KARAKTER HADDADIYYAH
DALAM DISKUSI ILMIYYAH
( Bagian Delapan )
(Komentar
terhadap isi Kitab “Khuthurotul haddadiyyatil Jadidah Wa Aujuhusy Syabah
Bainaha Wa Bainar Rofidhoh” dan Kitab “Manhajul Haddadiyyah” dan Ucapan Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy Pada Akhir Tahun 1432 H)
Diperiksa
Oleh:
Fadhilatusy
Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy Al
Yamaniy
Dan
Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy
Al Hajuriy
Al Yamaniy
حفظهما الله ورعاهما
Penulis:
Abu Fairuz
Abdurrohman Al Indonesiy
Al Qudsiy
Aluth Thuriy
عفا الله عنه
Pengantar
Penerjemah
الحمد لله وأشهد لأ إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صلى
وسلم على محمد آله وأصحابه أجمعين أما بعد:
Dengan
pertolongan Alloh semata kita akan memasuki seri kedelapan dari terjemah kitab
“Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatun ‘Ilmiyyah”.
Pada
kesempatan ini kita akan membahas bahwasanya Haddadiyyah tidaklah ditumbuhkan
kecuali untuk memerangi Sunnah dan Ahlussunnah. Dan bukti-bukti bahwa Mar’iyyah
punya kemiripan dengan mereka.
Kami
sebutkan sebagian ucapan para ulama yang memberikan tazkiyyah kepada Darul
Hadits Dammaj tanpa Ahlu dammaj mengharap-harapkannya.
Kemudian
kami membahas kebiasaan Haddadiyyun untuk menjuluki diri mereka sendiri sebagai
“Al Atsariy”. Dan bukti-bukti bahwa Mar’iyyah punya kemiripan dengan mereka.
Kemudian
kami membahas kebiasaan Haddadiyyun untuk pura-pura menangis untuk menipu
orang-orang. Dan bukti-bukti bahwa Mar’iyyah punya kemiripan dengan mereka.
Kemudian
kami membahas kebiasaan Haddadiyyun untuk berloyalitas dan memutuskan hubungan
berdasarkan tokoh-tokoh yang tidak ma’shum.
Kemudian
kami membahas sikap Haddadiyyun memerangi 'Ubaid Al Jabiriy pada hari-hari
istiqomahnya. Mereka memeranginya dalam rangka fanatik kepada pemimpin-pemimpin
mereka. Dan kami jelaskan perbedaan besar antara mereka dan Ahlu Dammaj.
Kemudian
kami bahas sebagian dari penyelewengan 'Ubaid Al Jabiriy, di antara
kebatilannya juga adalah dirinya menganjurkan Muslimin Eropa untuk hijroh ke
Birmingham di Inggris.
Selamat
menyimak, semoga Alloh memberikan taufiq-Nya pada kita semua.
Pasal
Kedua Puluh Dua:
Haddadiyyah Ditumbuhkan Adalah Untuk Memerangi Salafiyyah,
Para Haddadiyyun Tak Punya Kesibukan Selain Itu
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Dan perkara-perkara ini sebagiannya –lebih-lebih
seluruhnya- menunjukkan bahwasanya kelompok ini tidaklah ditumbuhkan kecuali
untuk memerangi Sunnah dan Ahlussunnah. Termasuk dari perkara yang menunjukkan
hal itu adalah bahwasanya engkau pada suasana yang susah dan ujian yang besar
ini, yang mana orang-orang Yahudi dan Nashoro serta kelompok-kelompok sesat
mengeroyok Sunnah dan Ahlussunnah, engkau dapati kelompok Haddadiyyah inilah
yang menjadi mata-mata mereka dalam peperangan yang ramai ini. Dan kelompok
inilah yang paling keras peperangannya, yang mana mereka -dan situs mereka yang
dikhususkan untuk membikin fitnah itu- tak punya kesibukan selain untuk
memerangi Ahlussunnah, manhaj mereka dan prinsip-prinsip mereka dan memerangi
situs Ahlussunnah Salafiy satu-satunya “Sahab” yang mengangkat bendera Sunnah
dan membelanya dan membela Ahlussunnah.”
Komentar
saya:
Sifat
Haddadiyyah yang keduapuluh satu: Haddadiyyah ditumbuhkan adalah untuk
memerangi Salafiyyah. Dan tidak ada pada syaikh kami yang mulia dan
orang-orang yang bersama beliau perkara-perkara ini. Darul Hadits di Dammaj ini
tidaklah ditumbuhkan untuk memerangi Salafiyyah dan Salafiyyun. Dan Darul
Hadits ini didirikan berdasarkan ketaqwaan sejak awal harinya. Dan Darul Hadits
ini pada hari ini masih seperti dulunya, bahkan lebih bagus lagi, dengan
karunia Alloh. Dan di antara yang memperkuat hal ini adalah kenyataan
bahwasanya para penghuninya sibuk dengan menghapal Kitabulloh, sunnah
Rosululloh صلى الله
عليه وسلم, matan-matan ilmiyyah,
juga sibuk belajar dan mengajar, sibuk mentahqiq warisan-warisan Salaf, menulis
kitab-kitab ilmiyyah dalam bidang tauhid, aqidah, adab, mushtholah, fiqh, zuhd,
waro’, dakwah kepada Islam, peringatan bahaya kristenisasi, dan yang selain
itu.
Barangsiapa
meragukan sedikit saja dari hal itu maka silakan mengunjungi kami sekarang
juga. Demikian pula mereka menulis risalah-risalah pembelaan terhadap sunnah
dan salafiyyah dan membongkar kejahatan-kejahan mubtadi’ah. Kesibukan mereka
itu banyak dan diberkahi إن شاء الله.
DI
ANTARA PUJIAN ULAMA KEPADA DARUL HADITS DI DAMMAJ
Maka
disebabkan oleh besarnya taufiq Alloh untuk para penghuni Darul Hadits ini,
para ulama memberikan tazkiyyah kepada mereka tanpa mereka
mengharap-harapkannya.
Manakala
dikatakan pada Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Banna رحمه الله tentang Ahlu Dammaj: “Tidak seperti yang diklam oleh
sebagian dari mereka bahwasanya mereka telah melakukan perubahan dan
penggantian sepeninggal Asy Syaikh Muqbil.”
Maka
beliau رحمه الله menjawab: “Demi Alloh, aku tidak tahu
apa yang harus kukatakan, demi Alloh, demi Alloh aku tidak tahu apa yang harus
kukatakan. Yaitu sekarang tempat yang paling utama jika kamu ingin belajar
Salafiyyah pada hakikatnya, dengan ilmu dan amal adalah Dammaj. Mekkah
sekarang dimasuki Khowwanul Muslimin. Mereka merusaknya, demi Alloh. Yang
menginginkan belajar Salafiyyah yang benar beserta amalannya adalah di Dammaj.”
Kemudian beliau berkata: “Demi Alloh mereka adalah orang-orang terbaik sekarang
ini.” (Selesai penukilan dari program “Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih
At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).
Al Akh
Abdurrohman Abdulloh Al ‘Imad حفظه الله berkata: “Bahkan al akh Abul Fida As Sudaniy bahwasanya
mereka berjumpa dengan Syaikh kami al muhaddits al ‘allamah Robi’ Al
Madkholiy وفقه
الله pada awal hari
dari hari-hari Idul Fithr yang diberkahi pada tahun 1429 H, lalu mereka
menanyai beliau tentang orang yang mentahdzir manusia dari Dammaj. Maka beliau
menjawab: “Ini adalah pengekor hawa nafsu.” Dst. (“Fitnatul ‘Adniy”/karya
Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).
Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه
الله berkata: “Aku
tidak menyetujui Asy Syaikh ‘Ubaid dalam tahdzirnya dari Dammaj sama sekali.
Andaikata aku tahu bahwasanya ini ada di “Sahab” pastilah kukatakan pada ikhwah
untuk menghapusnya. Dan tidaklah seluruh apa yang ada di “Sahab” telah aku
lihat.”
Ini
diucapkan pada malam Rabu 3 Jumadal Akhir 1430 H. (Selesai penukilan dari situs
“Al ‘Ulumus Salafiyyah” dari sanad akh Mahdi bin Ibrohim Asy Syabwiy/“Fitnatul
‘Adniy”/karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al
Hadriy حفظهما الله).
Bahkan
Mar’iyyah dan Darul Fuyusy itulah yang ditumbuhkan untuk memerangi dakwah Salafiyyah
secara khusus. Saudara kami yang mulia Muhammad bin Sa’id bin Muflih dan
saudaranya Ahmad, dan keduanya adalah penduduk Dis Timur di pesisir Hadhromaut,
berkata: Bahwasanya Salim Ba Muhriz berkata pada mereka di pertengahan tahun
1423 H: “Kita telah selesai dari Abul Hasan. Dan giliran berikutnya akan datang
menimpa Al Hajuriy!!!”
Abdurrohman
Al 'Adniy berkata kepada Shodiq Al ‘Abdiniy: “Tidak tahukah engkau wahai akh
Shodiq bahwasanya markiz –atau berkata: dakwah- akan pindah ke sana, karena
markiz ini –yaitu markiz Dammaj- itu terancam dari arah Rofidhoh.” Selesai
kisah. Dan yang demikian itu sebelum fitnah Abdurrohman Al 'Adniy dan sebelum
fitnah Hutsiyyin (Rofidhoh).
Abdul Hakim
bin Muhammad Al `Uqoiliy Ar Roimiy berkata: “Seorang saudara dari Indonesia
datang bermusyawarah dengan Abdurrohman Al 'Adniy dalam masalah membeli tanah
di Dammaj seharga empat juta real Yamaniy. Maka Abdurrohman Al 'Adniy berkata:
“kunasihati engkau untuk tidak membelinya.” Lalu orang itu pergi. Maka
Abdurrohman Al 'Adniy berkata padaku: “Nasihatilah orang itu. Ini adalah harta
yang besar. Wallohu a’lam apakah Dammaj ini akan tetap ada setelah ini
atau tidak. Bisa jadi hartanya tadi akan hilang.” Atau ucapan yang semakna
dengan itu. Dan ucapan tadi terjadi sebelum fitnah ini, dan Alloh menjadi saksi
atas perkataanku ini.”
Abul
Khoththob Thoriq Al Libiy –salah satu kepala gerombolan fitnah ini- berkata
pada Akh Aiman Al Libiy sebelum fitnah ini:“Abdurrohman bin Mar’i Al 'Adniy
akan membuka markiz besar di ‘Adn, fasilitas lengkap, dukungan juga kuat, dan
akan dinamakan “Kota ilmu.” Dan Insya Alloh akan ada jalan keluar bagi
problem para pelajar asing.” Lalu Abul khoththob berkata lagi: “Tak akan
tersisa seorang pelajarpun di Dammaj.”
Abdulloh Al
Jahdariy –pengelola penertiban jadwal pelajaran di Dammaj, dan dulunya termasuk
orang dekat dan teman duduk Abdurrohman Al 'Adniy- berkata bahwa dirinya dulu
ingin membeli rumah di Dammaj, maka Abdurrohman Al 'Adniy menasihatinya
untuk tidak membeli rumah. Abdurrohman Al 'Adniy berkata: “Kita tidak tapi
bagaimana urusan ini nantinya, dan apa yang akan terjadi besok.” Ucapan ini
dilontarkannya pada akhir fitnah Abul Hasan.
Dan semisal
dengan ini Abdurrohman Al 'Adniy menasihati orang lain dengan dihadiri Abdulloh
Al Jahdariy kurang lebih dua tahun setelah itu.
Abdurrohman
bin Ahmad An Nakho’iy berkata: “Saya berkendara bersama Abdurrohman Al 'Adniy
di mobilnya dari Mudiyah ke Laudar, saya disertai Abdul Bari Al Laudariy. Lalu
Abdul Bari Al Laudariy menanyainya: “Wahai Syaikh Abdurrohman, bagaimana kabar
tentang markiz?” Abdurrohman berkata: “Kami masih berupaya untuk itu.” Maka
Abdul Bari Al Laudariy berkata: “Ini adalah upaya yang bagus agar mereka
mengakhiri makelar di Dammaj.” Lalu dia tertawa. Maka Abdurrohman Al 'Adniy
diam.
(Rujuk “Mukhtashorul
Bayan”/hal. 4-5).
Manakala
makar mereka terbongkar, dan para masyayikh berkumpul di Darul Hadits Dammaj
–pertemuan yang pertama- Abdurrohman Al 'Adniy mengakui di hadapan mereka
bahwasanya ketika Sholih Al Bakriy telah jatuh, beberapa orang mendatanginya
seraya berkata: “Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka bangkitlah Anda.”
Demikianlah Asy Syaikh Abu Abdirrohman Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabarkan kepada kami. Dan berita ini juga tersebut di
risalah “Al Muamarotul Kubro” karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qosy’amiy حفظه الله hal. 16.
Maka orang
yang adil, berpandangan tajam dan jujur mengetahui bahwasanya Mar’iyyun yang
dibela Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy mereka itulah Haddadiyyun, sementara Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau حفظهم الله yang dituduh dengan kedustaan oleh Asy Syaikh Robi’ Al
Madkholiy mereka itulah Salafiyyun.
Pasal Kedua Puluh Tiga:
Tuqiyyah Di Belakang Gelar
Atsariyyah Untuk Menyusup Di Kalangan Salafiyyun
Kemudian Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه
الله berkata: “Apa yang
mereka sebutkan di dalam situs mereka yang dinamai secara dusta dengan “Al
Atsariy” tentang sebagian ulama hal itu tidak lain kecuali untuk menutupi diri
mereka, dan kecuali untuk memperkuat diri mereka dalam memerangi Ahlussunnah.”
Komentar
saya:
Semata-mata
gelar tanpa penerapan secara syar’iy tidaklah bermanfaat. Maka gelarnya
Haddadiyyun untuk mereka sendiri sebagai “Al Atsariy” tidaklah bermanfaat
manakala mereka menyelisihi atsar-atsar Salaf. Sebagian manusia bersembunyi
dengan gelar yang besar ini untuk membikin kerancuan kepada manusia. Padahal
perkara yang paling penting di sisi seorang mukmin adalah: kecocokan dengan
kebenaran, sama saja apakah dia menamai dirinya dengan “Al Atsariy” ataukah
tidak. Maka yang teranggap adalah hakikat perkaranya, bukan sekedar sampulnya.
Syaikhul Islam رحمه
الله berkata: “Maka
orang yang berakal itu melihat kepada hakikat-hakikat, hukan pada
lahiriyah-lahiriyah semata.” (“Al ‘Ubudiyyah”/1/hal. 23).
Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy حفظه
الله berkata: “Yang
terpenting adalah kejujuran penamaan ini terhadap orang yang menamakan diri
dengannya, karena pada zaman ini telah banyak klaim dan berbangga-bangga dengan
sesuatu yang tiada wujudnya dalam kehidupan pelakunya. Berapa banyak orang yang
mengaku sunniy sementara dirinya pada hakikatnya adalah asy’ariy, atau berkata
bahwasanya dirinya itu atsariy padahal hakikatnya adalah haddadiy –sampai pada
ucapan beliau:- dan barangsiapa memang benar dia itu punya manhaj salafiy
atsariy sunniy, tidak mengapa dirinya menamai diri dengan itu –sampai pada
ucapan beliau:- akan tetapi yang paling penting adalah kecocokan dengan orang
yang dinamai dengan itu, tanpa sikap berlebihan dan tanpa pengurangan, dan
tanpa penisbatan tadi membawanya kepada ketertipuan, kekaguman pada diri
sendiri, pongah, dan meremehkan yang lain, dikarenakan orang yang demikian itu
dikhawatirkan akan tertimpa kesudahan yang buruk. Keberkahan yang paling besar
itu ada pada sikap istiqomah, tawadhu’ dan rasa butuhnya kepada Penciptanya
yang Mahatinggi. (“Al Kanzuts Tsamin”/5/hal. 32/darul Kitab Was Sunnah).
Mar’iyyun
telah menempuh jalan Haddadiyyin dalam memperbanyak gelar tadi untuk diri
mereka. Para penulis gelap mereka: Abdulloh bin Robi’ As Salafiy, Abu
Abdillah As Salafiy, Abu Hajir As Salafiy, ‘Ammar As
Salafiy dan yang semisal mereka termasuk dalil terbesar atas apa yang kami
katakan.
Kami telah
sebutkan kerasnya pukulan-pukulan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy terhadap para
penulis gelap di dalam kitabku “At Tajliyyah Li Amarotil Hizbiyyah”. Akan tetapi
manakala Mar’iyyun menempuh jalan yang hina ini, Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy
diam terhadap mereka bersamaan dengan banyaknya penulis gelap mereka itu.Apakah
rahasianya?
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Dan sesungguhnya sebagian dari amal mereka ini,
pada masa-masa sulit ini, benar-benar menyingkap dengan sangat terang
bahwasanya gerombolan ini hanyalah susupan yang telah disiapkan untuk
merealisasikan sasaran dan tujuan mereka.”
Komentar
saya:
Telah lewat
penjelasan tentang terangnya jalan kami. Dan bukanlah syaikh kami yang mulia
itu susupan yang disiapkan untuk merealisasikan suatu sasaran dan tujuan. Maka
ucapan Asy Syaikh Robi’ ini tidaklah sesuai dengan kenyataan beliau. Saya telah
menyebutkan beberapa orang yang disusupkan ke dalam barisan kedua anak Mar’i
dari kalangan hizbiyyin yang terdahulu, sementara kedua bersaudara ini
mendiamkan kebatilan mereka, dan bahkan menyambut baik mereka. Bahkan Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy juga diam saja terhadap mereka. Apa rahasianya? Maka
bukanlah Ahlu Dammaj itu Haddadiyyun, bahkan Haddadiyyun itu adalah Mar’iyyun
yang mendekat di kedua telapak kaki Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sehingga
beliau melindungi mereka dan membalaskan untuk mereka.
Pasal
Kedua puluh empat:
Pura-pura Menangis, dan Pengakuan Dusta Untuk menipu Manusia
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Maka jangan sampai mempedaya kalian wahai
salafiyyun, tangisan bohong mereka, dan pengakuan batil mereka, yang telah
dibongkar sendiri oleh perkataan mereka, prinsip-prinsip mereka, sikap dan
akhlaq mereka, serta kedustaan mereka yang nyata dan tersingkap bagi orang yang
punya mata hati dan pengetahuan yang paling rendah sekalipun.”
Komentar
saya:
Yang
keduapuluh dua dari sifat Haddadiyyah: pura-pura menangis untuk menipu
orang-orang. Adapun Salafiyyun mereka itu berjalan di atas langkah yang jelas,
jujur, bersih, mencari ridho Alloh. Maka mereka tidak butuh untuk menipu
manusia, juga tidak butuh tangisan dusta. Mereka itu menaati Rosululloh صلى الله عليه وسلمdalam sabda beliau:
«ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو
ليصمت».
“Dan
barangsiapa beriman pada Alloh dan hari akhir maka hendaknya dia itu berkata
yang baik atau hendaknya dia diam saja.” (HR. Al Bukhoriy (6018) dan Muslim
(47) dari Abu Huroirohرضي الله
عنه).
Maka
Salafiyyun tidak memperbanyak pengaku-akuan, lebih-lebih lagi untuk berdusta
dalam pengaku-akuan tadi. Adapun Abdurrohman Al 'Adniy maka tanyailah dirinya
–demi Robb langit dan bumi- berapa banyaknyakah dirinya menangis di hadapan
sebagian orang demi menarik perasaan mereka. Dan demikianlah sebagian
pengikutnya sering pura-pura menangis di hadapan sebagian orang untuk menarik
perasaan mereka, tapi manakala mereka keluar dari sisi orang-orang tadi maka
sebagian dari merekapun tertawa. Maka Mar’iyyun itulah yang lebih berhak dengan
Haddadiyyah daripada Darul hadits di Dammaj. Dan ini jelas sekali bagi orang
yang punya mata hati dan pengetahuan yang paling rendah sekalipun.
Pasal
Keduapuluh Lima:
Loyalitas dan Pemutusan Hubungan Berdasarkan Tokoh-tokoh,
Bukan Berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Sisi ketigabelas: “Loyalitas dan pemutusan
hubungan berdasarkan tokoh-tokoh, sebagaimana yang dilakukan oleh Rowafidh
dalam Loyalitas mereka yang dusta untuk beberapa tokoh Ahlul Bait. Akan tetapi
mereka –Haddadiyyun- membangun loyalitas dan pemutusan hubungan berdasarkan
tokoh-tokoh yang mana dia itu termasuk orang yang paling bodoh, paling dusta,
paling jahat, dan paling keras permusuhannya kepada manhaj Salafiy dan
ulamanya. Dan pengkultusan orang-orang yang bodoh tadi, yang tenggelam di dalam
kebodohan dan termasuk dalam jajaran orang-orang yang hina dengan segala ukuran
agama, umur, manhaj, aqidah dari orang yang tidak dikenal secara keilmuan,
akhlaq islamiy, adab islamiy atapun adab kemanusiaan.”
Komentar
saya:
Yang
keduapuluh tiga dari sifat Haddadiyyah adalah: loyalitas dan pemutusan hubungan
berdasarkan tokoh-tokoh yang tidak ma’shum. Dan ini adalah sifat ahlul
bida’. Dan saya bersaksi dengan nama Alloh bahwasanya syaikh kami An Nashihul
Amin memerangi hal ini. Beliau bersama orang yang bersama beliau adalah
sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله: “Maka jadilah orang yang diagungkan di sisi mereka adalah
orang yang memang diagungkan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Dan orang yang
diutamakan di sisi mereka adalah orang yang memang diutamakan oleh Alloh dan
Rosul-Nya. Dan jadilah orang yang dicintai di sisi mereka adalah orang yang
memang dicintai Alloh dan Rosul-Nya, dan jadilah orang yang terhinakan di sisi
mereka adalah orang yang memang dihinakan oleh Alloh. Ini semua sesuai dengan
kadar apa yang diridhoi Alloh dan Rosul-Nya, bukan sesuai dengan hawa nafsu.”
(“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 17).
Syaikh
kami حفظه الله telah melarang dari taqlid, dan
menyebutkan ucapan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله: “Tidaklah membebek kepadaku kecuali orang yang jatuh.”
Demikian
pula masalah pujian, syaikh kami حفظه الله tidaklah menyukainya. Manakala sebagian penyair banyak
memuji beliau, beliaupun berkata pada mereka: “Semoga Alloh membalas dirimu
dengan kebaikan, dan memaafkan diriku dan dirimu. Kuingatkan kalian dengan
Alloh, kuingatkan kalian dengan Alloh, kami itu lebih rendah dari yang demikian
itu. Kami ini adalah penuntut ilmu. Kami mohon Alloh untuk memaafkan kami. Demi
Alloh kami mengakui pada Alloh عز وجل akan kelemahan dan kekurangan kami. Dan kami mohon pada
Alloh agar menerima taubat kami. Dan kami itu kurang dan banyak dosa, sementara
saudara-saudara kami حفظهم الله banyak berbaik sangka kepada kami padahal kami tidaklah
seperti itu sama sekali. Aku kasih tahu kalian, ambillah pengetahuan ini dariku
dengan sanad yang pendek: bahwasanya kami itu –demi Alloh- tidaklah seperti itu
sama sekali. Kami adalah penuntut ilmu yang lemah dan patut dikasihani. Kami
mohon pada Alloh Robbul ‘alamin agar memaafkankan kami dan memaafkan
saudara-saudara kami. Hanya pada Alloh sajalah kami mohon pertolongan. Dan
semoga Alloh membalas kalian dengan kebaikan.”
Demikianlah
saya dengar ucapan beliau itu di hadapan kami semua. Dan pernyataan ini juga
disebutkan dalam program “Fitnatul ‘Adniy” (karya Husain bin Sholih At Tarimiy
dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).
Adapun
Baromikah Mar’iyyah mereka itulah haddadiyyun dalam bab ini. Para penulis telah
menjelaskan bahwasanya Baromikah memancangkan wala dan baro berdasarkan para
tokoh, bukan berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah. Silakan rujuk: “Al Wala Wal
Baro Adh Dhoyyiq ‘Indasy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”
(Syaikhuna An Nashihul Amin), “Al Ajwibatus Sadidah” (Asy Syaikh Hasan bin
Qosim Ar Roimiy حفظه
الله /hal. 9-10), “Al
Fathur Robbaniy” (karya penulis ini sendiri وفقه الله/hal. 5-6) dan yang lainnya.
Pasal
Keduapuluh Enam:
Kasus ‘Ubaid bin Sulaiman Al Jabiriy
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Perhatikanlah bagaimana ributnya mereka manakala
Asy Syaikh ‘Ubaid Al Jabiriy mengkritik salah seorang komandan bayi mereka,
lalu mereka mengangkat harkat si bayi ini secara umur, ilmu dan akhlaq tadi,
dan mereka memperluas cercaan dan penghinaan kepada Asy Syaikh ‘Ubaid Al
Jabiriy setelah dulunya mereka berlebihan dalam mengagungkannya sebagaimana
kebiasaan mereka terhadap ulama yang lain, yang mana mereka dulunya pura-pura
mengagungkan mereka, manakala mereka menyelisihi kebatilan tokoh mereka
sekarang, dan menyelisihi mereka dalam kebatilan, kebodohan dan kedustaan
mereka, maka merekapun memperluas cercaan, pendustaan dan penghinaan kepada
para ulama tadi.”
Komentar
saya:
Haddadiyyun
dulu memerangi 'Ubaid Al Jabiriy pada hari-hari istiqomahnya. Mereka
memeranginya dalam rangka fanatik kepada pemimpin-pemimpin mereka. Dan
hati-hati kami dengan hati-hati para Salafiyyin ketika itu bersama 'Ubaid Al
Jabiriy. Kami mencintainya dikarenakan kebenaran yang ditegakkannya.
Akan tetapi
manakala dirinya menyeleweng dari kebenaran, menampakkan serangan-serangan ke
Darul hadits tanpa kebenaran, dan menyombongkan diri terhadap nasihat-nasihat
yang lembut dan bayyinah-bayyinah yang jelas, maka kamipun membencinya.
Telah banyak
bantahan-bantahan Ahlussunnah terhadap 'Ubaid bin Sulaiman Al Jabiriy, di
antaranya adalah:
1- “At
Taudhih Lima Jaa Fit Taqrirot…”/Asy Syaikh Yahya
2- “I’lamusy
Syaikh ‘Ubaid”/Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy
3- “Ar Roddu
‘ala 'Ubaid Al Jabiriy Fi Fatwahu Fil Intikhobat”/Syaikh kami Yahya
4- “Al Qodho
‘Ala Fatwa ‘Ubaid Fit Tilfaz Wal Kamiro”/Abdul Fattah Ash Shumaliy Al Kindiy
5- “Ad Difa’
‘An ‘Alamil A’lam Syu’bah ibnil Hajjaj”/Abu Abdirrohman Gholib bin Ali Al
Mahwithiy
6- “Asy
Syaikh ‘Ubaid Wal A’malil Ikhtilithiyyah”/Asy Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin
Qosim Ar Roimiy
7- “Al
Bayanul Amin ‘Ala Anna Na’syi 'Ubaid Al Jabiriy Li Sholihil Bakriy Ghosysyun
Lil Islam Wal Muslimin”/Asy Syaikh Muhhamad ibnul Husain Al ‘Amudiy
8- “Bayanul
‘Ulama Fi Tahdziri ‘Ubaid”/Abu Ibrohim Ali bin Mutsanna
9- “Daf’u
Buhtanil Mu’tadin ‘An Daril Hadits Bi Dammaj”/Abu Abdirrohman Muhammad Al
Khofifiy Al Libiy(1)
10- “Al
Bayanul Mufid Li Ba’dhi Ma Ashsholahu Wa Naqodhohu ‘Ilmiyyan Syaikhuna
‘Ubaid”/Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah Ba Jammal
11- “Bayanul
Inhirofat Fi Fatwasy Syaikh ‘Ubaid wa Da’wahu Ilal Intikhobat”/Abu Ishaq Ayyub
bin Mahfuzh Asy Syibamiy
12-
“Nashihatu Abi ‘Amr Al Hajuriy Lil Jabiriy”/Asy Syaikh Abu ‘Amr Abdul Karim bin
Ahmad Al Hajuriy
13-
“Irsyadul ‘ibad Fi Bayani Mujanabati ‘Ubaid Lil Hikmah Was Sadad”/Asy Syaikh
Abu Abdirrohman Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy
14- “Ar
Roddusy Syar’iy”/Asy Syaikh Abu Abdillah Thoriq Al Khoyyath Al Ba’daniy
Dan di
antara perkara yang memperkuat akan buruknya perjalanan 'Ubaid Al Jabiriy هداه الله adalah: fanatisme dirinya kepada Abdurrohman Al 'Adniy.
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله dengan sangat tenang dan beradab telah menyebutkan padanya
bahwasanya Abdurrohman Al 'Adniy sendiri telah mentahdzir ikhwah dari belajar
di Jami’ah Islamiyyah di Madinah dikarenakan di sana banyak hizbiyyun. Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Saya tidak lupa untuk menyebutkan ucapan saudara
kita yang terfitnah akhir-akhir ini –dengan sangat menyesal- Abdurrohman Al
'Adniy هداه الله yang telah tetap darinya dengan
suaranya pada tanggal 23 Rojab 1426 H tentang Jami’ah Islamiyyah bahwasanya
Jami’ah ini telah berubah dan jadilah yang berkuasa di situ adalah para
hizbiyyun. Dia هداه
اللهberkata: “Secara hakiki, Jami’ah Islamiyyah dulunya adalah
termasuk menara Ilmiyyah yang megah di dunia dan di alam, menghasilkan dan
mengeluarkan para ulama. Akan tetapi pada masa-masa terakhir banyak
hizbiyyin yang menguasainya, jadi pengelola, pengajar,
doktor-doktor. Seorang manusia itu tidaklah merasa aman dirinya untuk
menghadiri ceramah seorang hizbiy, atau menghadiri dauroh musim panas yang di
situ sekelompok pengajar hizbiyyun ikut andil, maka bagaimana dengan sistem
belajar yang berkesinambungan minimal empat tahun, doktor ini hizbiy, yang ini
sururiy, yang ini quthbiy, yang ini punya kecondongan kepada tashowwuf. Maka
secara hakikat, seorang insan tidaklah merasa aman dirinya. Engkau wahai
saudaraku, andaikata diumumkan di kotamu akan diselenggarakannya dauroh musim
panas, di dalamnya akan hadir ulama sunnah, dan hadir juga di situ ahlul bida’.
Bisa jadi di antara mereka ada yang alim. Maka apa yang hendak engkau pilih?
Sementara engkau tahu bahwasanya para ulama yang hadir itu punya dars-dars
khusus di masjid-masjid mereka. Aku tidak mengira engkau perlu menimbang untuk
meninggalkan kehadiran di dauroh itu tadi, demi menjaga agamamu dan melindungi
manhajmu, dan engkau pergi ke para ulama tadi di masjid-masjid dan tempat
mereka. Dan demikianlah Jami’ah Islamiyyah, di dalamnya ada orang yang selamat,
dan ada pula orang yang jatuh, disebabkan oleh adanya para pengajar tadi. Wahai
saudaraku, empat tahun, orang ini adalah pengajar, doktor, sementara engkau
adalah murid, dia memberimu apa yang diberikannya kepadamu. Maka yang kami
nasihatkan kepada para ikhwah adalah: mereka jangan pergi ke sana. Barangsiapa
ingin ilmu maka dia harus pergi ke para ulama di kerajaan Saudi, di Yaman, dan
tempat lain. Adapun dia berjalan ke Jami’ah demi mendapatkan ijazah, apa faidah
yang hendak didapatkannya? Para ikhwah yang bergabung ke Jami’ah-jami’ah,
khususnya pada tahun-tahun terakhir ini, tidaklah kami lihat di kalangan mereka
ada orang yang mendapatkan taufiq, karena dirinya tinggal bertahun-tahun di
Jami’ah dan mendapatkan ijazah, apakah kalian mengira setelah dirinya lulus dia
mau pergi ke Dammaj –misalnya-, atau siap untuk menjadi imam di masjid salah
satu blok perumahan, di salah satu kota, atau suatu desa, ataukah berusaha
untuk mencari pekerjaan dengan ijazah yang dikeluarkannya? Jawabnya adalah:
inilah yang kami dapati dan kami saksikan, dia akan berusaha keras untuk
mendapatkan pekerjaan…” dst.
Maka Anda
–'Ubaid Al Jabiriy- harus menakar untuk dirinya dan untuk orang lain yang
mengatakan yang demikian itu dengan cercaan seperti cercaan yang Anda takarkan
untuk saya. Dan kami mengharapkan dari Anda wahai fadhilatusy Syaikh وفقك الله agar Anda tidak berkelit dari yang demikian itu sebagaimana
berkelitnya musuh kita Bisyr Al Marisiy. Ini jika tujuan yang diinginkan dalam
pengobaran pembelaan terhadap Jami’ah sekarang ini bukanlah mencari sarana
untuk melindungi Abdurrohman Al 'Adniy dan pengikutnya, sebagaimana berita itu
tersebar di tempat kami, yang mana Abdurrohman Al 'Adniy هداه الله telah terang-terangan sebagaimana yang lainnya tentang
telah berubahnya Jami’ah dari keadaannya yang dulu. Dan ini menyelisihi apa
yang telah Anda tetapkan dalam risalah yang Anda namakan dengan “An Naqdush
Shohih” bahwasanya Jami’ah Islamiyyah itu Salafiyyah sampai pada hari ini, dan
dia menetapkan perubahannya, bahwasanya dirinya telah dikuasai hizbiyyun
akhir-akhir ini.” (“At Taudhih”/hal. 4-5).
Dan setelah
penjelasan dari syaikh kami An Nashihul Amin رعاه الله ini, dan tuntutan beliau terhadap 'Ubaid Al Jabiriy agar
menempuh jalan keadilan dan sportivitas, ternyata 'Ubaid Al Jabiriy menakar
dengan dua takaran, dan tidak rela untuk menyikapi Abdurrohman Al 'Adniy
seperti sikapnya kepada syaikh kami An Nashihul Amin yang sangat penyabar itu,
padahal ‘illahnya (sifat yang mengumpulkan antara pihak ini dan pihak itu)
adalah sama bagi orang yang punya dua mata. Bahkan 'Ubaid Al Jabiriy menambahi
berbagai cercaan dan caci-makian terhadap syaikh kami yang mulia رفعه الله . maka fanatisme Ubaid itu jelas.
Dan pada
masa munculnya fatwa jahat yang baru dari 'Ubaid Al Jabiriy –tanpa bukti
ataupun hujjah- yang memperingatkan para pelajar di Yaman yang luar Yaman untuk
jangan belajar di Darul hadits di Dammaj –demi menolong para hizbiyyun-
tiba-tiba saja dia mengeluarkan fatwa yang di dalamnya membolehkan
masyarakat Syam untuk belajar ke Ali Hasan Al Halabiy, padahal dia tahu
kerasnya penyelewengan orang itu. 'Ubaid Al Jabiriy berkata tentang Ali Hasan:
“Hingga saat ini pada hakikatnya kami tidak berkata bahwasanya akh Ali mubtadi’
sesat. Akan tetapi aku menasihati agar orang-orang tidak datang kepadanya dari
luar negrinya. Adapun orang yang di dalam negrinya, lahiriyyah mereka butuh
kepadanya, dan mereka butuh kepada orang yang lebih rendah dari dia bersamaan
dengan keadaan dirinya itu, karena kami tidak tahu ada seorang alim di negrinya
sepeninggal Al Albaniy yang orang-orang bisa kembali kepadanya, berjalan
berdasarkan ucapan, fatwa dan hukumnya. Aku tak tahu seorangpun hingga saat
ini. Maka kondisi dirinya untuk orang di negrinya merujuk kepadanya,
mengambil hadits darinya, syaroh kitab-kitab aqidah-aqidah yang bersih, maka
ini tidak terlarang إن شاء
الله , adapun orang
dari luar negrinya datang kepadanya, jangan, dikarenakan sekarang ini adalah
waktu perang yang sengit dalam keadaan dia menghunuskan pedangnya yang tajam
kepada Ahlussunnah tanpa henti. Semoga Alloh memaafkan kami dan dirinya. Dan
kami mohon pada Alloh agar mengembalikannya kepada kebenaran dengan pengembalian
yang baik.” (Saya telah menukilkan perkataan ini secara lengkap dari risalah
“Al Jabiriy Ma’al Halabiy” karya saudara kita yang mulia Abu Ibrohim Ali
Mutsanna حفظه
الله dalam risalahku
“Al Fathur Robbaniy Fir Roddi ‘Ala Abdillah Al Bukhoriy Al Muftariyl Janiy”
maka silakan merujuk di situ).
Memungkinkan
bagi 'Ubaid Al Jabiriy untuk menganjurkan Ahlusy Syam untuk melakukan
perjalanan dalam mencari ilmu sebagaimana yang dilakukan oleh As Salafush
Sholih, atau mengambil faidah dari kitab-kitab As Sunnah yang tersebar dan
kaset-kaset Salafiyyah, dan minta fatwa pada para ulama atas problematika yang
mereka hadapi, atau mengambil faidah dari murid-murid Al Imam Al Albaniy رحمه اللهyang masih istiqomah. Akan tetapi 'Ubaid Al
Jabiriy memberikan keringanan pada mereka untuk belajar kepada Ali Al Halabiy,
dan ini adalah penipuan terhadap Muslimin Syam, dan menyodorkan mereka kepada
kebinasaan, dan barangkali sekian hari kemudian mereka akan jadi
tentara-tentara pendukung Al Halabiy untuk menghadapi Ahlussunnah disebabkan
oleh barokah fatwa 'Ubaid Al Jabiriy. Dan hanya Alloh sajalah yang dimintai
pertolongan.
Dan di
antara kebatilannya juga adalah dirinya menganjurkan Muslimin Eropa untuk
hijroh ke Birmingham di Inggris. Syaikh kami An Nashihul Amin حفظه الله berkata: Aku telah mendengar potongan dari suara yang
dinisbatkan kepada Asy Syaikh Falah Isma’il dengan suaranya menggabungkannya
kepada Asy Syaikh 'Ubaid Al Jabiriy bahwasanya ‘Ubaid menetapkan dan berfatwa
pada para ikhwah: “Wahai masyarakat Eropa, barangsiapa dari kalian ingin
berhijroh maka berhijrohlah ke Birmingham.” Dia berkata: “Karena sesungguhnya
Birmingham itu –Demi Alloh- adalah darul hijroh.” Sungguh aku merasa heran dari
perkataan dia, bagaimana ‘Ubaid menasihati untuk hijroh dari negri kuffar
ke negri kuffar, danbagaimana salah satu negri dari negri-negri kuffar disifati
sebagai darul hijroh. Maka aku berpendapat tentang pentingnya mengingkari
perkataan yang batil ini dengan harapan agar sebagian manusia tidak tertipu
dengannya sebagaimana kami dengar di dalam kaset bahwa orang menukilkannya
dalam keadaan tertipu dengannya. Dan hanya Alloh sajalah yang dimintai
pertolongan.” (“Akhdzul ‘Ibroh”/Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy/hal. 1).
Dan di
antara perkara yang disebutkan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy secara ringkas:
“Dikarenakan tinggal di antara orang-orang kafir itu mengandung beberapa
bahaya, yang terpentingnya adalah sebagai berikut:
1- Meniru
mereka, sebagaimana dikatakan: “Barangsiapa duduk-duduk bersama seseorang maka
dia sejenis dengannya.” Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«من تشبّه بقوم فهو منهم»
“Barangsiapa
menyerupai suatu kaum maka dia itu termasuk dari mereka.”
Dan telah
didapati dari orang yang duduk-duduk dengan orang-orang kafir dia itu menjadi
pecinta mereka.
2-
Bahwasanya tinggal di antara orang-orang kafir itu melemahkan kecemburuan
kebanyakan orang kepada agama Alloh yang benar. Yang demikian itu dikarenakan
banyaknya penyebaran kemungkaran sehingga dalam pandangan mereka hal itu
seakan-akan jadi perkara yang biasa.
3- Orang-orang
kafir menguasai Muslimin dan memaksa Muslimin untuk berhukum kepada
undang-undang mereka yang kafir itu, dan hal itu termasuk berhukum kepada
thoghut.
4-
Orang-orang kafir jadi berjasa kepada Muslimin karena telah menaungi mereka dan
mengulurkan pertolongan kepada orang yang tak punya pekerjaan, padahal
Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda:
«اليد العُليا خير من اليد السُّفلى»
“Tangan yang
di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”
Sekalipun
orang-orang kafir juga memanfaatkan jasa tadi dari Muslimin melalui
sarana-sarana yang lain seperti pajak dan sebagainya, akan tetapi mereka
mengambil faidah berupa perkara-perkara yang lain, di antaranya adalah:
penghinaan kepada Muslim, merasa mulia di hadapan Muslimin, dan berjasa pada
mereka.
5- Memperbanyak
jumlah kafirin, padahal memperbanyak jumlah ahlul batil itu terlarang. Oleh
karena itulah Muslimin dulunya hijroh ke Madinah untuk memperbanyak jumlah
Muslimin dan menolong mereka.
6-
Orang-orang kafir memanfaatkan Muslimin untuk mempekerjakan mereka dalam
pekerjaan-pekerjaan yang tidak sesuai syari’ah dan merampas agama mereka dari
hati mereka sekalipun sacara bertahap. Demikian pula mereka menyia-nyiakan
anak-anak mereka, dan Muslimin yang pindah ke negri-negri barat telah banyak
anak-anak mereka yang masuk agama Kristen, dan terjatuh ke dalam kekejian yang
paling busuk.
7- merampas
bahasa Arob mereka dan ciri keislaman mereka, sehingga ilmu Islam yang paling
mudahpun terasa sulit bagi mereka sehingga merekapun mempelajarinya dengan
selain bahasa Arob sebagaimana yang mereka tetapkan.
8- sebagian
Muslimin di negri-negri Kuffar mati dan meninggal bayi-bayi yang tidaklah
mereka membuka mata mereka kecuali di kalangan orang-orang kafir sehingga
akhirnya merekapun jadi kafir.
9-
Kezholiman terhadap kaum Muslimin, terutama ketika terjadi peperangan antara
Muslimin dan Kafirin, atau ketika terjadi perkara dari sebagian Muslimin yang
tidak menyenangkan kafirin, engkau melihat orang-orang kafir menzholimi
muslimin dan merasa senang dengan kesusahan Muslimin, melanggar kehormatan
Muslimin, mendahulukan Muslimin untuk memerangi saudara-saudara mereka dari
kalangan Muslimin sendiri di negri lain sebagaimana yang dilakukan pada waktu
perang Irak dan yang lainnya.
10- Muslimin
di sana terpengaruh oleh kehidupan materiil dan berjalan sangat cepat di
belakang dunia dan kesenangannya, dan kelalaian terhadap akhirat, kecuali orang
yang dirohmati Alloh.
11-
bahwasanya manusia itu berada di atas kehidupan dan kematian. Andaikata dia
mati di tengah-tengah orang kafir maka dia ada pada bahaya sebagaimana
ditunjukkan oleh sekian hadits, seperti hadits Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:
«أنا بريء ممن مات بيْن ظهراني الكفّار»
“Aku
berlepas diri dari orang yang mati di tengah-tengah orang kafir”
Hadits ini
punya beberapa pendukung. (lihat “Akhdzul ‘Ibroh”/Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy/hal. 2-4).
Kemudian
beliau حفظه الله menukilkan dalil-dalil dan perkataan
ulama yang banyak, di antaranya adalah: firman Alloh ta’ala:
﴿إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ
ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي
الأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا
فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾[النساء:97].
“Sesungguhnya
orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri,
(kepada mereka) Malaikat bertanya: "Dalam Keadaan bagaimana kalian
ini?". Mereka menjawab: "Kami adalah orang-orang yang tertindas di
negeri (Mekah)". Para Malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu
luas, sehingga kalian dapat berhijrah di bumi itu?". orang-orang itu
tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”
Ayat ini
dengan jelas menunjukkan wajibnya hijroh bagi Muslimin yang tertindas dan tidak
mampu menampakkan agama mereka di negri yang Islam tak punya kekuasaan di situ,
yang mana kekuasaan dan mayoritas hukum-hukumnya dipegang oleh musuh-musuh
Alloh. Al Qurthubiy berkata: “Dan di dalam ayat ini ada dalil untuk
meninggalkan negri yang kemaksiatan dikerjakan di situ.” (“Al Jami’ Li Ahkamil
Qur’an”/An Nisa: 97).
Kemudian
syaikh kami memberikan komentar: “Dan negri-negri kuffar Inggris dan yang
lainnya tiada satu tempatpun di situ yang kosong dari kemaksiatan. Dan alangkah
bagusnya apa yang dikatakan oleh syaikh kami Al ‘Allamah Al Wadi’iy رحمه الله ketika beliau sakit dan mereka ingin membawa beliau
kembali ke Amerika, beliau berkata: “Pergi ke Amerika dan kematian bagiku sama
saja dikarenakan kemaksiatan-kemaksiatan yang ada di sana.”
Kemudian Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy menukilkan perkataan Ibnu Katsir: “makna “Menzholimi
diri mereka sendiri” adalah: mereka meninggalkan hijroh –sampai pada ucapan
beliau:- ayat ini mencakup seluruh orang yang tinggal di antara orang-orang
musyrikin padahal dirinya sanggup untuk hijroh, dan dirinya tidak bisa
menegakkan agamanya. Maka berdasarkan ijma’ dan dengan nash ayat ini dia telah
melakukan keharoman.”
Dan Asy
Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alusy Syaikh رحمه اللهberkata sebagaimana dalam “Ad Durorus
Saniyyah” (8/238-240): “Dan di antara perkara yang wajib untuk diketahui:
Bahwasanya Alloh ta’ala mewajibkan pada para hamba-Nya hijroh manakala
kezholiman dan kemaksiatan itu menang, dalam rangka menjaga agamanya, dan demi
memelihara jiwa-jiwa Mukminin dari menonton kemungkaran-kemungkaran dan bercampur
dengan pelaku kemaksiatan dan kejelekan. Andaikata bukan hijroh niscaya agama
ini tidak tegak, dan Robbul alamin tidak disembah. Dan mustahil akan
didapatkan baroah (berlepas diri) dari kesyirikan, kezholiman dan
kerusakan tanpa adanya hijroh. Dan di antara konsekuensi tidak hijroh adalah:
menonton kemungkaran, basa-basi dengan para pelaku kemaksiatan dan kejelekan,
saling cinta dengan mereka, hati lega terhadap mereka. Hal itu dikarenakan
kejelekan itu saling menyeru, dan satu sama lain saling menyeret, maka mereka
tidak ridho kepada orang yang ada di tengah-tengah mereka tanpa mau berbuat
perkara-perkara ini tadi, padahal ridho mereka dan bersegera mengikuti hawa
nafsu mereka itu harus ada”
Kemudian
syaikh kami Yahya حفظه
الله menyebutkan ucapan
Asy Syaikh ABdulloh bin Abdirrohman Abu Bathin رحمه الله sebagaimana dalam “Ad Durorus Saniyyah” (8/295), ucapan
Asy Syaikh Ishaq bin Abdirrohman bin Hasan رحمه الله sebagaimana dalam “Ad Durorus Saniyyah” (8/304-306), fatwa
Al Lajnaud Daimah” no. (7150), kemudian ucapan Asy Syaikh Hamd bin Abdul
‘Aziz رحمه اللهsebagaimana
dalam “Ad Durorus Saniyyah” (8/426).
Jika 'Ubaid
Al Jabiriy mengatakan: dulu para Shohabat رضي الله عنهمhijroh ke Habasyah (Ethiopia) yang saat
itu berupa kerajaan Kristen!
Maka kami
jawab bahwasanya pada saat itu tiada negara Islam di muka bumi. Dan Habasyah
merupakan negara yang bisa dicapai oleh para Shohabat رضي الله عنهمyang rajanya melindungi kebebasan mereka
untuk beribadah. Dan tidaklah hal itu mereka lakukan kecuali setelah dapat izin
dari Rosululloh صلى الله
عليه وسلم yang mendapatkan
wahyu dari Alloh ta’ala. Manakala sebagan ahlul Madinah masuk Islam dan
kemudian Islam tersebar dengan pesat di sana, Rosululloh صلى الله عليه وسلم diwahyukan oleh Alloh untuk hijroh ke sana, hingga
akhirnya Madinah jadi Negara Islam, tiada lagi hijroh ke Habasyah. Adapun
sekarang, sudah banyak Negara Islam, kenapa 'Ubaid Al Jabiriy justru dia
menyuruh Muslimin Eropa jika ingin hijroh hendaknya hijroh ke Birmingham
Inggris?
Dan telah
saya sebutkan dalam pasal keenam sebagian dari poin-poin kebatilan 'Ubaid Al
Jabiriy yang dengannya dia dikritik oleh ulama salafiyyin dan para penuntut
ilmu.
Dan setelah
penjelasan-penjelasan yang jelas ini, dan bantahan-bantahan yang banyak, serta
bukti-bukti yang terang, maka mustahil Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy dan yang
lainnya tidak tahu benarnya kritikan-kritikan yang beraneka ragam terhadap
'Ubaid Al Jabiriy dari ulama Darul hadits Salafiyyah di Dammaj dan para ulama
sunnah dan pelajar yang bersama mereka. Maka termasuk kezholiman dan
‘ashobiyyah (fanatisme) untuk seorang manusia yang paham itu berpura-pura buta
terhadap bukti-bukti ini, kemudian bersikeras untuk menyatakan bahwasanya
'Ubaid Al Jabiriy itu adalah salafiy murni, dan bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al
Hajuriy حفظه اللهadalah
haddadiy yang busuk, tolol, dan merobek-robek dakwah Salafiyyah di seluruh
penjuru alam.
Mahasuci
Alloh, ini adalah kedustaan yang besar dan kezholiman yang berat!
Maka
barangsiapa punya hujjah untuk meruntuhkan hujjah-hujjah yang bercahaya tadi yang
menghasilkan keputusan bahwasanya 'Ubaid Al Jabiriy telah tersesat dan
menyeleweng, maka hendaknya dia menampilkannya. Adapun sekedar teriakan tanpa
hujjah, maka hal itu hanyalah teriakan yang batil dan kosong walaupun datang
dari siapapun.
Asy Syaikh Robi’
Al Madkholiy وفقه
الله sendiri berkata
–sebagaimana telah lewat-: “Maka bukti-bukti yang jelas membuat ribuan orang
yang tidak memiliki hujjah itu terdiam walaupun mereka itu para
ulama. Kaidah ini wajib untuk diketahui.”
Adapun
ketidakmampuan untuk adu hujjah, lalu mulai mencaci dengan perkataan: “Yahya Al
Hajuriy haddadiy, khobits (buruk), safih (tolol), la barokallohu fihi (semoga
Alloh tidak memberkahinya”, “Sesungguhnya Yahya Al Hajuriy telah merobek dakwah
Salafiyyah di seluruh penjuru alam, tidak meninggalkan seorangpun, tidak
meninggalkan Muhammad, ataupun Bukhoriy, ataupun Jabiriy, ataupun yang
lainnya,” maka yang seperti ini adalah perbuatan yang seorang dai Salafiyyah
merasa malu untuk melakukannya.
Dan setelah
ini, maka siapakah yang mengharuskan kami untuk menghormati ‘Ubaid bersamaan
dengan tegaknya bayyinat, dalil-dalil dan bukti-bukti akan penyimpangannya? Al
Imam Sufyan Ats Tsauriyرحمه
الله berkata: “Jika
seseorang cinta pada saudaranya kerena Alloh عز وجل kemudian orang yang dicintainya itu membuat perkara baru
dalam Islam lalu dia tidak membencinya Karena perbuatan tadi maka berarti dia
tidak mencintainya Karena Alloh عز وجل. (riwayat Ibnu Abi Hatim dalam “Al Jarh Wat Ta’dil”/1/hal.
52/sanadnya shohih).
Di antara
kami dan kalian adalah Kitabulloh. Maka barangsiapa menyamakan keadaan
Salafiyyun di Darul Hadits di Dammaj dengan keadaan Haddadiyyun sekedar
berdasarkan kesamaan kedua pihak tersebut dalam ‘illah (sifat pengumpul) yang
lemah –sama-sama memerangi Al Jabiriy- maka sungguh dia telah berbuat zholim,
dan mengqiyaskan perkara dengan qiyas yang rusak. Haddadiyyun ingin merusak
prinsip-prinsip Salafiyyah dan memerangi orang yang kokoh di atas kebenaran.
Mereka adalah fujjar (perobek tabir keagamaan) dan perusak di muka bumi.
Sementara para penghuni Darul Hadits di Dammaj dan yang bersama mereka adalah
orang-orang yang teguh di atas prinsip-prinsip Salafiyyah, membelanya dan
membela para pemegangnya, memerangi orang-orang yang menyeleweng dari
prinsip-prinsip Salafiyyah. Mereka orang-orang yang bertaqwa dan berbuat
perbaikan di bumi dengan taufiq Alloh, sebagaimana mereka juga tawadhu’ kepada
Alloh dengan taufiq-Nya. Maka bagaimana kalian menyamakan pihak ini dan itu?
Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian menghukumi? Alloh ta’ala berfirman:
﴿أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ
كَالْفُجَّارِ﴾[ص/28].
“Patutkah
Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholih sama
dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami
menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat
ma'siat?”
Al Imam
Ibnul Qoyyim رحمه
الله berkata: “Dan
Alloh Yang Mahasuci telah meniadakan dari hukum dan hikmah-Nya penyamaan antara
dua perkara yang berbeda dalam hukum. Alloh ta’ala berfirman:
﴿أفنجعل المسلمين كالمجرمين مالكم كيف تحكمون﴾
“Maka apakah
Kami akan menjadikan Muslimin itu seperti Mujrimin (orang-orang yang jahat)?
Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian menghukumi?”
Maka Alloh
mengabarkan bahwasanya ini adalah hukum yang batil secara fitroh dan akal,
tidak pantas dinisbatkan kepada-Nya سبحانه. Alloh ta’ala berfirman:
﴿أم حسب الذين اجترحوا السيئات أن نجعلهم كالذين
آمنوا وعملوا الصالحات سواء محياهم ومماتهم ساء ما يحكمون﴾
“Apakah
orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan
mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama
antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka hukumkan
itu.”
Dan Alloh
ta’ala berfirman:
﴿أم نجعل الذين آمنوا وعملوا الصالحات كالمفسدين
في الأرض أم نجعل المتقين كالفجار﴾
“Patutkah
Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholih sama
dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami
menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat
ma'siat?”
Apakah
engkau tidak melihat bagaimana Alloh mengingatkan akal-akal dan memperingatkan
fitroh-fitroh dengan kemampuan yang diletakkan-Nya ke dalamnya untuk memberikan
hukum kepada suatu perkara sama dengan hukum perkara yang mirip dengannya, dan
tidak menyamakan hukum di antara dua perkara yang berbeda. Dan ini semua
merupakan bagian dari timbangan yang Alloh turunkan bersama kitab-Nya, dan
menjadikan timbangan tadi sebagai sejawat kitab-Nya dan pembantunya.” (“I’lamul
Muwaqqi’in”/1/hal. 110/Darul Hadits).
Qiyas yang
rusak merupakan tempat tumbuhnya kesesatan Iblis dan sumber segala kesesatan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه اللهberkata: “Kesalahan dalam qiyas itu terjadi
disebabkan oleh penyerupaan sesuatu dengan perkara yang berbeda, dan mengambil
kejadian yang menyeluruh dengan pertimbangan adanya suatu sisi kesamaan, tanpa
membedakan di antara kedua jenis tadi. Maka ini adalah qiyas yang rusak –sampai
pada ucapan beliau:- sebagian Salaf berkata: “Yang pertama kali melakukan qiyas
adalah Iblis. Dan tidaklah matahari dan bulan itu disembah kecuali disebabkan
oleh qiyas-qiyas, yaitu qiyas yang menentang nash. Dan barangsiapa
melakukan qiyas yang rusak, dan setiap qiyas yang menentang nash tidaklah
terjadi kecuali dia itu adalah qiyas yang rusak. Adapun qiyas yang shohih maka
hal itu termasuk dari timbangan yang Alloh turunkan dan tidak akan menyelisihi
nash sama sekali bahkan pasti mencocokinya.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal.
299-300).
Al Imam
Ibnul Qoyyim رحمه
الله : “dan setiap
bid’ah dan perkataan yang rusak yang masuk pada agama-agama para Rosul itu maka
asalnya adalah qiyas yang rusak.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/hal. 319/Darul hadits).
Pasal
Duapuluh Tujuh:
berlebihan dalam menyanjung orang yang bersama mereka, manakala
dirinya meninggalkan mereka maka merekapun berlebihan dalam mencercanya
Kemudian Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه
الله berkata: “Maka
keadaan mereka seperti keadaan Yahudi bersama Abdulloh bin Salam salah seorang
ulama Bani Isroil yang dimuliakan Alloh dengan Islam. Al Bukhoriy
meriwayatkan dalam “Shohih”nya (3151) dengan sanad sampai ke Anas رضي الله عنه berkata:
( بلغ عبد الله بن سلام مقدم رسول الله صلى الله عليه وسلم
المدينة فأتاه فقال: إني سائلك عن ثلاث لا يعلمهن إلا نبي: ما أول أشراط
الساعة ؟ وما أول طعام يأكله أهل الجنة ؟ ومن أي شيء ينزع الولد إلى أبيه ومن أي
شيء ينزع إلى أخواله ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «خَبَّرَنِي بهن آنفا
جبريل». قال: فقال عبد الله: (ذاك عدو اليهود من الملائكة) ! فقال
رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أما أول أشراط الساعة فنار تحشر الناس من المشرق
إلى المغرب وأما أول طعام يأكله أهل الجنة فزيادة كبد حوت وأما الشبه في الولد فإن
الرجل إذا غشي المرأة فسبقها ماؤه كان الشبه له وإذا سبق ماؤها كان الشبه لها». قال: أشهد
أنك رسول الله. ثم قال:يا رسول الله إن اليهود قوم بهت إن علموا بإسلامي قبل
أن تسألهم بهتوني عندك. فجاءت اليهود ودخل عبد الله البيت فقال رسول الله صلى
الله عليه وسلم: «أي رجل فيكم عبد الله بن سلام؟»قالوا: أعلمنا وابن أعلمنا،
وأَخْيَرُنَا وابنُ أَخْيَرِنا. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أفرأيتم
إن أسلم عبد الله» قالوا: أعاذه الله من ذلك. فخرج عبد الله إليهم
فقال: أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول
الله. فقالوا: شرُّنَا وابن شَرِّنا. ووقعوا فيه).
“Sampai
kepada Abdulloh bin Salam berita tentang kedatangan Rosululloh صلى الله عليه وسلم ke Madinah, maka diapun mendatangi beliau seraya berkata:
“Sesungguhnya saya ingin menanyai Anda tentang tiga perkara yang tidak
diketahui kecuali oleh seorang Nabi: Apa awal tanda kiamat? Apa awal makanan
Ahlul Jannah? Dari manakah seorang anak itu menjadi mirip dengan ayahnya? Dan
dari manakah dia mirip dengan paman-pamannya?” maka Rosululloh صلى الله عليه وسلمmenjawab: “Jibril telah mengabariku akan hal
itu barusan.” Maka Abdulloh berkata: “Dia adalah musuh yahudi dari kalangan
malaikat.” Lalu Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Adapun awal tanda kiamat adalah api yang
menggiring manusia dari timur ke barat. adapun awal makanan Ahlul Jannah adalah
tambahan hati ikan paus. Adapun kemiripan pada seorang anak, maka seseorang itu
jika menggauli istrinya lalu air maninya mendahului air mani istrinya, maka
anaknya menjadi mirip dengannya. Tapi jika air mani istrinya mendahului air
maninya, maka anaknya menjadi mirip dengan istrinya.” Maka Abdulloh berkata:
“Saya bersaksi bahwasanya Anda adalah Rosululloh.” Kemudian dia berkata: “Wahai
Rosululloh sesungguhnya Yahudi adalah kaum pendusta. Jika mereka mengetahui
bahwasanya saya telah masuk Islam sebelum Anda menanyai mereka tentang saya
mereka pasti akan berdusta tentang saya di hadapan Anda.” Maka datanglah
Yahudi, sementara Abdulloh masuk ke dalam rumah. maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bagaimana kedudukan Abdulloh bin Salam di sisi
kalian?” Mereka menjawab: “Dia adalah orang yang paling berilmu di antara kami,
anak dari orang yang paling berilmu di antara kami. Dia juga orang yang paling
baik di antara kami, anak dari orang yang paling baik di antara kami.” Maka
Rosululloh صلى الله
عليه وسلم bersabda:
“Bagaimana pendapat kalian jika di masuk Islam?” mereka menjawab: “Semoga Alloh
melindunginya dari yang demikian itu.” Maka Abdulloh bin Salam keluar kepada
mereka seraya berkata: “Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan selain Alloh
dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh.” Maka mereka berkata:
“Dia adalah orang yang paling jelek di antara kami, anak dari orang yang paling
jelek di antara kami.” Dan mereka mencacinya.”
Al Hafizh
dalam “Al Fath” (7/hal. 298) dalam syarh hadits (3911) berkata: “dalam riwayat
Yahya bin Abdillah: maka kukatakan: “Wahai Rosululloh, bukankah saya telah
memberitahu Anda bahwasanya mereka adalah kaum pendusta, orang-orang yang
mengkhianati perjanjian, berbohong dan jahat?” dalam suatu riwayat: “Mereka
menghinakannya”. Maka dia berkata: “Inilah yang saya takutkan wahai Rosululloh.”
Sisi
pendalilan dari hadits ini adalah bahwasanya Yahudi manakala mereka mengira
bahwasanya Abdulloh bin Salam akan tetap di atas kesesatan mereka dan kebatilan
mereka, merekapun memujinya dan berkata: Dia adalah orang yang paling baik di
antara kami, anak dari orang yang paling baik di antara kami.” Manakala beliau
mengumumkan kebenaran, berbaliklah mereka dengan segera, mencaci beliau dan
berkata: “Dia adalah orang yang paling jelek di antara kami, anak dari orang
yang paling jelek di antara kami.” Dan mereka mencacinya.
Dan
demikianlah perbuatan Haddadiyyah bersama para tokoh utama Ahlussunnah wal
haqq, berulang kali mereka menyanjungnya demi tujuan dan maksud yang telah
mereka rencanakan dan diri mereka. Manakala para tokoh utama tadi menghadapi
kebatilan mereka dan menyelisihi mereka, merekapun mencaci mereka satu persatu
dan memerangi mereka. Setiap kali para ulama menambahkan penjelasan tentang
kebatilan mereka, merekapun bertambah melampaui batas, bertambah dusta dan
bohong kepadanya dan jahat dalam memeranginya sampai kepada perbuatan dan
ucapan yang banyak yang setiap kelompok-kelompok yang sesat merasa malu untuk
melakukannya.”
Selesai
ucapan Asy Syaikh Robi’.
Komentar
saya:
Sifat
Haddadiyyah yang keduapuluh empat adalah: mereka berlebihan dalam menyanjung
(orang yang bersama mereka), lalu mereka berlebihan dalam mencerca (orang yang
meninggalkan mereka). Dulunya Yahudi menyukai Abdulloh bin Salam sebelum
beliau masuk ke dalam agama terakhir yang dibawa oleh rosululloh صلى الله عليه وسلم. Manakala mereka mengetahui masuknya beliau ke Islam merekapun
mencacinya dan membencinya. Seperti inilah sifat hizbiyyun: mereka menyukai
seseorang selama dirinya bersama mereka dalam kebatilan mereka –atau selama
dirinya tidak menyerang mereka- manakala dirinya memilih kebenaran merekapun
membencinya. Aku telah menyebutkan karakter ini beserta contoh-contoh kisahnya
dalam risalah yang lain.
Adapun
syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau, mereka dulu
mencintai 'Ubaid Al Jabiriy, mengagungkannya, dan memuliakannya karena Alloh
ta’ala. Bahkan manakala dirinya mengunjungi Yaman sesaat sebelum fitnah ini,
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau menerimanya,
mengagungkannya, dan memuliakannya, padahal banyak masyayikh Yaman pada hari
itu yang menjauhinya (menjauhi ‘Ubaid).
Manakala
muncul penyimpangannya dan peperangannya terhadap kebenaran dan pembawa
kebenaran, dan enggan untuk kembali kepada kebenaran, syaikh kami dan para
salafiyyunpun membantah kebatilannya itu. Ini termasuk dari pelaksanaan cinta
dan benci karena Alloh.
Dari Abu
Huroiroh رضي الله
عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:
«سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله
الإمام العادل ، وشاب نشأ في عبادة ربه ، ورجل قلبه معلق في المساجد ، ورجلان
تحابا في الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه ، ورجل طلبته امرأة ذات منصب وجمال
فقال: إني أخاف الله . ورجل تصدق أخفى حتى لا تعلم شماله ما تنفق
يمينه ، ورجل ذكر الله خاليا ففاضت عيناه». (أخرجه البخاري (كتاب الأذان/من
جلس في المسجد/(660)) ومسلم (كتاب الزكاة/فصل إخفاء الصدقة/(1031)).
“Ada tujuh
golongan yang dinaungi Alloh di dalam naungan-Nya pada hari tiada naungan
kecuali naungan-Nya: “Pemimpin yang adil, anak muda yang tumbuh dalam ibadah
kepada Robbnya, seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid-masjid, dua orang
yang saling cinta karena Alloh, berkumpul karena Alloh, dan berpisah pun
karena-Nya, seseorang yang diminta oleh seorang perempuan yang punya kedudukan
dan kecantikan tapi dia berkata: “Sesungguhnya aku takut pada Alloh.” Dan
seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak
tahu apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, serta orang yang mengingat Alloh
sendirian lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Al Bukhory (kitabul Adzan/Man
Jalasa Fil Masjid/(660)) dan Muslim (Kitabuz Zakah/Fadhlu Ikhfaish Shodaqoh/(1031))).
Al Imam Ibnu
Rojab رحمه الله berkata: “Yang keempat: dua orang yang
saling cinta karena Alloh عز وجل, karena hawa nafsu itu menyeru untuk saling cinta bukan
karena Alloh, karena di dalamnya ada ketaatan jiwa kepada hasrat-hasrat dunia.
Maka dua orang yang saling cinta karena Alloh, mereka berdua memerangi jiwa
mereka untuk menyelisihi hawa nafsu hingga jadilah rasa cinta keduanya itu
adalah karena Alloh tanpa ada hasrat duniawiy yang mencampurinya. Ini berat
sekali –sampai pada ucapan beliau:- sabda beliau: “berkumpul karena Alloh, dan
berpisah pun karena-Nya” ada kemungkinan beliau ingin bahwasanya keduanya
itu berkumpul atas dasar kecintaan karena Alloh hingga kematian memisahkan
keduanya di dunia, atau hingga salah satunya tidak hadir di samping sahabatnya.
Dan mungkin
juga bahwasanya beliau صلى الله عليه وسلم menghendaki bahwasanya keduanya itu berkumpul atas dasar
rasa cinta karena Alloh, maka jika salah satunya berubah dari perkara yang
mengharuskan dia dicintai karena Alloh dulu dia ada di atasnya, maka diapun
memisahkan diri darinya dengan sebab itu. Maka rasa cinta keduanya itu berkisar
pada ada atau tiadanya ketaatan pada Alloh. Sebagian Salaf berkata: “Jika
engkau punya saudara yang engkau cintai karena Alloh, lalu dia membuat perkara
baru, kemudian engkau tidak membencinya karena Alloh, maka tidaklah rasa
cintamu itu karena Alloh.” Atau dengan makna ini.” (“Fathul Bari”/Ibnu
Rojab/3/hal. 370-371/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).
Maka
perbedaan antara perbuatan Haddadiyyun dengan perbuatan syaikh kami yang orang
yang bersama beliau adalah bagaikan perbedaan antara langit dan bumi. Akan
tetapi sebab-sebab kebutaan itu banyak.
Bahkan
Mar’iyyun itu punya bagian dalam menyerupai Yahudi dan haddadiyyun dalam bab
ini. Abdurrohman Al 'Adniy dulu memuji Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dan menyebutkan kemampuan beliau untuk memikul dakwah,
serta menyemangati orang-orang untuk mengambil ilmu dari beliau حفظه الله. Tapi ternyata Abdurrohman Al 'Adniy dalam risalahnya di
tengah-tengah masa fitnahnya dalam risalah “At Ta’liqotur Rodhiyyah” bersaksi
dengan nama Alloh bahwasanya dirinya belum pernah melihat seorangpun yang
menisbatkan diri kepada ilmu –sejak dirinya belajar sampai sekarang- lebih
dusta dan lebih besar makarnya daripada syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله .
Kenyataan
menjadi saksi bahwasanya Abdurrohman Al 'Adniy itulah yang pendusta dan pembuat
makar, dan bahwasanya hizbiyyun itulah yang pendusta dan pembuat makar.
(Inilah
akhir seri kedelapan dari terjemahan risalah “Shifatul Haddadiyyah” والحمد لله. Dan disusul berikutnya إن شاء الله pada seri kesembilan membahas tentang sikap Haddadiyyah
yang menamai sesuatu bukan dengan nama aslinya).
1(
) Muhammad Al Khofifiy هداه الله ini menulis risalah ini saat masih menampakkan sifat
istiqomah di Dammaj, setelah keluar dan bergabung dengan hizb baru diapun
mengumumkan rujuknya dari pembelaannya terhadap al haq selama ini. Pantas
baginya untuk ana sebutkan kisah berikut ini:
قال خالد بن سعد قال: دخل أبو
مسعود على حذيفة -رضي الله عنهما- فقال: اعهد إلي، قال : أولم يأتك اليقين؟ قال: بلى. قال: فإن الضلالة حق الضلالة أن تعرف ما كنت تنكر، وتنكر ما كنت تعرف، وإياك والتلون في دين الله؛ فإن دين
الله واحد
Kholid bin
Sa’d berkata: “Abu Mas’ud masuk menemui Hudzaifah رضي الله عنهماseraya berkata: “Berwasiatlah kepadaku.” Beliau menjawab: “Apakah
belum datang kepadamu keyakinan?” Beliau menjawab: “Sudah.” Hudzaifah berkata:
“Sesungguhnya kesesatan yang sebenarnya adalah: engkau mengenali apa yang
dulunya engkau ingkari, dan engkau mengingkari apa yang selama ini telah engkau
kenal. Hindari olehmu berubah-rubah warna dalam agama ini, karena sesungguhnya
agama Alloh itu satu saja.”.” (riwayat Ibnu Abdil Barr dalam “Jami’ Bayanil
‘Ilmi” (1775), Al Lalikaiy dalam “Syarhul Ushul” (no. 120) dan Ibnu Baththoh
dalam “Al Ibanatul Kubro” (no. 25). Atsar ini shohih).
