”, kemudian
“Jinayatu Abil Hasan”, kemudian “Ibtholu Maza’imi Abil Hasan Haulal Mujmal Wal
Mufashshol”, kemudian “Mauqifu Abil Hasan Fi Akhbaril Ahad”, kemudian “Baroati
Ahlis Sunnah Mimma Nusiba Ilaihim Dzawul Fitnah”, kemudian “Munaqosyatu Abil
Hasan Fi Akhbaril Ahad”, kemudian “Hujaju Wa Barohin Ahlis Sunnah ‘Ala Anna
Akhbaril Ahad Tufidul ‘ilm”, kemudian “Talawwunu Abil Hasan Fi Qodhiyati
Akhbaril Ahad”, kemudian “Intiqodun ‘Aqodiyyun Wa Manhajiyyun Li Kitabis
Sirojil Wahhaj”, kemudian “At Tatstsabbut Fisy syari’atil Islamiyyah”, kemudian
“An Nushushun Nabawiyyatus Sadidah Showa’iq Tadukku Qowa’idal Hizbiyyatil
Makirotil Jadidah”, “Haqiqotul Manhajil Wasi’ ‘Inda Abil Hasan”, kemudian
“Niqmatu Abil Hasan ‘Ala Abi Sa’id Wa Ashabi Rosulillah”, kemudian “Qo’idatu
Nushohhih Wala Nuhaddim…”, “Idanatu Abil Hasan Bitashdiqihil Kadzib…”, kemudian
“Marohilu Abil Hasan Wa Taqollubatihi Haula Washfihi Lish Shohabatil Bil
Ghutsaiyyah”.
Urutan-urutan
ini sebatas apa yang disebutkan oleh penerbit Darul imam Ahmad.
Dan
barangsiapa memperhatikan dengan jeli risalah-risalah ini akan nampak baginya
bahwasanya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy menempuh jalan kelunakan dan
kelembutan bersama Abil Hasan di permulaan risalah-risalah beliau. Manakala
Abul Hasan menentang kebenaran setelah itu dan bersikeras dengan kebatilannya,
maka beliau membantahnya dengan keras, dan berbicara kepadanya dengan perkataan
yang tajam. Sebaik-baik jalan adalah ini.
Kemudian
manakala muncul fitnah Haddadiyyah yang baru, Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy
mengeluarkan beberapa risalah, di antaranya adalah: “Khuthurotul haddadiyyatil
Jadidah Wa Aujuhusy Syabah Bainaha Wa Bainar Rofidhoh”, kemudian “Tho’nul
Haddad Fi Ulamais Sunnah”, kemudian “Shifatul haddadiyyah”, kemudian “Daf’ul
Buht Wa Kaidil Khoinin “Anil ‘Allamati Ibni ‘Utsaimin”, kemudian “Kalimatun Fit
tauhid”. Urutan-urutan ini berdasarkan apa yang dicetak oleh Darul Imam Ahmad.
Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy juga mengeluarkan risalah “An Nashihatul Ukhowiyyah”,
“Asilatun Wa Ajwibatun ‘Ala Musykilati Falih”, “Aimmatul Hadits Hum Hummatud
Din”, dan “Izhaqu Abathili ‘Abdillathif Basyumail”. Beliau juga punya risalah
“Mujazafatul Haddadiyyah.”
Barangsiapa
membaca risalah-risalah ini akan tampak baginya bahwasanya Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy menempuh metode kelunakan dan kelembutan bersama haddadiyyin di
permulaan bantahan-bantahan beliau, tapi manakala mereka membangkang terhadap
kebenaran dan bersikeras di atas kebatilan, maka beliau membantahnya dengan
keras, dan berbicara kepadanya dengan perkataan yang tajam. Sebaik-baik metode
adalah ini.
Yang jadi
pertanyaan sekarang adalah: sesungguhnya Syaikh kami Yahya Al Hajuriy dan
para ulama serta tholabatul ilmi yang bersama beliau رعاهم الله telah mengeluarkan lebih dari seratus limapuluh risalah
tentang penyimpangan hizb Mar’iyyin dan menampilkan di dalamnya dalil-dalil
yang banyak sekali, bukti-bukti Yng beraneka ragam, dan bayyinat yang saling
mendukung tentang hizbiyyah mereka. Jika memang kebenaran itu bersama Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy dan para tokoh yang bersama beliau حفظهم الله, mengapa Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy tidak menerimanya? Jika
memang mereka di atas kebatilan, dan seratus limapuluh risalah mereka tadi
batil dan salah, maka di manakah risalah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy untuk
membantah mereka? Di manakah adu hujjahnya? Di manakah metode yang dulu biasa
dipakainya saat menghadapi hizbiyyin, yang mana beliau mendiamkan mereka
beberapa tahun, lalu beliau mengeluarkan risalah-risalah secara bertahap,
dimulai dengan jalan lembut dan lunak dan berakhir dengan sikap keras?
Kenapa dalam
mensikapi Darul Hadits Dammaj As Salafiyyah setelah berdiam diri langsung saja
serta-merta beliau mengeluarkan kata-kata yang jahat itu: “Yahya Al
Hajuriy tolol, haddadiy, buruk, semoga Alloh tidak memberkahinya”,
“Sesungguhnya Yahya Al hajuriy merobek dakwah Salafiyyah di seluruh
penjuru alam”, “Yahya Al Hajuriy haddadiy, buruk, fajir”
Itu semua
dilontarkannya tanpa menampilkan hujjah ataupun burhan ataupun bayyinah. Apa
sih yang mendorong beliau untukmeruntuhkan hujjah dengan cercaan dan
caci-makian, sambil berusaha menghindar dari keharusan beliau untuk menempuh
jalan ilmiyyah yaitu: meruntuhkan hujjah dengan hujjah pula?
﴿ $tB ö/ä3s9 y#øx. tqbãKä3øtrB ÈÍÎÊÇ xsùr& trbã©.xs?ÈÎÎÊÇ ÷Pr& ö/ä3s9 Ö»`sÜù=ß ÑüúÎ7B ÈÏÎÊÇ (#qè?ù'sùóOä3Î7»tFÅ3Î/ bÎ) ÷LäZêä. tüûÏ%Ï»|¹ ÈÐÎÊÇ ﴾
“Apakah yang
terjadi pada kalian? bagaimana (caranya) kalian menetapkan? Maka Apakah kalian
tidak memikirkan? Atauapakah kalian mempunyai bukti yang nyata?
Maka bawalah kitab kalian jika kalian memang orang-orang yang benar.”(QS.
Ash Shooffat: 157-159).
Saya
berharap setelah saat ini Asy Syaikh وفقه الله kembali kepada metode ilmiyyah yang jujur dan adil.
Alangkah bagusnya diskusi yang ilmiyyah, tenang dengan suasana persaudaraan
demi mencari kebenaran dan ridho Alloh.
Kita kembali
kepada pembicaraan kita tentang orang yang membela mubtadi’ah.
Faidah: Syaikh
kami An Nashihul Amin حفظه الله ditanya: “Seorang sunniy jika membela ahlul bida’ wal ahwa
seperti Al Qordhowiy, Az Zindaniy dan ahlul bida’ yang lainnya, apakah dia
tetap sebagai seorang sunniy ataukah digabungkan dengan orang-orang yang
dibelanya?
Maka
beliau حفظه الله menjawab: “Mereka dalam masalah ini
berbeda-beda. Di antara mereka ada yang membela mereka karena kebodohan, orang
macam ini hendaknya disikapi dengan kesabaran dan dimaafkan atas kebodohannya.
Di antara mereka ada yang membela mereka berdasarkan aqidah mereka dan
dasar-dasar mereka, serta mengetahui keadaan mereka. Maka orang ini termasuk
dari golongan mereka. Menunjukkan hal ini hadits ‘Itban bin Malik bahwasanya para
shohabatرضوان الله عليهم mengambil dalil bahwasanya Malik bin
Dukhsyum itu munafiq membela para munafiqin. Mereka berkata: “Sungguh kami
melihat kecintaannya dan pembicaraannya adalah untuk para munafiqin,” hingga
Rosululloh صلى الله
عليه وسلم mentazkiyyah
dirinya. Malik رضي الله
عنهbukanlah
munafiq. Qorinah (faktor penyerta) ini, para Shohabat رضي الله عنهمmemakainya sebagai dalil, dan mereka adalah
teladan. Sisi pendalilan kita adalah: bahwasanya orang-orang yang dulu ada di
sisi Nabi صلى الله
عليه وسلم pada majelis
tersebut memakai dalil dengan perbuatan itu bahwasanya Malik itu termasuk dari
munafiqin, lalu Rosululloh صلى الله عليه وسلم menjalaskan pada mereka bahwasanya Malik bin Dukhsyum itu
mu’min, dan dia berkata: “La ilaha illalloh” yang dengannya dia mencari wajah
Alloh, dan berita dari beliau ini datang melalui wahyu. Adapun perkara yang
kita ada di atasnya sepeninggal Nabi صلى الله عليه وسلم, dan sebagaimana perkataan Umar: “Barangsiapa menampakkan pada
kami kebaikan, maka kami memberinya keamanan dan menerima dirinya. Dan
barangsiapa menampakkan yang selain itu maka kami tidak memberinya keamanan dan
tidak menerima dirinya walaupun dia berkata bahwasanya batinnya itu baik.” Maka
kita hanya berhak menghukum lahiriyyahnya. Barangsiapa kita lihat dirinya
bersama mereka dan membela mereka, maka dia itu termasuk dari golongan mereka.
Kecuali jika dia berbuat itu karena kebodohan dan belum mendapatkan
penjelasan, dan belum tahu keadaan mereka. Maka di sana ada dalil-dalil udzur
bagi orang yang bodoh, yang sesuai dengan keadaan orang ini.” (“Al Kanzuts
Tsamin”/4/hal. 448-449/Darul kitab Was Sunnah).
Pasal
kedua Belas:
Mereka Mengikuti Hawa Nafsu Hingga Keluar Dari
Salafiyyah
Kemudian Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه
الله berkata: Dan
dengan seluruh apa yang kusebutkan jadilah Falih dan gerombolannya telah keluar
dari manhaj Salafiy dan menjadi termasuk lawan mahaj Salafiy yang paling jahat.
Dan tampak bagi orang yang berakal bahwasanya merka itu lebih berbahaya bagi
manhaj Salafiy dan pemeluknya, daripada setiap lawan dan kelompok-kelompok
ahludh dholal.
Komentar
ana:
Yang kedua
belas dari sifat Haddadiyyah: Jelasnya mereka dalam mengikuti hawa nafsu. Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه اللهsebagaimana telah terdahulu beliau adalah
orang yang pertama membantah Falih Al Harbiy, membongkar makarnya dalam
menyerang para ulama sunnah,
﴿قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ الله يُؤْتِيهِ
مَنْ يَشَاءُ وَالله وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ [آل عمران/73].
“katakanlah:
sesungguhnya karunia itu adalah di tangan Alloh, diberikan-Nya kepada orang
yang dikehendaki-Nya, dan Alloh itu Wasi’ (Mahaluas) Alim (Maha Mengetahui).”
(QS. Ali ‘Imron: 73).
Falih Al
Harbiy dan pengikutnya adalah ahlul hawa wal bid’ah.
Demikian
pula kedua anak Mar’i dan gerombolannya. Tampak bagi orang yang berakal dan
memperhatikan dalil-dalil dan mencari kebenaran, bahwasanya mereka telah keluar
dari manhaj Salafiy dan menjadi termasuh lawan mahaj Salafiy yang paling jahat.
Kami telah mendapatkan dari mereka permusuhan yang keras dan tidak kami dapati
dari kebanyakan kelompok-kelompok ahludh dholal, akan tetapi kami tidak
mengatakan bahwasanya mereka itu adalah ahludh dholal yang paling berbahaya
pada segala sisinya.
Syaikh kami
An Nashihul Amin رعاه
الله berkata: “… agar
diketahui bahwasanya para hizbiyyin yang baru itu telah menjadi lebih jahat dan
dusta atas nama dakwah daripada kebanyakan Ikhwanul Muslimin dan
pecahan-pecahannya. Munculnya perkara mereka dengan keadaan ini menjadikan
orang yang mencintai Dakwah Salafiyyah membuat perbandingan tentang mereka dan
menjadi tahu lebih banyak lagi.” (“Ma Yashna’ul A’da Fi Jahil…”/Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy/hal. 1).
Maka mereka
adalah ahlul ahwa wal bida’ dikarenakan mereka berpaling dari kebenaran dan
petunjuk setelah datang kepada mereka. Alloh ta’ala berfirman:
﴿ wur ôìÏÜè? ô`tB $uZù=xÿøîr& ¼çmt7ù=s% `tã $tRÌø.Ïyìt7¨?$#ur çm1uqyd c%x.ur ¼çnãøBr& $WÛãèù ﴾ [الكهف/28].
“Dan
janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati
Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”
Al Imam Asy
Syathibiy رحمه
الله berkata: “Maka
Alloh menjadikan perkara ini terbatas di antara dua perkara saja, yaitu:
mengikuti adz Dzikr dan mengikuti hawa nafsu. Dan Alloh berfirman:
﴿ô`tBur @|Êr& Ç`£JÏB yìt7©?$# çm1uqyd ÎötóÎ/ WèdÆiÏB «!$# 4 ﴾ [القصص/50].
“Dan
siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan
tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.”
Dan ayat ini
seperti ayat yang tersebut sebelumnya. Dan renungkanlah ayat ini, karena
sesungguhnya dia itu terang-terangan menjelaskan bahwasanya barangsiapa tidak
mengikuti petunjuk Alloh demi hawa nafsunya, maka tiada seorangpun yang lebih
sesat daripada dirinya. Dan inilah karakter mubtadi’.” (“Al I’tishom”/1/hal.
33).
Sungguh
disayangkan Asy Syaikh Robi’ وفقه الله membela Mar’iyyin yang dalam bab ini mereka itulah
Haddadiyun baru di zaman ini, yang mengikuti hawa nafsunya, tapi beliau justru
memberikan gelar “Haddadiyyah” bagi orang yang menggenggam bara api salafiyyah
dengan jasad-jasad, arwah dan kehormatan mereka. Maka tiada upaya ataupun
kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.
Pasal
Ketiga Belas:
Kedustaan,
Kebohongan Terhadap Ahlussunnah, Pengkhianatan, dan pemotong-motongan kalimat
Kemudian Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه
الله berkata: Sisi
kesembilan: Bahwasanya mereka berdusta atas nama Asy Syaikh Robi’ dan orang
yang menolong beliau dalam kebenaran dari kalangan ulama dan anggota jaringan
“Sahab As Salafiyyah” bahwasanya mereka adalah Murjiah, dan bahwasanya mereka
adalah jenis lain dari jenis-jenis Murjiah. Mereka
berdusta –demi Robb langit dan bumi- secara global dan rinci. Asy Syaikh Robi’
dan para sahabatnya telah terkenal dalam memerangi kebid’ahan semuanya,
termasuk bid’ah irja dengan segala jenisnya. Terakhir mereka mensifati Asy
Syaikh Robi’ dan para sahabatnya sebagai Rofidhoh, Shufiyyah, dan … (kalimat
yang aku tak sanggup menceritakannya) (!!!). Haddadiyyah itu punya kedustaan,
kebohongan, khianat, dan aneka pemotongan kalimat orang yang mereka ingin
menempelkan kepadanya satu tuduhan dari tuduhan-tuduhan yang besar. Mereka
punya kedustaan dan penyelewengan kalimat dalam membela anggota mereka dan
orang yang memimpin mereka. Dengan karakter yang buruk ini mereka menyerupai
Rowafidh dan kelompok-kelompok serta partai-partai yang sesat.
Komentar
saya:
Yang ketiga
belas dari sifat Haddadiyyah adalah: kedustaan, kebohongan. Adapun Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau tidaklah berdusta
atas nama Asy Syaikh Robi’ dan yang bersama beliau bahwasanya mereka itu
Murjiah, ataupun menuduh mereka sebagai jenis lain dari jenis-jenis
Murjiah,ataupun kebatilan-kebatilan yang lain. Barangsiapa mengklaim yang
selain ini maka dia harus mendatangkan kepada kami hujjah yang terang. Jika dia
tak sanggup mendatangkannya, maka ketahuilah bahwasanya Syaikh kami dan orang
yang bersama beliau itu memang bersih dari haddadiyyah, dengan taufiq dan
karunia dari Alloh ta’ala.
Bahkan
Syaikh kami dan orang yang bersama beliau itu tidak membikin kedustaan terhadap
kedua anak Mar’i ataupun Muhammad Al Wushobiy, ataupun Ubaid Al Jabiriy. Hanya
saja, orang-orang yang zholim itu sendirilah yang memilih jalan yang jahat dan
penuh tipu daya dan kezholiman tersebut, sehingga para Salafiyyun menghukumi
mereka dengan vonis yang mereka berhak untuk mendapatkannya.
Para ulama
yang cemburu terhadap Islam dan sunnah serta para para thullab yang
berpandangan tajam telah menjelaskan banyaknya kedustaan Mar’iyyin, kebohongan
dan pengkhianatan mereka, serta kesengajaan mereka dalam memotong-motong
kalimat orang yang mereka ingin menempelkan kepadanya satu tuduhan dari
tuduhan-tuduhan yang besar, kedustaan dan penyelewengan kalimat.
Dan manakala
klaim (pengaku-akuan) itu –sama saja dari kami ataupun dari lawan kami- tidak
diterima tanpa adanya bayyinah, maka saya akan menyebutkan sedikit perkara yang
disebutkan oleh Ahlussunnah dari kedustaan-kedustaan yang dibuat oleh
Mar’iyyun.
DI
ANTARA KEDUSTAAN-KEDUSTAAN MAR’IYYUN DAN KEBOHONGAN MEREKA TERHADAP AHLUSSUNNAH
DI DAMMAJ ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
Di antara
tuduhan-tuduhan Abdurrohman bin Mar’i Al 'Adniy terhadap Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy حفظه
الله adalah
perkataannya kepada Al Akh Kamal Al ‘Adniy حفظه الله pada permulaan fitnah ini: “Wahai akhona Kamal, Asy Syaikh
Yahya tidak mempedulikan orang-orang ‘Adn.” (“Haqoiq Wa Bayan”/hal. 23/ Kamal
Al ‘Adniy).
Di antaranya
adalah ucapan Abdurrohman bin Mar’i Al 'Adniy kepada Ahmad bin Ali Syuwaith Al
Hasyidiy حفظه
الله di permulaan
fitnah: “Orang ini –yaitu Syaikhuna Yahya حفظه الله – ingin menyeret kita di atas hidung-hidung kita.
Sunnah siapakah ini? Sunnah siapakah ini?” dia mengulang-ulanginya. (“Haqoiq Wa
Bayan”/hal. 25).
Al Akh Hamud
Al Wailiy حفظه
الله berkata:
بسم الله الرحمن الرحيم
Ini adalah
sebagian ucapan yang aku dengar dari Asy Syaikh Abdurrohman هداه الله . aku pada suatu hari ada di luar masjid Mazro’ah setelah
sholat Zhuhr, aku berjalan bersamanya dari pintu masjid hingga kami sampai di
depan rumah Shodiq Al ‘Abdiniy, Asy Syaikh Abdurrohman diberi tahu bahwasanya
Asy Syaikh Yahya berbicara terhadap sebagian masyayikh pada awal fitnah. Maka
Asy Syaikh Abdurrohman berkata: “Dia mengkafirkan mereka” Maksudnya adalah: Asy
Syaikh Yahya mengkafirkan mereka. Maka aku menjawab: “Bukan wahai Syaikh,
ucapan beliau hanyalah nasihat.” (“Haqoiq Wa Bayan”/hal. 28).
Abdurrohman
Al 'Adniy menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه اللهbahwasanya beliau tidak ingin Abdurrohman Al
'Adniy punya markiz. (persaksian akh Abu Mahmud Al Libiy/“Haqoiq Wa Bayan”/hal.
29).
Dan tuduhan
ini tidaklah benar. Justru di hadapan kami para thullab Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy حفظه
الله bilang ingin
Abdurrohman Al 'Adniy punya markiz, bahkan lebih dari satu markiz. Hanya saja
semangat dia dan anak buahnya untuk mengajak para thullab Dammaj untuk keluar
dari Dammaj dan bergabung dengan markiznya yang belum lagi jadi itulah yang
menyebabkan beliau dan para ulama Dammaj melihat adanya makar di balik itu.
Apalagi ditambah dengan pengakuan dirinya sendiri pada pertemuan masyayikh yang
pertama bahwasanya ketika Sholih Al Bakriy telah jatuh dan fitnahnya padam
–beberapa tahun sebelum itu-, beberapa orang mendatanginya seraya berkata:
“Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka bangkitlah Anda.” Demikianlah Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه اللهmengabarkan kepada kami. Dan berita ini juga
tersebut di risalah “Al Muamarotul Kubro” karya Abu Basysyar Al Qosy’amiy حفظه الله hal. 16.
Abdurrohman
Al 'Adniy juga menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriyحفظه الله bahwasanya beliau itu dengki dan zholim. (“Al Muamarotul
Kubro”/hal. 19).
Tuduhan ini
juga tidak benar. Apa yang aku sebutkan barusan cukup untuk membantahnya. Aku
juga mendengar berkali-kali Syaikh kami Yahya menyemangati para thullab Darul
hadits Dammaj untuk mengambil faidah dari Abdurrohman Al 'Adniy ketika masih
tinggal di Dammaj, dan beliau juga meminta Abdurrohman Al 'Adniy untuk
menyelenggarakan dars-dars, khuthbah dan selain itu.
Ini tadi
sebagian tuduhan dan kedustaan Abdurrohman Al 'Adniy terhadap Asy Syaikh Yahya
Al Hajuriy.
Adapun yang
dilakukan oleh Abdulloh bin Mar’i dan pengikutnya adalah: mereka menuduh dan
membuat kedustaan terhadap sebagian saksi dengan perkara-perkara yang mereka
itu bersih darinya. Di antaranya adalah:
Mereka
menuduh bahwasanya Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy mengirimkan mata-mata
kepada Abdulloh bin Mar'i. (bacalah “Naqdhur Rodd”/4/karya Asy Syaikh Abu Bilal
Al Hadhromiy حفظه
الله).
Dan mereka
menuduh beliau menyimpan dendam dan permusuhan. (bacalah “Naqdhur
Rodd”/5).
Dan mereka
menuduh beliau bahwasanya beliau berkata bahwasanya Abdulloh bin Mar'i
memasukkan ke dalam kantongnya sendiri suatu keuntungan dari ma’had komputer.
Maka Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy حفظه الله menjawab: “Dari mana kalian mendapatkan ucapan macam ini?
Dan siapakah dari kami yang mengucapkan itu? Akan tetapi memang kalian itu
adalah kaum yang tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap lawannya dan
tidak pula mengindahkan perjanjian. Kalian ingin memperburuk citra orang itu
dengan cara apapun.” (“Naqdhur Rodd”/14).
Mereka
berdusta dan menuduh Asy Syaikh Abu Bilal Al hadhromiy حفظه الله bahwasanya beliau telah mempersiapkan untuk melakukan
semisal apa yang beliau lakukan hari ini –yaitu: berbicara tentang Abdulloh bin
Mar'i di hadapan manusia-.(“Naqdhur Rodd”/19).
Mereka
berdusta dan menuduh akhona Ba Roidiy Al ‘Amudiy bahwasanya beliau mengaku-aku
bahwasanya tanah dakwah tersebut adalah miliknya. (“Naqdhur Rodd”/18).
Termasuk
kedustaan yang dibikin hizb Mar’iyyah:
Seorang
penulis gelap yang menamakan dirinya Abdulloh bin Robi’ menuduh Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy حفظه الله mencerca para ulama dan da’i(2) , sebagaimana dalam
tulisannya “Madza Yanqumuna ‘Alasy Syaikh Al Hajuriy” (hal. 7-17). Tuduhan dia
telah dibantah oleh Abu Hatim Yusuf bin ‘Id Al Jazairiy حفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al ‘Adniy”(hal. 7).
Bahkan
dirinya juga berdusta atas nama Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله demi membuka peluang untuk memukul Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy حفظه
الله. Lihat perinciannya
dalam bantahan Abu Hatim Yusuf bin ‘Id Al Jazairiy حفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al ‘Adniy”(hal. 19)).
Abdulloh bin
Robi’ dalam tulisannya “Madza Yanqumuna ‘Alasy Syaikh Al Hajuriy” (hal. 26) ini
juga menuduh para pengkritik bahwasanya mereka menempuh seluruh jalan dan
sarana untuk melancarkan serangan gencar. Tuduhan dia telah dibantah oleh Abu
Hatim Yusuf bin ‘Id Al Jazairiyحفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al ‘Adniy” (hal. 27).
Dia pada
hal. 37 juga menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berdusta. Tuduhan dia telah dibantah oleh Abu Hatim Yusuf
bin ‘Id Al Jazairiy حفظه
الله dalam risalah
“Jinayatu Abdirrohman Al ‘Adniy” (hal. 27).
Dia pada
hal. 18 juga menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya bantahan-bantahan beliau kepada para penyelisih
adalah dalam rangka mencari pemuasan jiwa. Tuduhan dia telah dibantah oleh
Yusuf bin ‘Id Al Jazairiy حفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al ‘Adniy” (hal. 49
dan setelahnya).
Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy telah berkata kurang lebih mirip dengan perkataan Al Imam Al
Wadi’iy رحمه
الله : “Apakah kalian
mengira bahwasanya kami ingin mencari pemuasan jiwa dan kami berbicara tentang
Ikhwanul muflisin, atau kami ingin berbicara tentang para anggota jam’iyyatul
Hikmah, tidak, demi Alloh, kami tidak ingin berbicara tentang mereka. Akan
tetapi agama inilah yang mengharuskan kami amalan ini.” (“Qom’ul
Mu’anid”/1/hal. 72).
Abdulloh bin
Robi’ pada halaman 3 juga menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه اللهbahwasanya beliaulah yang mengangkat bendera
fitnah ini. Maka tuduhan ini telah dibantah oleh Abu Umamah Abdulloh Al
Jahdariy حفظه
الله dalam “Bayanud
Dass Wat Talfiqot” hal. 2-3 dan 12).
Dia juga
(pada juz 1/hal. 3) menyatakan bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dalam
jarhnya pada Abdurrohman Al 'Adniy tidak memberikan penjelasan. Maka tuduhan
ini telah dibantah oleh Abu Umamah Abdulloh Al Jahdariyحفظه الله dalam “Bayanud Dass Wat Talfiqot” hal. 3).
Dan termasuk
dari tuduhan hizbiy tersembunyi yang pendusta ini (pada juz 1/hal. 11-12)
adalah bahwasanya perkataan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy: “Aku tidak takut
kepada seorangpun” dan “Aku tidak berbasa-basi pada seorangpun” dan yang
semisal itu merupakan bentuk tho’n kepada ulama. Ini menunjukkan kebodohan si
penulis pengecut ini tentang definisi tho’n. Maka tuduhan ini telah dibantah
oleh Abu Umamah Abdulloh Al Jahdariy حفظه الله dalam “Bayanud Dass Wat Talfiqot” hal. 7 dan setelahnya).
Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy حفظه
الله ورعاهbahwasanya sebagian pengikut Abdurrohman Al 'Adniy mengeluarkan
tulisan dengan judul “Al Hajuriy Takallama Fid Daulatis Su’udiyyah.” (Al
Hajuriy berbicara tentang pemerintah Saudi). Atau yang seperti itu. Barangkali
mereka menginginkan agar Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy tertimpa suatu musibah
seperti yang menimpa Al Imam Al Wadi’iyرحمه الله dari arah pemerintah Saudi حرسها الله وسددهyaitu sikap keras dan larangan masuk, dan
yang selain itu, dan agar para ulama Saudi حفظهم اللهbersikap keras kepada beliau. Dan Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy telah menjelaskan kedustaan hizb baru itu dan bahwasanya
seluruh serangan mereka pada tahun-tahun ini –yaitu sekitar tahun 1429 H dan
yang sebelumnya- menunjukkan bahwasanya mereka itu lebih pendusta daripada para
pengikut Abul Hasan.
Dan termasuk
dari kedustaan mereka adalah apa yang dikabarkan oleh akh Muhammad bin Ahmad Al
Lahjiy حفظه الله : “Abdul Ghofur berkata padaku –dan di
antara diriku dan dirinya hanya Alloh saja-: “Wahai saudara kami Muhammad,
tidakkah engkau melihat bahwasanya dakwah telah berubah. Asy Syaikh Yahya dan
Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab telah melarang kedatangan pada masyayikh
dari Saudi.” Maka kukatakan padanya: “Siapakah yang mengabarimu?” dia menjawab:
“Hani Buroik yang mengabariku hal itu.”
Tuduhan dan kedustaan
merupakan senjata hizbiyyin. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه اللهberbicara tentang ahlul bida’: “Dia tidak
bisa menghadapi Ahlussunnah kecuali dengan kedustaan dan kebohongan. Ini dalam
sejarah terdahulu. Ini juga ada sekarang, pada ahlul bida’ pada zaman
ini. Mereka tidak memerangi Ahlussunnah kecuali dengan kedustaan,
kebohongan dan tuduhan.” (“Syarh ‘Aqidatis Salaf Ashabil Hadits”/hal. 314).
Sayang
sekali, dengan bayyinat tentang kedustaan Mar’iyyin yang sebanyak ini dan telah
dipaparkan bertahun-tahun, tetap saja mereka dibela-bela oleh Asy Syaikh Robi’
Al Madkholiy padahal beliau tak mampu meruntuhkan bukti-bukti tadi dengan
hujjah, dan beliau justru menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang
yang bersamanya sebagai haddadiyyun tanpa hujjah. Semoga Alloh Yang Penuh
rohmah menyelamatkan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy dan kta semua dari tipu daya
ahlul batil. Sungguh Alloh lebih sayang pada kita melebihi kasih sayang kita
terhadap diri kita sendiri. Sungguh kami penuh harap kepada-Nya.
(Selesai
sampai di sini seri kelima dari terjemah risalah “Shifatul Haddadiyyah Fi
Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”. إن شاء الله pada seri enam kita masih akan membahas pengkhianatan
Mar’iyyin dan kebiasaan mereka untuk memotong-motong ucapan lawan yang
menyebabkan makna jadi berubah).
