KARAKTER HADDADIYYAH
DALAM DISKUSI ILMIYYAH
(Bagian Sembilan)
Komentar terhadap isi Kitab
“Khuthurotul haddadiyyatil Jadidah Wa Aujuhusy
Syabah Bainaha Wa Bainar Rofidhoh” dan Kitab “Manhajul Haddadiyyah” dan Ucapan
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy Pada Akhir Tahun 1432 H)
Diperiksa
Oleh:
Fadhilatusy
Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy Al
Yamaniy
Dan
Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy
Al Hajuriy
Al Yamaniy
حفظهما الله ورعاهما
Penulis:
Abu Fairuz
Abdurrohman Al Indonesiy
Al Qudsiy
Aluth Thuriy
عفا الله عنه
Pengantar
Penerjemah
الحمد لله وأشهد لأ إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صلى
وسلم على محمد آله وأصحابه أجمعين أما بعد:
Dengan
pertolongan Alloh semata kita akan memasuki seri kesembilan dari terjemah kitab
“Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatun ‘Ilmiyyah”. Pada kesempatan ini
kita akan membahas sisa dari kitab Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy: “Khuthurotul Haddadiyyatil Jadidah Wa Aujuhusy Syabah Bainaha
Wa Bainar Rofidhoh” yaitu sifat Haddadiyyah: Penamaan sesuatu bukan dengan
namanya. Dan kami tutup dengan nasihat para imam untuk kokoh di atas kebenaran
walaupun pengikutnya sedikit, dan janganlah kalian pikirkan banyaknya para
pengikut setan.
Kemudian
kita akan masuk pada pembahasan kitab beliau“Manhajul Haddadiyyah”. Dan mulai
membahas kebencian Haddadiyyah pada ulama sunnah yang kokoh di atas sunnah.
Juga sikap
mereka membid’ahkan setiap orang yang terjatuh ke dalam bid’ah, membid’ahkan
orang yang tidak membid’ahkan orang yang terjatuh ke dalam kebid’ahan,
mengharomkan mendoakan rohmat bagi ahlul bida’ secara mutlak. Juga mereka
membid’ahkan orang yang mendoakan rohmat kepada semisal Abu Hanifah, Asy
Syaukaniy.
Kemudian
permusuhan keras mereka terhadap Salafiyyun sekalipun telah mencurahkan kerja
keras untuk mendakwahkan Salafiyyah.
Dalam
keadaan seperti itu mereka hendak menaburkan abu ke mata-mata manusia dengan
pengakuan mereka bahwasanya mereka juga telah memperingatkan umat dari Ikhwanul
Muslimin dan Sayyid Quthb dan Juhaimaniyyah. Dan itu tak ada buktinya sama
sekali.
Sifat yang
paling nyata adalah sikap berlebihan mereka dalam mengagungkan Mahmud bin
Muhammad Al Haddad Al Mishriy.
Dan telah
saya bahas secara rinci bahwasanya masing-masing dari sifat tadi tidak ada pada
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para ulama dan pelajar yang bersama
beliau حفظهم الله. Dan saya buktikan bahwasanya beberapa
karakter di atas cocok untuk Mar’iyyun, termasuk sikap ghuluw mereka kepada
ulama.
Dan di
antara sikap ghuluw mereka kepada ulama adalah perkataan sebagian dari mereka:
“Sesungguhnya Asy Syaikh Robi’ bisa mengetahui bahwasanya seseorang itu hizbiy
dengan sekedar mencium dari baunya saja. Dan beliau hingga sekarang tidak
berpendapat bahwasanya Abdurrohman Al 'Adniy itu hizbiy!”
Maka ucapan
tadi saya jawab dengan pertolongan Alloh ta’ala.
Kemudian
masuk pada sifat Haddadiyyah yang berikutnya: Menuduh Ulama Sunnah Bahwasanya
Mereka Telah Berdusta.
Lalu
kezholiman mereka terhadap badan-badan Salafiyyin dan meneror jiwa-jiwa mereka.
Dan saya buktikan bahwasanya karakter-karakter di atas cocok untuk Mar’iyyun.
Kemudian
penjelasan para ulama bahwasanya hizbiy adalah mubtadi’. Dan saya jelaskan
bahwasanya hal ini cocok dengan Mar’iyyah.
Kemudian
masuk pada sifat Haddadiyyah yang berikutnya: melaknat orang-orang tertentu
yang tidak berhak untuk dilaknat, dan bermudah-mudahan dalam mengkafirkan
orang.
Kemudian
masuk pada sifat Haddadiyyah yang berikutnya: Kesombongan dan penentangan yang
menyebabkan mereka menolak kebenaran.
Kemudian
saya nukilkan ucapan para ulama bahwasanya penentangan terhadap kebenaran
setelah datangnya hujjah adalah alamat seluruh ahlul bida’ wal ahwa.
Setelah saya
sebutkan kesombongan Mar’iyyin secara umum, saya paparkan kesombongan pentolan
mereka: Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy dan penentangannya
terhadap kebenaran.
Oya, sampai
sekarang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan segenap ulama Salafiyyin dan para
pelajar Ahlussunnah masih menunggu-nunggu tanggung jawab Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy untuk menampilkan bayyinahnya yang menuduh Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy sebagai Haddadiy, busuk, tolol, dan merobek dakwah Salafiyyah di
seluruh penjuru alam. Juga menuduh Asy Syaikh Abdulloh Al Iryani, Asy Syaikh
Sa’id Da’as Al Yafi’iy dan Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy sebagai Haddadiyyun.
Dan perkataannya bahwasanya di sekeliling Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy ada
Haddadiyyun.
Tuduhan pada
seorang Muslim tanpa bayyinah adalah amat berat hukumannya. Bagaimana dengan
tuduhan tanpa bayyinah kepada ribuan Salafiyyun yang ada di Darul Hadits Dammaj
beserta para ulama di markiz-markiz yang lain?
Kami
menghormati Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy, akan tetapi Antum semua wajib
mengakui –tanpa takut kena kutukan- bahwasanya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy
itu bukanlah nabi yang seluruh ucapannya wajib diterima tanpa dimintai
bayyinah.
Sampai
sekarang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan segenap ulama Salafiyyin dan para
pelajar Ahlussunnah masih menunggu-nunggu jawaban Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy
terhadap tanggapan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy yang berjudul “An Nushhur
Rofi’ Li Fadhilatisy Syaikh Robi’” atau yang seperti itu. Sampai sekarang
masih sepi dari Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy.
Jika
benar-benar Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy meyakini bahwasanya Asy Syaikh Yahya
Al Hajuriy adalah Haddadiy, tidak boleh beliau cuma mentahdzir Asy Syaikh Yahya
Al Hajuriy di balik layar di majelis-majelis khusus saja, sementara suara dan
dakwah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy lantang berkumandang di seluruh penjuru
dunia sampai-sampai Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy bilang bahwasanya Al Hajuriy
merobek dakwah Salafiyyah di seluruh penjuru alam.
Semoga masih
ada keberanian yang dulu tampak ketika menghadapi segenap hizbiyyun dan ahlul
ahwa, jika beliau yakin berada pada jalan yang benar.
Yang saya
yakini Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri mengakui bahwasanya Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy dan segenap ulama Salafiyyin dan para pelajar Ahlussunnah yang
bersama beliau itulah pihak yang benar dalam fitnah ini, dengan seluruh
kekuatan hujjah yang tak sanggup mereka tandingi. Ini adalah pertolongan Alloh
bagi ahlul haq yang terzholimi dan bangkit membela diri. Kami hanyalah makhluk
yang lemah. Akan tetapi kezholiman para musuh terhadap kami, dan besarnya
rohmat Alloh kepada kami menyebabkan kami punya pedang hujjah yang teramat
tajam untuk meremukkan kepala para penjahat tadi, dan membungkam orang-orang
yang mencoba-coba untuk membela para durjana tadi. Sungguh benarlah ucapan Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy: “Maka bukti-bukti yang jelas membuat ribuan orang
yang tidak memiliki hujjah itu terdiam walaupun mereka itu para
ulama. Kaidah ini wajib untuk diketahui.”
Ini tadi
adalah ucapan yang indah dan hebat, dan cocok untuk diterapkan pada para
masyayikh yang membela Mar’iyyun. Juga cocok untuk diterapkan kepada sang
pemilik ucapan yang indah dan hebat itu sendiri, karena beliau telah
melontarkan tuduhan-tuduhan jahat pada Salafiyyun, di majelis khusus. Manakala
sang tertuduh menampilkan bukti-bukti kebenaran dirinya, dan balik menantang
beliau untuk menampilkan hujjah, ternyata beliau terdiam.
Seharusnya
kenyataan seperti ini menjadi pelajaran bagi orang-orang yang di hatinya masih
ada secercah cahaya kehidupan, untuk mengetahui siapakah pihak yang ada di atas
kebenaran dan siapakah yang berdiri di jalur kebatilan dan kezholiman.
Wahai
orang-orang yang beriman, barangsiapa beribadah kepada Alloh, maka sesungguhnya
Alloh itu Mahahidup dan tidak mati. Tapi barangsiapa beribadah dengan taqlid
kepada Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy, maka beliau tak bisa membantu kalian
dengan hujjah atas tuduhannya tadi di dunia ini. Dan beliau juga tak bisa
membela kalian ataupun memikul dosa kalian saat kita semua berlutut di hadapan
Alloh untuk mempertanggungjawabkan lontaran lisan dan goresan pena.
3“ts?ur ¨@ä. 7p¨Bé& ZpuŠÏO%y` 4 ‘@ä. 7p¨Bé& #Ótçô‰è? 4’n<Î)$pkÈ:»tGÏ. tPöqu‹ø9$# tb÷rt“øgéB $tB ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès? ÇËÑÈ
“Dan (pada
hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. tiap-tiap umat dipanggil untuk
(melihat) buku catatan amalnya. pada hari itu kalian diberi balasan terhadap
apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Al Jatsiyah: 28).
Justru
kamilah yang lebih berhak mengikuti ucapan-ucapan emas Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy, karena kami menjunjung tinggi agama Alloh yang tegak di atas hujjah,
bukan karena pesona kebesaran pribadi beliau. Maka kamilah yang berhak untuk
berkata sebagaimana perkataan beliau:
"Kebenaran
itu -wahai Abdurrohman- lebih besar daripada langit dan bumi dan lebih besar
daripada kelompok-kelompok yang kau bela. Dan dia itu lebih kami cintai
daripada anak-anak dan kerabat. Maka tak mungkin bagi kita untuk mendiamkan
kelompok ataupun partai yang menyelewengkan agama Alloh. Bahkan kami akan
menampakkan kebenaran –dengan seidzin Alloh-. Dan kami mohon pada Alloh agar
mencatat hal itu di dalam lembaran-lembaran kebaikan kami. Dan tak akan
membahayakan kami orang ini dan itu berkata,"Ini adalah cercaan dan
makian". Ini adalah termasuk teror psikologis dan propaganda batil yang
dimurkai oleh Alloh, malaikat-Nya dan para mukminin." ("Jama'ah
Wahidah"/ Syaikh Robi').
Selamat
menikmati, بارك
الله فيكم.
Pasal
Keduapuluh Delapan:
Penamaan Sesuatu Bukan Dengan Namanya
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: bersamaan dengan kejahatan, kehinaan dan
kesesatan ini semua, mereka mengklaim dengan kebohongan dan kedustaan yang
terbongkar bahwasanya mereka itu adalah Ahlussunnah, dan mereka pura-pura
saling memuji dengan itu. Maka dikatakan pada mereka apa yang diriwayatkan dari
‘Amr ibnul ‘Ash رضي الله
عنهbahwasanya
dia berkata pada Musailimah lama mengaku-aku sebagai Nabi dan mulai membacakan
pada ‘Amr رضي الله
عنهkedustaannya
yang dinamainya sebagai Al Qur’an, maka ‘Amr berkata padanya: “Demi Alloh
sesungguhnya engkau tahu bahwasanya aku itu tahu bahwasanya engkau itu
pendusta.”
Komentar
saya:
Sifat
keduapuluh lima dari Haddadiyyah: Penamaan sesuatu bukan dengan namanya.
Maka yang terpandang adalah kesesuaian dengan Al Kitab dan As Sunnah serta
Salafiyyah, bukan sekedar pengakuan. Maka barangsiapa mencocoki tiga dasar ini,
ucapannya diterima. Jika tidak demikian maka akan ditolak, siapapun dia.
Dan telah
nampak dengan jelas kekokohan Ahlu Dammaj dan yang bersama mereka di atas Al
Qur’an, As Sunnah dan Salafiyyah dengan bayyinat yang bercahaya. Dan para
salafiyyun telah menjelaskan jauhnya Mar’iyyun dari prinsip-prinsip Salafiyyah
dan upaya mereka untuk meruntuhkannya, sekalipun mereka mengaku termasuk
pengikutnya. Maka Mar’iyyun-Barmakiyyun itu mirip dengan Haddadiyyun.
Maka
termasuk dari metode Iblis untuk menyesatkan bani Adam adalah: Penamaan
sesuatu bukan dengan namanya. Alloh ta’ala berfirman:
﴿فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا
آَدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا
يَبْلَى﴾ [طه/120].
“Maka setan
membisikkan kepadanya, berkata: Wahai Adam maukah kutunjukkan padamu pohon
kekekalan dan kerajaan yang tidak akan rusak?”
Al Imam
Ibnul Qoyyim رحمه
الله berkata: “Maka ini
adalah makar dan tipu daya yang pertama. Dan darinyalah para pengikutnya
mewarisi penamaan perkara yang terlarang dengan nama-nama yang disukai oleh
jiwa. Maka mereka menamakan khomr dengan ummul afroh (induk
kegembiraan), dan menamakan saudaranya sebagai suapan ketentraman, dan
menamakan riba dengan mu’amalah, menamai pajak dengan hak-hak kekuasaan,
menamai kezholiman yang paling buruk dan paling keji dengan syari’ah dewan,
menamai kekufuran yang paling mendalam –yaitu menentang sifat-sifat Robb-
dengan pensucian, dan menamai majelis-majelis kefasikan sebagai majelis-majelis
kebaikan…” dst. (“Ighotsatul Lahfan”/1/hal. 113).
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Maka seluruh Salafiyyin –bukan hanya satu orang
Amr- tahu bahwasanya kalian adalah pendusta pada seluruh apa yang dengannya
kalian berhadapan dengan Ahlussunnah. Mereka juga yakin bahwasanya kalian itu
tahu bahwasanya diri kalian adalah pendusta. Dan kalian tak akan bisa
membahayakan Islam sedikitpun. Dan kalian juga tak akan bisa membahayakan
Salafiyyah dan Salafiyyun sedikitpun. Dan percayalah bahwasanya kalian tak
membahayakan kecuali diri kalian sendiri di dunia dan akhirat jika kalian tidak
bertobat kepada Alloh dengan tobat nashuha. Jika kalian membikin senang para
musuh Alloh dan musuh manhaj Salafiy, maka yang demikian itu tak akan
membahayakan manhaj yang agung ini sebagaimana sabda Rosululloh صلى الله عليه وسلم:
«لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا
يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذلك». صحيح مسلم (1920)
“Akan
senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang tampil di atas kebenaran,
tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka hingga datangnya
urusan Alloh dalam keadaan mereka seperti itu.” (HR. Muslim (1920)).
Al Imam Al
Bukhoriy telah menulis bab dalam “Shohih” beliau: “Bab sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
«لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق»
Mereka
adalah ulama.”
Komentar
saya:
Ini adalah
perkataan yang benar. Dengan seluruh penjelasan yang telah lewat kita
mengetahui bahwasanya Haddadiyyah adalah saudari dari Mar’iyyah, dan bahwasanya
syaikh kami dan orang-orang yang bersama beliau mereka adalah Salafiyyun yang
tampil di atas kebenaran, tidaklah membahayakan mereka banyaknya orang yang
menelantarkan mereka ataupun menyelisihi mereka, dengan seidzin Alloh. Kami
mohon kepada Alloh agar mengokohkan mereka hingga datangnya kematian, dan agar
menolong mereka karena keteguhan mereka di atas Al Kitab, as Sunnah dan As
Salafiyyah, dan agar menelantarkan musuh-musuh mereka yang jahat itu, yang
keluar dari kaidah-kaidah Qur’aniyyah-Nabawiyyah-Salafiyyah, sekalipun
musuh-musuh tadi banyak jumlahnya dan berbangga-bangga dengan jumlah yang
banyak.
Al ‘Allamah
Burhanuddin Al Biqo’iy رحمه الله berkata: “Dan janganlah kalian pikirkan banyaknya ucapan
para pengikut setan dan serangan cacian mereka dengan dosa dan permusuhan
kepada kita, wahai saudaraku. Mereka itu hanyalah mengatakan yang demikian
secara ghibah. Mereka dengan itu akan mendapatkan dosa dan kerugian, karena
sesungguhnya Alloh telah menjamin datangnya pertolongan, sekalipun pelaku
kebatilan itu disertai oleh jumlah yang banyak.” (“Mashro’atut Tashowwuf”/Al
Biqo’iy/hal. 243/Darul Iman).
Al Imam Abu
Bathin رحمه الله berkata: “Dan telah diketahui
bahwasanyaAhlul haqq itu sedikit jumlahnya akan tetapi mereka adalah
orang-orang yang paling agung nilainya di sisi Alloh.” (“Ar Roddu ‘Alal
Burdah”/Abu Bathin/hal. 44/Darul Atsar).
Inilah akhir
dari komentar-komentar saya terhadap kitab Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله “Khuthurotul Haddadiyyah”. Dan sekarang kita akan masuk
kepada komentar terhadap kitab beliau“Manhajul Haddadiyyah”. Dan hanya dengan
pertolongan Alloh sajalah kami mendapatkan taufiq.
Bab
Empat:
Bersama
Risalah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy “Manhajul haddadiyyah”
Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه
الله berkata: “Manhajul
Haddadiyyah”.
Komentar
saya: Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله mulai masuk ke dalam penjelasan manhaj Haddadiyyin untuk menyingkapkan
kebatilan-kebatilan mereka, dan menasihati umat. Akan tetapi manakala para
Hasaniyyun dan Mar’iyyun memanfaatkan risalah ini untuk memukul Salafiyyun, dan
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri juga menuduh kami sebagai Haddaiyyin
tanpa sanggup menampilkan bukti-bukti, maka kamipun mulai masuk pada penjelasan
akan batilnya upaya mereka tersebut secara terperinci. Dan hanya dengan
pertolongan Alloh sajalah kami mendapatkan taufiq:
[Pasal
Satu: Kebencian Mereka Terhadap Ulama Manhajus Salafiy]
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang pertama: Kebencian Mereka Terhadap Ulama
Manhajus Salafiy pada zaman ini, dan peremehan mereka terhadap para ulama tadi,
menganggap mereka itu bodoh dan sesat, membikin-bikin kedustaan atas nama
mereka, terutama Ahlul Madinah, kemudian mereka melampaui batas hingga sampai
kepada Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu Abil ‘Izz pensyaroh “Ath
Thohawiyyah”. Mereka mengulang-ulang pembicaraan di sekitar para imam tadi
untuk menjatuhkan kedudukan mereka dan menolak ucapan mereka.”
Komentar
saya:
Yang
keduapuluh enam dari sifat Haddadiyyah adalah: kebencian mereka pada ulama
sunnah yang kokoh di atas sunnah. Telah lewat penjelasan bahwasanya syaikh
kami dan orang-orang yang bersama beliau mencintai ulama manhaj Salafiy, yang
terdahulu ataupun yang datang setelah mereka, seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul
Qoyyim, Ibnu Abil ‘Izz pensyaroh “Ath Thohawiyyah”, dan yang lainnya. Tidak ada
pada mereka peremehan terhadap para ulama tadi, tidak pula menganggap mereka itu
bodoh dan sesat, tidak pula membikin-bikin kedustaan atas nama mereka, baik
Ahlul Madinah ataupun yang lainnya. Mereka tidak berbicara seputar para imam
tadi untuk menjatuhkan kedudukan mereka atau untuk menolak ucapan mereka.
Kami telah
menjelaskan kekokohan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama
beliau dari kalangan ulama sunnah di atas manhaj Salaful ummah. Dan dengan
sebab itulah para Mar’iyyun memusuhi mereka dan membuat makar terhadap mereka,
membangkitkan dunia untuk memerangi mereka, dan menghasung masyayikh Yaman dan
luar Yaman untuk memerangi mereka. Maka kebencian Mar’iyyun terhadap ulama
sunnah yang kokoh itu tampak jelas sekali.
Sungguh
mereka itu membenci Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Al Muhaddits Yahya Al
Hajuriy dan duapuluh ulama –dari ulama sunnah yang kokoh dalam memerangi
Mar’iyyin- حفظهم
الله.([1])
Maka
Mar’iyyun mereka itulah Haddadiyyun, bukannya Asy Syaikh Yahya dan yang beserta
beliau حفظهم الله.
[Pasal
Kedua: Mereka Membid’ahkan Setiap Orang yang Terjatuh Ke Dalam Bid’ah]
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang kedua: Mereka membid’ahkan setiap orang
yang terjatuh ke dalam bid’ah. Dan Ibnu Hajar menurut mereka lebih keras dan
lebih berbahaya daripada Sayyid Quthb.”
Komentar
saya:
Yang
keduapuluh tujuh dari sifat Haddadiyyah adalah: Mereka membid’ahkan setiap
orang yang terjatuh ke dalam bid’ah. Dan ini bukanlah madzhab Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy حفظه
الله dan bukan pula
madzhab orang-orang yang bersama beliau. Bahkan mereka itu menegakkan hujjah
sebelum menjatuhkan vonis. Syaikh kami telah mengulang-ulang penjelasan
bahwasanya kebodohan terhadap hukum merupakan salah satu udzur yang menghalangi
pembid’ahan dan pengkafiran terhadap pelakunya. Beliau berdalilkan firman Alloh
ta’ala:
﴿وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ
رَسُولًا﴾ [الإسراء/15]
“Dan
tidaklah Kami menyiksa hingga Kami mengutus seorang Rosul.”
Dan firman
Alloh ta’ala:
﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا
تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾.
“Dan
barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti
jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam,
dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa: 115).
Dan mereka
tidak berkeyakinan bahwasanya Ibnu Hajar penulis kitab “Fathul Bari” itu lebih
berbahaya daripada Sayyid Quthb. Bahkan mereka memuliakan Ibnu Hajar, dan
banyak membaca kitab-kitabnya sambil memberikan peringatan terhadap
kesalahan-kesalahannya. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy berkata: “Ibnu Hajar
terkena pengaruh Asy’ariyyah.”
Maka
berdasarkan sisi ini –dan sisi-sisi yang lain- bukanlah Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau itu Haddadiyyun.
[Pasal
Ketiga: Mereka Membid’ahkan Orang yang Tidak Membid’ahkan Orang Yang Terjatuh
Ke Dalam Kebid’ahan]
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang ketiga: Mereka membid’ahkan orang yang
tidak membid’ahkan orang yang terjatuh ke dalam kebid’ahan. Mereka juga
memusuhi dan memeranginya. Dan tidak cukup menurut mereka untuk dirinya
berkata: “Pada diri fulan ada Asy’ariyyah” misalkan, atau: “Fulan Asy’ariy”,
bahkan engkau harus berkata: “Fulan mubtadi’” jika tidak demikian maka dia
harus diperangi, diboikot dan divonis sebagai mubtadi’.”
Komentar
saya:
Yang
kedelapan dari sifat Haddadiyyah adalah: Mereka membid’ahkan orang yang tidak
membid’ahkan orang yang terjatuh ke dalam kebid’ahan. Mereka juga memusuhi dan
memeranginya. Ini semua bukanlah ciri Ahlu Dammaj dan orang-orang yang
bersama mereka. Syaikh kami حفظه الله berkata: “Tidaklah setiap orang yang terjadi padanya
kebid’ahan itu menjadi mubtadi’. Para ulama punya perincian dalam hal
itu. –sampai pada ucapan beliau:- tinggallah orang yang tenggelam dalam
mencocoki Ahlul bida’ maka dia adalah termasuk dari mereka. Dan barangsiapa
tetap bersikeras pada suatu kebid’ahan setelah datangnya penjelasan maka dia
adalah mubtadi’.” (“Al Kanzuts Tsamin”/5/hal. 89-90/Darul Kitab Was Sunnah).
Iya,
barangsiapa berhak untuk dihukumi sebagai mubtadi’ dengan dalil-dalilnya, maka
barangsiapa telah sampai padanya hujjah-hujjah Ahlussunnah tentang kebid’ahan
seseorang kemudian dirinya membelanya, maka dia digabungkan dengannya. Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: ” ”Wajib untuk menghukum setiap orang yang
menisbatkan diri kepada mereka, atau membela mereka, atau memuji mereka, atau
mengagungkan kitab-kitab mereka, atau diketahui bahwasanya dirinya itu saling
bantu dan saling tolong dengan mereka, atau tidak menyukai kritikan kepada
mereka, atau mulai memberikan udzur untuk mereka, bahwasanya perkataan
mereka itu tidak diketahui apa maksudnya, atau tidak diketahui siapakah yang
menulis kitab ini, atau udzur-udzur yang seperti ini yang tidaklah
mengucapkannya kecuali orang yang bodoh atau munafiq. bahkan wajib untuk
menghukum orang yang tahu keadaan mereka dan tidak mau saling menolong untuk
menghadapi mereka, karena perjuangan untuk menghadapi mereka merupakan termasuk
kewajiban yang paling agung dst" ("Majmu'ul Fatawa" 2/132).
Al Imam Al
Biqo’iy رحمه
الله berkata:
“Sesungguhnya orang yang membelanya –yakni membela Ibnul Faridh- dia itu
bersegera kepada orang yang sekarakter dengan dirinya, menyerupai orang yang
perbuatannya seperti perbuatan dirinya.” (“Tahdzirul ‘Ibad”/hal. 245).
Asy Syaikh
Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata tentang alamat hizbiyyah Ibrohim bin Hasan Asy
Sya’biy: “Dan di antara perkara yang menunjukkan terjerumusnya dirimu ke dalam
hizbiyyah adalah: pengingkaranmu kepadaku dan pengingkaranmu terhadap apa yang
aku sebutkan tentang hizbiyyin.” (“Dahrul Hajmah”/hal. 13/ Asy Syaikh Ahmad An
Najmiy/Darul Minhaj).
[Pasal
Keempat: Mengharomkan Mendoakan Rohmat Bagi Ahlul Bida’ Secara Mutlak]
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Keempat: Mengharomkan mendoakan rohmat bagi
ahlul bida’ secara mutlak, tidak ada perbedaan antara rofidhiy, qodariy,
jahmiy, dan antara seorang alim yang terjatuh ke dalam bid’ah.”
Komentar
saya:
Yang
keduapuluh Sembilan dari sifat Haddadiyyah: Mengharomkan mendoakan rohmat bagi
ahlul bida’ secara mutlak. Syaikh kami telah mendoakan rohmat bagi Ibnu
Hajar, An Nawawiy –dan seluruh imam- di sela-sela jam pelajaran beliau dengan
doa rohmat yang tak bisa menghitung banyaknya kecuali Alloh. Yang demikian itu
adalah dikarenakan mereka berdua menurut Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy adalah
termasuk dari imam Muslimin, yang bisa benar dan bisa salah, kaki keduanya
telah tergelincir ke dalam sebagian ta’wilat, maka beliau mendoakan rohmat
untuk keduanya. Hanya saja beliau tidak mendoakan rohmat bagi orang kafir atau
orang yang berada pada hukum kafir.
Adapun
tentang mendoakan rohmat bagi ahlul bida’, Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya: “Apakah diharomkan mendoakan rohmat bagi ahlul
bida’ pada saat membantah kesalahannya dan selain itu?”
Maka beliau حفظه الله menjawab: “Di antara ahlul bida’ ada orang yang diharomkan
mendoakan rohmat bagi mereka sama sekali, dan mereka itu adalah pelaku
kebid’ahan yang menyebabkan kekafiran. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ
أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُون﴾ [التوبة/84]
“Dan
janganlah kamu sekali-kali menyolati (jenazah) seorang yang mati di antara
mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka
telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik.”
Maka
Alloh عز وجل melarang nabi-Nya dari menyolati
mereka, dan sholat tersebut adalah doa. Nabi صلى الله عليه وسلم meminta idzin pada Robbnya untuk memintakan ampun untuk
ibunya, tapi Alloh سبحانه
وتعالىtidak mengidzinkan beliau. Dan beliau meminta idzin untuk
mengunjungi kuburannya maka Alloh عز وجل mengidzinkan untuk beliau, sebagaimana dalam “Ash Shohih”([2]).
Maka para
pelaku bid’ah yang menyebabkan kefasikan setelah matinya mereka, tidak mengapa
mendoakan rohmat untuk mereka karena keumuman firman Alloh ta’ala:
﴿وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ﴾ [محمد/19]
“Dan
mohonkanlah ampunan untuk dosamu dan untuk mukminin dan mukminat.”
(“Al Kanzuts Tsamin”/4/hal. 462/Darul Kitab Was Sunnah).
Maka
barangsiapa menuduh Ahlu Dammaj dengan Haddadiyyah maka sungguh dia telah
berbuat salah, dan zholim dan ngawur.
[Pasal
Kelima: Membid’ahkan Orang Yang Mendoakan Rohmat Kepada Semisal Abu Hanifah,
Asy Syaukaniy dan yang Lainnya]
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang kelima: membid’ahkan orang yang mendoakan
rohmat kepada semisal Abu Hanifah, Asy Syaukaniy, Ibnul jauziy, Ibnu Hajar dan
An Nawawiy.”
Komentar
saya:
Yang
ketigapuluh dari sifat Haddadiyyah adalah: membid’ahkan orang yang
mendoakan rohmat kepada semisal Abu Hanifah, Asy Syaukaniy, Ibnul jauziy, Ibnu
Hajar dan An Nawawiy. Sesungguhnya Alloh ta’ala telah melindungi Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau dari penyakit ghuluw ini, dan mereka
memeranginya. Andaikata Haddadiyyun tahu bahwasanya syaikh kami An Nashihul
Amin dan orang yang bersama beliau mendoakan rohmat buat seluruh orang-orang
yang disebut tadi –dan memang inilah kenyataannya- pastilah mereka akan
membid’ahkan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau. Jika memang
demikian, maka bagaimana kalian menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang
bersama beliau itu Haddadiyyun?
Sebagai
faidah: Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya: “Ada sekelompok orang jika kami katakan pada
mereka: Kembalilah pada kitab-kitab Ahlussunnah seperti “Fathul Bari Syarh
Shohihil Bukhoriy”, mereka berkata: ”Kitab itu penuh dengan kebid’ahan, maka
apakah nasihat Anda untuk semisal mereka? Semoga Alloh membalas Anda dengan
kebaikan.”
Maka
beliau حفظه الله menjawab: “Mereka adalah orang-orang
yang sesat dan bodoh. Kitab “Fathul Bari Syarh Shohihil Bukhoriy” adalah
termasuk dari ktab-kitab sunnah yang penting yang penuntut ilmu ataupun seorang
alim itu butuh dengannya. Telah tersebar fatwa milik sebagian ghulah
(orang-orang yang berlebihan) yang bernama Mahmud Al Haddad bahwasanya “Fathul
Bari” itu harus dibakar. Ketika ucapan ini sampai kepada syaikh kami Al
‘Allamah Al Wadi’iyرحمه
الله beliaupun berkata:
“Andaikata Rosululloh صلى الله عليه وسلم tidak bersabda:
«لا يعذب بالنار إلا رب النار»
“Tidak boleh
menyiksa dengan api kecuali Robb api.”
Pastilah
kami berkata: Sesungguhnya Mahmud Al Haddad itu lebih berhak untuk dibakar
daripada “Fathul Bari”.
Adapun
kesalahan-kesalahan Al Hafizh Ibnu Hajar dan yang semisalnya رحمهم الله yang terjadi pada ta’wil sebagian sifat atau terlalu
melebar dalam masalah mencari barokah dengan atsar-atsar orang sholih, maka
kesalahan ini harus dijauhi, dijelaskan dan manusia diperingatkan darinya
sambil tetap mengambil faidah kitab-kitab yang bermanfaat yang penuh dengan
ilmu dan sunnah itu.” (“Al Kanzuts Tsamin”/5/hal. 65-66/Darul Kitab Was
Sunnah).
Sisi
pendalilan kita di sini adalah: perhatian syaikh kami An Nashihul Amin untuk
membantah Haddadiyyah dan menjelaskan sikap ghuluw (berlebihan), kesesatan dan
penyelisihan manhajiyyah mereka, bersamaan dengan kokohnya beliau di atas
manhaj Salafiy yang pertengahan antara ifroth (berlebihan)
dan tafrith (kurang). Maka alangkah besarnya rohmat yang Alloh
jadikan ada di hati-hati para ulama sunnah –termasuk dari mereka adalah Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy-, beda dengan Haddadiyyun. Dan alangkah besarnya
kejahatan orang yang mendoakan beliau agar tidak diberkahi, dan menuduh beliau
sebagai Haddadiy, busuk, tolol, dan merobek dakwah Salafiyyah di seluruh
penjuru alam.
[Pasal
Keenam: Permusuhan Yang Keras Terhadap Salafiyyun Yang Membela Sunnah]
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang keenam: Permusuhan yang keras terhadap
Salafiyyun sekalipun telah mencurahkan kerja keras untuk mendakwahkan
Salafiyyah dan membelanya, dan sekalipun telah mencurahkan kerja keras untuk
menghadapi bid’ah, hizbiyyah dan kesesatan. Mereka juga memusatkan konsentrasi
kepada Ahlul Madinah, kemudian kepada Asy Syaikh Al Albaniy رحمه الله karena beliau termasuk dari ulama besar manhaj
Salafiy, yaitu: beliau termasuk ulama Sunnah yang paling keras menghantam
hizbiyyin, ahlul bida’ dan ahlut ta’ashshub. Salah seorang dari Haddadiyyun
telah mendustakan Ibnu ‘Utsaimin dalam majelisku sepuluh kali sehingga aku
sangat marah, dan diapun aku usir dari majelisku. Kemudian mereka menulis kitab-kitab
dalam masalah itu dan menyebarkan kaset-kaset, dan menyebarkan seruan-seruan
untuk menentang ulama Sunnah. Mereka memenuhi kitab-kitab, kaset-kaset dan
seruan-seruan mereka dengan kebohongan dan kedustaan. Dan termasuk dari
kezholiman Al Haddad adalah bahwasanya dia menulis suatu kitab yang berisi
cercaan pada Asy Syaikh Al Albaniy dan memburuk-burukkan beliau, sebanyak
sekitar empat ratus halaman dengan tulisan tangannya, yang andaikata dicetak
bisa jadi akan mencapai seribu halaman, diberi judul dengan: “Al Khomis” yaitu
Pasukan besar, terbagi atas: pasukan garis depan, pasukan garis belakang,
pasukan inti, sayap kanan dan sayap kiri.”
Komentar
saya:
Syaikh kami
dan orang-orang yang bersama beliau حفظهم الله tidak memusuhi Asy Syaikh Robi’, ataupun orang yang lebih
tinggi dari beliau, ataupun orang yang lebih rendah daripada beliau. Seluruh
orang yang kokoh di atas sunnah dan salafiyyah itu dimuliakan di sisi mereka.
Setiap kali kerja keras seseorang dalam menolong kebenaran semaki besar, maka
semakin besar pula pemuliaan Ahlussunnah kepadanya. Dan bersamaan dengan itu
–sebagaimana ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri- kesalahan itu –jika
terjadi- wajib untuk diingkari, dan hal itu tidaklah dinilai sebagai cercaan.
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Perkataan mereka:“Tidak boleh untuk saling
mengingkari dalam perkara-perkara yang diperselisihkan” bukanlah perkataan yang
benar, karena pengingkaran itu bisa jadi diarahkan kepada ucapan dari hukum
tersebut, dan bisa jadi diarahkan kepada pengamalan dari hukum tadi. Adapun
yang pertama: jika ucapan tadi menyelisihi suatu sunnah atau suatu ijma’ yang
telah lampau, maka ucapan tadi wajib diingkari, tanpa ada perselisihan. Jika
tidak demikian([3]), maka ucapan
tadi boleh diingkari dalam artian: sisi kelemahannya dijelaskan, menurut orang
yang berpendapat bahwasanya pihak yang benar itu cuma satu, dan ini adalah
pendapat hampir seluruh Salaf dan fuqoha. Adapun dari sisi amalan([4]), jika amalan
tadi menyelisihi suatu sunnah atau suatu ijma’ yang telah lampau, maka dia juga
wajib diingkari sesuai dengan derajat-derajat pengingkaran, sebagaimana telah
kami sebutkan dari hadits peminum nabidz yang diperselisihkan, dan sebagaimana
hukum seorang hakim itu dibatalkan jika menyelisihi suatu sunnah sekalipun dia
telah mengikuti sebagia ulama. Adapun jika di dalam masalah itu tidak ada
sunnah ataupun ijma’ maka ijtihad di situ boleh, orang yang mengamalkannya
tidak diingkari baik secara ijtihad ataupun taqlid.” (“Bayanud Dalil ‘Ala
Buthlanit Tahlil”/hal. 159/Daru Ibnul Jauziy).
Bacalah juga
perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله dalam “I’lamul Muwaqqi’in” (3/hal. 223/Khothou Man Yaqulu
La Inkaro Fi Masailil Khilaf”/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).
Penjelasan
ini dan yang telah lewat berulangkali merupakan hujjah yang jelas tentang
batilnya hukum orang yang menuduh Ahlu Dammaj sebagai Haddadiyyin. Akan tetapi
sebab-sebab kebutaan dan ketulian itu banyak.
[Pasal
Ketujuh: Mengaku Telah Mentahdzir Dari Ikhwanul Muslimin dan Sayyid Quthb dan
Juhaimaniyyah]
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Dia mengaku-aku telah memperingatkan umat dari
Ikhwanul Muslimin dan Sayyid Quthb dan Juhaimaniyyah, tapi kami tidak melihat
bahwasanya dia telah menulis satu karya tulis atau sekedar memo kecil yang
berisi kumpulan cacatan, lebih-lebih lagi buku semisal kitab dia “Al Khomis”.”
Komentar
saya:
Yang
ketigapuluh Satu dari sifat Haddadiyyah: Menaburkan abu ke mata-mata manusia
dengan pengakuan mereka bahwasanya mereka juga telah memperingatkan umat dari
Ikhwanul Muslimin dan Sayyid Quthb dan Juhaimaniyyah.
Maka yang
menyamakan syaikh kami dengan Haddadiyyun, maka jauh sekali. Inilah kitab-kitab
syaikh kami dan orang-orang yang bersama beliau tentang peringatan kepada umat
terhadap seluruh firqoh yang sesat. Barangsiapa ragu tentang hal ini sedikit
saja, maka silakan mengunjungi kami di Darul Hadits Salafiyyah di Dammaj untuk
kami perlihatkan padanya sejumlah besar dari karya tulis tadi. Dan silakan
mengunjungi tasjilat (studio rekaman) “Darul Hadits” di Dammaj untuk mendengarkan
perkataan-perkataan syaikh kami حفظه الله tentang orang-orang tersesat tadi.
يا ابنَ الكراِم ألا تدنْو فتبْصرَ ما ... قد حدَّثوك فما راءٍ كمن
سمِعاَ
“Wahai anak
orang yang mulia, tidakkah Anda bersedia mendekat sehingga Anda bisa melihat
apa yang mereka ceritakan padamu? Karena tidaklah orang yang melihat itu sama
dengan orang yang sekedar mendengar.” (“Nafhatur Roihanah”/1/hal. 197).
Dan
sebagaimana yang dinukilkan oleh Al Imam Ibnu Katsirرحمه الله dari sebagian komandan Yazid bin Mu’awiyah:
الشاهد يرى ما لا يرى الغائب. ("البداية والنهاية"/8 / ص 235).
“Orang yang
menyaksikan itu melihat apa yang tidak dilihat oleh orang yang tidak hadir.”
(“Al Bidayah”/8/hal. 235).
Maka wahai
orang yang menuduh kami dengan kebusukan, ketololan, dan haddadiyyah, tidakkah
Anda bersedia mendekat sehingga Anda bisa melihat perkara yang mereka kaburkan
terhadapmu? Karena tidaklah orang yang melihat itu sama dengan orang yang
sekedar mendengar. Akan tetapi orang yang telah dibutakan matanya oleh
kedengkian dan fanatisme, maka dia akan berkata:
عنز ولو طارت.
“Dia itu
kambing walaupun bisa terbang.”
[Pasal Kedelapan: Ghuluw mereka terhadap Al Haddad]
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang ketujuh: sikap berlebihan mereka dalam
mengagungkan Al Haddad dan klaim mereka bahwasanya Al Haddad itu juara dalam
masalah ilmu. Hal ini mereka lakukan demi menjatuhkan para ulama besar dan
pemikul manhaj salafiy, dan demi menyampaikan syaikh mereka tadi ke martabat
seorang imam mutlak, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang semisal
mereka dari kalangan para pengikut yang tertimpa kegilaan yang besar. Mereka
berkata kepada si fulan dan si fulan yang telah mencapai martabat yang tinggi
dalam keilmuan: “Mereka harus bertekuk lutut di hadapan Abu Abdillah Al Haddad
dan Ummu Abdillah.”
Komentar
saya:
Yang
ketigapuluh dua dari sifat Haddadiyyah: Mereka ghuluw terhadap Al Haddad dan
para pemimpin mereka. Mahmud Al Haddad itu sesat dan menyimpang, kami tidak
ghuluw tehadapnya, bahkan kami menghinakannya karena dia itu mubtadi’. Siapa
saja orang dari Ahlussunnah, maka kami menghormatinya, memuliakannya dan tidak
menelantarkannya إن شاء
الله . dan kami akan
saling menolong dengannya di atas jalan yang lurus إن شاء الله . dan kami juga tidak ghuluw kepada beliau. Tiada seorangpun
yang lebih tinggi daripada kebenaran.
Kami berkata
sebagaimana perkataan Al Imam Al ‘Allamah Abdurrohman Al Mu’allimiy رحمه الله: “Termasuk dari lembah kebatilan yang terluas adalah sikap
ghuluw kepada tokoh-tokoh utama.” (“At Tankil”/1/hal. 81).
Telah lewat
pengingkaran syaikh kami kepada orang yang ghuluw kepada beliau. Dan orang yang
membikin syair yang di dalamnya ada sikap ghuluw pada seyaikh kami telah
bertobat, dan menulis pengumuman atas tobatnya dirinya, dan telah
menyebarluaskannya. Mayoritas murid syaikh kami, para sahabat beliau, dan teman
dekat beliau berjalan seperti ini: menghormati beliau tanpa mengagungkannya
secara berlebihan. Maka barangsiapa menisbatkan pada syaikh kami dan orang yang
bersama beliau kepada sikap ghuluw pada para pemimpin, maka sungguh dia telah
menzholimi mereka dan mencaci mereka.
Kemudian
sebagian dari orang yang dengki –semisal 'Ubaid Al Jabiriy dan Muhammad bin
Hadi Al Madkholiy- berusaha menghalangi manusia untuk belajar di Dammaj dengan
alasan bahwasanya mereka nanti akan belajar caci-makian.
Saya jawab:
justru orang-orang yang berbicara seperti tadi mereka itulah tukang caci-maki,
dan mereka mengajari manusia untuk mencaci maki dan mencerca, karena mereka
telah mencerca Ahlu dammaj dengan menisbatkan mereka kepada Mahmud Al Haddad.
Al hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Bahwasanya barangsiapa menisbatkan seseorang
kepada perkara yang tidak pantas baginya, maka dikatakan bahwasanya dirinya
telah mencercanya.” (“Fathul Bari”/14/hal. 175).
Telah aku
jelaskan sikap ghuluw Mar’iyyun kepada para pemimpin mereka dengan penjelasan
yang terang dalam kitab “At Tajliyyah Li Amarotil Hizbiyyah”. Barangsiapa ingin
mengetahui hakikat nyata mereka dalam masalah ini maka silakan rujuk ke kitab
tadi. Jika tidak, maka bukan kewajiban kami untuk mengulanginya di sini.
Dan di
antara bukti yang menunjukkan sikap ghuluw para Mar’iyyun adalah ucapan
sebagian dari mereka: “Sesungguhnya Asy Syaikh Robi’ bisa mengetahui bahwasanya
seseorang itu hizbiy dengan sekedar mencium dari baunya saja. Dan beliau hingga
sekarang tidak berpendapat bahwasanya Abdurrohman Al 'Adniy itu hizbiy!”
Maka jawab
kami adalah: Ini merupakan sikap ghuluw yang jelas, yang dengannya para
Mar’iyyun berdalilkan untuk meruntuhkan seluruh bayyinat Salafiyyun atas
hizbiyyah kedua anak Mar’iy. Di manakah dalil yang menyatakan bahwasanya
penciuman itu bisa menggugurkan bayyinat?
Dan juga:
apakah Asy Syaikh Robi’ itu ma’shum (terjaga) dari kesalahan dan kelalaian? Dan
apakah beliau itu terjaga dari penyakit-penyakit hidung? Orang yang sakit
influenza tidak bisa mencium sebagaimana penciuman orang yang sehat. Manusia
itu bisa benar dan bisa salah, bisa waspada dan bisa lalai, bisa sehat dan bisa
sakit. Maka Asy Syaikh Robi’ kalaupun sebagaimana yang kalian katakan: “Sesungguhnya
beliau bisa mengetahui bahwasanya seseorang itu hizbiy dengan sekedar mencium
dari baunya saja” tidaklah beliau itu keluar dari sifat kemanusiaan. Barangkali
beliau sekarang ini lagi sakit flu –semoga Alloh menyembuhkan beliau-, sehingga
beliau tak bisa mencium aroma hizbiyyah Mar’iyyah yang busuk itu.
Lagi pula:
sesungguhnya Yahya bin Ma’in رحمه الله adalah Amirul Mu’minin dalam hadits, dan ucapan beliau
tentang para rowi itu diperhitungkan. Akan tetapi beliau bersamaan dengan
kedalaman ilmunya dalam bidang ini, terkadang men-tsiqohkan orang-orang yang
di-jarh para ulama. Yang demikian itu dikarenakan sebagai rowi yang lemah saat
berada di hadapan beliau mereka berhias-hias dengan hadits yang shohih sehingga
beliau memberi mereka tazkiyyah.
Maka
kesimpulannya: sesungguhnya Mar’iyyun itu telah bersikap ghuluw terhadap para
masyayikh yang berada di barisan mereka. Maka merekalah Haddadiyyun sekalipun
diberi tazkiyyah oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy.
[Pasal
Kesepuluh: Menuduh Ulama Sunnah Bahwasanya Mereka Telah Berdusta]
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang kedelapan: mereka menyerang ulama
Salafiyyah di Madinah dan yang lainnya dan menuduh mereka telah berdusta:
“Fulan pendusta”, “Fulan pendusta”. Mereka tampil dengan wujud cinta kejujuran
dan mementingkan kejujuran. Tapi manakala dijelaskan pada mereka kedustaan Al
Haddad dengan dalil-dalil dan bukti-bukti, Alloh menyingkapkan hakikat keadaan
mereka dan kejahatan yang mereka sembunyikan. Ternyata mereka tidaklah bertambah
kecuali semakin berpegang dengan Al Haddad dan ghuluw kepadanya.
Komentar
saya:
Yang
ketigapuluh tiga dari sifat Haddadiyyah: Menuduh Ulama Sunnah Bahwasanya Mereka
Telah Berdusta. Adapun kami, tidak ada pada kami إن شاء الله bermudah-mudah untuk menuduh seorang Muslim berdusta,
lebih-lebih lagi terhadap seorang alim dari ulama sunnah, sama saja, dari Ahlul
Madinah ataupun yang lainnya,والحمد لله. Maka hujjah itulah yang memimpin dan menjadi pertimbangan.
Adapun
Baromikah, sesungguhnya mereka menuduh ulama Dammaj dan para pelajar mereka
dengan kedustaan, dan Baromikah memperbanyak ucapan: “Fulan pendusta”, “Fulan
pendusta”. Contohnya adalah: Abdurrohman Al 'Adniy هداه الله menuduh tanpa bukti sebagian thullab yang mengusahakan
ishlah di antara dua syaikh –sebelum menggeloranya fitnah-, menuduh mereka
menjilat, sebagai pendusta, atau aktif dalam fitnah. (“Haqoiq Wa Bayan”/hal.
32).
Abdulloh bin
Robi’ Al Barmakiy menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriyحفظه الله sebagai pendusta. Telah dibantah oleh Yusuf Al Jazairiy
dalam “Jinayatu Abdurrohman Al 'Adniy” (hal. 27).
Mereka juga
menuduh para saksi telah berdusta, sebagai dinukilkan oleh Asy Syaikh Muhammad
Ba Jammal dalam “Nushrotusy Syuhud” (hal. 3).
Pengikut
Abdulloh bin Mar'i yang paling keras fanatismenya yaitu Nabil Al Hamr dan
sebagian pengikutnya هداهم الله berkata: “Kita telah menguburkan Dammaj, dan mayat itu tak
akan bangun.” Juga berkata: “Ucapan Asy Syaikh Yahya itu batil. Juga berkata:
“Seorang mubtadi’ ucapannya bisa diterima, akan tetapi sang pendusta tidak bisa
diterima” (menyindir Asy Syaikh Yahya). (“Akhbar Min Tholabatil ‘Ilmis
Salafiyyin Bi Manthiqotid Disisy Syarqiyyah”/ringkasan Abu Sa’id Al
Hadhromiy/no. 7).
Maka
Mar’iyyun adalah Haddadiyyun pada bab ini.
Manakala
dijelaskan pada mereka kedustaan kedua anak Mar’i dan Muhammad bin Abdil Wahhab
dengan dalil-dalil dan bukti-bukti, Alloh menyingkapkan hakikat keadaan mereka
dan kejahatan yang mereka sembunyikan. Ternyata mereka tidaklah bertambah
kecuali semakin berpegang dengan mereka dan fanatik kepada mereka.
Maka wahai
orang yang menuduh kami sebagai haddadiyyun dan membela para hizbiyyin tadi,
sadarlah kalian. Sesungguhnya orang-orang Darul hadits di Dammaj yang kalian
tuduh sebagai Haddadiyyun mereka itu adalah pewaris manhaj Salaf yang dulu kalian
ada padanya. Sedangkan orang-orang yang kalian bela itu mereka itulah para
pewaris manhaj Al Haddad yang dulu kalian perangi.
[Pasal
Kesebelas: Melaknat Salafiyyin, Meneror Mereka, Dan mengancam Mereka Dengan
Pemukulan]
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Kesembilan: Mereka punya keistimewaan dengan
melaknat, kasar, dan meneror sampai pada derajat mengancam salafiyyin dengan
pukulan, bahkan tangan mereka telah menjulur dengan memukul sebagian
salafiyyin.”
Komentar
saya:
Yang ketigapuluh
empat dari sifat Haddadiyyun: berbuat zholim terhadap badan-badan Salafiyyin
dan meneror jiwa-jiwa mereka. Ini termasuk perbuatan Mar’iyyun: memukul
sebagian orang-orang yang kokoh dalam fitnah ini seperti saudara kita Abu Isa
Ihab Al Farojiy Al ‘Adniy dan lainnya. (lihat “Al Barohinul Jaliyyah”/hal. 14).
Sebagian
contohnya telah diberitakan kepadaku oleh saudara yang mulia Mushthofa Al
‘Adniy حفظه الله.
Bahkan
sebagian pengikut Abdurrohman Al 'Adniy telah mengancam sebagian orang-orang
yang kokoh dalam fitnah ini untuk dibunuh. (lihat “Al Barohinul Jaliyyah”/hal.
14).
Salah
seorang dari mereka telah mencekik saudara kita Irham Al Jawiy Al Indonesiy.
Salah
seorang dari mereka telah memukul saudara kita Irham Al Maidaniy Al Indonesiy.
Yang lain
telah memukul Abu Kholifah Abdul Ghofur Al Indonesiy di wajahnya.
Salah
seorang dari mereka telah memukul dada saya. Yang lain memukul leher saya dan
mengancam membunuh saya.
Abu Abdillah
Adib Bin Ahmad Al-Jawiy ditusuk dengan jari di antara dagu dan ujung lehernya.
Abu Abdillah
Muhammad Bin Thobary Al-Brebesy mengalami berbagai upaya teror fisik dan mental
dialaminya di "malam undangan" tersebut. Kacamatanya hilang pada
malam itu.
Abu Abdil
Ghoni Abdul Wahid Al-Jakartiy mengalami sedikit tabrakan yang disengaja, lalu
dikasih isyarat ancaman.
Abu
Abdirrohman Utsman As-Semarangiy diteriaki sambil diancam-ancam.
Abu 'Amr
Ridwan Bin Zaky Al-Amboniy didorong kepalanya.
Abu
Hudzaifah Hasan Al-Bugisiy direnggut krah bajunya dengan kasar, lalu ditarik ke
dinding. Lalu datang lagi yang lain berbuat yang hampir sama dengan itu.
Abu Ahmad
Sulaiman Al-Ambony didorong wajahnya.
Abul Husain
Muhammad Nur Kholis Al Jawiy direnggut krah bajunya dengan kasar dan diteriaki.
Berita-berita
tentang kekasaran dan teror mereka itu panjang penyebutannya. Sebagiannya telah
saya sebutkan dalam risalah “Al Fathur Robbaniy Fir Roddi ‘Ala Abdillah Al
Bukhoriy Al Muftariyl Janiy” maka silakan merujuk di situ. Dan kebanyakan dari
kami bersabar dan tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan.
Jika kami
yang bersabar sampai demikian saja Abdulloh Al Bukhoriy dan yang lainnya
bilang: “Mereka adalah Haddadiyyun, orang garis keras”, maka bagaimana jika
kami membalas kejelekan tadi dengan kejelekan yang serupa? Barangkali mereka
akan membikin ribut dunia dan berteriak: “Mereka adalah haddadiyyun yang
melebihi haddadiyyun, mereka adalah kelompok garis keras nomor wahid!”
Maka wahai
Syaikh Robi’, semoga Alloh menjaga Anda, bandingkanlah antara perbuatan
Haddadiyyun dengan perbuatan Mar’iyyun. Siapakah dari kedua kelompok ini yang
lebih besar kejahatannya dalam bab ini?
Maka
Mar’iyyun itu lebih berhak mendapat gelar Haddadiyyun daripada kami, maka
bagaimanakah kalian bisa tersihir? Semoga Alloh melindungi kalian dari sihir
kedengkian dan fanatisme.
Dan
Mar’iyyun adalah mubtadi’ah sebagaimana telah lewat penjelasannya. Jika mereka
melakukan kekasaran tadi terhadap Salafiyyin dengan niat menjalankan agama juga
–meyakini bahwasanya dengan itu mereka hendak menolong agama mereka- maka
mereka juga menjadi mubtadi’ah dari sisi ini, karena tiada dalil syar’iy yang
membolehkan mereka berbuat itu. Rujuk kembali ucapan Syaikhul Islam رحمه الله dalam “Majmu’ul Fatawa” (18/hal. 346).
Al Imam Asy
Syathibiy رحمه
الله berkata: “Tiada
seorangpun dari makhluq Alloh yang berhak untuk membikin suatu perkara di dalam
syari’ah dari ro’yunya yang tidak didapatkan dalil untuk itu, karenayang
demikian itu adalah benar-benar kebid’ahan.” (“Al I’tishom”/1/hal. 283).
Syaikhuna An
Nashihul Amin حفظه
الله berkata: “Seorang
mubtadi’ adalah orang yang membikin perkara dalam agama ini, yang bukan bagian
dari agama ini. Kami telah melihat sebagian ulama berkata: Orang yang banyak
melakukan penyelisihan terhadap perkara cabang-cabang syari’ah maka dikatakan
bahwasanya dia itu mubtadi’. Maka orang itu dibid’ahkan setelah dijelaskan
padanya hujjah dan ditolak syubhatnya. Adapun orang yang melakukan
penyelisihian dalam dasar-dasar agama, meskipun dalam satu masalah saja, secara
sengaja dan punya niat untuk itu, seperti dalam masalah melihat Alloh di
akhirat, atau masalah aqidah yang lain, atau masalah As Sunnah, seperti
pendapat bolehnya pemilu, atau demonstrasi, atau hizbiyyah, maka dikatakan
bahwasanya mereka itu mubtadi’ah. Demikian pula para anggota jam’iyyat, maka
dikatakan bahwasanya mereka itu mubtadi’ah walaupun mereka benci dengan hukum
ini...” dst. (“Ats Tsawabitul Manhajiyyah”/fatwa Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy
yang dikumpulkan oleh Kamal Al ‘Adniy/hal. 32/Darul Kitab Was Sunnah).
Adapun para
pelaku kekerasan tadi andaikan mereka tidak melakukannya dengan niat ibadah,
akan tetapi mereka melakukannya karena marah demi kelompok mereka, maka
inilah ‘ashobiyyah (fanatisme kelompok) yang menjadi ciri yang paling khusus
bagi hizbiyyin. Al imam Al Wadi’iy رحمه الله ditanya: "Bagaimana cara memperingatkan para pemuda
dari hizbyyah yang tidak jelas, yang mana tidaklah melarang dari perkara
tersebut kecuali segelintir orang?? Dan bagaimana diketahui bahwa seseorang itu
telah menyelisihi manhaj salaf dalam perkara tersebut?"
Maka beliau
menjawab, "Diketahui dengan loyalitas yang sempit. Barangsiapa
bersamanya maka mereka menghormatinya dan menyeru orang-orang untuk menghadiri
ceramahnya dan berkumpul di sekitarnya. Dan barangsiapa tidak bersama dengan
mereka maka dia dianggap sebagai musuh oleh mereka.." ("Tuhfatul
Mujib" /hal. 112/Darul Atsar).
Asy Syaikh
Sholih As Suhaimy -حفظه الله- berkata tentang kelompok-kelompok di medan
dakwah,"Kelompok-kelompok ini bersamaan dengan perselisihan dan perpecahan
mereka serta perbedaan pemikirannya dan beranekanya sumber pengambilannya,
mereka itu bergabung menjadi satu front untuk memusuhi manhaj
Salafy yang tegak di atas Al Kitab dan Sunnah Rosululloh -shalallohu
'alaihi wa 'ala alihi sallam- di bawah pengaruh manhaj hizby yang sempit yang dibangun
di atas loyalitas dan permusuhan" dan seterusnya ("An Nashrul
'Aziz")/Asy Syaikh Robi’/hal. 44/Maktabatul Furqon).
Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه الله sendiri berkata: “Fanatisme terhadap
suatu pemikiran tertentu yang menyelisihi Kitabulloh ta’ala dan sunnah
Rosul صلى الله عليه وسلم, dan membangun loyalitas dan permusuhan
karenanya, maka ini merupakah perbuatan hizbiyyah. ini merupakah perbuatan
hizbiyyah sekalipun tidak terorganisir. Engkau membangun pemikiran yang
menyimpang, dan mengumpulkan orang-orang di atasnya, ini merupakan hizb, sama
saja dia mengorganisir ataukah tidak. Selama mereka itu berkumpul untuk satu
orang yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, maka ini merupakah perbuatan
hizbiyyah.” (“Majmu’ Kutub Wa Rosail Wa fatawasy Syaikh Robi’ Al Madkholiy/14/hal.
461/Darul imam Ahmad).
SEORANG
HIZBIY ADALAH MUBTADI’
Seorang
hizbiy adalah mubtadi’ karena dirinya menyelisihi satu dasar dari dasar-dasar
Islam: yaitu kesetiaan kepada Al Jama’ah yang ada dalam penerangan Al
Kitab As Sunnah dan As salafiyyah, tidak melakukan loyalitas dan permusuhan
kecuali karena Alloh. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Hukum orang yang berloyalitas karena suatu
jama’ah dan memusuhi yang lain, maka sungguh dia itu adalah mubtadi’ yang
sesat.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 28/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).
Syaikh kami
An Nashihul Amin Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Barangsiapa terjatuh ke dalam hizbiyyah tanpa
ilmu, tidaklah dikatakan bahwasanya dirinya itu hizbiy karena dia itu bisa jadi
belum sampai padanya penjelasan, bukti-bukti ataupun hujjah. Adapun orang
yang telah sampai padanya bayyinat dan tegak atasnya hujjah lalu dia
menentangnya maka dia itu adalah hizbiy mubtadi’. Dan hizbiyyah itu bid’ah.”
(dicatat tanggal 2 Jumadal Ula 1431 H).
Ditanyakan kepada
Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله : “Apakah setiap orang yang ada padanya hizbiyyah maka dia
itu mubtadi’ dan keluar dari Ahlussunnah Wal Jama’ah?”
Maka beliau
menjawab: “Iya, dikarenakan hizbiyyah itu dengan sendirinya adalah bid’ah:
barangsiapa ridho kepadanya dan berjalan pada tunggangannya, dan baku tolong
dengan pelakunya maka dia itu mubtadi’…” dst. (“Al Fatawal
Jaliyyah”/2/hal. 214/Darul Minhaj).
Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه
الله sendiri berkata:
“Maka pendapatku adalah bahwasanya setiap hizbiy adalah mubtadi’, mereka
mau ataupun tidak mau.” (“Majmu’ Kutub Wa Rosail Wa fatawasy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy/14/hal. 162/Darul Imam Ahmad).
Yang kami
sesalkan, Asy Syaikh Robi’ tidak menghukum kedua anak Mar’i dan pengikut mereka
sebagai hizbiy dan mubtad’ bersamaan dengan banyaknya syarat tahzib dan tabdi’
yang ada pada mereka, yang mana dengan sebagian syarat tadi saja beliau
menghukum sebagian orang sebagai hizbiy dan mubtadi’.
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang kesepuluh: Melaknat kepada orang tertentu
sampai bahkan sebagian dari mereka melaknat Abu Hanifah, dan sebagiannya
mengkafirkan dirinya.”
Komentar
saya:
Yang
ketigapuluh lima dari sifat Haddadiyyah adalah: melaknat orang-orang tertentu
yang tidak berhak untuk dilaknat. Adapun Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله jika menyebut Abu Hanifah beliau mendoakan rohmat
untuknya, tidak melaknatnya dan tidak pula mengkafirkannya. Saya juga tak
pernah mendengar beliau melaknat orang-orang tertentu yang tidak dilaknat oleh
Alloh ataupun Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم. Adapun melaknat orang secara sifat, bukan dengan menyebutkan
nama, maka hal itu dalil-dalilnya telah terkenal di kalangan Ahlussunnah.
Maka
alangkah besarnya penyesalan kepada para pembikin-bikin tuduhan itu, bagaimana
mereka menggabungkan Darul hadits di Dammaj dengan Haddadiyyah? Hal ini
menunjukkan bahwasanya mereka itu tertimpa musibah dengan sebab jeleknya
pemahamansehingga tidak benar-benar memperhatikan karakter Haddadiyyah. Atau
disebabkan oleh jeleknya maksud mereka sehingga mereka mengikuti hawa
nafsunya dan menentang kenyataan yang sangat jelas. Maka semoga Alloh
melindungi kalian dari dibutakan oleh kedengkian.
[Pasal
keduabelas: Bermudah-mudahan Dalam Mengkafirkan Orang]
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Dan datanglah Al Haddad kepada perkataan yang
benar ataupun salah seraya berkata: “Ini adalah zandaqoh (kemunafikan secara
I’tiqodiy)” yang memberikan kesan bahwasanya orang ini takfiriy yang memakai
kedok.”
Komentar saya:
Yang
ketigapuluh enam dari sifat Haddadiyyah adalah: bermudah-mudahan dalam
mengkafirkan orang. Dan seluruh pujian hanya untuk Alloh, tiada pada
syaikh kami yang mulia itu رعاه اللهpemikiran takfiriyyah. Beliau juga tidak
bermudah-mudahan dalam mengkafirkan orang. Beliau حفظه الله telah mengulang-ulang perkataan bahwasanya Ahlussunnah itu
tidak mengkafirkan seorangpun dari Ahlul Qiblah karena dosa yang dilakukannya,
kecuali dosa yang memang mengharuskan pelakunya kafir secara hukum syari’ah,
dan dalam pengkafiran itu harus ditunaikan syarat-syaratnya dan disertai dengan
hilangnya penghalang-penghalang, dan yang demikian itu diserahkan kepada orang
yang alim dalam bab itu. Ini menunjukkan bahwasanya beliau bersungguh-sungguh
memperhatikan manhaj Ahlussunnah dalam bab ini –dan bab-bab yang lainnya, dan
juga menunjukkan berhati-hatinya beliau dalam memvonis dan memperhatikan
akibat-akibatnya.
Adapun
Mar’iyyun, maka mereka punya sifat ini: bermudah-mudahan dalam mengkafirkan
orang. Hani Buroik berupaya menisbatkan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy kepada
kemurtadan sebagaimana telah diketahui dalam salah satu ceramahnya.
Basyir Al
Hazmiy berkata tentang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy: “Dia itu pembohong, fajir,
fasiq, lidah kotor, zindiq!” sebagaimana disaksikan oleh saudara kita Samih bin
Ali حفظه الله (“Mukhtashorul Bayan”/hal. 43).
Ali ‘As’us
berkata pada saudara kita Haidaroh ‘Azb رعاه الله : “Pada diri Asy Syaikh Yahya ada perkara-perkara
kemurtadan” (lihat “Al Washoyan Nafi’ah Fil Fitnatil Waqi’ah”/Abu Bakr bin Abdah
bin Abdillah bin Hamid Al Hammadiy/hal. 19).
Maka hizb
baru ini yang dibela oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy mereka itulah
haddadiyyun. Adapun Ahlu Dammaj yang dituduh dengan dusta oleh beliau sebagai
haddadiyyun, maka mereka berlepas diri dari yang demikian itu.
[Pasal
Ketigabelas: Kesombongan, Penentangan, Dan penolakan Terhadap kebenaran]
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang kesebelas: Kesombongan dan penentangan yang
menyebabkan mereka menolak kebenaran sebagaimana seluruh ahlul bida’. Maka
seluruh apa yang disampaikan oleh Ahlul Madinah yang berupa penjelasan tentang
penyimpangan Al Haddad dari manhaj Salaf, dan mereka tolak. Maka mereka dengan
perbuatan seperti ini menjadi termasuk sempalan Islam yang paling jelek secara
akhlaq dan pengelompokan”
Komentar
saya:
Sesungguhnya
orang yang kenal Alloh dengan sebenar-benarnya dia akan merendahkan diri kepada
Alloh. Ibrohim رحمه
الله berkata: Aku
bertanya kepada Al Fudhoil: Apakah tawadhu’ itu? Beliau
menjawab: “Yaitu engkau merunduk kepada kebenaran dan menaatinya.
Sekalipun engkau mendengarnya dari anak kecil, engkau terima kebenaran tadi
darinya. Dan sekalipun engkau mendengarnya dari orang yang paling bodoh, engkau
terima kebenaran tadi darinya.” (“Hilyatul Auliya”/biografi Al Fudhoil bin
‘Iyadh/3/hal. 392/Dar Ummil Quro/atsar hasan).
Al Imam Ibnu
Rojab رحمه الله berkata: “Oleh karena itulah maka
dulunya para imam Salaf yang ilmu dan keutamaan mereka telah disepakatimereka
menerima kebenaran dari orang yang mendatangkannya kepada mereka sekalipun
dia adalah anak kecil. Dan mereka juga berwasiat kepada para sahabat dan
pengikut mereka untuk menerima kebenaran jika kebenaran tadi muncul dari selain
ucapan mereka.” (“Al Farqu Bainan Nashihah Wat Ta’yiir”/Majmu’ur Rosail/2/hal.
404/cet. Al Faruq).
Inilah yang
kami lihat dari syaikh kami رعاه الله bahwasanya beliau menerima kebenaran sekalipun datang dari
anak kecil, bahkan dari musuhnya, karena beliau melihat bahwasanya manusia itu
–kecuali orang-orang yang ma’shum- seagung apapun martabatnya, dan setinggi
apapun kedudukannya, serta sebanyak apapun ilmunya, dia itu terkadang tahu, dan
terkadang tidak tahu, terkadang benar, dan terkadang salah. Oleh karena itulah
makanya peringatan itu diterima, dan perbaikan itu disambut baik jika mencocoki
dalil-dalil. Dan tak ada seorangpun yang lebih besar daripada kebenaran.
Adapun
ucapan yang lemah dan jelas kelemahannya dalam timbangan dalil-dalil maka
ucapan tadi tertolak walaupun dinamakan oleh orang yang membawanya tadi sebagai
“nashihat”.
Bahkan hizb
baru hizb ibnai Mar’i mereka itulah orang-orang yang sombong yang menentang
setelah ditegakkannya hujjah-hujjah dan bukti-bukti bersamaan dengan
ketidakmampuan mereka untuk meruntuhkannya secara ilmiyyah. Al Imam Al
‘Iroqiy رحمه
الله berkata: “Hanyalah
dikatakan ‘inad (penentangan) jika dia telah mengetahui kebenaran dan
menyelisihinya.” (“At Taqyid Wal Idhoh”/1/hal. 157)
Maka mereka
itulah pengekor hawa nafsu. Alloh ta’ala berfirman:
﴿إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا
تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ
الْهُدَى﴾ [النجم/23].
“Mereka
tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh
hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari
Robb mereka.”
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka seorang mujtahid yang berijtihad secara
ilmiyyah murni dia tidak punya tujuan selain kebenaran, dan dia telah menempuh
jalannya. Adapun orang yang mengikuti hawa nafsu murni maka dia itu adalah
orang yang mengetahui kebenaran dan menentangnya.” (“Majmu’ul Fatawa”/29/hal.
44).
Manakala
mereka tidak mau menerima hujjah-hujjah dan tidak mau kembali kepada kebenaran,
maka merekapun divonis sebagai mubtadi’ah, sama saja antara pemimpin hizb
ataupun para pengekornya. Pembid’ahan terhadap pemimpin hizb itu jelas. Adapun
pembid’ahan terhadap pengekornya adalah sebagaimana ucapan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah رحمه
الله : “Orang yang
bodoh itu wajib untuk kembali dan tidak bersikeras di atas kebodohannya, dan
tidak menyelisihi perkara yang para ulama Muslimin ada di atasnya, karena orang
tadi jika tetap demikian maka dia itu adalah mubtadi’ yang bodoh dan
sesat.” (“Majmu’ul Fatawa”/7/hal. 682).
Ucapan
beliau: “dan tidak menyelisihi perkara yang para ulama Muslimin ada di atasnya”
yaitu: tidak menyelisihi kebenaran yang para ulama Muslimin ada di atasnya. Dan
kebenaran itu dikenal dengan kesesuaiannya dengan Al Kitab dan As Sunnah
berdasarkankan pemahaman Salaful ummah, dan bukannya sekedar pendapat-pendapat
para ulama.
Maka orang
yang bodoh tapi menentang kebenaran setelah tegaknya hujjah, maka dia
digabungkan dengan pemimpinnya dalam hukum. Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al
Madkholiy حفظه
الله ditanya: “Apakah
orang dari kalangan awam Muslimin yang membawa syubhat-syubhat hizbiyyin
dikatakan bahwasanya dia itu hizbiy?”
Maka setelah
memuji Alloh dan bersholawat kepada Nabi beliau حفظه الله menjawab: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia
termasuk dari mereka. Akan tetapi hendaknya dia dinasihati dulu, dan dijelaskan
kepadanya kebenaran, karena orang yang bodoh itu terkadang mengalami kesamaran.
Maka hendaknya dijelaskan kepada kebenaran dan diarahkan ke situ. Ini adalah
rohmat ulama. Tapi jika dia bersikeras dan tidak mau serta membela ahlul
bida’ maka hukumnya sama dengan hukum mereka karena kesepakatan mereka
semua untuk memilih kebid’ahan dan mendahulukannya di atas sunnah, dan ini
adalah kesesatan yang nyata.” (“Al ‘Aqdul Munadhdhodul Jadid”/2/hal. 95/Darul
Itqon).
Asy Syaikh
Zaid bin Muhammad Al Madkholiy حفظه الله juga berkata: “Aku akan menunjukkan kepadamu
sebagian alamat yang dengannya seorang hizbiy itu dikenal, sama saja
apakah dia itu pemimpin hizb ataupun para pengekornya, adalah sebagai berikut:
yang pertama adalah: bergabungnya dia ke dalam jama’ah tertentu yang punya
manhaj khusus yang menyelisihi manhaj Salaf Ahlil Hadits wal Atsar, seperti
jamaah Ikhwanul Muslimin dan pecahan-pecahannya, Jama’ah Tabligh dan
orang-orang yang bergabung bersamanya. Dan pembalasannya demi hizbnya atau
jama’ahnya dengan benar atau batil. Yang kedua: Dia duduk-duduk dan berjalan
bersama salah satu jama’ah yang tersebut tadi dan yang lainnya dari kalangan
orang yang menyimpang dalam aqidah dan amalan, sama saja: mereka itu jamaah
ataukah individu, anak buah ataupun pemimpin.” (“Al ‘Aqdul Munadhdhodul Jadid”/1/hal.
31-32).
Ini juga
sama dengan manhaj syaikh kami An Nashihul Amin رعاه الله . beliau telah ditanya: “Orang awam yang terjatuh ke dalam
kebid’ahan dan dia tidak memahami hujjah, maka kapankah dia itu jadi mubtadi’?”
Maka
beliau رعاه الله menjawab: “Orang yang tidak paham
hujjah hendaknya disikapi dengan sabar. Orang-orang awam merupakan penolong
bagi orang yang lebih dulu mengajari mereka. Maka engkau akan melihat mereka
itu akan baku tolong dengan setiap penyeru. Dulu mereka baku tolong dengan
Mukhtar bin Abi ‘Ubaid, dan Ali bin Fadhl Al Qurmuthiy. Orang-orang awam
terpedaya dengan banyaknya harta dan banyaknya kedermawanan. Sebaik-baik ucapan
adalah kisah Qorun. Alloh عز وجل berfirman:
﴿فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ
الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ
قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ﴾
“Maka
keluarlah Qorun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang
menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa
yang telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai
keberuntungan yang besar". (QS. Al Qoshshosh: 79).
Maka orang
awam hendaknya disabari([5]), lebih-lebih
dalam keadaan mereka itu tidak memahami hujjah dan tidak tahu maknanya.Apabila
telah dijelaskan kepadanya hujjah, dan jelas baginya perkara tersebut dan dia
memahaminya, kemudian dia menentang dan bersikeras untuk itu, maka orang ini
digabungkan kepada orang yang dibelanya dengan kebatilan,…” dst. (“Ats
Tsawabitul Manhajiyyah”/hal. 23/Darul Kitab Was Sunnah).
Maka hizb
baru hizb ibnai Mar’iy telah menentang kebenaran. Maka mereka itu adalah
hizbiyyun mubtadi’ah. Asy Syaikh Mufti Kerajaan Saudi bagian selatan Ahmad bin
Yahya An Najmiy رحمه الله berkata: “Maka jika engkau telah telah
mengetahui adanya kebid’ahan darinya, lalu dia dinasihati untuk
meninggalkannya, akan tetapi dia bersikeras untuk tetap melakukannya maka
dia itu dinilai telah keluar dari sunnah dan memegang bid’ah,…” dst (“Al
Fatawal Jaliyyah”/1/soal: 14).
Syaikh kami
An Nashihul Amin حفظه
الله ditanya: “Apakah
ada perbedaan antara mubtadi’ dalam manhaj dan mubtadi’ dalam perkara ibadah?”
Maka
beliau رعاه الله menjawab: “Mubtadi’ adalah mubtadi’.
Dantidaklah setiap orang yang terjatuh ke dalam suatu kebid’ahan berarti dia
itu mubtadi’([6]). Bisa jadi
dia tidak sengaja. Akan tetapi barangsiapa bermaksud dan sengaja untuk
menentang kebenaran maka dia itu adalah mubtadi’”. (“Ats Tsawabitul
Manhajiyyah”/hal. 27/Darul Kitab Was Sunnah).
KESOMBONGAN
ASY SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDIL WAHHAB AL WUSHOBIY DAN PENENTANGANNYA TERHADAP
KEBENARAN
Adapun
tangisan mereka terhadap Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy:
“Mengapa kalian mengkritik beliau?!”
Maka
jawabnya adalah: Sesungguhnya Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy
membela Mar’iyyin mati-matian setelah terangnya hujjah-hujjah, dan menentang
kebenaran setelah datangnya penjelasan. Dirinya sendiri telah nampak darinya
sebagian penyelewengan, dan tampak kesombongannya kepada kebenaran dan
kepada para pemberi nasihat yang benar. Barangsiapa ingin melihat kepada sikap
‘inadnya (penentangan kepada kebenaran setelah datangnya penjelasan) silakan
membaca –misalnya- “Al Washoyan Nafi’ah Fil Fitnatil Waqi’ah” (hal.29-34)
karya Abu Bakr bin Abdah bin Abdillah bin Hamid Al Hammadiy.
Dan lihatlah
permainannya dan ‘inad dia dalam kasus tauhidul hakimiyyah.
Saudara kita
Abur Robi’ Muhsin bin ‘Iwadh Al Qulaishiy dalam risalahnya “Hiwar Hadi Ma’asy
Syaikh Al Wushobiy” berkata:
Asy Syaikh
Al Wushobiy dalam kitabnya “Al Qoulul Mufid” hal. 72 berkata: Pengertian
tauhid. Tauhid secara bahasa adalah mashdar dari وحد يوحد yaitu: menjadikan sesuatu menjadi satu. Dan secara
syari’ah adalah: penunggalan Alloh dalam rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan
nama dan sifat-Nya, dan hukum-Nya. Lihatlah: “Majmu’Fatawasy Syaikh Ibnu
Baz” (1/hal. 34).
Selesai
ucapan Asy Syaikh Al Wushobiy.
Dan ketika
muncul kitab ini setelah penelitian ulang dari Asy Syaikh Al Wushobiy dengan
beberapa tambahan pada tahun (1422 H) akupun melihat-lihat kitab itu karena Asy
Syaikh Al Wushobiy memerintahkannya, di mana beliau berkata dalam salah satu
darsnya: “Jika kalian melihat kesalahan apapun dalam kitab ini, maka
peringatkanlah diriku, niscaya kalian akan mendapatkan doa dariku.” Dan beliau
mengulang ucapan itu lebih dari sekali.
Maka akupun
memberanikan diri untuk itu dan mulai melihat-lihat isi kitab itu. Seakan-akan
Asy Syaikh Al Wushobiy memberikan isyarat bahwasanya di dalam kitab itu ada
perkara-perkara yang beliau berijtihad di situ dari dirinya sendiri.
Lalu mataku
tertuju pada beberapa perkara yang menyelisihi jalan ulama kita dalam menyusun
kitab-kitab aqidah dan tauhid. Dan penyelisihan yang paling penting adalah:
penisbatan ucapan tambahan ini: “dan hukum-Nya” kepada Al Imam Ibnu Baz رحمه اللهhingga aku mengira bahwasanya ucapan ini
memang diucapkan oleh Al Imam Ibnu Baz رحمه الله sampai-sampai aku disusupi keraguan dan kebimbangan
bersamaan dengan keyakinanku akan aqidah Imam tersebut رحمه الله seperti dulunya keyakinanku. Maka aku saat itu juga aku
menjulurkan tanganku kepada kitab-kitab Al Imam Ibnu Baz رحمه الله dan aku mengambil jilid yang diisyaratkan dalam kitabnya
yaitu (1/34) dari “Majmu’ul Fatawa”, kemudian aku buka halaman yang
diisyaratkan padanya dan mulailah aku membacanya. Tapi aku tidak mendapati
penisbatan ini pada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله. Maka aku sangat heran melihat perbuatan ini dan kelancangan
ini. Bagaimana dia punya hak untuk berbuat itu dari dirinya sendiri. Silakan
membaca perkataan Al Imam Ibnu Baz رحمه الله secara lengkap. Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata (1/hal. 34):
“Tauhid:
mashdar dariتوحيدا وحد يوحد yaitu: وحِّد الله yaitu: yakinilah bahwasanya Alloh itu satu, tiada sekutu
baginya dalam rububiyyah-Nya, ataupun dalam nama dan sifat-Nya, ataupun dalam
uluhiyyah-Nya dan ibadah kepada-Nya, yang Mahasuci dan Mahatinggi… dan ketika
dirinci jadilah jenis tauhid itu ada tiga: tauhid rububiyyah, tauhid
uluhiyyah, dan tauhid asma was sifat. Untuk tauhid rububiyyah kaum musyrikin
mengakuinya dan mereka tidak mengingkarinya. Akan tetapi mereka tidak masuk ke
dalam Islam dengan tauhid ini…”
Manakala aku
memastikan bahwasanya penisbatan ini adalahsusupan dari Asy Syaikh Al Wushobiy,
berkumpullah aku dengan beberapa ikhwah dari penuntut ilmu. Asy Syaikh Al
Wushobiy mengenali mereka. Aku katakan pada mereka: “Marilah kita pergi menemui
Syaikh, mencari kepastian tentang apa yang beliau inginkan dengan penisbatan
ucapan ini pada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله.”
Kukatakan
pada mereka: “Barangkali terjadi salah tulis dari beliau dalam kejadian
tersebut, atau hal itu adalah hasil dari ijtihad beliau, sementara ijtihad
dalam hal-hal seperti ini adalah tidak boleh secara syari’ah, terutama
menisbatkan ucapan yang muhdats kepada para imam yang agung yang memiliki
amalan ilmiyyah yang besar.”
Maka kamipun
berkumpul dengan Asy Syaikh Al Wushobiy di dalam kamar yang ada di samping
mihrob seusai sholat ‘Ashr pada bulan Ar Robi’uts Tsani tahun 1422H dan kami
katakan pada beliau: “Wahai syaikh, Anda telah meminta para thullab Anda untuk
memeriksa kitab ini, dan barangsiapa mendapati perkara apapun yang perlu
diperingatkan hendaknya dia menyampaikannya kepada Anda.”
Maka beliau
berkata: “Apakah kalian mendapatkan sesuatu?”
Aku jawab:
“Iya syaikh, kami mendapatkan perkara-perkara yang banyak.”
Beliau
berkata: “Perkara-perkara apa itu?”
Aku jawab:
“Ada beberapa perkara yang menyelisihi jalan ulama kita.”
Lalu aku
jelaskan padanya beberapa penyelisihan tadi, hingga kami sampai pada definisi
tauhid yang beliau tulis, dan penisbatan ucapan tambahan tadi kepada Asy Syaikh
Ibnu Baz رحمه
الله . kukatakan pada
beliau: “Sesungguhnya Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه اللهtidak mengucapkan perkataan yang diisyaratkan
kepadanya ini tadi.”
Maka beliau
berkata padaku: “Siapakah yang mengabarimu dengan itu?”
Aku jawab:
“Saya lihat sendiri perkataan Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه اللهdan saya tidak mendapati tambahan tadi.”
Maka beliau
berkata padaku: “Apakah engkau sudah memastikannya?”
Aku jawab:
“Iya, ini dia kitab beliau ada di tangan saya, saya akan membacakan kepada Anda
ucapan Asy Syaikh Ibnu Baz”.
Kemudian
akupun membacakan kepada beliau ucapan Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله hingga aku berhenti dari halaman yang diisyaratkan. Lalu
aku berkata pada beliau: “Wahai syaikh, di manakah tempat kalimat tadi dari
perkataan Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله ?”
Diapun
terdiam.
Kemudian aku
bertanya kepadanya untuk memastikan: “Wahai syaikh, apakah Anda berpendapat
adanya tauhid hakimiyyah?”
Maka diapun
menjawab: “Iya”
Lalu
kutanyakan padanya: “Wahai syaikh, siapakah yang berpendapat seperti itu dari
kalangan ulama?”
Dia terdiam
lagi.
Dan aku tahu
bahwasanya Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy memang berpendapat
seperti itu sebelum keluarnya kitabnya tadi. Dulu dia mengulang-ulang seputar
“hakimiyyah” pada salah satu darsnya selepas maghrib, kemudian naik di seputar
“tauhid hakimiyyah”. Seakan-akan dia memang berkeyakinan seperti itu, sebatas
apa yang kupahami dari perkataannya. Kemudian setelah dia selesai berbicara aku
bertanya kepadanya: “Apakah tauhid hakimiyyah itu merupakan tauhid yang tersendiri?”
Dia
menjawab: “Iya. Dia berhak untuk berdiri sendiri.”
Perkataan
ini diucapkannya pada malam Rabu tanggal 6/11/1421H.
Kemudian di
akhir pertemuan kami dengan Asy Syaikh Al Wushobiy kukatakan padanya: “wahai
syaikh, saya telah bertanya kepada Syaikh kami Sholih As Suhaimiy حفظه الله pada salah satu dars beliau di tanah suci tentang tauhid
hakimiyyah, maka beliau berkata padaku: “tauhid hakimiyyah adalah tauhid yang
muhdats. Dan yang pertama kali membawanya adalah Al Ikhwanul
Muslimin. Dan tidaklah mereka membawanya kecuali untuk mengkafirkan para
penguasa dan memberontak pada mereka.”
Dan aku
nukilkan kepadanya perkataan “Al Lajnatud Daimah” حفظهم اللهtentang tauhid hakimiyyah. Para ikhwah juga
menukilkan padanya beberapa perkataan ulama tentang tauhid hakimiyyah.
Kemudian aku
jelaskan juga padanya beberapa perkara yang perlu diperhatikan yang ada dalam
kitabnya tadi. Kemudian selesailah pertemuan tadi menjelasng maghrib dengan
kesimpulan bahwasanya aku akan menulis kritikan-kritikan tadi dalam selembar
kertas aku berikan padanya.
Tapi yang
sangat disayangkan: dirinya di dalam dars malam itu aku kira akan memuji para
thullabnya yang membantunya di atas kebaikan, ternyata dirinya dalam darsnya
mulai berbicara tentang khowarij, menjelaskan sifat-sifat mereka dan bagaimana
mereka memberontak pada ulama. Dan dia mulai menyerupakan kami dengan mereka.
Bahkan dirinya menjadikan dars malam itu semuanya adalah tentang khowarij.
Inilah doa yang dijanjikannya kepada kami!!!
Maka tiada
upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.
﴿ويمكرون ويمكر الله والله خير الماكرين﴾.
“mereka
membikin tipu daya, dan Alloh membalas tipu daya mereka. Dan Alloh adalah
sebaik-baik pembalas tipu daya.”
Sampai-sampai
salah seorang sahabatku memandang wajahku dan tersenyum seraya memberikan
isyarat dengan kepalanya bahwasanya dirinya menyesalkan perbuatan Asy Syaikh Al
Wushobiy. Seusai dars mulailah aku menenangkan sahabatku dan aku redakan
kemarahannya sedikit demi sedikit. Kukatakan padanya: “barangkali syaikh
berijtihad dalam memvonis kita tadi.” Lalu kami saling berwasiat untuk
bersabar, dalam keadaan aku tahu bahwasanya syaikh ini adalah orang yang
sombong dan tidak menyukai kebenaran.”([7])
Kemudian aku
menulis koreksian yang dimintanya dariku tadi lalu aku berikan kepadanya
setelah empat hari, dan di dalamnya tertulis kesalahan-kesalahan yang ada di
dalam kitab tadi.
Setelah satu
pekan datanglah kepada syaikh pertanyaan-pertanyaan dari Britonia, yang mana di
antara soal-soal tadi ada pertanyaan yang terkait dengan tauhid
hakimiyyah. Maka syaikh menjawab bahwasanya tauhid hakimiyyah termasuk
jenis yang berdiri sendiri. Yang lebih berat dari itu adalah bahwasanya dia
menisbatkan perkataan tadi kepada Al ‘Allamah Muhammad bin Aman Al Jamiy
–semoga Alloh merohmatinya- dan bahwasanya beliau juga berkata demikian.
Pada hari
kedua aku dikabari tentang hal itu, dan bahwasanya syaikh Wushobiy berfatwa
bahwasanya tauhid hakimiyyah termasuk jenis yang berdiri sendiri. Maka aku
terheran-heran dengan amat sangat dari orang ini. Bagaimana dia bisa berfatwa
di hadapan manusia dalam keadaan kami telah menjelaskan kepadanya bahwasanya
perkataan ini adalah ucapan ahlul bida’ dari kalangan Ikhwaniyyah, Sururiyyah
dan Quthbiyyah?
Jawaban dia
terhadap pertanyaan dari Britonia itu terjadi pada dars Zhuhur, yang mana
mayoritas waktu untuk menjawab pertanyaan adalah pada waktu tadi. Lalu aku
datang pada hari kedua pada dars Zhuhur, dan seakan-akan syaikh mengetahui
sebab kehadiranku karena aku tidak biasa hadir pada dar zhuhur. Pada akhir dars
dia menanyai seorang murid seraya berkata: “Apakah tauhid hakimiyyah termasuk
jenis tauhid yang berdiri sendiri?” tidaklah dia menanyainya –demi Alloh-
kecuali karena diriku, dan aku tahu itu.
Maka si
murid menjawab: “Iya”
Syaikh
bertanya padanya: “Siapakah dari ulama yang berkata demikian?”
Si murid
menjawab: “Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy([8])”
Maka akupun
menjadi sangat marah karena hal itu. Seakan-akan syaikh sengaja terang-terangan
dengan bid’ah ini bahkan mengajak manusia kepadanya, bahkan mendiktekannya
kepada para muridnya, serta berkata dusta atas nama ulama, terkadang terhadap
Al imam Ibnu Baz dengan tulisan, dan terkadang terhadap Al ‘Allamah Muhammad
bin Aman Al Jamiy dengan dikte lisan. Dan aku tak sanggup menahan diriku lagi
dari kemarahanku.
Maka akupun mengangkat
tanganku dan berkata kepada syaikh: “Sesungguhnya tauhid hakimiyyah tidak
termasuk jenis tauhid yang berdiri sendiri.”
Dia
menjawab: “Sesungguhnya Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy berkata demikian.”
Kukatakan
padanya: “Di manakah beliau berkata yang demikian?”
Dia
menjawab: “Dalam kitab “Haqiqotusy Syuro Fil Islam” hal. 11”
Kukatakan:
“Wahai syaikh, sesungguhnya Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله dalam kitab itu membantah para Harokiyyun yang
mendengung-dengungkan seputar tauhid hakimiyyah, dan beliau menjelaskan pada
mereka bahwasanya hakimiyyah itu harus diterapkan di segenap ruang kehidupan
dunia dan agama.”
Maka dia
berkata padaku: “Bahkan beliau berkata yang demikian. Rujuklah kembali kitab
itu.”
Ketika aku
pulang ke rumah, dan kitab itu ada padaku –segala pujian dan karunia adalah
milik Alloh- aku memperolehnya sebagai hadiah dari Ali bin Asy Syaikh Muhammad
Aman Al Jamiy رحمه
الله . Kemudian aku
bolak-balik kitab itu dengan halaman yang diisyaratkan oleh lidahnya. Maka
aku dapati bahwasanya perkataan beliau beda dengan apa yang diaku-aku oleh Asy
Syaikh Al Wushobiy yang mana Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Aman Al
Jamiy رحمه الله berkata: “Sesungguhnya hakimiyyah dalam
Islam hanyalah milik Alloh semata. Dan inilah yang diimani oleh setiap muslim
yang berakal yang belum berubah fitrohnya dengan pemikiran Barat dan Timur,
Karena tauhid hakimiyyah adalah tauhid tasyri’ itu sendiri. Dan dia itu
adalah jenis dari tauhidul ibadah, maka tiada ibadah kecuali kepada Alloh.
Maka tiada hakimiyyah kecuali milik Alloh satu-satunya, bukan milik satu
individu atau satu partai atau suatu bangsa.”
Inilah
beliau Al ‘Allamah Muhammad Aman Al Jamiy رحمه اللهmembantah harokiyyun yang
mendengung-dengungkan seputar tauhid hakimiyyah, dan beliau menjelaskan pada
mereka bahwasanya tauhid hakimiyyah yang mereka bikin-bikin itu hanyalah masuk
ke dalam tauhid uluhiyyah, dia adalah bagian darinya, dan bukan tauhid yang
tersendiri. Inilah yang benar, dan inilah perkataan seluruh ulama kita secara
ijma’.
Maka di manakah
pemahaman Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy terhadap perkataan
Al ‘Allamah Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله hingga dia menisbatkan kepada beliau perkataan yang
muhdats ini, bahkan menyebarkannya di antara para pelajar. Bahkan sampai ke tingkatan
dunia sebagaimana dalam kaset “Al Asilatul Brithoniyyah”. Maka tiada upaya
ataupun kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.
سارت مشرقة وسرت مغرباً شتان بين مشرق ومغرب
“Dia
berjalan ketimur, dan aku berjalan ke barat. Alangkah bedanya antara orang yang
ke timur dengan orang yang ke barat.”
Kemudian aku
tinggal selama satu setengah tahun dalam keadaan menutup mulut sambil menunggu
bahwasanya syaikh akan mengumumkan rujuknya dan berpalingnya dari pemdapat yang
tidak diucapkan oleh Ahlussunnah itu. Kemudian Alloh ta’ala menghendaki ketika
aku ada di madinah nabawiyyah untuk aku pergi ke maktabah Ibnu Rojab, maka
mataku tertuju pada suatu kitab yang mengurusi kasus ini. Dan Alloh tahu
bahwasanya aku merasa gembira dengan amat sangat karena aku ingin menjelaskan
pada syaikh ucapan-ucapan para ulama kita dalam masalah ini, dan bahwasanya
ucapan tadi adalah perkataan ahlul bida’ orang-orang yang memiliki
manhaj-manhaj politik takfiriyyah yang menyimpang.
Tidak lama
kemudian akupun tiba di Yaman pada bula Ar Robi’ul Awwal tahun 1424 H, maka aku
datang dengan membawa kitab tadi kepada Asy Syaikh Al Wushobiy, lalu kukatakan
padanya dengan segenap adab, rasa malu dan penghormatan, di antaranya kukatakan
padanya: “Wahai syaikh, sudahkah Anda membaca kitab ini?”
Dia melihat
kitab ini dan berkata padaku: “Belum”.
Maka
kukatakan padanya: “Jika demikian maka bacalah kitab ini, niscaya Anda akan
mendapatkan di dalamnya ucapan-ucapan para ulama tentang masalah tauhid
hakimiyyah. Nama kitab ini adalah: “Al ‘Ulama Yatawallauna Tafnidad Da’awis
Siyasiyatil Munharifah Li Abdirrohman Abdil Kholiq Khoshshotan Taqsimuhut
Tauhid Ila Arba’ati Aqsam.” (artinya adalah: para ulama mengurusi penghancuran
da’wa politis yang menyeleweng milik Abdirrohman Abdil Kholiq khususnya pembagiannya
tauhid menjadi empat macam).
Alangkah
seringnya aku berharap bahwasanya syaikh mau mengumumkan taroju’nya ketika
mendapati ucapan para ulama besar kita, akan tetapi sungguh disesalkan: kitab
itu tinggal bersamanya selama hampir dua pekan, lalu dia memberikannya kepada
teman dekatku untuk memberikannya kepadaku, dan dia tak mau berbicara satu
kalimatpun seputar bab ini.
Yang lebih
berat dan lebih pahit lagi dari itu tadi: kitab “Al Qoulul Mufid” telah dicetak
lagi setelah cetak yang terakhir itu, dan tetap saja syaikh bersikeras
untuk menisbatkannya perkataan “dan hukum-Nya” kepada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله padahal tidaklah tersembunyi kerusakan-kerusakan besar
yang diakibatkan oleh perkataan bohong atas nama ulama dan penisbatan ucapan
yang muhdats kepada mereka, karena perkataan bohong atas nama ulama adalah
tunggangan kepada kebinasaan. Bisa jadi umat menyeleweng disebabkan oleh
perkataan bohong atas nama ulama tadi. Dan bisa jadi terbukalah pintu bagi
ahlul bida’ dengan melariskan kebatilan dan khurofat mereka. kalaupun itu semua
tidak terjadi kecuali bahwasanya ahlul bida’ akan berdalilkan dengn itu tadi
bahwasanya masalah ini adalah masalah ijtihadiyyah, dan janganlah engkau
bertanya tentang apa yang akan terjadi berupa pengkaburan terhadap orang-orang
bodoh, bahkan terhadap sebagian ahlul ilmi dengan sebab tadi.
Maka
lihatlah orang ini yang ingin mencelaki aqidah Ahlussunnah dengan kebutaan
ahlul bida’. Jika Asy Syaikh Al Wushobiy lancang seperti ini yang belum ada
yang mendahuluinya untuk berbuat itu, maka di manakah dakwaannya untuk
mengikuti manhaj Salaf? Jika dia adalah pengikut sunnah, maka kenapa sikap
ittiba’nya tadi tidak menghalanginya dari perkataan bohong atas nama
ulama-ulama besar tadi yang mereka itu berdiri tegak bagaikan gunung yang megah
di depan fitnah-fitnah yang hampir saja menyapu umat?
Maka berapa
banyaknyakah ucapan-ucapan yang dusta yang menyeret ulama yang banyak kepada
penyelewengan, terutama jika perkataan dusta dan dibikin-bikin tadi dinisbatkan
kepada tokoh yang punya kedudukan tinggi di tengah-tengah umat seperti Al Imam
Ibnu Baz رحمه
الله . Ketahuilah: Maka
hendaknya Asy Syaikh Al Wushobiy bertaqwa kepada Alloh dan hendaknya dia
menjadikan firman Alloh ta’ala: ﴿ستكتب شهادتهم ويسألون﴾
“Persaksian
mereka akan dicatat dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban”
Sebagai
peringatan yang terpancang di depan mata mereka.
Dan
hendaknya dia ingat juga dengan firman Alloh ta’ala: ﴿ألم يعلم بأن الله يرى ﴾.
“Tidakkah
dia mengetahui bahwasanya Alloh itu melihat?”
Demikianlah
kisah dari Abur Robi’ Muhammad Al Qulaishiy حفظه الله. Kemudian beliau berkata:
Dan yang
amat sangat mengherankan lagi: bahwasanya diriku sebelum dua tahun, dan ketika
itu adalah tahun 1428 H ketika terjadi perselisihan antara diriku dan dirinya,
dan dia menuduh diriku melemahkan semangat orang-orang dari dauroh-dauroh
ilmiyyah (sebagaimana diaku-akunya) aku katakan pada sebagian muridnya: “Jika
syaikh menuduhku bahwasanya aku itu munafiq, dan bahwasanya aku melemahkan
semangat orang-orang dari dauroh-dauroh ilmiyyah maka sesungguhnya apa
yang ada pada syaikh itu lebih besar daripada apa yang ada pada diriku, karena
syaikh menuduh para ulama sebagai mata-mata, dia juga bohong atas nama Asy
Syaikh Ibnu Baz, dan dia juga mulai bepergian ke para hizbiyyun, berceramah di
sana dan memerintahkan para murid untuk berbuat demikian,…”
Maka si
murid tadi pergi dan mengabarkan hal itu pada syaikh, ternyata syaikh
mengingkari dan berkata padanya: “Kapankah aku berpendapat tentang tauhid
hakimiyyah?!”
Maka si
murid berkata: “Dia berkata bahwasanya Anda mengatakan itu dalam kitab Anda dan
Anda nisbatkan kepada Asy Syaikh Ibnu Baz.”
Maka diapun
mengambil kitab itu dan melihat ke dalamnya, ternyata dia harus berhadapan
dengan hakikat([9]). Apa yang dia
lakukan untuk menyelamatkan dirinya?! Dia melihat ke kitab tadi lalu berkata
pada murid tadi: “Aku berkata: “lihatlah” dan aku tidak berkata: “Sebagaimana
dalam jilid tersebut” (!!!).
Ketika murid
tadi datang kepadaku dan menyebutkan padaku hal itu maka akupun tertawa
banyak-banyak dan kukatakan padanya: katakan pada beliau: “Wahai syaikh
Muhammad, Anda itu berbicara dengan orang dari Arob dan hidup di Madinah, Anda
tidak sedang berbicara dengan orang ‘Ajam yang hidup di Pakistan atau di
sebagian negri Afrika.”
Maka
lihatlah wahai umat Muhammad kepada perbuatan yang mengherankan ini dengan
sebenar-benarnya, apakah hal itu pantas untuk dilakukannya sebagai mufti?!
Kukatakan:
ini adalah perbuatan dari Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy
dalam mensikapi nasihat para penasihat, sangat kita sesalkan.
Wahai syaikh
Muhammad وفقك
الله, Andalah yang berkata
dalam “Nashihah Tasu’a”: Tiada kebaikan pada kita jika kita tidak mau
menerima nasihat. Dan tiada kebaikan pada kalian jika kalian tidak memberikan
nasihat pada kami. Dan tiada kebaikan pada kita jika kita tidak mau menerima
kebenaran, dan jika kita tidak mau menerima nasihat. Dan tiada kebaikan pada
kalian jika kalian tidak mau mencurahkan nasihat.”
Anda juga
berkata dalam kaset Syabwah “Wujubut Tamassuk Bil Kitab Was Sunnah”: “Jika
engkau mau memberikan hadiah nasihat yang tepat pada tempatnya kepada seorang
alim Sunniy maka hal itu lebih utama baginya daripada satu gallon madu, satu
gallon madu, dari jenis madu yang terbaik. Yang demikian itu dikarenakan satu
gallon madu itu akan dimakannya, lalu pergi bersamanya masuk kamar kecil. Akan
tetapi nasihat ini, bagi orang yang cintai ilmu, cintai kebaikan, dan cinta
sunnah, dia akan berkata: Nasihat ini lebih bermanfaat bagiku daripada satu
gallon madu, sekalipun nasihat tadi ada dalam selembar kertas kecil sebaris dua
baris.”
Alangkah
bagusnya ucapan ini wahai syaikh Muhammad وفقك اللهakan tetapi mana penerapanmu terhadap apa
yang engkau ucapkan?!! Berbagai nasihat telah datang kepadamu berturut-turut,
wahai syaikh Muhammad, dari Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan dari sekelompok
penuntut ilmu, akan tetapi yang disesalkan adalah engkau tidak mengambil
manfaat darinya.
﴾selesailah penukilan dari risalah
“Hiwar Hadi Ma’asy Syaikh Al Wushobiy” karya Saudara kita Abur Robi’ Muhsin bin
‘Iwadh Al Qulaishiy حفظه الله.
Lihatlah
kepada penetapan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy tauhid
hakimiyyah sebagai tauhid yang tersendiri, pada itu adalah termasuk syi’ar
khowarij yang terkenal. Dan para ulama telah menghukumi bahwasanya pembagian
yang tersendiri itu adalah bid’ah, karena dia adalah penambahan pada agama ini.
Dan mencocoki kondisi dirinya apa yang diucapkan oleh Al Imam Ibnul Wazir
-rohimahullohu- berkata: “Maka ketahuilah bahwasanya tempat tumbuhnya mayoritas
bid’ah itu kembali kepada dua perkara yang kebatilannya jelas. Maka
perhatikanlah dia dengan adil, dan kuatkan kedua tanganmu untuk menghadapinya.
Kedua perkara yang batil ini adalah:
- penambahan
terhadap agama dengan cara menetapkan apa yang tidak disebutkan oleh Alloh dan
para Rosul-Nya –‘alaihimus salam- yang berupa urusan agama yang besar yang
wajib,
- ataupun
juga pengurangan dari urusan agama, dalam bentuk meniadakan sebagian dari apa
yang disebutkan oleh Alloh ta’ala dan Rosul-Nya dengan suatu pena’wilan yang
batil.”
(“Itsarul
Haqq ‘alal Kholq”/hal. 85).
Dan
salafiyyun tidak mengetahui ada seorangpun yang mengangkat syi’ar hakimiyyah
tadi kecuali bahwasanya dirinya itu dari hizbiyyin harokiyyin.
Dan lihatlah
kepada kesombongan dan ‘inad tadi. Dan telah lewat penjelasan bahwasanya
barangsiapa menentang kebenaran dan menyombongkan diri terhadapnya maka dia itu
dihukumi sebagai mubtadi’.
Maka
kesimpulannya adalah: Tentu saja tidak ada orang yang ma’shum dari
kesalahan sekarang ini, akan tetapi sungguh Ahlussunnah di Darul Hadits di
Dammaj secara umum والحمد
لله telah diberi
taufiq oleh Alloh untuk tawadhu’ kepada Alloh, untuk menerima kebenaran dan
menjauh dari sikap ‘inad. Dan sebagaimana mereka melaksanakan Kitabulloh dan
Sunnah Nabi صلى الله
عليه وسلم, demikian pula
mencocoki apa yang dilakukan oleh Ubaidulloh bin Hasan رحمه اللهdalam menaati kebenaran jika telah datang.
Al Imam Ibnu
Mahdi رحمه الله berkata: Dulu kami pernah menghadiri
jenazah, di situ ada Ubaidulloh bin Hasan dan beliau adalah seorang hakim.
Ketika dipan telah diletakkan, duduklah beliau dan duduklah orang-orang di
sekeliling beliau. Maka aku menanyainya dengan satu permasalahan. Ternyata dia
menjawab dengan salah. Maka kukatakan padanya: “Semoga Alloh memperbaikimu.
Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah demikian dan demikian. Hanya saja
aku tidak ingin membantahnya. Aku hanya ingin mengangkat nilai Anda kepada yang
lebih besar dari itu.” Maka beliau menundukkan kepalanya sesaat kemudian
mengangkatnya seraya berkata: “Jika demikian, maka aku rujuk dan aku itu
kecil. Akan tetapi menjadi ekor dalam kebenaran lebih aku sukai daripada
aku menjadi kepala dalam kebatilan.” (“Tarikh Baghdad”/10/hal. 308)([10]).
Hal ini
berbeda dengan Mar’iyyun Barmakiyyun tersebut. Mereka itulah yang berhak untuk
digabungkan dengan Haddadiyyah dalam bab ini karena penentangan mereka terhadap
kebenaran. Setiap kali mereka kalah di hadapan kekuatan hujjah-hujjah
Salafiyyun, bukannya mereka itu tunduk, bahkan mereka lari kepada salah seorang
syaikh, kemudian mereka memenuhi hatinya dengan kemarahan kepada Salafiyyun
hingga bangkitlah syaikh yang tertipu ini untuk melawan kebenaran yang telah
terang. Ketika syaikh tadi tak sanggup menghadapi hujjah-hujjah Ahlul Haq
pindahlah Mar’iyyun kepada syaikh yang lain dan berbuat sebagaimana mereka
perbuat pada syaikh yang sebelumnya, dan demikianlah mereka lakukan
berulang-ulang. Tidak ada pada mereka kesiapan untuk merunduk kepada kebenaran.
Yang ada pada mereka hanyalah hawa nafsu yang memimpin mereka untuk menjadi
sombong dan mengadu domba di antara para ulama sebagaimana yang dilakukan oleh
Haddadiyyun. Ya Alloh, bukalah mata para masyayikh itu agar tahu siapa mereka,
dan siramilah mereka dengan hujan ketaqwaan dan ketawadhu’an untuk menerima
kebenaran dan agar mereka tidak menjadi orang-orang yang sombong dan dengki.
[selesailah
seri kesembilan dari rangkaian terjemah “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin
‘Ilmiyyah” , pada seri kesepuluh إن شاء الله kita akan membahas kepura-puraan Haddadiyyun menempel pada
kebesaran nama Al Imam Ahmad]
([1]) Catatan
penerjemah وفقه الله: Sungguh mereka itu membenci Fadhilatusy
Syaikh Al ‘Allamah Al Muhaddits Yahya Al Hajuriy, Syaikh Muhammad bin Hizam Al
Ibby, Syaikh Abu ‘Amr Abdul Karim Al Hajury, Syaikh Abdul Hamid Al Hajury,
Syaikh Abu Bilal Kholid Al Hadhromy, Syaikh Thoriq bin Muhammad Al Ba’dany, Asy
Syaikh Kamal bin Tsabit Al ‘Adniy, Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy, Asy
Syaikh Abul Yaman ‘Adnan Al Mishqoriy, Asy Syaikh Abu Mu’adz Husain Al
Hathibiy, Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudy, Asy Syaikh Abdul
Wahhab Asy Syamiri, dan yang lainnya dari kalangan masyayikh markiz induk Darul
Hadits di Dammaj –semoga Alloh menjaga mereka semua-.
Demikian
pula mereka membenci Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mani’ Ash
Shon’any (Salah satu penegak dakwah Salafiyyah di Shon’a). Seperti itu pula
Syaikh Ahmad bin ‘Utsman Al ‘Adny (di propinsi ‘Adn). Dan juga Syaikh Abu
‘Ammar Yasir Ad Duba’y (di Mukalla) dan mereka berupaya keras untuk menyakiti beliau,
Syaikh Abdulloh bin Ahmad Al Iryany (dulu di Baidho, lalu mereka berupaya untuk
mengusir beliau dari masjid tempat beliau berdakwah), demikian pula Syaikh Abu
Bakr Abdurrozzaq bin Sholih An Nahmi (beliau menegakkan dakwah dan pendidikan
umat di propinsi Dzammar) mereka berupaya untuk mengusir beliau dari masjid
beliau. Demikian pula Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad Ba Jammal Al Hadhromiy
(di Hadhromaut), Asy Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy (di
propinsi Ta’iz), dan Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim Al Mishriy (di Mesir),
serta Asy Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaliy (di Yordan), dan ulama yang kokoh
yang lain حفظهم الله.
([5]) Ucapan Abu
Fairuz: Lihatlah, -semoga Alloh memberikan taufiq kepada kalian- kepada
kesabaran Asy Syaikh Yahya, bukannya seperti apa yang digambarkan oleh sebagian
orang-orang yang zholim.
([6]) Ucapan Abu
Fairuz: Ini menunjukkan bahwasanya syaikh kami ini tidaklah di atas jalan
haddadiyyah, karena Haddadiyyah itu adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy: “Mereka berpandangan bahwasanya setiap orang yang
terjatuh kedalam kebid’ahan adalah mubtadi’.”
([7]) Al Qulaishiy
berkata dalam catatan kakinya: Sesungguhnya orang yang menasihatinya dan
menjelaskan kesalahannya justru dijadikannya sebagai musuh. Dan dia mulai
menjatuhkan sang penasihat tadi di mata manusia. Sama saja, dengan
membongkarpasang berita tentang dirinya, ataukah dengan tuduhan-tuduhan dengan
perkara-perkara yang bisa dijadikannya sebagai senjata untuk memerangi orang
yang menasihatinya, sebagaimana hal itu telah dikenal darinya, tapi Asy Syaikh
Al Wushobiy datang dengan bentuk sebagai pemberi nasihat yang penuh kasih
sayang!
﴿أم حسب الذين في قلوبهم مرض أن لن يخرج الله أضغانهم ولو نشاء لأريناكهم فلعرفتهم بسيماهم ولتعرفنهم فيلحن القول والله يعلم أعمالكم﴾.
“Atau apakah
orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan
menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan
mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat Mengenal mereka dengan
tanda-tandanya. dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan
perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (QS. Muhammad:
28-29)
([8]) Al Qulaishiy
berkata dalam catatan kakinya: Lihatlah bagaimana si murid mengambil faidah
dari fatwa syaikh al ‘allamah!!!
﴿وإذا قيل لهم اتبعوا ما أنزل الله قالوا بل نتبع ما ألفينا عليه آباءنا أولو كان آبائهم لا يعلمون شيئاً ولا يهتدون﴾
“Dan apabila
dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang diturunkan oleh Alloh, mereka
berkata: “Bahkan kami mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami ada di
atasnya”. Apakah mereka akan mengikuti juga sekalipun bapak-bapak mereka tidak
mengetahiu sedikitpun dan tidak berakal?”
([9]) Al Qulaishiy
berkata dalam catatan kakinya: padahal dia sudah tahu itu, akan tetapi dia
berbuat itu seakan-akan dia tidak tahu itu, untuk memberikan kesan pada orang
yang ada di sekitarnya bahwasanya dirinya terkejut akan hal itu.
([10]) Sanadnya
hasan, karena Ahmad bin Muhammad Al ‘Utaiqiy shoduq. Demikian juga Al Husain
ibnul Hasan Al Marwaziy. Para rowi yang lain tsiqot. Silakan rujuk kembali catatan
kaki dari kitab yang asli (“Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”).
