KARAKTER HADDADIYYAH
DALAM DISKUSI ILMIYYAH
KARAKTER HADDADIYYAH
DALAM DISKUSI ILMIYYAH
( Bagian enam )
Komentar terhadap isi Kitab
“Khuthurotul haddadiyyatil Jadidah Wa Aujuhusy Syabah Bainaha Wa Bainar
Rofidhoh” dan Kitab “Manhajul Haddadiyyah” dan Ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy
Pada Akhir Tahun 1432 H
Diperiksa Oleh:
Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli
Al Ba’daniy Al Yamaniy
Dan
Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy
Al Hajuriy
Al Yamaniy
حفظهما الله ورعاهما
Penulis:
Abu Fairuz
Abdurrohman Al Indonesiy Al Qudsiy
Aluth Thuriy
عفا الله عنه
Pengantar
Penerjemah
الحمد لله وأشهد لأا لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صلى
وسلم على محمد آله وأصحابه أجمعين أما بعد:
Dengan
pertolongan Alloh semata kita akan memasuki seri keenam dari terjemah kitab
“Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatun ‘Ilmiyyah”.
Isi dari
seri keenam ini adalah membahas penipuan dan pengkhianatan Mar’iyyin
terhadap umat, dan kebiasaan mereka untuk merubah lafazh, atau memotong-motong
ucapan lawan yang menyebabkan makna
jadi berubah. Dan ini sesuai dengan sifat
Haddadiyyah yang disebutkan oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri.
Oya sebagian
ikhwah mengkhawatirkan diri saya atas tulisan ini. Dia berkata,”Syaikh Robi’
orang besar. Jika sampai beliau marah bisa berbahaya. Pengikut beliau banyak.”
Saya
katakan: memang benar, Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy adalah orang besar. Tapi
kebenaran itu lebih besar daripada dirinya. Alloh memerintahkan kita semua
untuk mengikuti kebenaran. Dan kebenaran itu diketahui dengan kekuatan
hujjahnya. sesungguhnya Syaikh kami Yahya Al Hajuriy dan para ulama serta
tholabatul ilmi yang bersama beliau رعاهم الله telah mengeluarkan lebih dari seratus limapuluh risalah
tentang penyimpangan hizb Mar’iyyin dan menampilkan di dalamnya dalil-dalil
yang banyak sekali, bukti-bukti Yng beraneka ragam, dan bayyinat yang saling
mendukung tentang hizbiyyah mereka. Sementara Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy tak
sanggup untuk menampilkan risalah atau kaset yang berisi hujjah untuk
meruntuhkan hujjah dan bayyinah serta burhan tadi. Maka kebenaran bersama
ashabul hujaj wal bayyinat wal barohin.
Maka dengan
ayat Al Qur’an yang manakah kami disuruh memilih ucapan dia dan meninggalkan
kebenaran tadi?
Dengan
hadits nabi صلى الله
عليه وسلم yang manakah kami
dipaksa untuk mengambil omongan dia dan membuang kebenaran tadi?
Dengan
manhaj Salaf yang manakah kami diharuskan untuk mengikuti perkataan dia dan
membelakangi kebenaran tadi?
Iya, memang
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy orang besar –dibesarkan Alloh manakala dia
kemarin-kemarin membela kebenaran-, tapi kebenaran lebih besar dan lebih agung
daripada dirinya. Sekaranglah kita diuji, siapakah yang lebih kita takuti, Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy ataukah Robbul ‘alamin? Alloh ta’ala berfirman:
أَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ
مُؤْمِنِين [التوبة/13]
“Apakah
kalian takut kepada mereka? Maka Alloh itu lebih berhak untuk kalian takuti
jika kalian memang orang-orang yang beriman.” (QS. At Taubah: 13).
Ana tahu
-dengan taufiq Alloh- bahwasanya mereka itu tak sanggup adu hujjah. Tidak tersisa senjata mereka selain berlindung di balik jubah kebesaran
syaikh fulan dan syiakh fulan, sementara hati mereka goncang melihat roda kebenaran
yang terus menggelinding dengan dahsyat. Alloh ta’ala berfirman:
ö@t/ (#qç/¤‹x. Èd,ysø9$$Î/ $£Js9 öNèduä!%y` óOßgsù þ’Îû 9�øBr& ?kƒÌ�¨B
“Sebenarnya
mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka,
Maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.” (QS. Qof: 5)
Mereka
berusaha dengan segala cara untuk menutupi kebenaran tadi. Akan tetapi cahaya
kebenaran terlalu kuat untuk dibendung. Pancarannya tajam menembung gulungan
mendung kebatilan. Biasnya berkilauan di sela-sela awan mengumumkan
penolakannya untuk diselubungi. Maka para ahlul batil itu sebenarnya tahu
bahwasanya Salafiyyun darul hadits di Dammaj dan yang bersama mereka itulah
yang benar. Akan tetapi kuku kesombongan menghalangi mereka untuk merunduk di
hadapan kebesaran Alloh. Alloh ta’ala berfirman:
(#r߉ysy_ur $pkÍ5 !$yg÷FoYs)ø‹oKó™$#ur öNåkߦàÿRr& $VJù=àß #vqè=ãæur4 ö�ÝàR$$sù y#ø‹x. tb%x. èpt7É)»tã tûïωšøÿßJø9$# ÇÊÍÈ
“Dan mereka
mengingkarinya karena kezholiman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka
meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang
membuat kerusakan.” (QS. An Naml:14)
Wahai para
singa sunnah, di manakah kalian. Sekaranglah saat untuk menunjukkan keteguhan
jiwa kalian, dan kemurnian hati kalian untuk agama Alloh. Alloh ta’ala
berfirman:
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا
يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا [الأحزاب/39]
“Yaitu
orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Alloh dan takut kepada-Nya dan
tidak takut kepada seorangpun selain Alloh. Dan cukuplah Alloh sebagai
penolong.” (QS. Al Ahzab: 39).
Sekarang
tibalah saatnya untuk masuk ke inti pembahasan, وبالله التوفيق:
DAN
TERMASUK PENGKHIANATAN-PENGKHIANATAN PARA MAR’IYYIN DAN PENIPUAN MEREKA SEBAGAI
BERIKUT:
Bagian
pertama:
Penipuan
Abdurrohman bin Mar’i Al 'Adniy terhadap umat
Dia mentho’n
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله, maka hal itu termasuk upaya melarikan umat dari beliau dan
dari markiz Salafiyyah ini, dan menghalangi orang dari menerima ucapan-ucapan
beliau, dan dia menipu manusia dan menyebabkan mereka terhalang dari mengambil
faidah dari beliau.
Demikian
pula usaha dia untuk mengeluarkan para pelajar Dammaj dari markiz induk untuk
pindah ke markiz khayalan pada hari itu, dan dorongan para pengikutnya terhadap
para pelajar untuk menjual rumah-rumah mereka yang ada di Dammaj, maka ini
merupakan usaha nyata untuk melarikan manusia. Dan kita berlindung kepada Alloh
dari kebutaan atau pura-pura buta.
Demikian
pula pengarahan dia kepada Salafiyyin untuk mengambil ilmu dari Abul Khoththob
Al Libiy Al Hasaniy yang Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri telah men-jarh
dirinya.
Demikian
pula pujiannya kepada Abdul Ghofur Al Lahjiy Al Jam’iy Al Hasaniy bahwasanya
dirinya adalah da’i yang berada di atas ilmu dan bashiroh.
Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy sendiri وفقه الله berkata: “Maka jika dia diam terhadap orang yang berhak
untuk di-jarh dan ditahdzir, maka sungguh dia itu menjadi seorang pengkhianat
dan penipu terhadap agama Alloh dan muslimin.” (“Al Mahajjatul Baidho”/hal.
28-29).
Ini jika dia
diam dari orang macam tadi. Maka bagaimana jika diamnya tadi digabungkan dengan
pujian kepadanya?!
Maka memang
sudah sepantasnya manakala Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy
berkata: “Abdurrohman Al 'Adniy itu ghosysyasy (penipu).”
Adapun
berita-berita tentang penipuan anak buah Abdurrohman Al 'Adniy maka ada di “Al
Khiyanatud Da’awiyyah” (hal. 80/karya Asy Syaikh Abdul Hamid Az Za’kariy),
“nashbul Manjaniq” (hal. 98/karya Yusuf Al Jazairiy), “Syarorotul Lahab”
(1/hal. 18 dan 2/hal. 8 karya Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy), “Al Barohinul
Jaliyyah” (hal. 33/karya Abu Zaid Mu’afa Al Hudaidiy), dan yang lainnya.
Bagian
kedua:
Penipuan
Abdulloh bin Mar'i terhadap umat
Adapun
Abdulloh bin Mar'i maka sungguh dia telah menipu Muslimin dan mengkhianati
mereka dari beberapa sisi: yang pertama: Dia berbangga-bangga dan bersumpah
dengan nama Alloh ta’ala bahwasanya dia adalah termasuk orang yang paling tahu
tentang Abul Hasan, dan bahwasanya dia pernah melakukan beberapa perdebatan
dengan Abul Hasan pada tahun 1413 H. Dan mengklaim bahwasanya Abul Hasan punya
lima puluh kesalahan. Akan tetapi ketika api fitnah Abul Hasan menyala sekitar
tahun 1421 H, Abdulloh Mar’i diam dan tidak mau memberikan bayan dalam
keadaan umat berada pada puncak kebutuhan kepada bimbingan –karena besarnya
bahaya bid’ah Abil Hasan. Bahkan dia terus-menerus diam dalam keadaan satu
persatu sahabatnya terjatuh ke dalam jaring-jaring orang tadi. (Lihatlah
berita-berita yang menyedihkan pada hari-hari itu di risalah “Zajrul ‘Awi”
/3/hal. 280-34/karya Syaikhuna Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy Al Hadromiy).
Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy sendiri menghukumi perbuatan macam ini sebagai penipuan
kepada umat. Beliau berkata: “Bahwasanya Alloh mewajibkan kepada kita nasihat,
memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran. Dan tidak diragukan
bahwasanya menyelisihi apa yang Alloh terangkan di dalam kitab-Nya yang berupa
perkara aqidah, dan dijelaskan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم dalam sunnah beliau dan jalan beliau merupakan termasuk
kemungkaran yang terbesar. Melalaikannya dan diam dari memberikan bayan
setelah mengetahuinya merupakan ghosysy (penipuan) dan pengkhianatan yang
terbesar terhadap Islam dan Muslimin, terutama jika penyembunyian dan sikap diam
ini disertai dengan talbis dan tamwih(pengkaburan)…” dst.
(“Matho’in Sayyid Quthb”/hal. 34).
Dan termasuk
dari penipuan dan pengkhianatan Abdulloh bin Mar'i : pujiannya kepada Abul
Hasan Al Ma’ribiy dan sebagian pengikutnya. Ketika datang kepadanya akh Muhammad
As Saumahiy dan sekelompok pemuda pada masa-masa fitnah Abul Hasan, mereka
ingin menasihati orang-orang Syihr ada tetap kokoh. Ternyata Abdulloh bin
Mar'iberkata: “Fitnah ini, mereka ingin menjatuhkan Abul Hasan, padahal Abul
Hasan itu jabal (gunung).” (risalah “Zajrul ‘Awi” /3/hal. 280-34/karya
Syaikhuna Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy Al Hadromiy).
Syaikhuna
Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy Al Hadromiy dalam sumber yang sama menyebutkan
bahwasanya Abdulloh bin Mar’i sering memuji Nabil Al Qu’aithiy yang mencabut
lembaran bayan para ulama yang berisi pemboikotan terhadap Abul Hasan. Si Nabil
ini merupakan salah satu orang dekat Abdulloh Mar’i, satu sama lain saling
menyanjung. Si Abdulloh memperkenalkan Si Nabil dan mempercayainya, dan
berkata: “Kita mempercayainya untuk dakwah, dan mempersilakannya untuk
berbicara di masjid-masjid kita.” Orang ini terpercaya di sisi Abdulloh Mar’i.
Dulunya si Nabil ini adalah salah satu tokoh besar pembela Abdulloh Al Ahdal
(fitnahnya sebelum fitnah Abul Hasan Al Mishriy). Selesai.
Jika
seseorang berkata: Abdulloh bin Mar'i telah tobat dari fitnah Abul Hasan!”
kami jawab وفقنا
الله : Telah kami
jelaskan kedustaannya dalam risalah kami: “At Taroju’atus Siyasiyah” maka orang
yang ingin mengetahui hakikat orang ini hendaknya merujuk ke risalah ini.
Dan di
antara penipuannya kepada umat adalah: syiar-syiarnya dan prinsip-prinsipnya
yang rusak yang menyesatkan. Silakan rujuk “At Tajliyyah Li Amarotil Hizbiyyah”
(hal. 8/cet. Al Mathbu’atus Salafiyyah/karya sang penulis). Maka renungkanlah
berapa banyak pelajar yang akan tersesat disebabkan oleh prinsip-prinsip dan
syiar Abdulloh bin Mar'i dan mereka mengira ada di atas jalan yang lurus?
Di antara
penipuannya juga adalah: kasus madrasah anak-anak. Abdulloh bin Mar'i dan
pengikutnya mengumumkan dibukanya “Madrosatul Aulad” gratis. Manakala para
orang tua mempercayai mereka dan meletakkan anak-anak mereka di sekolah itu,
Abdulloh bin Mar'i merubah alur untuk meraup uang dari mereka. Dia dan anak
buahnya memang ahli memanfaatkan rasa malu orang untuk tidak menginfakkan
harta.
Abu Ibrohim
Muhammad bin Farh Baroidiy Asy Syihriy حفظه الله berkata: “Mereka telah menyebarkan pengumuman di
masyarakat pada awal pendirian sekolah ini bahwasanya pendidikan di sekolah ini
gratis. Kemudian tiba-tiba saja Abdulloh bin Mar'iberkumpul dengan para orang
tua murid, memberikan nasihat dan pengarahan kepada mereka, kemudian
menjelaskan kepada mereka kondisi dakwah dan kebutuhan-kebutuhannya, dan hutang
yang dipikul oleh dakwah, dan bahwasanya para pengajar butuh gaji, kemudian dia
melontarkan ide pada mereka agar orang yang mampu hendaknya membayar limaratus
real Yamaniy tiap bulan per murid. Apa yang terjadi setelah penentuan ini?
Abdur Qodir
Asy Syihriy berkata: “Aku berjumpa dengan orang yang bertugas mengambil SPP
murid dari orang tua mereka, dalam keadaan dia mengeluhkan sebagian orang tua
yang mampu membayar SPP tapi tak mau membayar. Maka kutanyakan pada petugas
itu: “Berapakah SPP mereka perbulan?” Dia menjawab: “Limaratus reyal.” Aku
katakan: “Berarti dalam setahun tiap anak wajib bayar enam ribu reyal. Kenapa
kalian tidak mengambil sekalian saja satu kali tiap awal tahun? Itu lebih
mudah bagi mereka.” Petugas tadi berkata: “Kami tak ingin memungut SPP mereka
dengan sekali ambil, karena sebagian dari mereka merasa malu untuk
menyodorkan limaratus real per bulan, makanya mereka
menyodorkan lima ribu per bulan! Sebagian dari mereka membayar empat
ribu per bulan atas nama anaknya.” (lihat “At Tajawwul Fi Ba’dhi Ma ‘Inda
Abdulloh bin Mar'i Al ‘Adniy Minat Tasawwul”/ Abu Ibrohim Muhammad bin
Farh Baroidiy Asy Syihriy /hal. 6).
Termasuk
dari penipuan dan pengkhianatan Abdulloh bin Mar'ijuga adalah: apa yang
dikatakan oleh Asy Syaikh Abu Bilal Kholid Al Hadhromiy –hafizhohulloh- berkata
pada Abdulloh Mar'i dan pengikutnya: “Apa yang kalian sebutkan bahwasanya
kalian berdiri bersama saudara-saudara kita orang orang asing ini, kami tidak
melihat hasil yang semestinya, sementara sebagian dari saudara-saudara kita
orang orang asing telah dikeluarkan dari Syihr, sebagian lagi dimasukkan
penjara di Shon’a dikarenakan kalian tidak memberikan pada mereka surat idzin
tinggal sebagaimana yang kalian janjikan. Bahkan salah satu dari
saudara-saudara kita orang-orang asing mengeluhkan beberapa perkara yang mereka
lihat. Dia berkata: “Mereka (anak buah Abdulloh Mar'i) mengambil dari setiap
orang dari kami uang sebanyak tiga ratus dolar di muka untuk SPP enam bulan,
tapi sebagian dari kami tidak belajar di ma’had (Ma’hadul Hasub Wal Lughot yang
ada di bawah pengawasan Abdulloh Mar'i) kecuali sekitar dua bulan saja, sisanya
(empat bulan) kami belajar di Darul Hadits (Darul Hadits Syihr yang dipimpin
Abdulloh Mar'i) dan kami tidak pergi ke ma’had karena pemerintah melarang
pelajaran bahasa Arab di situ karena tiada surat idzin. Walaupun demikian
mereka (anak buah Abdulloh) tidak mengembalikan sisa uang kami.”
Dan
sebagaimana diketahui bersama –dari penjabaran terdahulu- sebagaimana perkataan
dewan Ma’had bahwasanya Ma’hadul Hasub Wal Lughot tidak punya kaitan dengan
Darul Hadits di Syihr. Lalu apakah yang membolehkan mereka mengambil uang
saudara-saudara kita orang-orang asing? Mana pelaksanaan dari ucapan mereka
“berdiri bersama saudara-saudara kita orang-orang asing”? kami ingatkan dewan
Ma’had dengan hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu riwayat Muslim:
“Bahwasanya Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bertanya: “Tahukah
kalian siapa itu orang yang bangkrut?” Mereka menjawab,”Orang yang bangkrut di
kalangan kami adalah orang yang tak punya uang ataupun barang.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya
orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat
dengan pahala sholat, puasa, dan zakat. Tapi dia datang dalam keadaan telah
mencaci si ini, menuduh si itu, makan harta orang ini, menumpahkan darah orang
itu, dan memukul si dia. Maka si ini diberi kebaikannya, si itu diberi
kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum dia membayar seluruh
kewajibannya, diambillah dari kejelekan mereka lalu dipikulkan ke punggungnya,
lalu dilemparkanlah dirinya ke dalam neraka.” (HR. Muslim). (selesai penukilan
dari “Naqdhur Rodd”/hal. 15).
Dan termasuk
dari penipuan dan pengkhianatan Abdulloh bin Mar'i adalah: Abdulloh bin
Mar'i telah meminta kepala Jam’iyyah Shoyyadil Khour (jam’iyyah nelayan yang
ada di Khour) di Syihr agar Jam’iyyah ini ikut ambil bagian menyumbang
pembangunan atap yang tinggi dari masjid “At Taqwa”, maka sang kepala
memberinyaseratus ribu real. Setelah mereka menerima uang tadi yang maunya
dipakai untuk membangun atap bangunan tinggi masjid, ternyata sampai saat
ini (sekitar tahun 1428 H) mereka tidak juga melaksanakan pembangunannya
sedikitpun padahal sudah lewat hampir tiga tahun. (lihat “At
Tajawwul”/hal. 6-7).
Dan termasuk
dari penipuan dan pengkhianatannya juga adalah: dia menjerumuskan sebagian Salafiyyin
ke dalam jam’iyyat bersamaan dengan adanya beberapa penyelisihan syariah di
situ, hingga sebagian dari mereka menjadi kepala beberapa bagian dari
jam’iyyah. (lihat “Naqdhur Rodd”/karya Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy/hal.
20-21).
Dan termasuk
dari penipuan dan pengkhianatannya juga adalah: fatwa-fatwanya yang bersifat
menggampangkan masuk ke dalam beberapa perkara yang harom dengan alasan
“darurat”, seperti masalah gambar makhluk bernyawa. (lihat “Naqdhur Rodd”/karya
Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy/hal. 20-21).
Dan termasuk
dari penipuan dan pengkhianatan Abdulloh bin Mar'i dan pengikutnya juga
adalah: adanya perbedaan antara pertanyaan yang mereka tanyakan kepada Ubaid Al
Jabiriy dalam kasus tanah waqof dengan apa yang mereka katakan dalam risalah
“Al Mi’yar” dan “Ar Roddul Mansyud”. (Bacalah “Nushrotusy Syuhud” (hal. 13-14)
dan “Mulhaqul Minzhor” (hal. 5-6), keduanya karya Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal
Al Hadhromiy حفظه
الله).
Dan
perbuatan ini seperti perbuatan salah seorang pengikut Abul Hasan Al Mishriy
ketika bertanya pada Al Imam Al Albaniy رحمه اللهtentang masalah hadits ahad, lalu dia
menjadikan jawaban beliau sebagai pukulan terhadap Ahlussunnah, padahal aqidah
beliau dalam masalah ini sama persis dengan aqidah Ahlussunnah. Asy Syaikh
Robi’ وفقه الله telah menghukumi si penanya sebagai
ghosysyasy (penipu). (bacalah dengan lengkap “Baroatu Ahlissunnah”/Asy Syaikh
Robi’ /hal. 213).
Dan termasuk
dari penipuan dan pengkhianatan Abdulloh bin Mar'i dan pengikutnya juga
adalah: mereka menukilkan jawaban Ubaid Al Jabiriy tentang tanah waqof yang
mereka tanyakan tadi dalam malzamah mereka, sebagai argumentasi untuk memukul
lawan mereka, tanpa mau menyebutkan teks pertanyaannya. Andaikata mereka
mencantumkan soal tadi niscaya akan terbongkar kedustaan mereka إن شاء الله . (Bacalah dengan teliti pembahasan ini dalam “Nushrotusy
Syuhud” (hal. 13-14) dan “Mulhaqul Minzhor” (hal. 5-6), kedua risalah ini telah
tersebar).
Kesimpulannya
adalah: Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه اللهmenjadikan masalah ghosy dan khianat sebagai
bagian dari karakter Haddadiyyah. Dan tak ada bayyinah bahwasanya hal ini ada
pada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau. Maka tidak pantas
orang-orang yang mulia tadi dituduh sebagai haddadiyyin. Dan kami dengan taufiq
dari Alloh telah menunjukkan bayyinah yang beraneka ragam tentang penipuan dan
pengkhianatan Mar’iyyin. Maka merekalah Haddadiyyun dalam bab ini bagi orang
yang ikhlas dan adil dalam menerima kebenaran.
ADAPUN
MASALAH PENYELEWENGAN LAFAZH DAN MAKNA DAN PEMOTONG-MOTONGAN KALIMAT YANG
DILAKUKAN OLEH MAR’IYYIN ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
Abdulloh bin
Mar'i dan pengikutnya punya bagian dalam penyelewengan kalimat lawan, kemudian
menjatuhkan vonis kepadanya berdasarkan kalimat yang telah diselewengkan tadi.
Hal itu disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal حفظه الله dalam “Al Minzhorul Kasyif” (hal. 9-10), di antaranya
adalah sebagai berikut:
Abdulloh bin
Mar'i merubah lafazh Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiyحفظه الله “Di Hadhromaut orang ini tidak ada seorangpunbersamanya([1])” dirubahnya
menjadi “Di Hadhromaut orang ini tidak ada seorangpun ada di sampingnya”
sebagaimana dalam “Al Mi’yar” (hal. 46), dalam rangka mendustakan Asy Syaikh
Abu Bilal Al Hadhromiy حفظه الله karena pada kenyataannya ada sekelompok orang yang duduk
di sisi Abdulloh bin Mar'i .
Dan Asy
Syaikh Abu Bilal حفظه
الله telah menjawabnya
dengan berkata: “Ucapanku: (tidak ada seorangpun bersamanya)([2]) ini
adalah perkataan yang benar, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang
karakternya sama denganmu (yaitu dengan penulis risalah “Ar Roddul Mansyud”).
Maka aku akan menanyaimu dengan beberapa soal, dan aku biarkan kamu yang
menjawab, agar engkau tahu apakah ada orang yang bersama Abdulloh bin
Mar'i dalam amalan yang dilakukannya ataukah tidak?
Pertama: Siapakah
yang bersamanya dalam masalah penggunaan kamera yang ada di maktabah dan kalian
telah menyingkirkannya pada masa-masa terakhir karena takut diingkari oleh
orang-orang yang mengingkarinya dan larinya Salafiyyin darinya, dan yang mana
para masyayikh yang mulia menuntut syaikhmu (Abdulloh bin Mar'i) meninggalkan
kamera itu?
Kedua: Siapakah
yang bersamanya di Hadhromaut untuk bersikap kaku terhadap ulama dakwah
Salafiyyah di Yaman, dan dirinya mengikatkan diri dengan orang-orang lain dari
luar Yaman? Jika dia menyatakan di dalam risalahnya “Al Mi’yar” bahwasanya
dirinya punya hubungan dengan ulama dakwah di Yaman, maka itu adalah pengaku-akuan
yang butuh bukti.
Ketiga: Siapakah
yang bersamanya untuk memperluas bisnis-bisnis tersebut dengan alasan
bahwasanya dakwah butuh kepadanya?([3])
Keempat: Siapakah
yang bersamanya dalam menjerumuskan dakwah ke dalam utang-utang demi
bisnis-bisnisnya yang gagal itu?
Kelima: Siapakah
yang bersamanya untuk menjerumuskan sebagian Salafiyyin ke dalam jam’iyyat
Shoyyadin bersamaan dengan adanya beberapa penyelisihan syariah di situ, hingga
sebagian dari mereka menjadi kepala beberapa bagian dari jam’iyyah, disebabkan
oleh fatwa-fatwa syaikhmu yang tidak jelas dan tidak tegas?
Keenam: Siapakah
yang bersamanya untuk menjerumuskan sebagian ikhwah kita untuk bekerja di
sebagian percetakan yang menjual kitab-kitab sihir seperti kitab “Syamsul
ma’arif” dengan alasan membatasi kejelekan dan menguranginya, dan mendukung
maktabah-maktabah Salafiyyah? Dan dalam rangka keadilan, kami katakan
bahwasanya saudara kita yang dijerumuskan Abdulloh bin Mar'i tersebut
tidaklah menjual kitab-kitab sihir, tapi bisa jadi dia ditekan dan turun ke
tempat penyimpanan kitab-kitab itu.
Ketujuh: Siapakah
yang bersamanya memfatwakan tipu daya yang difatwakannya kepada para nelayan
dalam masalah pemilu? Dan dia memang telah rujuk dari hal itu di dalam “Bayan”
nya. Dan kita mohon pada Alloh taufiq untuk kita dan dirinya.
Kedelapan: Siapakah
yang bersamanya untuk mencerca sebagian masyayikh dakwah Salafiyyah di Yaman?
Kesembilan: Siapakah
yang bersamanya untuk memperluas area “darurat” hingga mengkiaskan foto-foto
yang dituntut oleh jam’iyyat Shoyyadin (nelayan) dari para anggotanya,
dikiyaskannya kepada foto Surat Izin Mengemudi? Sebagaimana ini dinukilkan oleh
orang yang mendengar darinya, dan orang itu adalah akhuna Hani Hamdun, dan dia
itu lebih adil (lurus agamanya) daripada dirimu dan belasan orang yang
sepertimu. Syaikh kami رحمه الله (Al Imam Al Wadi’iy) sebagaimana dalam kitab beliau “Hukmu
Tashwiri Dzawatil Arwah” hal. 64 berkata: “Foto SIM adalah termasuk gambar yang
bersifat terpaksa.” Maka kiyas syaikh kamu (Abdulloh bin Mar'i ) adalah kiyas
untuk perkara yang tidak sama. Dan aku tahu jawaban dari Abdulloh bin
Mar'i terhadap persaksian saudara kita Hani, dia akan berkata seperti
kebiasaannya: “Aku tidak ingat” atau “Orang itu pendusta.”
(Selesai
penukilan dari “Naqdhur Rodd”/hal. 20-21).
Dan termasuk
dari penyelewengan kalimat adalah perkataan penulis “Ar Roddul Mansyud” (hal.
15): “Asy Syaikh yang mulia Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله menyebutkan persaksian dari akh Muhammad Ba Roidiy Al
‘Amudiy yang mana faidahnya adalah berita bahwasanya tiga orang ikhwah punya
harta waqof, maka bangkitlah Asy Syaikh Abdulloh (bin Mar'i) يلف عليهم ويلف عليهم (menipu mereka, dan menipu mereka).”
Asy Syaikh
Muhammad Ba Jammal حفظه
الله berkata: Komentar:
“yang ada di dalam kaset adalah يلف عليه (meraup harta tadi). Dengan dhomir tunggal (عليه) bukan
jama’ (عليهم) dengan sebab ini berubahlah makna. Maka
berdasarkan penukilan mereka, maka dhomir kembali kepada orang-orang yang
mengalah kepada Abdulloh bin Mar'i . Adapun jika berdasarkan yang tunggal, maka
dhomir kembali kepada harta waqof, dan ini dia yang diucapkan oleh Syaikh kami
Yahya yang beliau nukilkan dari Al ‘Amudiy. Dan yang mengherankan: mereka
mengikuti pendengaran Abdulloh bin Mar'i : يلف عليهم demikianlah yang ada di “Al Mi’yar” (hal. 18/karya
Abdulloh). Dan keadaan mereka ini adalah seperti yang dikatakan:
يعي غير ما قلنا ويكتب غير ما
|
وعاه ويقرأ غير ما هو كاتب
|
||
“Dia
menghapal bukan apa yang kami katakan, dan menulis bukan yang dihapalnya, dan
membaca bukan apa yang ditulisnya.”
Juga
ucapannya pada halaman yang sama: “Ba Roidiy Al ‘Amudiy tahu bahwasanya Asy
Syaikh Abdulloh bin Mar'i menghormatinya dan memuliakannya, dan tidak
pantas ada di dadanya dendam dan dengki sebagaimana dia menyerang syaikh kami
sampai-sampai dendam tadi membawanya untuk menggambarkan bahwasanya syaikh
memakan harta waqof.”
Komentar Asy
Syaikh Muhammad Ba Jammal حفظه الله: “Sang penulis berbicara tentang perkara hati yang
ujung-ujungnya adalah bahwasanya itu bagian dari baik sangka, bukan hukum yang
pasti, karena dirinya tidak tahu isi hati. Dan itu bukan bidangnya dan bukan
kekhususan dirinya. Maka hendaknya dia bertaqwa kepada Alloh dan menahan diri
dari yang seperti itu.”
Adapun
ucapan dia: “Menggambarkan bahwasanya syaikh memakan harta waqof.” Dan demikian
pula ucapan dua saksi: Ali Al Khomir dan Muhammad bin Suwailimin (hal. 18):
“Adapun apa yang kami dengar bahwasanya dia memakan harta waqof” maka aku (Asy
Syaikh Ba Jammal) tidak tahu apa sandaran mereka dalam persaksian ini.
Darimanakah mereka mendatangkannya!? Kemudian aku mendapati perkataan Asy
Syaikh Abdulloh bin Mar'i di “Al Mi’yar” di dua tempat. Di hal. 18 dia
menukil perkataan Syaikh kami Yahyaحفظه الله bahwasanya beliau berkata: “Dan memakan harta
waqof” sementara yang di kaset Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy adalah:
“Danmengambil harta waqof” dan tidaklah tersembunyi perbedaan antara kedua
perkataan ini, karena sesungguhnya istilah “memakan” –dalam kebiasaan syariat
yang ada dalam Al Qur’an- mencakup istilah “mengambil”. Dan keadaan mereka
dalam masalah pendengaran mereka adalah seperti dikatakan terdahulu:
أقول له زيدا فيسمعه عمرا
|
فيكتبه سعدا ويقرأه بكرا
|
“Kukatakan
padanya “Zaid” tapi dia mendengarnya “Amr”, lalu dia menulisnya “Sa’d”, dan
membacanya “Bakr”
Dan
sebagaimana perkataan Abu Ubaidah kepada Kaisan (sang penyampai suara beliau):
“Kaisan mendengar bukan apa yang kukatakan, dan berkata bukan apa yang
didengarnya, dan menulis bukan apa yang dikatakannya, dan membaca bukan apa
yang ditulisnya, dan menghapal bukan yang dibacanya.”
Selesai
penukilanku dari Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal حفظه الله.
Dan termasuk
perkara yang menunjukkan busuknya hizb pendusta tersebut adalah pemotongan
beberapa kalimat Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله pada kejadian Jami’ah Islamiyyah hingga terjadi adu domba
yang keras antara syaikh kami حفظه الله dengan Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy وفقه الله.
Dan di
antara kebusukan hizb pendusta ini adalah: mengotak-atik lafazh dari ucapan Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله sehingga terbentuklah kisah yang buruk. Saudara kita Abu
Muslim Abdul Mun’im Al Libiy وفقه الله mengirimkan secarik kertas lalu dibaca oleh Asy Syaikh
Yahya Al Hajuriy حفظه
الله di hadapan para
thullab, di dalamnya berisi: “Akh Zakariya Al Libiy menelpon kami, dan dia
sekarang ada di Madinah, dan dia ingin datang ke Darul Hadits Dammaj حرسها الله untuk menuntut ilmu –sampai pada ucapannya:- dia
menyebutkan bahwasanya ada kaset yang beredar di tangan ikhwah untuk mereka
perdengarkan kepada setiap orang yang ingin pergi ke Dammaj di sisi Asy Syaikh
Yahya حفظه الله bahwasanya Asy Syaikh Yahya حفظه اللهmemberdirikan para pelajar di majelis dan
beliau memberikan pertanyaan padanya: “Apakah Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy
hizbiy ataukah salafiy?” jika murid itu menjawab bahwasanya beliau itu hizbiy,
maka dia diizinkan duduk. Jika bilang bahwasanya beliau itu salafiy maka Asy
Syaikh Yahya mengusirnya dari majelis.” Selesai.
Dari murid
anda Abu Muslim Abdul Mun’im Al Libiy.
Kukatakan وفقني الله: pembacaan surat ini terjadi dua tahun sebelum Asy Syaikh Yahya
Al Hajuriy terang-terangan menghizbikan Ubaid Al Jabiriy. Dan ribuan thullab
Darul Hadits ini menjadi saksi Alloh di muka bumi bahwasanya kaset tadi adalah
dusta, hasil dari perbuatan para pendusta pengotak-atik kalimat lagi
pengkhianat, mereka tak punya sifat amanah dan kejujuran dalam menukilkan
ucapan. Telah gagal dan rugi dagangan mereka sehingga mereka berpaling ke arah
kedustaan dan kebohongan. Tak pernah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy berbuat
seperti itu sejak dulu hingga sekarang.
Dan di
antara para penyeleweng kalimat dari kalangan pengikut Abdurrohman Al 'Adniy
adalah: Samir bin Muhammad Ali Al ‘Udhoh. Dia adalah muta’ashshib dalam fitnah
ini, dia menyelewengkan kalimat-kalimat dari tempat-tempatnya dan mencerca Asy
Syaikh Yahya Al Hajuriy أعز الله مقامه. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 17).
Maka mereka
dengan karakter yang jelek ini menyerupai Haddadiyyah, dan hizbiyyin yang lain.
Setelah
bayyinah ini semua –dan telah tersebar di sebagian risalah para ikhwah, dan ini
hanyalah sebagian dari apa yang ada di sini kami- maka bagaimana orang-orang
mulia itu tidak menggerakkan lisan dan pena mereka untuk menghukumi Mar’iyyin
sebagai hizbiyyin? Aku yakin andaikata Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه اللهbeliau itulah yang terjatuh ke dalam
keburukan-keburukan itu –semoga Alloh melindungi beliau darinya- pastilah
mereka meneriaki beliau dan menghukumi beliau telah menyeleweng. Maka apa
pendorong mereka menakar dengan takaran seperti ini?
Kita kembali
pada inti perbincangan kita. Maka hizb baru itu telah menyelisihi dalil-dalil
qoth’iy yang memerintahkan mereka untuk jujur dan amanah serta menjaga jama’ah,
dan melarang mereka dari semisal perbuatan-perbuatan yang buruk itu. Dalam
keadaan mereka berbuat demikian tadayyunan (sebagai bagian dari
pengamalan agama mereka), dan mereka enggan untuk kembali setelah ditegakkannya
hujjah terhadap mereka. Kebanyakan dari mereka meyakini yang demikian dalam
rangka menolong agama mereka. Sebagian dari mereka saat dinasihati untuk
meninggalkan hizbiyyah tersebut mereka berkata: “Ini adalah aqidah yang tidak
mungkin kutinggalkan”, “Ini adalah aqidah di dalam hatiku, aku tak bisa rujuk
darinya”, “Bagaimana aku bertobat dalam keadaan hal ini adalah aqidah di dalam
hatiku?”, “Ini adalah perkara yang kuyakini dalam hatiku, aku tak bisa terbebas
darinya.”
Maka seperti
ini adalah kesesatan dan kebid’ahan. Al Imam Abul Muzhoffar As Sam’aniy رحمه الله berkata: “Seluruh perkara yang termasuk yang termasuk
bagian dari ushulud din (prinsip-prinsip agama) maka dalil-dalilnya
itu terang dan jelas, dan orang yang menyelisihi dalam perkara tadi adalah
pembangkang yang menentang perkara yang dalilnya nyata. Dan wajib untuk
menghukumi orang tadi sebagai orang yang sesat, dan disyariatkan untuk berlepas
diri darinya.” (“Qowathi’il Adillah” (5/hal. 13)).
Al Imam Asy
Syathibiy رحمه
الله berkata tentang
jenis kedua dari orang yang bid’ah itu dinisbatkan kepadanya: “Dia adalah orang
yang tidak bisa mengambil istimbath dalil dengan sendirinya, tapi dia
hanyalah mengikuti orang lain yang sanggup melakukan istimbath. Akan tetapi
manakala orang jenis ini menyetujui syubhat tadi dan membenarkannya dan dia
berdiri di posisi orang yang diikutinya tadi dikarenakan dirinya menyeru
manusia kepada syubhat tadi, karena syubhat tadi telah merasuk ke dalam
hatinya, maka dia itu semisal dengan orang tadi sekalipun tidak sampai
kepada keadaan dirinya, akan tetapi kecintaannya pada madzhabnya tadi telah
menetap di dalam hatinya hingga membangun permusuhan dan loyalitas berdasarkan
hal itu. Orang jenis ini tidaklah kosong dari pencarian dalil meskipun
berdasarkan dalil yang paling umum, maka dia digabungkan kepada orang yang
telah bisa melihat kepada syubhat, sekalipun dia itu awam, karena dirinya telah
mencoba masuk ke wilayah istidlal dalam keadaan dia tahu bahwasanya dirinya itu
tidak tahu bagaimana cara melihat dan apa yang dilihatnya.” (“Al
I’tishom”/1/hal. 113).
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Bid’ah itu adalah apa yang menyelisihi Al Kitab
dan As Sunnah serta ijma’ Salaful ummah, baik berupa keyakinan, dan
ibadah-ibadah, seperti ucapan-ucapan Khowarij, Rowafidh, Jahmiyyah, dan seperti
orang-orang yang beribadah dengan tarian, dan nyanyian di masjid-masjid, dan
orang-orang yang beribadah dengan mencukur jenggot, memakan ganja, dan aneka
jenis itu tadi termasuk dari bid’ah-bid’ah yang dengannya para kelompok
penyelisih Al Kitab dan As Sunnah beribadah. Wallohu a’lam.” (“Majmu’ul
Fatawa”/18/hal. 346).
Maka
Mar’iyyun itulah yang lebih pantas dikatakan sebagai Haddadiyyun menurut
orang-orang yang menilai hujjah dengan timbangan syariat, keadilan dan akal.
Pasal
Empat Belas:
Banyaknya
sifat nifaq di kalangan hizbiyyin
Kemudian Asy Syaikh
Robi’ Al Madkholiy وفقه
الله berkata: Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata
setelah menyebutkan kekejian Rowafidh yang di antaranya adalah loyalitas mereka
kepada orang-orang kafir untuk menentang Muslimin: “Maka mereka itu lebih besar
bahayanya terhadap agama ini dan pemeluknya, dan lebih jauh dari
syariat-syariat Islam daripada khowarij Haruriyyah. Oleh karena
itulah mereka menjadi sempalan umat yang paling pendusta. Maka tiada pada
kelompok-kelompok yang menisbatkan diri ke kiblat Ka’bah yang lebih banyak
kedustaan, pembenaran terhadap kedustaan, dan pendustaan terhadap kejujuran
daripada mereka. Lebih-lebih lagi kemunafikan pada mereka lebih jelas daripada
kemunafikan di seluruh manusia. Dan dia itulah yang disabdakan Nabi صلى الله عليه وسلم :
«آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ
كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ »
“Tanda-tanda
orang munafiq itu ada tiga: jika dia berbicara maka dia berdusta. Jika dia
berjanji maka dia mengingkarinya, dan jika dia dipercaya maka dia akan
berkhianat.” (HSR Al Bukhori (33) dan Muslim (109))
Dalam suatu
riwayat:
«أربع من كن فيه كان منافقًا خالصًا، ومن كان
فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها: إذا حدث كذب، وإذا وعد أخلف،
وإذا عاهد غدر، وإذا خاصم فجر»] اهـ.
“Ada empat
karakter, barangsiapa empat karakter tadi ada padanya, maka jadilah dia itu
munafiq yang murni. Dan barangsiapa ada padanya salah satu dari karakter
kemunafikan tadi, maka pada dirinya salah satu dari karakter kemunafikan sampai
dia meninggalkannya: jika dia berbicara maka dia berdusta. Jika dia
berjanji maka dia mengingkarinya, dan jika dia dipercaya maka dia akan
berkhianat, dan jika bertengkar dia berbuat fujur.” Selesai penukilan.
Komentar
saya:
Sifat
Haddadiyyah yang keempat belas adalah: kemunafikan. Telah saya jelaskan
banyaknya alamat kemunafikan pada hizb yang baru ini –Mar’iyyah-. Maka mereka
itulah golongan yang lebih berhak untuk dijuluki sebagai Haddadiyyah. Adapun
Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau, apa dosa mereka hingga
dikatakan –tanpa iqomatul hujjah- bahwasanya mereka adalah haddadiyyun,
orang-orang tolol, orang-orang busuk, merobek dakwah?
Tidaklah
para penuduh itu menyerang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau
kecuali karena mereka mengorbankan waktu, kehormatan, tenaga, dan badan mereka
untuk menghadapi makar hizb baru yang fajir manakala muncul kebusukan mereka,
dengan dalil-dalil dan bukti-bukti. Dan ini sebenarnya merupakan usaha yang
patut disyukuri dari Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau,
sekalipun orang-orang yang dengki dan fanatik itu menentangnya.
SETIAP
KALI MUNCUL AHLI BATIL, ALLOH MENEGAKKAN TENTARA-NYA UNTUK MEMBONGKARNYA DAN
MEMERANGINYA
Al Imam
Ahmad bin Hanbal رحمه
الله تعالى: “Segala puji bagi
Alloh yang menjadikan pada setiap zaman yang kosong dari para rosul sisa-sisa
ulama yang mengajak orang yang tersesat untuk menuju kepada hidayah, dan
bersabar menerima gangguan dari mereka, menghidupkan dengan kitabulloh
orang-orang yang mati, dan memberi ilmu dengan cahaya Alloh orang-orang yang
buta. Maka berapa banyaknya orang yang telah dibunuh oleh Iblis mereka hidupkan
kembali, dan berapa banyaknya orang yang tersesat dan bingung mereka tunjuki
lagi. Maka alangkah bagusnya pengaruh mereka kepada manusia, dan alangkah
jeleknya bekas manusia kepada mereka. Mereka meniadakan dari Kitabulloh
penyelewengan orang-orang yang ghuluw, dan pengaku-akuan para pelaku kebatilan,
dan ta’wil orang-orang bodoh yang mengibarkan bendera-bendera kebid’ahan, dan
melepaskan belenggu fitnah…” dst . (“Ar Rodd ‘Alaz Zanadiqoh Wal
Jahmiyyah”/hal. 52/Darul Minhaj).
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله : Sesungguhnya umat ini –segala pujian bagi Alloh-
senantiasa ada di kalangan mereka orang yang tanggap terhadap kebatilan yang
ada di dalam perkataan ahli batil, lalu membantahnya. Dan mereka itu manakala
Alloh memberi mereka hidayah bersepakat untuk menerima kebenaran dan menolak
kebatilan baik secara ro’yu ataupun berdasarkan riwayat, tanpa saling member
tahu ataupun kesengajaan untuk bersepakat.” (Majmu’ul Fatawa”/9/hal.
233/Maktabatu Ibni Taimiyyah).
Al Imam
Ibnul Qoyyim رحمه
الله berkata: “Setiap
kali setan menampilkan suatu kebid’ahan dari bid’ah-bid’ah ini dan yang
lainnya, Alloh membangkitkan untuk menghadapinya seseorang dari partai-Nya dan
tentara-Nya yang akan membantahnya dan memperingatkan Muslimin darinya, sebagai
nasihat untuk Alloh, untuk kitab-Nya, untuk Rosul-Nya dan untuk ahlil Islam.
dan Alloh menjadikan itu sebagai warisan yang dengannya partai Rosululloh صلى الله عليه وسلم pemegang sunnah beliau dikenal, dan dengn itu pula partai
bid’ah dan penolong bid’ah dikenal.” (“Tahdzib Sunan Abi Dawud”/As Sunnah/Fil
Qodr/dalam cetakan ‘Aunul Ma’bud/11/hal. 298-299/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).
Ibnul
Jauziy رحمه الله berkata: “Dan manakala tidak mungkin
bagi seorangpun untuk memasukkan ke dalam Al Qur’an sesuatu yang bukan darinya,
mulailah beberapa kaum menambahkan ke dalam hadits Rosululloh صلى الله عليه وسلم , mengurangi, merubah, dan memalsukan hadits yang tidak
beliau ucapkan. Maka Alloh عز وجلmenumbuhkan para ulama yang membela penukilan, menjelaskan yang
shohih dan membongkar yang busuk. Dan Alloh عز وجل tidak mengosongkan zaman dari ulama. Hanya saja keturunan
jenis ini pada zaman ini sedikit, …” dst. (muqoddimah “Al Maudhu’at”/1/hal.
7/cet. Maktabah Adhwaus Salaf).
Al Imam Ibnu
‘Utsaimin رحمه
الله berkata: “Manakala
termasuk dari hikmah Alloh yang mendalam adalah Dia menjadikan kebenaran itu
punya penentang-penentang yang dengan penentangan mereka tadi menjadi jelaslah
kebenaran dan menjadi menanglah terhadap kebatilan, karena kemurnian emas itu
tidak nampak kecuali dengan disodorkan kepada api. Alloh جل وعلا dengan kemampuan-Nya yang sempurna dan kelembutan-Nya yang
luas dan pemaksaan-Nya yang dominan menampilkan orang yang melenyapkan
hujjah-hujjah para penentang itu dan menjelaskan kepalsuan syubhat-syubhat
mereka.” (Muqoddimah “Taqribut Tadmuriyyah”/hal. 7/Maktabatul Irsyad).
Al Imam Al
Wadi’iy رحمه
الله berkata: “Dan
termasuk dari karunia Alloh adalah bahwasanya tidaklah seorang mubtadi’pun
bangkit kecuali bangkit juga ulama untuk menghadapinya.” (“Tuhfatul Mujib”/hal.
277/Darul Atsar).
Dan setelah
menyebutkan usaha Al Imam Al Albaniy dan Al Imam Al Wadi’iy رحمهما الله dan seluruh Ahlul hadits dalam memerangi ahlul batil
berkatalah Asy Syaikh al muhaddits Al Mujahid Yahya Al Hajuriy حفظه الله : “Mereka itulah para pria sejati. Setiap kali seseorang
muncul dengan suatu kebid’ahan mereka menghantamnya. Adapun sekarang, jika
ahlul hadits berbicara tentang seseorang karena kebid’ahannya, orang-orang
berkata: “Mereka membicarakan manusia!”.” (dicatat tanggal 6 Sya’ban 1430 H).
Fadhilatusy
Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله berkata: “… aqidah ini dan para pemeluknya telah mengalami
ujian dan akan terus diuji pada zaman yang beraneka ragam sebagaimana
kenyataannya dan disaksikan sekarang ini dari para musuhnya. Akan tetapu Alloh
telah menyiapkan para imam yang melakukan perbaikan, dan para pembaharu yang
membela aqidah tadi dari penyelewengan orang-orang yang ghuluw, dan
pengaku-akuan para pelaku kebatilan, dan ta’wil orang-orang bodoh.”
(“Maqolatusy Syaikh Al Fauzan”/1/hal. 50-51/Al Maktabatusy Syamilah).
Asy Syaikh
Sholih As Suhaimiy وفقه
الله sendiri berkata:
“Maka setiap kali muncul aliran atau jamaah yang menyeleweng, Alloh menyiapkan
untuknya para ulama robbaniyyun yang mengucapkan kebenaran dan dengannya
berbuat keadilan, meniadakan dari sunnah itu penyelewengan orang-orang yang
ghuluw, dan pengaku-akuan para pelaku kebatilan, dan ta’wil orang-orang bodoh.
Dan alangkah miripnya malam ini dengan malam kemarin.” (Muqoddimah “An Nashrul
‘Aziz”/Darul Minhaj) .
Pasal
Kelima Belas: Membenarkan kedustaan
Kemudian Asy
Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Maka orang-orang Haddadiyyah itu menyerupai
Rowafidh dalam berdusta, pembenaran terhadap kedustaan, dan pendustaan terhadap
kejujuran. Ada perkataan-perkataan dan ucapan yang jujur dan tegak di atas Al
Kitab dan As Sunnah, mereka mendustakan kandungannya, menolaknya. Di antaranya
adalah perkataan yang telah diteliti oleh para tokoh ulama dalam kasus-kasus
keimanan dan masalah prinsipil, Haddadiyyun justru membantahnya dan menolaknya.
Tapi ada ucapan-ucapan dan kebatilan serta penyelewengan yang justru mereka
dukung dan mereka tolong. Berapa banyak mereka itu berbuat fujur dalam
persengketaan mereka terhadap Ahlussunnah. Ini digabung lagi dengan sifat-sifat
mereka yang telah lewat.
Komentar
saya:
Yang kelima
belas dari sifat Haddadiyyah adalah: Membenarkan kedustaan. Demikian pula yang
dilakukan oleh hizb yang baru ini hizb Mar’iyyah, mereka di bab ini sama dengan
Haddadiyyah bagaikan bulu panah yang kiri dengan yang kanan. Mereka
menerima kedustaan para penulis yang tak dikenal, kebohongan para pengikut
Nu’man Al watar, Al Idrisiy, dan sebagian hizbiyyun yang terdahulu yang
lainnya. Dan termasuk dari bab ini adalah apa yang diucapkan oleh syaikh kita
Abdulloh Al Iryany -حفظه الله- berkata dalam “Al Qoulul Jali” hal. 8-9:
Kebatilan
Tuduhan Nu’man Al Watar Bahwasanya Syaikh Yahya Melemparkan Tuduhan Bohong
Adapun
tuduhan Nu’man Al Watar bahwasanya Syaikh yang mulia Yahya -حفظه الله- melemparkan tuduhan bohong terhadap orang-orang yang bersih,
maka ini merupakan kedustaan yang besar. Kami menantang Nu’man untuk memberikan
bukti kepastian tentang ucapan Syaikhuna Yahya tersebut di dalam kaset, atau
kitab, atau persaksian orang-orang yang adil jika dia memang termasuk
orang-orang yang jujur.
Bersama si
Pendusta Besar Yang Hina: Fahd Al Ba’dany
Beberapa
pelajar dan penghapal Al Qur’an dari penduduk Ba’dan telah bersaksi bahwa Fahd
Al Ba’dany berdusta, dan dia menukil berita-berita yang tidak benar tentang
Darul Hadits di Dammaj. Dan “Penduduk Mekkah lebih tahu tentang keadaan
masyarakatnya.”
Dan sisi
pendalilan kita adalah bahwasanya Fahd Al Ba’dany tersebut telah menukilkan di
dalam kaset tanpa bukti tentang Syaikh yang mulia Yahya Al Hajury:
a- Bahwasanya
beliau berkata tentang Ali Ba Ruwais yang berfatwa di televisi ‘Adn, bahwasanya
dia itu luthy digauli sebagaimana wanita digauli. Dan Fahd juga
berkata bahwasanya sebagian pelajar berkata pada beliau: “Ini adalah tuduhan
yang membutuhkan empat saksi yang adil”. Maka Syaikh Yahya menjawab seraya berkata,”Cukuplah
kemasyhuran sebagai bukti.”
Kukatakan
–Syaikh Abdulloh Al Iryany حفظه الله-: Ini adalah dongeng palsu yang dikandung dan dilahirkan oleh
Fahd Al Ba’dany, lalu dirawat oleh Nu’man Al Watar. Pendengaran kami terhadap
dongeng ini saja sudah cukup bagi kami sebagai dalil atas kebatilannya, dan
kedustaan orang yang menukilkannya.([4]) maka
bagaimana bisa tergambarkan seorang alim yang bertaqwa dan waro’ berbuat ngawur
seperti ini?
Kisah yang
sebenarnya adalah: Para penghapal Al Qur’an, para pelajar, dan para
penyeru ke jalan Alloh yang hadir dalam kisah itu, semuanya bersaksi bahwasanya
ada seorang lelaki dari Abyan menjelek-jelekkan Ahlussunnah. Namanya
adalah Ali Adh Dhombary. Ketika Syaikh Yahya Al Hajury bertekad untuk
membantahnya, sebagian penduduk Abyan berkata,”Mereka berkata bahwa dia itu
digauli sebagaimana wanita digauli.” Maka Syaikh berkata, ”Dengarkanlah wahai
ikhwah, apa yang mereka ucapkan?” lalu Syaikh berkata,”Seperti ini membutuhkan
bayyinah (bukti)!” Maka salah seorang yang hadir dari Abyan berkata,”Ini sudah
terkenal.” Maka Syaikh berkata,”Sekedar keterkenalan tidak mengharuskan
benarnya berita.” Selesai.
Kisah dan
pembicaraan berkisar tentang seseorang, tapi pertama kali: omongan Al Ba’dany
terbalik, lalu yang kedua: berbicara tentang orang lain. Maka berkumpullah
antara kemungkaran dan kepalsuan dalam ucapan Al Ba’dany.
Kemudian
Ahlussunnah mereka mempercayai diri mereka sendiri, mereka tidak terpengaruh
oleh berita-berita palsu. Para Nabi Alloh telah dituduh dengan tuduhan yang
lebih besar daripada ini, dan mereka bersabar. Kedustaan itu benang-benangnya
pendek saja, dan Alloh ‘azza wajalla berfirman:
]سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشِر[ [القمر/26]
"Besok
mereka akan tahu siapakah pendusta besar yang jahat itu." (QS Al
Qomar 26).
b- Orang
yang telah tersebut di atas juga menukilkan bagian atas tanpa bayyinah terhadap
Syaikh Yahya Al Hajury -حفظه الله- bahwasanya beliau berkomentar tentang
jajaran pemerintahan bahwasanya mereka itu tukang homoseksual dan banci.
Kedustaan
ini juga sejenis dengan dongengan tadi. Dan kami berkata,”Kami jadikan Alloh
sebagai saksi bahwasanya si penukil ini pendusta besar([5]).” Dan kami
berkata sebagaimana firman Robb kami:
]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ
فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا
فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ [ [الحجرات/6]
"Wahai
orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu
berita, maka carilah kejelasan, jangan sampai kalian menimpakan kecelakaan pada
suatu kaum dengan ketidaktahuan sehingga jadilah kalian menyesal dengan apa
yang kalian lakukan.” (QS Al Hujurot 6)
Dan kami
berkata pada orang yang membikin kedustaan terhadap para pemilik ilmu dan
keutamaan, sebagaimana firman Robb kami ‘azza wajalla:
]قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [ [البقرة/111]
"Katakanlah
: Datangkanlah bukti kebenaran kalian jika kalian memang orang-orang yang
jujur." (QS Al Baqoroh 111)
Dan di dalam
Ash Shohihain dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma berkata : Rosululloh saw
bersabda :
«لو يعطى الناس بدعواهم لادعى ناس دماء رجال وأموالهم ولكن اليمين على المدعى عليه».
"Andaikata
manusia diberi sesuai dengan dakwaan mereka, pastilah orang-orang akan mendakwa
harta suatu kaum dan darah mereka. Akan tetapi sumpah adalah kewajiban orang
yang dituduh."
Dan dalam
riwayat Al Baihaqy :
«لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ لاَدَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ وَلَكِنَّ الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِى وَالْيَمِينَ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ ».
"Andaikata
manusia diberi sesuai dengan dakwaan mereka, pastilah orang-orang akan mendakwa
harta suatu kaum dan darah mereka. Akan tetapi bayyinah (bukti) adalah
kewajiban si penuduh, dan sumpah adalah kewajiban orang yang dituduh."
Dan apakah
seorang muslim akan lancang berkata seperti itu, lebih-lebih lagi orang yang
tahu tentang Alloh, waro’, punya perhatian dan semangat untuk menjaga
kehormatan muslimin, serta membelanya ?!!
Aku telah
bertanya pada Syaikh Yahya حفظه الله ta’ala tentang itu, maka beliau bersumpah dengan nama
Alloh tidak mengucapkannya.
Selesai
ucapan Syaikhuna Abdulloh Al Iryani حفظه الله.
Dan telah
berdatangan ucapan syukur, pujian dan selamat setelah keluarnya risalah yang
mantap tersebut, dari kalangan Salafiyyun yang punya kecemburuan.
Bahkan
Nu’man Al Watar sendiri telah mengakui kedustaan tadi. Syaikh Abdulloh Al
Iryany -حفظه الله- di dalam risalahnya yang kedua berkata,”
"Kalaulah tidak ada pembongkaran aib mereka di dalam risalah mereka
"Al Muhannadul Yamani.." kecuali bahwasanya mereka itu sikapnya
bertolak belakang dan goncang, dan mereka mengakui atas kebohongan mereka dalam
melemparkan tuduhan pada Asy Syaikh Al Fadhil Al Bari' (yang bersih dari
tuduhan tadi) Yahya Al Hajuri bahwasanya beliau menuduh 'Ali Ba Ruwais, setelah
mereka terbang dengan tuduhan tadi ke segala penjuru, niscaya yang demikian itu
cukup untuk menetapkan kedustaan mereka dan menjelaskan keadaan mereka, dan
pendustaan orang-orang terhadap mereka, waspada terhadap penukilan dan
berita-berita mereka, jatuhnya mereka dari pandangan mata orang-orang, dan
tidak percaya lagi pada mereka .." (“Ta’zizul Qoulil Jali” hal. 5)
Maka sifat
Mar’iyyun adalah menerima berita dari para pendusta yang mencocoki hawa nafsu
mereka, lalu mereka menyebarkannya. Maka mereka itulah Haddadiyyun dalam bab
ini.
Adapun
syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau, sungguh mereka
telah mencurahkan kerja keras untuk tidak menerima perkataan kecuali jika
diperkuat dengan dalil yang kuat, yang mencocoki Al Kitab dan As Sunnah dan
Salafiyyah. Demikianlah saya melihat dari mereka, dan bukanlah berita itu
seperti melihat langsung. Dan aku dengan sebagian ikhwah telah capek memerangi
hizb baru -Mar’iyyah- dari bangsaku sendiri, dan kami telah merasakan pahitnya
pukulan tangan, sindiran lidah dan jahatnya pena mereka. Manakala kasus-kasus
mereka kami angkat ke Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله, kami dapati beliau pada puncak perhatian pada kejujuran dan
kekuatan bayyinah dalam menerima berita-berita, maka beliau tidak menerima berita
dari kami ataupun dari lawan kami kecuali jika diperkuat oleh bayyinah.
Dari sisi
lain, kalian juga tak sanggup membuktikan bahwasanya beliau itu berdusta, atau
membenarkan kedustaan, atau mendustakan kejujuran. Maka apakah setelah ini
semua dikatakan bahwasanya beliau itu Haddadiy padahal beliau berbeda dengan
mereka dalam karakter ini sebagaimana beliau juga berpisah dengan mereka dalam
sifat-sifat yang lain? Sungguh ini adalah vonis yang jahat.
(Inilah
akhir seri enam dari terjemahan “Shifatul haddadiyyah Fi Munaqosyatun
‘Ilmiyyah”. Adapun pada seri ketujuh إن شاء الله kita akan membahas kebiasaan Haddadiyyun untuk memiliki
banyak wajah dan melancarkan makar mereka dengan bertahap. وبالله التوفيق)
([1]) Catatan Abu
Fairuz: Yang dimaksud oleh Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy حفظه اللهadalah bahwasanya di Hadhromaut tiada
seorangpun dari masyayikh sunnah yang waro’ yang bersamanya dalam
perbuatan-perbuatannya itu.
([3]) Catatan Abu
Fairuz: Dan mayoritas bisnis yang mereka jalankan tersebut diakhiri dengan
kegagalan dan utang yang amat besar, lalu mereka memikulkan beban utang tadi
pada dakwah, lalu mereka menggencarkan program mengemis kepada masyarakat
dengan alasan bahwasanya dakwah ini punya beban utang.
